• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Lima Besar Ciri Kepribadian Kamu Lengkap dengan Model Kepribadian 5 Faktor Menurut Penelitian

by Ave Rosa
24 September 2025 | 23:59 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 26 mins read
A A
Lima Besar Ciri Kepribadian Kamu Lengkap dengan Model Kepribadian 5 Faktor Menurut Penelitian

Ilustrasi. Foto: Pexels

KAMU KUAT – Jakarta

Kepribadian seseorang dapat diklasifikasikan dan diketahui cirri-cirinya melalui pendekatan psikologi. Ada banyak sebutan serta  istilah dari kepribadian dan hasil penelitiannya. Namun, ada sebuah artikel yang menuliskan tentang “Lima Ciri Kepribadian Besar” dan ulasan lengkapnya.

Dilansir laman Simply Psychology, Kamis (20/9/2025), dituliskan bahwa, Lima Ciri Kepribadian Besar merupakan model yang diakui secara luas untuk memahami kepribadian. Lima ciri tersebut meliputi keterbukaan terhadap pengalaman, kehati-hatian, ekstroversi, keramahan, dan neurotisisme.

Ciri-ciri ini menggambarkan perilaku, emosi, dan pola pikir seseorang, dan sering digunakan untuk memprediksi hasil kehidupan seperti kinerja dan kesejahteraan.

Setiap ciri berada dalam spektrum, dengan setiap orang bervariasi dalam seberapa kuat mereka mengekspresikan masing-masing ciri tersebut.

* Conscientiousness  (Kehati-hatian) – impulsif, tidak teratur vs. disiplin, hati-hati

* Agreeableness (Keramahan) – curiga, tidak kooperatif vs. percaya, suka membantu

* Neuroticism (Neurotisisme) – tenang, percaya diri vs. cemas, pesimis

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

* Openness to Experience (Keterbukaan terhadap Pengalaman) – lebih menyukai rutinitas, praktis vs. imajinatif, spontan

* Extraversion (Ekstroversi) – pendiam, bijaksana vs. ramah, suka bersenang-senang

Lima Besar tersebur relatif stabil hampir sepanjang hidup seseorang.

Mereka dipengaruhi secara signifikan oleh gen dan lingkungan, dengan perkiraan heritabilitas sebesar 50 persen. Mereka juga memprediksi hasil-hasil penting dalam hidup seperti pendidikan dan kesehatan.

Berbeda dengan teori sifat lain yang mengelompokkan individu ke dalam kategori biner (yaitu introvert atau ekstrovert), Model Lima Besar menyatakan bahwa setiap sifat kepribadian merupakan sebuah spektrum.

Oleh karena itu, individu diurutkan berdasarkan skala antara dua ujung ekstrem dari lima dimensi yang luas:

Misalnya, ketika mengukur Ekstroversi, seseorang tidak akan diklasifikasikan sebagai ekstrovert murni atau introvert, tetapi ditempatkan pada skala yang menentukan tingkat ekstroversinya.

Dengan memeringkat individu berdasarkan masing-masing sifat ini, perbedaan kepribadian individu dapat diukur secara efektif.

Keterbukaan terhadap Pengalaman

Poin-Poin Utama

* Kualitas Inti: Rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemauan untuk mengeksplorasi ide atau aktivitas baru.

* Keterbukaan Tinggi: Menikmati variasi, merangkul perubahan, dan cenderung terlibat dalam kegiatan kreatif atau non-konvensional.

* Keterbukaan Rendah: Lebih menyukai rutinitas dan tradisi, lebih menghargai kepraktisan daripada hal baru.

Contoh: Seseorang yang gemar mendiskusikan konsep abstrak (misalnya, filsafat, seni) dan mencari perspektif yang beragam.

Pertanyaan Reflektif: Seberapa sering saya mencari pengalaman baru dibandingkan dengan tetap berpegang pada rutinitas yang sudah dikenal?

Keterbukaan terhadap pengalaman mengacu pada kemauan seseorang untuk mencoba hal-hal baru serta terlibat dalam aktivitas imajinatif dan intelektual. Ini mencakup kemampuan untuk “berpikir di luar kotak”.

Keterbukaan vs. Ketertutupan terhadap Pengalaman

Mereka yang memiliki skor tinggi dalam keterbukaan terhadap pengalaman dianggap kreatif dan artistik. Mereka lebih menyukai variasi dan menghargai kemandirian.

Mereka ingin tahu tentang lingkungan sekitar dan senang bepergian serta mempelajari hal-hal baru.

Orang yang memiliki skor rendah dalam keterbukaan terhadap pengalaman lebih menyukai rutinitas. Mereka tidak nyaman dengan perubahan dan mencoba hal-hal baru, sehingga mereka lebih menyukai hal-hal yang familiar daripada yang tidak diketahui.

Karena mereka adalah orang yang praktis, mereka seringkali merasa sulit untuk berpikir kreatif atau abstrak.

Dampak keterbukaan dalam kehidupan nyata

* Kreativitas dan Inovasi – Keterbukaan yang tinggi dikaitkan dengan pemikiran kreatif dan inovasi yang lebih besar, terutama di bidang seni dan sains (Feist, 1998).

* Pandangan Politik Liberal – Studi menunjukkan bahwa individu yang memiliki keterbukaan tinggi cenderung memiliki sikap yang lebih liberal dan progresif (Carney dkk., 2008).

* Kesuksesan Wirausaha – Individu yang lebih terbuka lebih cenderung mengambil risiko bisnis dan mengejar usaha kewirausahaan (Zhao & Seibert, 2006).

* Kepuasan Pernikahan: Dalam pernikahan di mana salah satu pasangan mendapat skor keterbukaan yang lebih rendah daripada yang lain, kemungkinan besar terdapat ketidakpuasan pernikahan (Myers, 2011).

* Efisiensi Tempat Kerja: Keterbukaan terhadap pengalaman berkorelasi positif dengan proaktivitas individu tetapi berkorelasi negatif dengan efisiensi tim di tempat kerja (Neal dkk., 2012).

* Kesepian: Orang yang mendapat skor keterbukaan terhadap pengalaman yang tinggi cenderung tidak merasa kesepian (Buecker dkk., 2020).

Kehati-hatian

Poin-Poin Utama

* Kualitas Inti: Disiplin diri, terorganisir, dan perilaku yang berorientasi pada tujuan.

* Kehati-hatian Tinggi: Terorganisir, andal, gigih, pandai merencanakan.

* Kehati-hatian Rendah: Lebih impulsif, mudah teralihkan, dan kurang terstruktur.

Contoh: Seorang siswa yang menggunakan agenda berkode warna, menulis daftar tugas yang terperinci, dan selalu menyerahkan tugas tepat waktu.

* Pertanyaan Reflektif: Seberapa penting bagi saya untuk menepati komitmen dan memenuhi tenggat waktu?

Kehati-hatian menggambarkan kemampuan seseorang untuk mengatur kendali impuls untuk terlibat dalam perilaku yang berorientasi pada tujuan (Grohol, 2019). Ini mengukur elemen-elemen seperti kontrol, inhibisi, dan persistensi perilaku.

Kehati-hatian vs. Kehabisan Tujuan

Mereka yang memiliki skor tinggi dalam kehati-hatian dapat digambarkan sebagai orang yang terorganisir, disiplin, berorientasi pada detail, bijaksana, dan cermat.

Mereka juga memiliki kontrol impuls yang baik, yang memungkinkan mereka menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan.

Mereka yang memiliki skor rendah dalam kehati-hatian mungkin kesulitan mengendalikan impuls, yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan.

Mereka cenderung lebih tidak terorganisir dan mungkin tidak menyukai terlalu banyak struktur. Mereka juga mungkin terlibat dalam perilaku yang lebih impulsif dan ceroboh.

Dampak nyata dari kehati-hatian

Kinerja Kerja: Kehati-hatian merupakan prediktor terkuat dari kelima sifat kinerja kerja (John & Srivastava, 1999).

* Hasil Kesehatan: Orang yang memiliki skor tinggi dalam kehati-hatian telah diamati memiliki hasil kesehatan dan umur panjang yang lebih baik (John & Srivastava, 1999). Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kehidupan yang terstruktur dengan baik serta pengendalian impuls untuk mengikuti diet, perawatan, dll.

* Keberhasilan Akademik: Skor tinggi dalam kehati-hatian memprediksi nilai SMA dan universitas yang lebih baik (Myers, 2011).

* Kenakalan Remaja: Rendahnya kehati-hatian memprediksi kenakalan remaja (John & Srivastava, 1999).

* Stabilitas Keuangan: Sifat ini sangat terkait dengan perencanaan keuangan yang lebih baik, menabung, dan kesuksesan finansial jangka panjang (Duckworth & Weir, 2010).

* Stabilitas Hubungan: Individu yang berhati-hati lebih mungkin memiliki hubungan jangka panjang yang sukses dan tingkat perceraian yang lebih rendah (Roberts dkk., 2007).

Keramahan

Poin Utama

* Kualitas Inti: Kerja sama, empati, dan menjaga keharmonisan dalam hubungan.

* Keramahan Tinggi: Percaya, membantu, suportif, dan berorientasi pada tim.

* Keramahan Rendah: Lebih kompetitif atau skeptis, terkadang mengarah pada konflik.

Contoh: Seorang teman yang memediasi konflik, menawarkan dukungan emosional, dan secara aktif berusaha menjaga keharmonisan kelompok.

Pertanyaan Reflektif: Seberapa besar kesediaan saya untuk berkompromi demi menjaga kedamaian dalam suatu kelompok atau hubungan?

Keramahan mengacu pada bagaimana orang cenderung memperlakukan hubungan dengan orang lain.

Tidak seperti ekstroversi yang berfokus pada pengejaran hubungan, keramahan berfokus pada orientasi dan interaksi seseorang dengan orang lain (Ackerman, 2017).

Keramahan vs. Antagonisme

Mereka yang memiliki tingkat keramahan yang tinggi dapat digambarkan sebagai orang yang berhati lembut, mudah percaya, dan disukai. Mereka peka terhadap kebutuhan orang lain dan suka menolong serta kooperatif. Orang-orang menganggap mereka dapat dipercaya dan altruistik.

Mereka yang tingkat keramahannya rendah dapat dianggap mencurigakan, manipulatif, dan tidak kooperatif.

Mereka mungkin bersikap antagonis ketika berinteraksi dengan orang lain, sehingga mereka cenderung tidak disukai dan dipercaya.

Dampak Keramahan dalam Kehidupan Nyata

* Kepuasan Pernikahan: Dalam pernikahan di mana salah satu pasangan memiliki skor keramahan yang lebih rendah daripada yang lain, kemungkinan besar terdapat ketidakpuasan dalam pernikahan (Myers, 2011).

* Risiko Kesehatan: Keramahan yang rendah telah dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan yang lebih tinggi (John & Srivastava, 1999).

* Kenakalan Remaja: Keramahan yang rendah memprediksi kenakalan remaja (John & Srivastava, 1999).

* Kinerja di Tempat Kerja: Keramahan memprediksi kinerja yang lebih baik dalam pekerjaan yang melibatkan kerja sama tim. Namun, hal ini berkorelasi negatif dengan proaktivitas individu (Neal dkk., 2012).

* Keterlibatan Komunitas dan Sosial: Individu yang sangat ramah cenderung lebih terlibat dalam kegiatan sukarela dan pembangunan komunitas (Ozer & Benet-Martínez, 2006).

* Keterlibatan Agama dan Spiritual: Keramahan telah dikaitkan dengan tingkat partisipasi agama dan spiritualitas yang lebih tinggi (Saroglou, 2010).

Ekstroversi

Poin Utama

* Kualitas Inti: Keramahan, energi dari interaksi sosial, dan ketegasan.

* Ekstroversi Tinggi: Ramah, antusias dalam kelompok, sering kali bersemangat dalam situasi sosial.

* Ekstroversi Rendah (Introversi): Lebih pendiam, lebih suka menyendiri atau berkelompok kecil.

Contoh: Seseorang yang sering memulai acara (seperti pesta atau acara kelompok) dan berkembang pesat dalam pertemuan besar.

* Pertanyaan Reflektif: Apakah saya biasanya merasa segar kembali saat berkumpul atau apakah saya membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan diri?

Ekstroversi mencerminkan kecenderungan dan intensitas seseorang dalam mencari interaksi dengan lingkungannya, terutama dalam hal sosial.

Ekstraversi mencakup tingkat kenyamanan dan ketegasan seseorang dalam situasi sosial.

Selain itu, ekstroversi juga mencerminkan sumber energi seseorang.

Ekstraversi vs. Introversi

Mereka yang memiliki ekstroversi tinggi umumnya tegas, mudah bergaul, suka bersenang-senang, dan supel. Mereka berkembang pesat dalam situasi sosial dan merasa nyaman menyuarakan pendapat mereka.

Mereka cenderung mendapatkan energi dan menjadi bersemangat karena berada di sekitar orang lain.

Mereka yang memiliki skor ekstroversi rendah sering disebut sebagai introvert. Orang-orang ini cenderung lebih pendiam dan pendiam. Mereka lebih suka mendengarkan orang lain daripada perlu didengarkan.

Introvert sering membutuhkan waktu menyendiri untuk memulihkan energi karena menghadiri acara sosial bisa sangat melelahkan bagi mereka.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa introvert tidak selalu tidak menyukai acara sosial, tetapi justru menganggapnya melelahkan.

Dampak ekstroversi dalam kehidupan nyata

* Kepemimpinan: Ekstroversi merupakan prediktor kepemimpinan, serta kesuksesan dalam posisi penjualan dan manajemen (John & Srivastava, 1999).

* Kesepian: Mereka yang memiliki skor ekstroversi tinggi cenderung tidak mengalami kesepian (Buecker dkk., 2020).

* Keterampilan Mendengarkan yang Dirasakan: Orang yang berinteraksi dengan ekstrovert secara konsisten menilai mereka kurang mampu mendengarkan dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor ekstroversi rendah (Flynn dkk., 2023).

* Kebahagiaan: Ekstroversi yang tinggi merupakan salah satu prediktor terkuat kesejahteraan subjektif dan kepuasan hidup secara keseluruhan (DeNeve & Cooper, 1998).

* Kepemimpinan: Ekstrovert lebih mungkin muncul sebagai pemimpin di lingkungan kerja dan sukses dalam karier yang berorientasi sosial (Judge dkk., 2002).

* Peningkatan Modal Sosial: Jejaring sosial dan persahabatan yang lebih kuat umum ditemukan di kalangan ekstrovert, yang mengarah pada peningkatan sistem pendukung (Asendorpf & Wilpers, 1998).

Neurotisisme (Stabilitas Emosional)

Poin-Poin Utama

* Kualitas Inti: Kecenderungan terhadap volatilitas emosi versus ketenangan dan ketahanan.

* Neurotisisme Tinggi: Rentan terhadap kekhawatiran, perubahan suasana hati, atau stres, mungkin lebih sering mengalami kecemasan.

* Neurotisisme Rendah: Umumnya tenang, aman, dan tangguh ketika menghadapi tantangan.

Contoh: Seseorang yang bereaksi keras terhadap ketidaknyamanan kecil, merasa cemas atau murung hingga diyakinkan.

Pertanyaan Reflektif: Ketika masalah muncul, apakah saya biasanya bereaksi dengan kekhawatiran langsung atau dapatkah saya mempertahankan rasa tenang?

Neurotisisme menggambarkan stabilitas emosional seseorang secara keseluruhan melalui cara mereka memandang dunia.

Neurotisisme memperhitungkan seberapa besar kemungkinan seseorang menafsirkan peristiwa sebagai ancaman atau sulit.

Neurotisisme juga mencakup kecenderungan seseorang untuk mengalami emosi negatif.

Neurotisisme vs. Stabilitas Emosional

Mereka yang memiliki skor tinggi dalam neurotisisme sering merasa cemas, tidak aman, dan mengasihani diri sendiri. Mereka sering dianggap murung dan mudah tersinggung.

Mereka rentan terhadap kesedihan yang berlebihan dan harga diri yang rendah.

Mereka yang memiliki skor rendah dalam neurotisisme cenderung lebih tenang, aman, dan puas diri. Mereka cenderung tidak dianggap cemas atau murung.

Mereka cenderung memiliki harga diri yang tinggi dan tetap tangguh.

Dampak neurotisisme dalam kehidupan nyata

* Kepuasan Pernikahan: Dalam pernikahan di mana salah satu pasangan memiliki skor stabilitas emosional yang lebih rendah daripada yang lain, kemungkinan besar terdapat ketidakpuasan dalam pernikahan (Myers, 2011).

* Risiko Kesehatan: Neurotisisme tampaknya menjadi faktor risiko bagi banyak masalah kesehatan, termasuk depresi (dan gangguan suasana hati lainnya), skizofrenia, diabetes, asma, sindrom iritasi usus besar, dan penyakit jantung (Lahey, 2009).

* Ketidakpuasan Kerja dan Kelelahan Kerja: Individu neurotik sering mengalami lebih banyak stres terkait pekerjaan, komitmen kerja yang lebih rendah, dan risiko kelelahan kerja yang lebih tinggi (Judge dkk., 1999).

* Kesepian: Mereka yang memiliki skor neurotisisme tinggi lebih mungkin mengalami kesepian (Buecker dkk., 2020).

Kesehatan Mental

Poin-Poin Utama

Lima sifat utama memengaruhi faktor risiko dan faktor protektif untuk kondisi kesehatan mental.

Meskipun neurotisisme yang tinggi tetap menjadi prediktor terkuat dari tekanan psikologis, sifat-sifat seperti kehati-hatian, ekstroversi, dan keramahan berkontribusi pada ketahanan dan kesejahteraan.

Memahami bagaimana sifat-sifat kepribadian berinteraksi dengan kesehatan mental dapat membantu dokter menyesuaikan intervensi dan individu membuat pilihan yang tepat tentang strategi koping.

Ciri-ciri kepribadian memainkan peran penting dalam kesehatan mental, memengaruhi kerentanan terhadap gangguan psikologis dan ketahanan dalam mengatasi stres.

Neurotisisme dan Gangguan Kesehatan Mental

Neurotisisme adalah prediktor terkuat dari masalah kesehatan mental di antara Lima sifat utama.

Tingkat neurotisisme yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan, depresi, ketidakstabilan suasana hati, dan tekanan psikologis secara keseluruhan (Lahey, 2009).

Penelitian menunjukkan bahwa individu neurotik lebih mungkin mengalami pemikiran katastrofik, disregulasi emosi, dan kesulitan mengatasi stres.

Hal ini membuat individu neurotik lebih rentan terhadap kondisi kejiwaan seperti gangguan kecemasan umum (GAD), gangguan depresi mayor (MDD), dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) (Kotov dkk., 2010).

Kehati-hatian dan Ketahanan Psikologis

Kehati-hatian berkaitan dengan hasil kesehatan mental yang positif dan ketahanan psikologis yang lebih besar.

Individu yang sangat berhati-hati cenderung terlibat dalam perilaku yang meningkatkan kesehatan, seperti olahraga, nutrisi yang tepat, dan kepatuhan terhadap pengobatan medis, yang berkontribusi pada tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah (Roberts dkk., 2007).

Studi juga menunjukkan bahwa kehati-hatian berkorelasi negatif dengan perilaku impulsif, penyalahgunaan zat, dan rawat inap psikiatris (Hakulinen dkk., 2015).

Ekstraversi dan Kesejahteraan Subjektif

Ekstraversi sangat berkaitan dengan tingkat kebahagiaan, optimisme, dan kepuasan hidup yang lebih tinggi (DeNeve & Cooper, 1998).

Ekstrovert cenderung mencari dukungan sosial, yang berfungsi sebagai faktor pelindung terhadap masalah kesehatan mental.

Kecenderungan mereka terhadap emosi positif dapat bertindak sebagai penyangga terhadap stres dan gejala depresi (Kotov dkk., 2010).

Namun, dalam kasus ekstrem, ekstroversi yang sangat tinggi dapat dikaitkan dengan impulsivitas dan perilaku berisiko, yang dapat berkontribusi pada gangguan penyalahgunaan zat (Wilson & Gullone, 1999).

Keramahan dan Kesejahteraan Sosial

Keramahan dikaitkan dengan hubungan interpersonal yang lebih kuat, tingkat empati yang lebih tinggi, dan risiko konflik interpersonal yang lebih rendah, yang semuanya berkontribusi pada hasil kesehatan mental yang positif (Ozer & Benet-Martínez, 2006).

Individu yang sangat ramah lebih cenderung mencari dukungan emosional dan mempertahankan jaringan sosial yang stabil, yang dapat melindungi dari kondisi seperti depresi dan kecemasan (Kotov dkk., 2010).

Namun, tingkat keramahan yang sangat tinggi dapat membuat individu lebih rentan terhadap perilaku menyenangkan orang lain, ketergantungan emosional, dan kesulitan menetapkan batasan pribadi, yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan yang berhubungan dengan stres.

Keterbukaan terhadap Pengalaman dan Kompleksitas Psikologis

Keterbukaan terhadap pengalaman memiliki hubungan yang kompleks dengan kesehatan mental.

Di satu sisi, hal ini berkaitan dengan kreativitas, fleksibilitas kognitif, dan wawasan emosional, yang dapat bermanfaat bagi pertumbuhan dan ketahanan psikologis (DeYoung dkk., 2005).

Di sisi lain, tingkat keterbukaan yang sangat tinggi telah dikaitkan dengan risiko yang lebih besar terhadap pengalaman seperti psikotik, termasuk ciri-ciri kepribadian skizotipal dan kerentanan terhadap delusi atau halusinasi (Macare dkk., 2012).

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keterbukaan yang moderat dapat mendukung kesejahteraan, tingkat keterbukaan yang sangat tinggi dapat dikaitkan dengan kerentanan kesehatan mental tertentu.

Penelitian Baru tentang Media dan Teknologi

Manolika (2023) menyelidiki bagaimana ciri-ciri kepribadian Lima Besar berhubungan dengan preferensi untuk berbagai genre film dan buku di kalangan mahasiswa. Temuan utama meliputi:

Keterbukaan terhadap pengalaman memprediksi preferensi untuk film yang kompleks (misalnya, dokumenter) dan buku-buku non-konvensional (misalnya, filsafat).

Kehati-hatian dikaitkan dengan preferensi untuk buku-buku informatif.

Keramahan memprediksi kesukaan untuk genre konvensional seperti film keluarga dan buku roman.

Neurotisisme hanya berkorelasi dengan preferensi untuk buku-buku ringan, bukan film.

Ekstraversi tidak secara signifikan memprediksi preferensi media, bertentangan dengan hipotesis awal.

Hasil ini menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian memengaruhi pilihan media, dengan individu memilih hiburan yang selaras dengan kebutuhan psikologis dan aspek kepribadian mereka.

Roehrick dkk. (2023) meneliti bagaimana ciri-ciri Lima Besar berhubungan dengan penggunaan ponsel pintar di kalangan mahasiswa. Temuan utama meliputi:

Orang ekstrovert menggunakan ponsel mereka lebih sering setelah diperiksa.

Orang yang berhati-hati cenderung tidak menggunakan ponsel mereka dan menggunakannya untuk durasi yang lebih singkat.

Ponsel pintar lebih banyak digunakan di tempat umum, dengan ikatan sosial yang lebih lemah, dan selama aktivitas kelas/kerja.

Ekstroversi dan kesadaran merupakan sifat yang paling relevan untuk memprediksi pola penggunaan ponsel pintar.

Faktor kontekstual (lokasi, ikatan sosial, aktivitas) secara signifikan memengaruhi durasi penggunaan ponsel pintar.

Hasil ini menunjukkan bahwa baik sifat kepribadian maupun faktor kontekstual memengaruhi pola penggunaan ponsel pintar secara signifikan.

Meskipun sifat seperti ekstroversi dan kesadaran memprediksi aspek-aspek tertentu dari perilaku digital, elemen situasional seperti lokasi, lingkungan sosial, dan aktivitas yang sedang berlangsung memainkan peran penting dalam menentukan durasi dan frekuensi penggunaan ponsel pintar.

Evaluasi Kritis

Deskriptor, Bukan Teori

The Big Five dikembangkan untuk mengorganisasikan sifat-sifat kepribadian, alih-alih sebagai teori kepribadian yang komprehensif.

Oleh karena itu, teori ini lebih deskriptif daripada eksplanatori dan tidak sepenuhnya memperhitungkan perbedaan antar individu (John & Srivastava, 1999). Teori ini juga tidak cukup memberikan alasan kausal untuk perilaku manusia.

Validitas Lintas Budaya

Lima Besar ciri kepribadian telah dipelajari di berbagai budaya, dan penelitian umumnya mendukung validitas model ini di berbagai kelompok bahasa dan nasional (McCrae & Terracciano, 2005).

Namun, terdapat variasi budaya baik dalam ekspresi ciri maupun struktur kepribadian itu sendiri, sehingga menimbulkan pertanyaan penting tentang universalitas model lima faktor.

Variasi dalam struktur lima faktor lintas budaya

Meskipun model Lima Besar telah direplikasi di banyak negara, beberapa studi menunjukkan bahwa Keterbukaan terhadap Pengalaman tidak selalu muncul sebagai faktor yang berbeda dalam budaya tertentu.

Di beberapa masyarakat Asia dan Pribumi, Keterbukaan tampaknya menyatu dengan ciri-ciri lain atau digantikan oleh dimensi kepribadian yang spesifik secara budaya (Cheung dkk., 2011).

Misalnya, penelitian tentang struktur kepribadian Tionghoa telah mengidentifikasi model alternatif yang menekankan harmoni interpersonal dan tradisi, yang menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian dapat dibentuk oleh nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (Cheung dkk., 2008).

Selain itu, studi menunjukkan bahwa dimensi sifat tertentu mungkin kurang relevan atau terstruktur secara berbeda dalam konteks non-Barat.

Misalnya, pemeriksaan terhadap penduduk asli di Bolivia menemukan bahwa struktur lima faktor tidak tereplikasi dengan jelas, kemungkinan karena perbedaan gaya kognitif, kategori linguistik, dan tuntutan lingkungan (Gurven dkk., 2013).

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Lima Sifat Besar mungkin dipengaruhi secara biologis dan sosial, bentuk pastinya dapat bervariasi berdasarkan faktor budaya dan ekologi.

Perbedaan Tingkat Sifat Antarbudaya

Penelitian juga telah mendokumentasikan perbedaan tingkat sifat rata-rata antarbudaya, yang seringkali berkorelasi dengan karakteristik masyarakat yang lebih luas. Beberapa temuan kunci meliputi:

Ekstroversi dan Keterbukaan cenderung lebih tinggi di masyarakat Barat dan individualistis (misalnya, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat) dibandingkan dengan budaya kolektivis seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, di mana individu-individu tersebut memiliki skor rata-rata yang lebih rendah untuk sifat-sifat ini (McCrae dkk., 2005).

Kehati-hatian umumnya lebih tinggi di negara-negara dengan struktur sosial hierarkis, karena sifat-sifat seperti disiplin dan ketertiban diperkuat dalam masyarakat yang menekankan nilai-nilai dan otoritas tradisional (Lukaszewski & Roney, 2011).

Skor neurotisisme cenderung bervariasi tergantung pada stresor sosial, stabilitas ekonomi, dan akses layanan kesehatan. Beberapa studi menunjukkan bahwa populasi di negara-negara yang kurang berkembang secara ekonomi atau lebih tidak stabil secara politik melaporkan tingkat sifat-sifat yang berhubungan dengan kecemasan yang lebih tinggi (Lynn & Martin, 1995).

Nilai Adaptif

Psikolog evolusi, David Buss, menyatakan bahwa sifat-sifat ini berevolusi sebagai respons adaptif bagi nenek moyang kita.

Tingkat sifat yang berbeda memberikan keuntungan bertahan hidup di lingkungan yang berbeda.

Misalnya, Keramahan yang tinggi dapat mendorong kerja sama dan kohesi kelompok, sementara Kehati-hatian mungkin mendukung perencanaan jangka panjang untuk sumber daya yang langka.

Ekstraversi mungkin membantu dalam pemilihan pasangan atau pembentukan aliansi, sedangkan tingkat Neurotisisme yang moderat dapat meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam lingkungan yang berisiko.

Akhirnya, Keterbukaan mungkin telah mendorong eksplorasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tuntutan ekologis yang terus berubah.

Perbedaan Gender

Perbedaan dalam Lima Besar ciri kepribadian antar gender telah diamati, tetapi perbedaan ini kecil dibandingkan dengan perbedaan antar individu dalam gender yang sama.

Costa dkk. (2001) mengumpulkan data dari lebih dari 23.000 pria dan wanita di 26 negara. Mereka menemukan bahwa “perbedaan gender berukuran sedang, konsisten dengan stereotip gender, dan dapat direplikasi di berbagai budaya” (hlm. 328).

Wanita melaporkan diri mereka lebih tinggi dalam Neurotisisme, Keramahan, Kehangatan (aspek Ekstraversi), dan Keterbukaan terhadap Perasaan dibandingkan dengan pria. Pria melaporkan diri mereka lebih tinggi dalam Asertivitas (aspek Ekstroversi) dan Keterbukaan terhadap Ide.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa perbedaan gender yang lebih besar dilaporkan di negara-negara industri Barat.

Para peneliti mengusulkan bahwa alasan yang paling masuk akal untuk temuan ini adalah proses atribusi.

Mereka menduga bahwa tindakan perempuan di negara-negara individualistis lebih mungkin dikaitkan dengan kepribadian mereka, sedangkan tindakan perempuan di negara-negara kolektivistik lebih mungkin dikaitkan dengan kepatuhan mereka terhadap norma-norma peran gender.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Lima Besar

Seperti semua teori kepribadian, Lima Besar dipengaruhi oleh faktor bawaan dan pengasuhan. Studi kembar menemukan bahwa heritabilitas (jumlah varians yang dapat dikaitkan dengan gen) dari ciri-ciri Lima Besar adalah 40-60 persen.

Studi kembar tersebut menunjukkan bahwa Lima Besar ciri kepribadian dipengaruhi secara signifikan oleh gen dan bahwa kelima ciri tersebut sama-sama dapat diwariskan.

Heritabilitas untuk pria dan wanita tampaknya tidak berbeda secara signifikan (Leohlin dkk., 1998).

Studi dari berbagai negara juga mendukung gagasan tentang dasar genetik yang kuat untuk Lima Besar ciri kepribadian (Riemann dkk., 1997; Yamagata dkk., 2006).

Studi Roehrick dkk. (2023) tentang penggunaan ponsel pintar mengungkapkan bahwa meskipun ciri-ciri kepribadian seperti ekstroversi dan kehati-hatian memengaruhi penggunaan teknologi, konteks memainkan peran penting.

Variabilitas terbesar dalam penggunaan ponsel pintar terjadi secara langsung, menunjukkan bahwa faktor situasional seringkali lebih dominan daripada kepribadian dalam menentukan perilaku.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan baik ciri individu maupun faktor lingkungan ketika mempelajari pengaruh kepribadian terhadap perilaku.

Kestabilitas dari Ciri-Ciri

Skor Lima Besar seseorang relatif stabil hampir sepanjang hidup mereka dengan beberapa perubahan kecil dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Sebuah studi oleh Soto & John (2012) mencoba melacak tren perkembangan Lima Sifat Utama.

Mereka menemukan bahwa keramahan dan kehati-hatian secara keseluruhan meningkat seiring bertambahnya usia. Tidak ada tren signifikan untuk ekstroversi secara keseluruhan meskipun sifat suka berkelompok menurun dan ketegasan meningkat.

Keterbukaan terhadap pengalaman dan neurotisisme sedikit menurun dari masa remaja hingga dewasa pertengahan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa terdapat tren yang lebih signifikan pada aspek-aspek tertentu (yaitu, jiwa petualang dan depresi) daripada pada Lima Sifat Utama secara keseluruhan.

Lima Sifat Utama pada Hewan Non-Manusia

Meskipun model Lima Sifat Utama awalnya dikembangkan dalam penelitian kepribadian manusia, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa hewan non-manusia menunjukkan dimensi sifat yang sebanding.

Sebagai contoh, simpanse telah menunjukkan analogi inti dari Ekstroversi, Keramahan, Kehati-hatian, dan Neurotisisme, dengan faktor tambahan yang sering disebut sebagai “Dominasi” (King & Figueredo, 1997).

Pola-pola serupa yang menyerupai sifat telah diamati pada berbagai spesies lain – anjing, kucing, hyena, dan bahkan ikan – menunjukkan bahwa kecenderungan perilaku yang konsisten dapat menjangkau beragam taksa (Gosling & John, 1999; Gosling, 2001).

Para peneliti menekankan bahwa meskipun terdapat tumpang tindih yang substansial dengan kerangka kerja Lima Besar manusia, jumlah dan sifat pasti dimensi sifat dapat bervariasi antar spesies.

Misalnya, hewan dapat mengekspresikan perilaku yang serupa dengan Keterbukaan (misalnya, rasa ingin tahu, perilaku eksploratif), tetapi terkadang perilaku ini dapat dikelompokkan secara berbeda dibandingkan pada manusia.

Temuan tersebut mendukung perspektif evolusi: dimensi kepribadian dasar dapat memberikan keuntungan adaptif, seperti perolehan sumber daya yang lebih baik, posisi sosial, atau seleksi pasangan, sehingga bertahan melalui seleksi alam di berbagai spesies.

Genetika dan Biologi Molekuler

Studi awal tentang kembar menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian cukup dapat diwariskan, dengan pengaruh genetik menyumbang 40-60% dari variasi sifat (Jang dkk., 1996).

Namun, penelitian genetika molekuler modern telah mengungkapkan bahwa ciri-ciri kepribadian bersifat poligenik, artinya ciri-ciri tersebut dipengaruhi oleh banyak gen dengan efek kecil, alih-alih hanya oleh satu “gen kepribadian” (Vukasović & Bratko, 2015).

Meskipun awalnya diharapkan dapat mengidentifikasi penanda genetik spesifik, studi asosiasi genom-lebar skala besar (GWAS) menunjukkan bahwa kontribusi genetik terhadap ciri-ciri kepribadian bersifat kompleks dan saling terkait dengan faktor lingkungan (Lo dkk., 2017).

Sains Saraf dan Struktur Otak

Kemajuan dalam sains saraf telah mulai memetakan Lima Ciri Utama ke dalam wilayah otak dan jaringan saraf tertentu.

Studi MRI fungsional (fMRI) dan pencitraan struktural telah mengidentifikasi hubungan yang penting:

Ekstroversi dikaitkan dengan peningkatan aktivitas dalam sistem penghargaan dopamin otak, khususnya striatum ventral, yang menjelaskan mengapa orang ekstrovert mencari kegembiraan dan keterlibatan sosial (DeYoung dkk., 2010). Kehati-hatian berkorelasi dengan volume dan konektivitas yang lebih besar di korteks prefrontal, area yang terkait dengan pengendalian diri, perencanaan, dan perilaku yang diarahkan pada tujuan (DeYoung dkk., 2009).

Neurotisisme dikaitkan dengan peningkatan aktivitas di amigdala, wilayah otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan respons stres, yang mendukung hubungannya dengan kecemasan dan gangguan suasana hati (Servaas dkk., 2013).

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kepribadian berakar secara biologis, meskipun neuroplastisitas memungkinkan fleksibilitas dalam sifat-sifat seiring waktu.

Kecerdasan Buatan dan Prediksi Kepribadian

Dengan maraknya big data dan pembelajaran mesin, para peneliti dan perusahaan memanfaatkan AI untuk memprediksi sifat-sifat kepribadian dari perilaku digital.

Algoritma yang menganalisis aktivitas media sosial, penggunaan bahasa, dan pola penelusuran dapat secara akurat memperkirakan sifat-sifat Lima Besar (Kosinski dkk., 2013).

Meskipun hal ini memiliki aplikasi praktis di bidang-bidang seperti penilaian karier dan rekomendasi konten yang ditargetkan, hal ini juga o memicu kekhawatiran etis tentang privasi dan manipulasi iklan yang didorong oleh kepribadian (Matz dkk., 2017).

Sejarah dan Latar Belakang

Model Lima Besar dihasilkan dari kontribusi banyak peneliti independen. Gordon Allport dan Henry Odbert pertama kali menyusun daftar 4.500 istilah yang berkaitan dengan ciri-ciri kepribadian pada tahun 1936 (Vinney, 2018).

Karya mereka memberikan dasar bagi psikolog lain untuk mulai menentukan dimensi dasar kepribadian.

Pada tahun 1940-an, Raymond Cattell dan rekan-rekannya menggunakan analisis faktor (sebuah metode statistik) untuk mempersempit daftar Allport menjadi enam belas ciri.

Namun, banyak psikolog yang memeriksa daftar Cattell dan menemukan bahwa daftar tersebut dapat disederhanakan lebih lanjut menjadi lima ciri.

Di antara para psikolog ini adalah Donald Fiske, Norman, Smith, Goldberg, dan McCrae & Costa (Cherry, 2019).

Secara khusus, Lewis Goldberg sangat menganjurkan lima faktor utama kepribadian (Ackerman, 2017).

Karyanya diperluas oleh McCrae & Costa, yang mengonfirmasi validitas model tersebut dan menyediakan model yang digunakan saat ini: kehati-hatian, keramahan, neurotisisme, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstroversi.

Model ini kemudian dikenal sebagai “Lima Besar” dan telah menerima banyak perhatian. Model ini telah diteliti di berbagai populasi dan budaya dan terus menjadi teori kepribadian yang paling diterima secara luas saat ini.

Masing-masing ciri kepribadian Lima Besar mewakili kategori yang sangat luas yang mencakup banyak istilah terkait kepribadian. Setiap ciri mencakup banyak aspek lainnya.

Misalnya, ciri Ekstroversi adalah kategori yang berisi label-label seperti Keramahan (mudah bergaul), Ketegasan (tegas), Aktivitas (energik), Pencari kegembiraan (suka berpetualang), Emosi positif (antusias), dan Kehangatan (suka bergaul) (John & Srivastava, 1999).

Oleh karena itu, Lima Besar, meskipun tidak sepenuhnya lengkap, mencakup hampir semua istilah terkait kepribadian.

Aspek penting lain dari Model Lima Besar adalah pendekatannya dalam mengukur kepribadian. Model ini berfokus pada konseptualisasi sifat sebagai spektrum, alih-alih kategori hitam-putih.

Model ini mengakui bahwa sebagian besar individu tidak berada di ujung kutub spektrum, melainkan di antara keduanya.

Penggunaan Lima Besar sebagai Kontinum vs. “Tipe”

Model Lima Besar mengonseptualisasi sifat kepribadian sebagai dimensi yang berkelanjutan, alih-alih kategori “salah satu atau” yang ketat (John & Srivastava, 1999).

Dalam kerangka ini, orang dapat memperoleh skor tinggi, rendah, atau di antara keduanya untuk setiap sifat, yang mencerminkan beragam perbedaan individu.

Sebaliknya, pendekatan “berbasis tipe”, seperti Indikator Tipe Myers-Briggs (MBTI), menempatkan individu ke dalam kategori kepribadian yang terpisah.

Meskipun tipologi-tipologi ini mungkin tampak intuitif, analisis data skala besar terbaru menunjukkan bahwa, meskipun terkadang muncul klaster profil umum, ciri-ciri kepribadian tetap paling baik terwakili dalam sebuah kontinum (Gerlach dkk., 2018).

Pandangan kontinum ini mengakui bahwa kebanyakan individu tidak sepenuhnya cocok dengan salah satu ekstrem, dan gradasi halus dapat memberikan gambaran kepribadian seseorang yang lebih kaya dan akurat.

Apakah 5 Benar-Benar Angka Ajaib?

Kritik umum terhadap Lima Besar adalah bahwa setiap ciri terlalu luas.

Meskipun Lima Besar bermanfaat dalam memberikan gambaran kasar tentang kepribadian, ciri-ciri yang lebih spesifik diperlukan untuk memprediksi hasil (John & Srivastava, 1999).

Ada juga argumen dari para psikolog bahwa lebih dari lima ciri diperlukan untuk mencakup keseluruhan kepribadian.

Sebuah model baru, HEXACO, dikembangkan oleh Kibeom Lee dan Michael Ashton, dan merupakan pengembangan dari Model Lima Besar.

HEXACO mempertahankan ciri-ciri asli dari Model Lima Besar tetapi mengandung satu ciri tambahan: Kejujuran-Kerendahan Hati, yang mereka gambarkan sebagai sejauh mana seseorang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Apa perbedaan antara Lima Besar dan Indikator Tipe Myers-Briggs?

Ciri-ciri kepribadian Lima Besar dan Indikator Tipe Myers-Briggs (MBTI) keduanya merupakan model populer yang digunakan untuk memahami kepribadian. Namun, keduanya berbeda dalam beberapa hal.

Ciri-ciri Lima Besar mewakili lima dimensi kepribadian yang luas. Setiap ciri diukur dalam suatu kontinum, dan individu dapat berada di mana saja dalam spektrum tersebut.

Sebaliknya, MBTI mengkategorikan individu ke dalam salah satu dari 16 tipe kepribadian berdasarkan preferensi mereka terhadap empat dikotomi: ekstroversi/introversi, penginderaan/intuisi, pemikiran/perasaan, dan penilaian/persepsi.

Model ini berasumsi bahwa orang-orang berada dalam satu tipe atau tipe lainnya, alih-alih berada dalam suatu kontinum.

Secara keseluruhan, meskipun kedua model bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkategorikan kepribadian, Lima Besar dianggap memiliki lebih banyak penelitian empiris dan dukungan ilmiah, sementara MBTI lebih merupakan teori dan seringkali kurang memiliki bukti empiris yang kuat.

Mungkinkah meningkatkan ciri-ciri Lima Besar tertentu melalui terapi atau intervensi lain?

Memang mungkin untuk meningkatkan ciri-ciri Lima Besar tertentu melalui terapi atau intervensi lain.

Misalnya, individu yang mendapat skor rendah dalam hal kehati-hatian dapat memperoleh manfaat dari terapi yang berfokus pada pengembangan keterampilan perencanaan, pengorganisasian, dan manajemen waktu.

Mereka yang memiliki neurotisisme tinggi dapat memperoleh manfaat dari terapi perilaku kognitif, yang membantu individu mengelola pikiran dan emosi negatif.

Selain itu, terapi seperti intervensi berbasis kesadaran dapat meningkatkan skor dalam sifat-sifat seperti keterbukaan dan keramahan.

Namun, sejauh mana intervensi ini dapat mengubah sifat-sifat kepribadian dalam jangka panjang masih menjadi topik perdebatan di kalangan psikolog.

Mungkinkah seseorang mendapatkan skor tinggi pada lebih dari satu sifat Lima Besar?

Ya, memang mungkin untuk mendapatkan skor tinggi pada lebih dari satu sifat Lima Besar.

Setiap sifat bersifat independen satu sama lain, artinya seseorang dapat memperoleh skor tinggi pada keterbukaan, ekstroversi, dan kehati-hatian, misalnya, secara bersamaan.

Demikian pula, seseorang juga dapat memperoleh skor rendah pada satu sifat dan tinggi pada sifat lainnya. Lima Sifat Besar diukur dalam suatu kontinum, sehingga individu dapat berada di mana saja dalam spektrum tersebut untuk setiap sifat.

Oleh karena itu, wajar jika individu memiliki kombinasi unik antara skor tinggi dan rendah di seluruh Lima Sifat Kepribadian Besar. (ard)

Tags: Ciri KepribadianCiri-ciri KepribadianKepribadian KamuKepribadian SeseorangLima BesarModel Kepribadian
ShareTweetSendShare
Previous Post

Indonesia Kembali Tegaskan Dukungan Solusi Dua Negara, Presiden Prabowo Ingatkan Peran PBB

Next Post

Armada Kapal Bantuan Antar Negara Global Sumud Flotilla Berangkat ke Gaza Dibayangi Teror dan Serangan Israel

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Terbaru, Pengungsi yang Menjajah Palestina Kini Biadab Membakar Masjid di Tepi Barat

Armada Kapal Bantuan Antar Negara Global Sumud Flotilla Berangkat ke Gaza Dibayangi Teror dan Serangan Israel

Sekaya Apa Indonesia Sesuai dengan Pengetahuanmu dan Apa Usahamu untuk Memajukannya?

Sekaya Apa Indonesia Sesuai dengan Pengetahuanmu dan Apa Usahamu untuk Memajukannya?

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026

Negara Asal Merek-merek Handphone yang Pernah dan Masih Diproduksi

24 April 2026

Pemilu Pertama Gaza Sejak Lebih dari Dua Dekade Kosong Akan Berlangsung di Deir al-Balah Sabtu Ini

23 April 2026

Iran Peringatkan Negara-negara Teluk Agar Tidak Mengizikan Wilayahnya Jadi Tuan Rumah Serangan

22 April 2026

Menjalani Usia Paruh Baya yang Identik dengan Midlife Crisis, Kiat Sehat Psikis dan Fisik

22 April 2026

Trump Posting di Truth Social Ngamuk-ngamuk Dianggap Dirayu Netanyahu untuk Perang Lawan Iran dan Kredibilitasnya 32 Persen

21 April 2026

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video