• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Ambil Raport, Momen yang Menegangkan dan Membanggakan

by Ave Rosa
21 Desember 2024 | 23:58 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 6 mins read
A A
Ambil Raport, Momen yang Menegangkan dan Membanggakan

Ilustrasi. Foto: dok. Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Pengambilan rapor atau hasil penilaian selama proses belajar, menjadi saat yang ditunggu. Momen ini bagi remaja menjadi yang membanggakan. Namun, bagi sebagian lain, mungkin saja menjadi momen horor dan menegangkan. Setelah satu semester belajar, akhirnya tiba pada garis fisnish. Apakah hasil ini mencerminkan keberhasilan usaha satu semester, atau justru ada yang perlu diperbaiki untuk semester berikutnya.

Dikutip dari Wikipedia, buku rapor adalah suatu cara pengukuran kinerja siswa. Umumnya laporan ini diberikan oleh sekolah kepada siswa atau orang tua siswa dua kali hingga empat kali dalam setahun. Rapor merupakan dokumen yang menjadi penghubung komunikasi baik antara sekolah dengan orang tua peserta didik maupun dengan pihak-pihak lain yang ingin mengetahui tentang hasil belajar anak pada kurun waktu tertentu. Karena itu, rapor harus komunikatif, informatif, dan komprehensif (menyeluruh) memberikan gambaran tentang hasil belajar peserta didik.

Mengulas soal rapor dan hasilnya, berikut curahan hati beberapa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! yang cukup menarik.

Prabu Arjuna P, siswa kelas  XI, SMA Waskito Tangerang Selatan

“Perasaan saya setiap kali momen rapotan tiba lebih ke arah tidak sabar ingin melihat nilai rapor. Sering cemas kalau akan ada nilai yang turun, dan hal pertama yang  ditanyakan adalah perihal rangking, karena saya belajar dengan sungguh-sungguh dan saya tidak pernah mencontek di ujian semester. Orang tua saya serius kalau soal nilai akademik saya, mereka lebih fokus pada nilai yang keluar,” ujar Juna.

Sehingga, lanjutnya, ia lebih berusaha fokus mengejar nilai. Karena jika nilai yang ia dapatkan tinggi, sudah pasti Prabu paham materi pelajaran. Dan ia lebih mendengarkan apa kata orang tua, ketimbang beradu argument, demi menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua saat membahas hasil raport. Jadi moment rapotan baginya adalah momen yang menegangkan sekaligus membanggakan ketika nilai meningkat.

“Ada pelajaran yang menurut saya sulit untuk ditingkatkan nilainya yaitu Sosiologi. Untuk meningkatkan pemahaman harus menanyakan contoh ke guru mata pelajaran langsung dan kembali mengulang-ulang lagi pelajarannya ketika malam hari. Sedangkan pencapaian saya yang membuat saya dan orang tua saya bangga adalah pelajaran Matematika Lanjutan, mendapat nilai paling tinggi di angkatan (98) dan ranking 1 di kelas,” ujar Juna yang hobi bermain band di sela sela kesibukan belajarnya.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Syahfira Rini Handayani, Kelas 9, SMPN 4 Tangerang Selatan

Syahfira Rini Handayani, Kelas 9, SMPN 4 Tangerang Selatan. Foto: istimewa

Berbeda dengan Juna, cerita momen rapotan tidak menjadi hal yang menakutkan bagi siswi yang biasa di sapa Fira. Ia lebih menyikapi momen tersebut dengan berusaha santai serta tidak dijadikan beban. Ketika rapotan jadi momen untuk mengevaluasi nilai yang didapatkan selama 1 semester belajar, karena Fira selalu berusaha untuk mendapat nilai yang memuaskan.

Pengalaman sedih tentang nilai turun pernah dirasakan Fira waktu kelas 7 semester 1.  “Ketika nilai turun orang tua saya kaget dan mempertanyakan tentang kenapa bisa turun. Mungkin karena semester 1 saya ikut kelas pengayaan di sekolah, jadinya sampai rumah sudah capek jadi belajar di rumah juga sudah kurang maksimal. Namun ketika kelas 7 semester ke 2, saya berhenti ikut kelas pengayaan, lalu nilai rata ratanya mulai meningkat kembali,” jelasnya.

Pelajaran yang menurut Fira butuh effort untuk ditingkatkan adalah Matematika. Ia pernah ikut kelas pengayaan di sekolah, les privat di rumah, dan sekarang bimbel yang membuatnya masih bisa mengejar kenaikan nilai tersebut. Sedangkan pelajaran yang membuatnya bangga adalah pencapaian pelajaran IPA.

“Karena saya memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan kalau mau dokter itu nilai IPA-nya harus tinggi. Motivasi untuk diri sendiri adalah nilai saya semester berikutnya harus lebih baik lagi dari semester yang sekarang. Karena apa yang sudah saya dapatkan sekarang harus dipertahankan, bahkan kalau bisa ditingkatkan lagi dan jangan sampai menurun,” ucapnya.

Ezzar Arkan Fadlurahman, Kelas X-3, SMA KOSGORO Kota Bogor

Ezzar Arkan Fadlurahman, Kelas X-3, SMA KOSGORO Kota Bogor. Foto: istimewa

Sedangkan Ezzar berpendapat biasanya kalau rapotan, kadang ia merasa cemas. Namun, ia berusaha santai dan berdoa yang terbaik. Dan ketika menerima rapot, ia mengaku segera mengeceknya melihat mana nilai yang sudah cukup dan mana nilai yang harus diperbaiki.

“Jika ada pelajaran tertentu yang sulit untuk ditingkatkan nilainya, biasanya cara menghadapinya yaitu, aku cari-cari materi di YouTube, Tiktok, atau platform sosial media lainnya. Kadang aku juga minta temen aku yang lebih paham soal materinya buat jelasin atau ajarin ke aku sampai akhirnya aku cukup puas, dan sesuai target aku untuk saat ini,” kata Ezzar.

Cara ia menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua saat membahas hasil  yaitu, dengan berusaha membuat orang tua tetep santai dan percaya bahwa ia bisa meningkatkan nilai ke depannya. Ia mengakui orang tuanya akan merasa bangga, ketika ada peningkatan nilai dari sebelumnya.

“Ada pengalaman yang sempat membuatku kecewa. Aku kan dari SD sampai SMP, Alhamdulilah selalu dapat ranking 1. Ketika SMA itu kan tengah semester selalu ada pembagian raport tengah semester, aku dapet ranking 14. Itu penurunan yang jauh banget menurut aku, entah mungkin karena mapel SMA sekarang yang lebih susah, atau hal lain, aku ngerasa harus ningkatin nilai aku. Alhamdulilah, di semester sekarang aku bisa mengejar dan dapat ranking 4 di kelas. Sempet sedih buat beberapa saat tapi aku mikir daripada sedih, lebih baik buat ningkatin belajar aku, supaya nilai aku bisa lebih baik. aku ingin terus berkembang dan meningkat lebih baik lagi, I always try to be better,” ujarnya bangga.

Armiliza Aswir, Guru, SMPN 76 Jakarta

Armiliza Aswir, Guru, SMPN 76 Jakarta, Foto: istimewa

Menurut Armiliza, tujuan pembagian rapor kepada siswa dan orang tua adalah untuk memberikan informasi terkait hasil belajar siswa selama periode tertentu kepada orang tua dan peserta didik itu sendiri. Pembagian rapor juga berguna untuk evaluasi guru dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Rapor memberikan informasi tidak hanya kemampuan akademik peserta didik, namun juga ada penilaian sikap dan kepribadian. Di sana biasanya disertakan pesan wali kelas untuk memberikan semangat dan dorongan untuk perubahan peserta didik kedepannya kearahbyang lebih baik.

“Bagi yang mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, kecewa pasti. Karena ada banyak hal yang menyebabkan menurunnya hasil belajar peserta didik, baik internal maupun eksternal. Namun, tugas guru adalah untuk tetap memberikan semangat dan dukungan emosional, mencari solusi terbaik, bekerja sama dengan orang tua, sehingga diharapkan kedepannya peserta didik mendapat hasil belajar yang lebih baik,” ujarnya

Peran usaha siswa itu sendiri, imbuhnya, sangat penting dalam mendapatkan hasil belajar yang baik. Karena sebaik apapun fasilitas dan metode pembelajaran,  tidak akan maksimal jika tidak ada kemauan dari diri sendiri. Tentu saja peran guru, orang tua sekolah dan masyarakat turut serta dalam menciptakan kualitas belajar yang lebih baik.

“Selalu. Saat pembagian rapor orang tua sering curhat bagaimana anaknya belajar di rumah yang kadang sering kewalahan dengan anak yang susah di suruh belajar dan tidak disiplin. Ada juga yang bahagia karena anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan. Tapi dari semua hasil akademik menurut saya perkembangan karakter dan akhlak peserta didik jauh lebih utama. Saya biasanya mengajak siswa untuk introspeksi, selama ini apa yang mereaka lakukan sehingga hasil belajarnya kuranv memuaskan. Dan biasanya mereka menyadari sendiri kesalahan apa yg mereka lakukan sehingga mendapatkan hasil demikian. Lalu dengan orang tua kita biasanya mengajak siswa untuk berkomitmen memperbaiki diri di semster selanjutnya,” ungkapnya.

Ia meyebut bahwa pernah terjadi anak yang orang tuanya mengalami permasalahan rumah tangga. Hal itu mengakibatkan anak depresi dan kemunduran dalam pembelajarannya. Walaupun, lanjutnya, anak tersebut sebenarnya memiliki kemampuan yang baik. Jadi menurut Armiliza, nilai tidak mencerminkan potensi, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Biasanya jika mengalami hal seperti ini kita akan melibatkan orang tua, guru BK, dan kesiswaan.

“Peserta didik aktif biasanya lebih menguasai materi, terlibat dalam pembelajaran, dan biasanya lebih percaya diri. Sedangkan bagi yang pasif perlu didorong untuk lebih aktif, memberikan tutor teman sebaya, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang membuat mereka lebih aktif bertanya.  Yang perlu dicatat adalah bahwa semua anak adalah unik dengan keistimewaan mereka masing-masing,” katanya.

So guys, apapun hasil nilai akhirmu, ingatlah bahwa usaha, proses, dan tekad untuk terus maju adalah yang paling penting. Tetaplah berusaha dan semangat untuk menjadi pribadi yang baik dan meraih prestasi. (Resty)

Tags: Ambil RaportHasil BelajarMotivasi BelajarPengambilan Raport
ShareTweetSendShare
Previous Post

Lima Orang Tewas, Lebih dari 200 Terluka Saat Mobil Diduga Menabrak Kerumunan di Pasar Natal Jerman

Next Post

Quote of Dale Carnegie – Memperjuangkan Kesuksesan

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Quote of Dale Carnegie – Memperjuangkan Kesuksesan

Quote of Dale Carnegie - Memperjuangkan Kesuksesan

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Hari Ibu Versi Remaja dan Dosen

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Hari Ibu Versi Remaja dan Dosen

Discussion about this post

TERKINI

Persediaan Rudal dan Drone Iran Cukup untuk Perang Selama Bertahun-tahun, Kata Anggota Parlemen

30 April 2026

Kepiawaian Vivi Herlambang, Pasang Surut Kehidupan Single Parent Tempa Sukses 30 Tahun di Perhotelan

30 April 2026

AS Belanjakan 25 Miliar Dolar AS untuk Perang Melawan Iran, Ungkap Pejabat AS

29 April 2026

Gigihnya Amiruddin Tumanggor, Anak Desa yang Merantau Jadi Cleaning Service, Kini Punya Kampus & SMK

29 April 2026

Tangguhnya Alice Callista, Pernah Hopeless Bangun dari Tidur, Lalu Bangkit, dan Majukan 46 Resto dll

28 April 2026

Dijadikan Lelucon ‘Janda yang Sedang Hamil’, Melania Trump Minta ABC Pecat Jimmy Kimmel

27 April 2026

Pabrik Senjata Israel di Inggris Didemo dan Diterobos Aktivis pro-Palestina Karena Berperan dalam Genosida di Gaza

26 April 2026

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video