KAMU KUAT! – Jakarta
Pas sedang asyik nonton Drama Korea tiba-tiba lihat jam sudah pukul 3 dinihari, sedangkan sebentar lagi waktunya berangkat sekolah. Kegiatan tidur melebihi jam malam biasa disebut begadang,
Begadang sering dianggap hal biasa bagi remaja. Entah karena tugas menumpuk, keasyikan nonton, bermain game, atau sekadar mengobrol dengan teman hingga larut malam. Namun, di balik keseruannya, ada banyak efek yang mungkin tidak kamu sadari.
Dikutip dari laman Siloam Hospitals, Kamis (12/12/2024), begadang merupakan kegiatan yang dilakukan dengan mengurangi waktu tidur pada satu hari. Normalnya, orang dewasa memerlukan waktu tidur setidaknya 7 sampai 9 jam dalam sehari. Namun, orang yang begadang akan mengurangi waktu tidurnya menjadi kurang dari 6 jam atau bahkan tidak tidur sama sekali.
Membahas soal begadang, beberapa teman kanal remaja KAMU KUAT! punya cerita tersendiri. Mari kita simak!
Tofhan Fauzy, XII MIPA 4 SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

“Saya suka begadang sampai malam, salah satu alasannya karena tugas, di sekolah saya banyak sekali. Tugas yang diberikan sehingga kadang bisa diselesaikan sampai tengah malam. Kedua, dari saya sendiri terkadang menonton sepak bola eropa yang jadwalnya dini hari bisa sampai subuh. Ketiga, yaitu penyebab jam tidur yang berantakan dikarenakan kedua hal di atas yg telah saya sebutkan” ujar Tofhan yang juga Ketua MPK SMAN 2 Kota Tangerang Selatan Periode 2023/2024 itu.
Ia mengatakan, seperti yang diketahui, bahwa jam tidur ideal itu 6-8 jam. Jika kita begadang, maka akan mempengaruhi metabolisme tubuh sehingga tidak akan bekerja maksimal karena kekurangan tidur. Efek lainnya ialah tidak fit saat melakukan aktivitas sehari hari.
Tofhan sendiri sebenarnya mengetahui efek dari begadang dan ia berencana untuk mengubah pola tidurnya agar dapat beraktivitas dengan maksimal dan caranya ialah dengan mengurangi aktivitas yang tidak perlu jika sudah malam hari.
Shafa Nisa, Semester 8, Universitas Negeri Jakarta

Pendapat lain dari Shafa Nisa yang sedang kuliah semester 8 di Universitas Negeri Jakarta, jurusan Pendidikan Sastra Jerman.
Menurut shafa, sejak SMA ia sudah punya kebiasaan begadang dan tidak mencoba untuk diubah. Sehingga ia mengaku sampai saat ini waktu tidurnya mundur menjadi di atas jam 12 malam atau dini hari. Ia bahkan mengakui harus minum obat dulu biar tidur.
“Kalau ditanya alesan kenapa bisa sampai begadang? Karena saya punya insomnia dan keasikan scroll hp dan nonton drakor akhirnya jadi kebiasaan. Saya sadar kalau jam tidur cuma sedikit pas bangun badan jadi kurang fresh dan udah ngantuk lagi siangnya, jadi menghambat produktifitas. Kadang juga kalau kurang tidur bikin pusing, jantung berdebar-debar, dan tekanan darah meningkat. Tapi saya mencoba mengatasinya dengan banyak beraktivitas supaya badan capek, menghindari tidur siang/sore, ngga minum kopi di atas jam 6 sore, jauhin hp, dicoba buat rileks sambil dzikir,” jelasnya.
Muhammad Rafie Gunawan, semester 3, Institut Teknologi Tangerang Selatan

“Saya suka begadang itu bukan hanya untuk mengerjakan tugas kuliah saja. Menurut saya begadang itu waktu di mana kita bisa bener-benar menikmati waktu sendirian di malam hari tanpa ada yang mengganggu,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa begadang itu suatu pola hidup yang tidak baik. Karena ketika pagi hari badan tidak fit dan tidak mendapatkan istirahat secara optimal. “Saya sendiri tidak berencana merubah pola tidur itu. Belum ada, karena saya sendiri suka dengan keadaan benar-benar sunyi dan ngga ada yang ganggu apa yg kita lakukan,” imbuhnya mahasiswa yang punya startup sendiri bernama Guns Computer.
Kalau sebelumnya komentar dari para remaja, bagaimana dengan orang tuanya. Berikut adalah pendapat seorang ibu. Yuk kita simak!
Hendri Rahayu, Ibu rumah tangga dan guru
Menurut Hendri Rahayu, sebagai orang tua pasti marah jika lihat anaknya tidur terlalu malam. Untuk itu, ia selalu mencoba bertanya kepada anak, kenapa dia sampai tidur larut malam? Apa yg dikerjakan? Jika alasannya masuk akal, ia akan memaklumi. Namun, ia tidak membenarkan begadang tersebut.
“Saya lebih memberitahu dampak negatif dari begadang salah satunya memunculkan gejala yang mirip dengan gejala kekurangan Hb atau anemia, seperti lemas, tidak bertenaga, kurang fokus dan lebih parah lagi bisa menjadi insomia. Mungkin sesekali anak akan faham, namun terkadang akan diulang kembali jika ada kesibukan yamg sedang berlangsung,” terangnya.
Ia mengakui, sebagai seorang ibu pastinya gemas jika melihat anak kembali begadang lagi, walau sudah dinasehati. Meski demikian, Hendri Rahayu berusaha terus menerus memberikan pengertian dan akan ada konsekuensi jika tetap terus begadang. “selain itu saya mencoba memberikan asupan yang bergizi dan seimbang agar tubuh anak saya sehat,” jelasnya.
Guys, kebiasaan begadang pada remaja sering disebabkan oleh tugas, hiburan, atau kurangnya manajemen waktu. Meski banyak yang sadar dampaknya, mengubah kebiasaan ini memang membutuhkan usaha yang kuat. So, pasti kamu siap mengubah pola tidurmu dan hidup lebih sehat bukan? (rst)













Discussion about this post