KAMU KUAT – Avesiar
Gim online (game online) atau video game semakin mudah diakses anak-anak dan remaja tidak hanya di tempat-tempat penyewaaan gim umum, namun juga di layar ponsel pintar (smart phone). Hal ini tentu menciptakan kekhawatiran bagi para orang tua.
Untuk bisa mencegah dampak buruk dari penggunaan screen time dari gim online atau gim video, orang tua dan anak-anak, juga harus paham pengetahuan tentang permainan di era digital itu.
Dilansir Mayo Clinic Health System, Jum’at (1/7/2022), di dunia yang semakin digital, kebanyakan orang memiliki beberapa perangkat elektronik dengan layar. Namun, banyak orang tua khawatir tentang dampak penggunaan layar terhadap diri mereka sendiri dan anak-anak mereka.
Dengan layar yang hampir ada di mana-mana, mengendalikan waktu layar anak bisa menjadi tantangan. Bagaimana Anda bisa mengatur waktu layar anak-anak Anda? Bagaimana Anda tahu jika Anda atau anak-anak Anda kecanduan layar atau gim video?
Apakah waktu layar merusak?
Sulit untuk menghindari layar sepenuhnya, terutama mengingat pentingnya layar di tempat kerja dan sekolah. Namun, waktu layar yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, sosial, dan fisik seseorang.
• Terlalu banyak waktu layar telah dikaitkan dengan:
• Obesitas
• Kurang tidur atau insomnia
• Masalah perilaku, termasuk tindakan impulsif
• Hilangnya keterampilan sosial
• Kekerasan
• Kurang waktu untuk bermain
• Ketegangan mata
• Masalah leher dan punggung
• Kecemasan
• Depresi
• Kesulitan dengan pekerjaan atau sekolah
Waktu layar (screen time) dapat menarik bagi orang-orang dari segala usia. Ini karena otak mereka memproses dan bereaksi terhadap masukan sensorik seolah-olah itu terjadi pada mereka. Misalnya, banyak orang menangis, tertawa, atau terkejut saat menonton film. Keterlibatan serupa juga terjadi saat seseorang bermain gim video.
Saat bermain gim video, otak seseorang memproses skenario seolah-olah nyata. Jika gim tersebut menggambarkan situasi berbahaya atau penuh kekerasan, tubuh pemain akan bereaksi sesuai situasi tersebut. “Respons melawan atau lari” terhadap bahaya yang dirasakan tersebut dipicu oleh paparan stimulasi dan kekerasan yang intens dalam gim. Penggunaan gim video yang berlebihan dapat menyebabkan otak terus-menerus berada dalam kondisi hiperarousal.
Hiperarousal berbeda-beda pada setiap orang. Gejalanya dapat berupa kesulitan dalam memperhatikan, mengelola emosi, mengendalikan impuls, mengikuti arahan, dan menoleransi frustrasi. Beberapa orang dewasa atau anak-anak kesulitan mengekspresikan rasa welas asih dan kreativitas, serta menurunnya minat belajar.
Hal ini dapat menyebabkan kurangnya empati terhadap orang lain, yang dapat berujung pada kekerasan. Selain itu, anak-anak yang bergantung pada layar dan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain biasanya merasa lebih kesepian dibandingkan anak-anak yang berinteraksi secara langsung.
Menggali informasi mengenai dampak gim online atau video game, berikut pengakuan remaja dan anak muda kepada kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com
Gilang Abdudien Restu Pratama, mahasiswa semester 5, Fakultas Keolahragaan, UNS Surakarta

Menurut Gilang pengaruh terbesar bukan dari game online. Namun, dari manusianya sendiri yang belum bisa membagi waktu sehingga mengganggu hal hal penting lainnya
Meskipun demikian, Gilang mengakui bahwa ia tidak pernah benan-benar ingin bermain game online atau video game. “Ada. namun hanya sedikit sebagai hiburan semata dan mengisi waktu luang. Semua game online maupun offline jika tidak bisa membagi waktunya,” ujarnya.
Azka Pribadi, siswa kelas VIII, SMP IT Indah Medan

“Saya gemar dengan game online, tetapi saya tidak lewat batas atau kecanduan dengan game online tersebut. Karena jika kecanduan itu sangat tidak baik untuk kita. Kenapa kecanduan game itu tidak baik, bisa merusak mental, bisa menjadi stress karena kalah main
Bagi Azka. manfaat dari game adalah bisa untuk menghibur kita di waktu yang luang atau lagi bosan, atau main pas lagi libur
“Mungkin yang saya tahu bahwa tidak hanya satu atau dua game yang bikin merusak generasi muda tetapi banyak sekali. Tetapi yang saya tahu itu game yang paling merusak generasi muda ini adalah free fire atau ML. Itu karena banyak sekali orang yang ngomong kotor dan bercakap tidak seharusnya kita ucapkan,” bebernya.
Aisyah, siswi, kelas VII, SMPIT Bogor
Sedangkan bagi Aisyah, ia menyukai game online dan saat juga memainkan game online tapi dibatasi waktu dan berusaha untuk tidak kecanduan. “Saya rasa game online ada manfaatnya. Karena sifatnya online maka salah satu manfaatnya adalah untuk sosialisasi dengan teman baik dari luar kota bahkan luar negara,” katanya.
Ia mengakui bahwa ia tidak tahu game online apa yang bisa merusak generasi muda. Karena game online yang saya mainkan diawasi oleh orang tua. Selain itu orang tua memberitahu saya tidak semua game online itu bisa dimainkan anak-anak. Jadi setiap game yang akan diinstall harus sepengetahuan dan ijin orang tua,” terangnya.
Muhammad Hilmi, siswa kelas 7, SMPIT Nurul Fajar, Bogor

Bagi Hilmi, ia mengakui suka dan memainkanny. Menurutnya, ada manfaatnya, agar bisa bersosialisasi dari jauh dan mengasah kemampuan berbicara bahasa Inggris dan bahasa lainnya
“Game online yang mengajarkan kekerasan yang dapat di lakukan di dunia nyata misalnya pengguna yang mengikuti adegan kekerasan kepada orang lain seperti Freefire, Mobile legends, dan pubg, mempengaruhi mental sehingga mudah emosi. Menyita waktu karena kalau bermain game online itu suka lupa waktu bisa sampai 5 jam, begadang, lupa hal-hal yang penting untuk dilakukan seperti belajar, mengaji, dan lainnya,” ujarnya. (adam/rizka)













Discussion about this post