Avesiar – Jakarta
Gerakan tauhid Islam yang dikenal sebagai Wahabi didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Kelompok ahlussunnah wal jamaah menolak kelompok ini karena pemahaman pemurnian tauhidnya yang keras.
Dilansir laman Detik, Jum’at (27/10/2023), artikel berikut membahas mengenai Wahabi, mulai dari sejarah dan kesamaannya dengan salafi, ciri-ciri ajaran Wahabi, dan perbedaan 5 manhaj yang dikenal di dunia.
Wahabi Menurut Sejarah
Jurnal Substantia Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Volume 20 Nomor 1, April 2018, menjelaskan bahwa Wahabi adalah salah satu gerakan tauhid Islam yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab pada abad ke-18 Masehi.
Gerakan ini mengusung pemahaman puritan atau ajaran bahwa Islam harus bersih dari bid’ah, takhayul, dan khurafat. Wahabi juga sering disandingkan dengan salafi karena memiliki agenda sama, yaitu pemurnian tauhid melalui Al-Qur’an dan hadits dengan meninggalkan pendapat ulama.
Buku Pintar Salafi Wahabi oleh Tim Harakah menjelaskan bahwa salafi-wahabi menggunakan pendekatan tekstual dalam memahami Al-Qur’an dan hadits. Pendekatan tekstual mereka sangat kaku dan terbatas.
Dalam memahami satu hadits misalnya, kelompok salafi-wahabi tidak membandingkan dengan hadits lainnya atau dengan ayat Al-Qur’an, agar mendapatkan pemahaman yang lebih utuh. Akibatnya, kelompok ini sering menuding kelompok lain salah, melakukan bid’ah, dan mengkafirkan orang lain.
Seperti apa ciri-ciri ajaran Wahabi?
Penelitian di situs UIN Raden Fatah, menyebutkan sejumlah ciri-ciri ajaran Wahabi sebagai berikut:
1. Melarang acara peringatan maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awal.
2. Dilarang melakukan perayaan Isra’ Mi’raj karena dianggap bid’ah.
3. Dilarang merokok dengan jenis apapun karena termasuk perbuatan syaitan.
4. Dilarang ziarah ke makam Nabi.
5. Dilarang berdoa menghadap ke makam Nabi.
6. Membangun kubah di atas makam hukumnya haram.
7. Tidak boleh menyalakan radio, tidak boleh menyalakan gramofon (mesin yang memproduksi suara/musik).
8. Tidak memperbolehkan qasidah.
9. Tidak boleh melagukan bacaan Al-Qur’an.
10. Dilarang membaca kitab sholawat dalailul-khairat dan lebih-lebih lagi tidak boleh membaca burdah yaitu qasidah Amin Tadza.
11. Tidak boleh mengaji sifat 20 sebagai yang tertulis dalam kitab-kitab kifayatul ‘awam.
12. Tidak berdoa dengan tawassul karena dianggap syirik.
Mengulas Perbedaan 5 Manhaj
Abu Zahroh dalam kitab Thoriqul Madzahib yang dikutip KH Wazir Ali dalam NU Online menjelaskan bahwa ada 5 manhaj atau metode dalam Islam.
1. Manhaj Falasifah, yaitu menggunakan ayat-ayat teologi dan nalar (rasio) dalam menerangkan tentang ketuhanan.
2. Manhaj Mutakallimin (Mu’tazilah), yang menggunakan qodiyah aqliyah (ketetapan nalar) daripada nash Al-Qur’an. Akal digunakan untuk memaknai nash. Ayat-ayat yang berkaitan dengan aqidah harus sejalan dengan dengan rasio, meskipun terkadang keluar dari ketentuan nash Al-Qur’an.
3. Manhaj Maturidiyah, yang memahami dengan nash Al-Qur’an dan hadist, tetapi juga didukung dengan rasio.
4. Manhaj Asy’ariah yang selalu berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadist, tetapi juga tidak mengesampingkan rasio (dalil aqliyah).
5. Manhaj Salafi/Wahabi, yang hanya menerima nash Al-Qur’an dan Hadist tanpa melakukan takwil (menggunakan rasio) sama sekali.
Sedangkan laman Maarif NU Jateng pada Jum’at (20/3/2020) menerbitkan ulasan mengenai panduan memahami akidah antara Aswaja dan tauhid Wahabi sebagai berikut:
Panduan Memahami Akidah Aswaja dan Tauhid Wahabi
Muslim dan muslimah Indonesia ada yang berangkat ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah umrah setiap hari dan setiap tahun umat Islam Indonesia juga berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
Dua momen penting tersebut ternyata dimanfaatkan oleh pemerintah Kerajaan Saudi untuk mengembangkan paham Wahabi. Caranya dengan membagikan buku-buku kecil secara gratis yang di antara isinya adalah trilogi tauhid yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa as sifat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Menyikapi problem tersebut, buku berjudul Antara Aqidah Sunni dan Tauhid Wahabi yang ditulis KH Abdul Lathif Dahlan adalah sebagai buku panduan memahami aqidah ahlus sunnah wal jamaah dan konsep tauhid wahabi.
Pada abad ke-7 H muncul konsep pembagian tauhid menjadi 3. Konsep ini dirumuskan oleh Ibnu Taimiyah (661 H – 724 H) lalu dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi (1115 H – 1206 H/ 1702 – 1787 M dan pengikutnya.
Pertama, tauhid rububiyah adalah percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta dan pengatur sesuatu, tak ada sekutu bagi-Nya. Menurut Wahabi, tauhid rububiyah ini diyakini oleh seluruh umat manusia baik orang mukmin dan orang musyrik.
Menurut Wahabi hal itu juga sejalan dengan Al Qur’an, surah Al-Mu’minun, ayat 86-87, yang mempunyai arti, “Katakanlah: siapa Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: kepunyaan Allah SAW. Katakanlah maka apakah kamu tidak bertakwa.”
Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan : mereka kaum musyrikin bersaksi bahwa Allah adalah sang pencipta, maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Basyumail juga berkata dalam kitabnya. Abu jahl dan Abu Lahab serta orang-orang Musyrik yang seagama dengannya, mereka beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya dalam rububiyah sebagai sang pencipta, pemberi rizki, yang mematikan, yang menghidupkan, memberi bahaya, dan yang memberi manfaat, mereka tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dalam hal tersebut.
Dari pendapat-pendapat tersebut menurut Wahabi seseorang yang tidak bisa disebut mukmin kalau hanya mengakui tauhid rububiyah saja. Sebab orang-orang musyrik juga bertauhid rububiyah.
Perlu kita ketahui bersama, orang-orang musyrik tidak pernah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekalipun dalam rububiyah saja. Banyak ayat al-qur’an yang menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak mentauhidkan rububiyahnya Allah. Di dalam Al Qur’an, surah Asy-Syu’ara, ayat 97 – 98, yang artinya, “Demi Allah SWT, sungguh kami dalam kesesatan yang nyata. Karena kami menyamakan kalian (berhala) dengan Rabb semesta alam.”
Ayat itu menjelaskan penyesalan orang-orang kafir di akhirat yang telah menyamakan berhala-berhala dengan Rabb semesta alam. Ini maksudnya orang-orang musyrik tidak mengakui tauhid rububiyah. (hlm.4)
Kedua, tauhid uluhiyyah. Tauhid uluhiyyah adalah percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah makna yang berarti tiada Tuhan yang haq disembah selain Allah. Oleh karena itu, seluruh bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dan selainnya wajib diikhlaskan hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya.
Sepintas definisi tauhid uluhiyyah tersebut mantap dan benar. Tetapi maksud dan tujuan sebenarnya dari doktrin tersebut adalah sebagai landasan teologis untuk memusyrikkan orang-orang yang bertawasul dengan menganggap mereka menyembah (ibadah) kepada benda yang ditawasuli. (hlm. 7).
Adapun yang ketiga, tauhid asma’ wa as-sifat. Pengertiannya adalah percaya seluruh nama-nama Allah dan siifatnya yang terbatas di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Lalu menetapkan nama-nama sifat itu hanya untuk Allah saja, dalam bentuk yang sesuai dan layak bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa tahrif (perubahan), tanpa ta’thil (peniadaan), tanpa takyif (pertanyaan bagaimana?), dan tanpa tamsil (penyerupaan).
Kata tanpa tahrif maksudnya penjelasan nama-nama Allah dan sifatnya yang ada di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits tidak boleh dita’wil dan harus diartikan sesuai dhahirnya yang dikenal di kalangan manusia. Contoh: yadullah (tangan Allah), tidak boleh diartikan dengan kekuasaan Allah.
Kata tanpa ta’thil maksudnya apa yang disebut dalam Al Qur’an dan hadits-hadits tentang nama-nama Allah dan sifatnya itulah yang harus diimani. Contoh: yadullah (tangan Allah), tidak boleh meniadakan tangan bagi Allah.
Kata tanpa takyif maksudnya tidak boleh menanyakan bagaimana cara istiwa’nya Allah di arsy. Bagaimana model tangan, kaki, dan wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kata tanpa tamsil maksudnya tidak boleh menyerupakan/menyamakan Allah dengan makhluk, walaupun ada keserupaan tetapi tidak sama.
Dengan konsep tauhid asma’ wa as-sifat ini Wahabi mengikuti paham mujassimah yang menetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempunyai jisim dan anggota tubuh.
Buku yang terbilang mungil ini penting untuk dibaca, setidaknya untuk membentengi akidah kita dari pengaruh berbagai macam akidah sesat yang menyebar di tengah-tengah masyarakat. Setelah mendaras buku kecil ini alangkah lebih baiknya jika ditular-tularkan kepada anak, cucu, keluarga, atau sahabat sehingga secara tidak langsung kita turut menyebarkan aqidah aswaja dan dan berharap anak cucu kelak menjadi orang yang lurus aqidahnya jauh dari pengaruh penyimpangan aqidah. (adm/sumber detik dot com dan maarif nu jateng)













Discussion about this post