KAMU KUAT – Jakarta
Dewasa….
Kata itu sering banget kita dengar. Tapi apa sih sebenarnya arti dewasa? Apakah ketika sudah umur 17 tahun? Atau ketika sudah punya KTP (Kartu Tanda Pengenal), atau ketika kita sudah bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua?
Memurut Dr Hj Sri Minarti, M.Pd.I, dikutip dari laman Kumparaan, kedewwasaan dapat diartikan kematangan dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengambil suatu keputusan dengan bijaksana. Kedewasaan seseorang dapat dipengaruhi oleh usia, pendidikan dan pengalaman hidup. (Dikutip dari berita bojonegoro, 22 Mei 2018).
Sadar ngga sih sebenernya “dewasa” Itu tentang pilihan dan dewasa itu nggak melulu soal umur. Terkadang pilihan kecil aja bisa membuat kita berfikir “Apakah aku udah dewasa?” Misalnya, saat harus pilih antara nongkrong sama temen atau bantu orang tua di rumah. Pilihan-pilihan itu, sekecil apa pun, sebetulnya bagian dari perjalanan menuju dewasa.
Selain itu “dewasa” Itu tentang tanggung dan emosi. Salah satu contohnya, bebas pergi ke mana aja, bebas ngapain aja. Tapi ternyata, kebebasan selalu datang dengan tanggung jawab. Misalnya, boleh pulang malam, tapi harus tahu diri buat jaga keamanan dan kasih kabar ke orang tua.
Jadi, dewasa Itu menurut kamu apa?
Berikut komentar dari Syailendra Mahardika Wijaya, yang sedang kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta dan semester 3
“Dewasa itu sebenarnya lebih dari sekedar umur. Dewasa itu saat kita bisa bertanggung jawab atas diri sendiri, membuat keputusan dengan baik, dan menghadapi masalah tanpa lari. Tapi kapan tepatnya mulai merasa dewasa? Jawabannya beda-beda sih, tergantung orangnya. Versiku, dewasaku dimulai di saat 17,” kata dia.

Di usia itu, Syailendra mengaku mulai berani mengambil keputusan sendiri dan menghadapi tanggung jawab. Ia juga sadar bahwa hidup ngga selalu mudah. Tapi proses itu yang membuatmya lebih mandiri dan siap menghadapi tantangan.
“Kalau dibandingin sama masa remaja, jelas beda banget. Saat remaja, kita cenderung masih bergantung sama orang tua, banyak mikirin pertemanan, dan sering banget bingung soal jati diri. Sementara saat dewasa, fokus hidup lebih ke memikirkan masa depan. Pola pikir juga lebih matang, lebih banyak pertimbangan sebelum ambil keputusan,’’ ujarnya.
Enak ngga jadi dewasa?
“Ya enak ngga enak sih. Enaknya, kamu bisa ngatur hidup sendiri tanpa harus selalu nurut sama aturan orang lain. Tapi ya pasti ada tantangannya. Tanggung jawab makin banyak, kadang bikin pusing, dan ngga jarang ngerasa sendirian. Tapi kalau dijalanin santai sambil tetap positif, jadi dewasa itu bisa jadi pengalaman yang asik dan bikin kamu tumbuh lebih baik.,” bebernya.
Sedangkan “dewasa” versi Lenka Melina Ramdhany, Semester Pertama, Poltekkes Kemenkes Bandung adalah, “Dewasa itu menurutku tuh kayak suatu perkembangan mental yang lebih matang dan dewasa itu memiliki pertanggungjawaban yang lebih besar ketika mengambil suatu keputusan. Dewasa memiliki pola pikir dan sudut pandang yang lebih luas juga menurut aku.
Kalau ditanya aku tuh udah dewasa atau belum dan jawab mungkin belum, karena aku tuh masih belum bisa mengambil keputusan yang sesuai gitu, dan belum berani menghadapi konsekwensi dari setiap keputusan yang aku perbuat, juga masih sering lalai dan lupa.

“Pendapat aku seseorang yang ingin menjadi dewasa tuh harus memiliki mental yang cukup kuat, memiliki sudut pandang yang lebih mendalam dan luas, dan dapat mempertanggung jawabkan suatu keputusan itu. Sedangkan aku belum siap dan takut beranjak dewasa karena pasti akan ada tambahan beban, takut mental health aku terusik, aku ga mau stres yang berlebihan,” kata Melina.
Kalau ditanya ingin kembali ke masa anak-anak, lanjut Melina, itu pasti pengen banget. Karena di saat itu merasa tidak ada beban dan banyak waktu bermain. “Kepengennya sih mau banyakin happy moment gitu. Tetapi aku tau mungkin nggak bisa kembali ke masa lalu, jadi harapanku ke depannya bisa lebih baik dan memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat saat masa lalu itu,” ujar mahasiswi yang akrab di panggil Lily itu.
Berbeda Versi Dewasa Alviko Ishaq Wiranu, Kelas 11, SMA Global Islamic School 2 Serpong.
“Menurut saya dewasa itu tentang pola pikir kita yang berkembang dari yang tidak memikirkan apapun tentang masa depan sampai akhirnya harus memikirkan cara untuk membuat masa depan lebih cerah dan terjamin, Saya sendiri belum bisa di katakan dewasa tapi sudah tidak di masa anak kecil lagi, fase yang sedang saya jalani sekarang adalah masa remaja yang bisa di katakan sebagai proses pendewasaan saya untuk di masa dewasa, karna di fase yang saya jalani ini saya merasa masih banyak hal yang harus saya pelajari dan harus saya perbaikin seperti, terkadang saya clueless tentang sesuatu yang teman saya biacarakan ke saya.” ujar viko yang hobi bermain musik.
“Sedangkan pendapat saya tentang dewasa bukan hanya di tentukan oleh angka atau umur tetapi juga di tentukan oleh pola pikir kita yang berkembang dari tahun ke tahun melalui pengalaman yang kita lewati, Sebenarnya saya tidak pernah terpikir untuk cepat cepat dewasa, melihat banyak orang dewasa yang saya kenal banyak yang stress akibat pekerjaan dan tuntutan yang sangat banyak akibat menjadi dewasa”

“Harapan saya untuk masa depan adalah untuk membanggakan orang tua dengan prestasi yang saya raih dan juga bisa memasuki universitas yang saya ingin kan dan lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapat pekerjaan sesuai dengan passion saya”
Teruslah tumbuh, jangan berhenti memperbaiki diri. jadilah dewasa untuk diri dan lingkungan. Jadilah Baik dan Kuat sebenar-benarnya. (rst)













Discussion about this post