• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Main Game Online Bikin Tantrum dan Prestasi Sekolah Jeblok, Serius?

by Ave Rosa
15 Desember 2024 | 23:55 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 7 mins read
A A
Main Game Online Bikin Tantrum dan Prestasi Sekolah Jeblok, Serius?

Ilustrasi. Foto: Pexels

KAMU KUAT – Jakarta

Teknologi yang semakin canggih menjadikan game online bagian dari hiburan tersendiri dengan menggunakan smartphone atau handphone pribadi. Bagi remaja, game online bukan sekadar permainan, namun dunia baru tempat mereka bisa bersenang-senang, bersaing, hingga menjalin pertemanan.

Dikutip dari Wikipedia, Ahad (15/12/2024), game online atau permainan daring adalah permainan video yang dimainkan sebagian atau utamanya melalui Internet atau jaringan komputer lain yang tersedia. Permainan daring ada di mana-mana di platform permainan modern, termasuk PC , konsol , dan perangkat seluler , dan mencakup banyak genre , termasuk first-person shooter , permainan strategi , dan permainan peran daring multipemain masif (MMORPG). 

Di balik keseruannya, game online juga menyimpan tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak. Apa saja dampaknya, dan bagaimana cara menikmati game tanpa kehilangan kendali? Mari kita bahas bersama dan simak komentar para remaja, orang tua, dan guru.

Hana Kamila kelas 9.1, SMP IT Insan Harapan, Tangerang Selatan

Hana Kamila kelas 9.1, SMP IT Insan Harapan. Foto: istimewa

Hana mengatakab bahwa peranan game dalam kehidupan remaja memiliki 2 dampak yang berbeda. Ada dampak baik di mana dengan bermain game remaja bisa menemukan hobi mereka dan tempat di mana mereka bisa menghilangkan rasa stres. Game juga bisa menjadi tempat remaja remaja bertemu teman baru dan mendapatkan life skill yang baru. Tetapi game juga dapat memberi dampak buruk  di mana remaja bisa menjadi kecanduan dengan bermain game sehingga melupakan atau meninggalkan kewajiban kewajibannya sebagai murid ataupun sebagai warga.

“Karena dengan perkembangan jaman, remaja remaja sekarang diperkenalkan dengan ratusan dan ribuan game baru. Dan ketika wabah corona terjadi banyak remaja yang lebih memilih untuk bermain game daripada belajar. Yang berpengaruh terhadap kepopuleran game di kalangan remaja. Dan karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu untuk bermain bersama, karena game memiliki berbagai play style yang dapat menyesuaikan dengan gaya bermain favorit mereka. Contohnya,  sekarang banyak remaja yang menyukai hal hal yang berbau aksi, dengan hal itu mereka tertarik dengan game-game yang bertema aksi seperti Valorant, Free Fire,” Mobile Legend, dan lain lain,” ujarnya.

Ia mengakui suka game Roblox, karena sudah memainkannya sejak 2018. Sampai saat ini ia masih memainkannya. Menurut Hana, Roblox memang game yang seru. Karena, lanjut dia, dalam satu game dipertemukan dengan ribuan game lainnya. Dan ia mengakui juga sudah hampir mengeluarkan uang 500 ribu lebih hanya untuk membeli skin atau untuk gamepass (langganan bulanan yang memberi akses ke ratusan game berkualitas tinggi di perangkat PC Windows) pada sebuah game.

Bacaan Terkait :

Game Roblox Diblokir di Mesir Mengikuti Negara Lainnya, Pemerintah Khawatir Keselamatan Anak-anak

Uni Emirat Arab Legalkan Game Judi Online Berlisensi dan Bisa Taruhan

Game-game Online Apa Saja di yang Menurut Kamu Merusak Generasi Muda, Alasannya?

Bunda, Kenali Ciri-ciri Kecanduan Game Online dan Cara Mengatasinya

Sony Bakal Beli Destiny Studio Bungie 3,6 Miliar Dolar

Load More

“Semenjak corona aku mejadi lebih sering bermain game, dan terkadang menjadi kecanduan terhadap suatu game. Dan karena itulah prestasi akademik aku menurun dari kelas 5 sampai 7. Di mana aku tidak peduli dengan nilai dan hanya mempedulikan game. Tetapi sekarang saya sudah bisa mengatur waktu bermain game saya dengan waktu belajar,” ujarnya.

Menurut Hana, banyak dampak negatif yang dapat muncul ketika seseorang berlebihan dalam bermain game, baik dari segi fisik, mental, maupun sosial. Tetapi yang lebih sering terjadi adalah penurunan prestasi akademik seseorang. Mereka terlalu fokus bermain game, sehingga melupakan kewajiban-kewajiban mereka. Berlebihan bermain game juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Banyak orang yang bermain game mengorbankan waktu makan atau waktu tidur mereka untuk bermain game, sehingga kesehatan mereka menurun.

“Orang tua saya memperbolehkan saya untuk bermain game, asalkan tidak berlebihan dan tidak menurunkan nilai akademis saya. Semenjak kegiatan sekolah sudah normal dan tidak ada karantina lagi, saya mulai jarang bermain game dan mulai lebih sering belajar. Dan ketika saya bermain game orang tua saya tidak melarangnya, asalkan tidak melupakan kewajiban saya,” katanya.

Hana kini sadar diri dalam bermain game. Jadi ia mencona membatasi waktu bermain. Ketika masa sekolah, Hana hanya memperbolehkan dirinya untuk bermain game ketika hari libur. Jadi dari hari Senin sampai Jumat saya tidak bermain game, melainkan belajar ataupun mengerjakan tugas sekolah,” terang Hana yang sekarang sedang mencoba fokus untuk persiapan masuk SMA.

Maska Danadyaksa Hasbi Ramdhany, Kelas X  SMA Negeri 3 Bandung

Maska Danadyaksa Hasbi Ramdhany, Kelas X  SMA Negeri 3 Bandung. Foto: istimewa

Dimas suka bermain game online sesekali untuk menghabiskan waktu luang atau hiburan tambahan agar pikiran tidak mudah stres karena tugas tugas sekolah.

“Karena banyaknya game online yang menawarkan variasi game yang menarik dan banyaknya game popular membuat saya fomo dan ikut-ikutan main. Awalnya saya bermain game karena iseng untuk hiburan. Namun, karena seru akhirnya keterusan yang terkadang sesekali suka membeli perlengkapan tambahan yang ada di dalam game tersebut Karena keasyikan bermain game pada akhirnya saya lupa waktu, lupa mengerjakan tugas sekolah,” ungkapnya.

Jika ditanya apakah game online ada dampakny? Saya akan menjawab menurut pengalaman saya seperti berkurangnya tidur, menjadi malas-malasan, tidak bisa memanage Waktu dengan baik, dan entah kenapa berpengaruh kepada emosi saya, saya jadi lebih suka marah marah, tidak sabaran.

Nur Faza Adefa Winanto, siswa Kelas 12 SMA School of Universe Bogor

Nur Faza Adefa Winanto, siswa Kelas 12 SMA School of Universe Bogor. Foto: istimewa

“Menurut saya Game online selain untuk hiburan dan mengisi waktu luang bisa menjadi menjadi sebuah peluang menghasilkan uang dengan masuknya ke dunia e-Sport semacam tim, lalu ikut tournament kecil sampai tournament besar atau internasional. Pernah saya mengikuti geme free fire tournament2 hadiahnya kecil cuman dua ratus ribu dan itu dibagi empat orang tim saya, jadi perorangnya dapat lima puluh ribu rupiah,” paparnya.

Untuk dampaknya negatifnya, katanya, selama ini tidak mempengaruhi prestasi belajar. Hanya saja ia suka kesal dan emosi jika kalah dan penasaran sampai lupa waktu, yang membuat orang tua saya marah-marah karena ia terlalu lama bermain game.

Amalya Kurniati Dewi, Seorang Ibu

Amalya Kurniati Dewi, Seorang Ibu. Foto: istimewa

Setelah para siswa yang memberikan komentarnya, sekarang giliran orang tua yang punya pendapat khusus.

“Pendapat saya tentang anak yang sering bermain game, tidak masalah selama ketika bermain game masih ingat makan, masih sering komunikasi dengan sesama anggota keluarga, tidak lupa waktu belajar. Tapi jika sudah terlalu asyik dan lama bermain game, ia suka mengingatkan anaknya agar segera mengakhiri game tersebut.

Dampak positifnya, imbuhnya, mungkin dari permainan tersebut dapat mengasah otak, merencanakan strategi, melatih ketelitian anak. Namun, pendapat saya sebagai orang tua, lebih banyak dampak negatif dari pada positifnya. Salah satunya adalah kesehatan mata, kemudian emosi anak yang menjadi tidak stabil, bahasa yang didapat pun terkadang kurang baik dan kurangnya komunikasi dengan dunia luar, lebih suka bermain di dunia maya serta berteman dengan teman di dunia maya (online).

“Untuk mengatasi ketergantungan dengan game online pada anak, saya sebagai orang tua coba mengalihkan fokus anak saya dengan cara perbanyak komunikasi, bercanda dengan anak, dan membolehkan anak bermain di luar bersama teman -teman sebaya dan selalu sediakan waktu lebih lama bersama  anak,” ujarnya.

Indri Agustini, S. Si, guru IPA, di SMPN 11 Tangerang Selatan

Indri Agustini, S. Si, guru IPA, di SMPN 11 Tangerang Selatan. Foto: istimewa

Bagaimana komentar dari guru?

Indri Agustini, S. Si, seorang guru IPA di SMPN 11 Tangerang Selatan, mengatakan bermain game online sebenarnya wajar selama ada pendampingan dari orang tua. Namun  bermain game online sekarang ini sudah dalam kondisi meresahkan. Karena memicu perilaku agresif dan berkata kasar. Selain itu juga banyak anak-anak yang di sekolah itu seperti tidak fokus dan sulit konsentrasi, sehingga kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik karena kurang tidur.

“Pengalaman menangani siswa terkena dampak negatif dari game online pernah. Ada beberapa anak yang kepergok bermain game karena mengeluarkan kata kasar dan kurang pantas. Jadi kita ajak ngobrol dan meminta untuk lebih mengontrol diri. Terutama ucapan. Juga meminta untuk sekolah lebih ketat lagi dalam aturan penggunaan handphone terutama untuk belajar. Harus diperhatikan pengembalian handphone setelah digunakan selama dalam lingkungan sekolah. Ada anak yang berperilaku agresif, mudah terpicu emosinya,” jelasnya.

Salah satu solusinya, kata dia, adalah mengajak berbicara dan meminta untuk mengurangi bermain game online. Juga bekerja sama dengan wali kelas (walas) untuk meminta peran orang tua di rumah dalam pendampingan anak ketika bermain HP terutama game online. Dan dari sekolah mengatur kebijakan dalam penggunaan HP di sekolah dengan aturan yang dibuat serta diterapkan di sekolah.

“Game online  sekarang ini bukan hanya sekedar permainan yang menghibur, namun ada juga turnamen. Beberapa kali sekolah saya mendapatkan undangan game online. Kami memilih untuk tidak mengirimkan anak mengikuti lomba tersebut. Mengenai turnamen game online sampai go internasional, itu wajar saja. Hanya mungkin untuk anak umur SMP sepertinya masih belum layak untuk mengikuti karena itu masih belum matang dan stabil emosinya,” ucap Indri.

 Mengenai turnamen game online sampai go internasional, lanjutnya, itu wajar saja. Hanya mungkin untuk anak umur SMP sepertinya masih belum layak untuk mengikuti karena itu masih belum matang dan stabil emosinya.

Well guys, game online memang bisa menjadi hiburan yang seru dan bahkan bermanfaat jika dimainkan dengan bijak. Namun, jangan sampai kesenangan sesaat ini mengganggu kewajiban atau hubungan sosial kamu. Ingatlah untuk tetap mengatur waktu, menjaga keseimbangan, dan memilih game yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan nilai positif.

Hidupmu adalah tentang pilihan, jadilah remaja yang bijak yang mampu mengatur waktu belajar dan berprestasi dengan baik demi mengembangkan potensi diri. Kesuksesanmu bukan di dunia game, tetapi di kehidupan nyata. Let’s play wisely! (Resty)

Tags: Dampak Game OnlineGame onlinePrestasi Siswa
ShareTweetSendShare
Previous Post

Resensi Buku: Berani Tidak Disukai Karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga oleh Zaki Fauzi

Next Post

Ave Rosa A Djalil’s Quote – Menantang Diri

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Ave Rosa A Djalil’s Quote – Menantang Diri

Ave Rosa A Djalil’s Quote – Menantang Diri

Pemuka Agama Yahudi Mendesak Warga Israel yang Menganggur Tidak Bergabung dengan Militer

Pemuka Agama Yahudi Mendesak Warga Israel yang Menganggur Tidak Bergabung dengan Militer

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video