KAMU KUAT – Jakarta
Pengambilan rapor atau hasil penilaian selama proses belajar, menjadi saat yang ditunggu. Momen ini bagi remaja menjadi yang membanggakan. Namun, bagi sebagian lain, mungkin saja menjadi momen horor dan menegangkan. Setelah satu semester belajar, akhirnya tiba pada garis fisnish. Apakah hasil ini mencerminkan keberhasilan usaha satu semester, atau justru ada yang perlu diperbaiki untuk semester berikutnya.
Dikutip dari Wikipedia, buku rapor adalah suatu cara pengukuran kinerja siswa. Umumnya laporan ini diberikan oleh sekolah kepada siswa atau orang tua siswa dua kali hingga empat kali dalam setahun. Rapor merupakan dokumen yang menjadi penghubung komunikasi baik antara sekolah dengan orang tua peserta didik maupun dengan pihak-pihak lain yang ingin mengetahui tentang hasil belajar anak pada kurun waktu tertentu. Karena itu, rapor harus komunikatif, informatif, dan komprehensif (menyeluruh) memberikan gambaran tentang hasil belajar peserta didik.
Mengulas soal rapor dan hasilnya, berikut curahan hati beberapa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! yang cukup menarik.
Prabu Arjuna P, siswa kelas XI, SMA Waskito Tangerang Selatan
“Perasaan saya setiap kali momen rapotan tiba lebih ke arah tidak sabar ingin melihat nilai rapor. Sering cemas kalau akan ada nilai yang turun, dan hal pertama yang ditanyakan adalah perihal rangking, karena saya belajar dengan sungguh-sungguh dan saya tidak pernah mencontek di ujian semester. Orang tua saya serius kalau soal nilai akademik saya, mereka lebih fokus pada nilai yang keluar,” ujar Juna.
Sehingga, lanjutnya, ia lebih berusaha fokus mengejar nilai. Karena jika nilai yang ia dapatkan tinggi, sudah pasti Prabu paham materi pelajaran. Dan ia lebih mendengarkan apa kata orang tua, ketimbang beradu argument, demi menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua saat membahas hasil raport. Jadi moment rapotan baginya adalah momen yang menegangkan sekaligus membanggakan ketika nilai meningkat.
“Ada pelajaran yang menurut saya sulit untuk ditingkatkan nilainya yaitu Sosiologi. Untuk meningkatkan pemahaman harus menanyakan contoh ke guru mata pelajaran langsung dan kembali mengulang-ulang lagi pelajarannya ketika malam hari. Sedangkan pencapaian saya yang membuat saya dan orang tua saya bangga adalah pelajaran Matematika Lanjutan, mendapat nilai paling tinggi di angkatan (98) dan ranking 1 di kelas,” ujar Juna yang hobi bermain band di sela sela kesibukan belajarnya.
Syahfira Rini Handayani, Kelas 9, SMPN 4 Tangerang Selatan

Berbeda dengan Juna, cerita momen rapotan tidak menjadi hal yang menakutkan bagi siswi yang biasa di sapa Fira. Ia lebih menyikapi momen tersebut dengan berusaha santai serta tidak dijadikan beban. Ketika rapotan jadi momen untuk mengevaluasi nilai yang didapatkan selama 1 semester belajar, karena Fira selalu berusaha untuk mendapat nilai yang memuaskan.
Pengalaman sedih tentang nilai turun pernah dirasakan Fira waktu kelas 7 semester 1. “Ketika nilai turun orang tua saya kaget dan mempertanyakan tentang kenapa bisa turun. Mungkin karena semester 1 saya ikut kelas pengayaan di sekolah, jadinya sampai rumah sudah capek jadi belajar di rumah juga sudah kurang maksimal. Namun ketika kelas 7 semester ke 2, saya berhenti ikut kelas pengayaan, lalu nilai rata ratanya mulai meningkat kembali,” jelasnya.
Pelajaran yang menurut Fira butuh effort untuk ditingkatkan adalah Matematika. Ia pernah ikut kelas pengayaan di sekolah, les privat di rumah, dan sekarang bimbel yang membuatnya masih bisa mengejar kenaikan nilai tersebut. Sedangkan pelajaran yang membuatnya bangga adalah pencapaian pelajaran IPA.
“Karena saya memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan kalau mau dokter itu nilai IPA-nya harus tinggi. Motivasi untuk diri sendiri adalah nilai saya semester berikutnya harus lebih baik lagi dari semester yang sekarang. Karena apa yang sudah saya dapatkan sekarang harus dipertahankan, bahkan kalau bisa ditingkatkan lagi dan jangan sampai menurun,” ucapnya.
Ezzar Arkan Fadlurahman, Kelas X-3, SMA KOSGORO Kota Bogor

Sedangkan Ezzar berpendapat biasanya kalau rapotan, kadang ia merasa cemas. Namun, ia berusaha santai dan berdoa yang terbaik. Dan ketika menerima rapot, ia mengaku segera mengeceknya melihat mana nilai yang sudah cukup dan mana nilai yang harus diperbaiki.
“Jika ada pelajaran tertentu yang sulit untuk ditingkatkan nilainya, biasanya cara menghadapinya yaitu, aku cari-cari materi di YouTube, Tiktok, atau platform sosial media lainnya. Kadang aku juga minta temen aku yang lebih paham soal materinya buat jelasin atau ajarin ke aku sampai akhirnya aku cukup puas, dan sesuai target aku untuk saat ini,” kata Ezzar.
Cara ia menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua saat membahas hasil yaitu, dengan berusaha membuat orang tua tetep santai dan percaya bahwa ia bisa meningkatkan nilai ke depannya. Ia mengakui orang tuanya akan merasa bangga, ketika ada peningkatan nilai dari sebelumnya.
“Ada pengalaman yang sempat membuatku kecewa. Aku kan dari SD sampai SMP, Alhamdulilah selalu dapat ranking 1. Ketika SMA itu kan tengah semester selalu ada pembagian raport tengah semester, aku dapet ranking 14. Itu penurunan yang jauh banget menurut aku, entah mungkin karena mapel SMA sekarang yang lebih susah, atau hal lain, aku ngerasa harus ningkatin nilai aku. Alhamdulilah, di semester sekarang aku bisa mengejar dan dapat ranking 4 di kelas. Sempet sedih buat beberapa saat tapi aku mikir daripada sedih, lebih baik buat ningkatin belajar aku, supaya nilai aku bisa lebih baik. aku ingin terus berkembang dan meningkat lebih baik lagi, I always try to be better,” ujarnya bangga.
Armiliza Aswir, Guru, SMPN 76 Jakarta

Menurut Armiliza, tujuan pembagian rapor kepada siswa dan orang tua adalah untuk memberikan informasi terkait hasil belajar siswa selama periode tertentu kepada orang tua dan peserta didik itu sendiri. Pembagian rapor juga berguna untuk evaluasi guru dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Rapor memberikan informasi tidak hanya kemampuan akademik peserta didik, namun juga ada penilaian sikap dan kepribadian. Di sana biasanya disertakan pesan wali kelas untuk memberikan semangat dan dorongan untuk perubahan peserta didik kedepannya kearahbyang lebih baik.
“Bagi yang mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, kecewa pasti. Karena ada banyak hal yang menyebabkan menurunnya hasil belajar peserta didik, baik internal maupun eksternal. Namun, tugas guru adalah untuk tetap memberikan semangat dan dukungan emosional, mencari solusi terbaik, bekerja sama dengan orang tua, sehingga diharapkan kedepannya peserta didik mendapat hasil belajar yang lebih baik,” ujarnya
Peran usaha siswa itu sendiri, imbuhnya, sangat penting dalam mendapatkan hasil belajar yang baik. Karena sebaik apapun fasilitas dan metode pembelajaran, tidak akan maksimal jika tidak ada kemauan dari diri sendiri. Tentu saja peran guru, orang tua sekolah dan masyarakat turut serta dalam menciptakan kualitas belajar yang lebih baik.
“Selalu. Saat pembagian rapor orang tua sering curhat bagaimana anaknya belajar di rumah yang kadang sering kewalahan dengan anak yang susah di suruh belajar dan tidak disiplin. Ada juga yang bahagia karena anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan. Tapi dari semua hasil akademik menurut saya perkembangan karakter dan akhlak peserta didik jauh lebih utama. Saya biasanya mengajak siswa untuk introspeksi, selama ini apa yang mereaka lakukan sehingga hasil belajarnya kuranv memuaskan. Dan biasanya mereka menyadari sendiri kesalahan apa yg mereka lakukan sehingga mendapatkan hasil demikian. Lalu dengan orang tua kita biasanya mengajak siswa untuk berkomitmen memperbaiki diri di semster selanjutnya,” ungkapnya.
Ia meyebut bahwa pernah terjadi anak yang orang tuanya mengalami permasalahan rumah tangga. Hal itu mengakibatkan anak depresi dan kemunduran dalam pembelajarannya. Walaupun, lanjutnya, anak tersebut sebenarnya memiliki kemampuan yang baik. Jadi menurut Armiliza, nilai tidak mencerminkan potensi, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Biasanya jika mengalami hal seperti ini kita akan melibatkan orang tua, guru BK, dan kesiswaan.
“Peserta didik aktif biasanya lebih menguasai materi, terlibat dalam pembelajaran, dan biasanya lebih percaya diri. Sedangkan bagi yang pasif perlu didorong untuk lebih aktif, memberikan tutor teman sebaya, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang membuat mereka lebih aktif bertanya. Yang perlu dicatat adalah bahwa semua anak adalah unik dengan keistimewaan mereka masing-masing,” katanya.
So guys, apapun hasil nilai akhirmu, ingatlah bahwa usaha, proses, dan tekad untuk terus maju adalah yang paling penting. Tetaplah berusaha dan semangat untuk menjadi pribadi yang baik dan meraih prestasi. (Resty)













Discussion about this post