KAMU KUAT – Avesiar
Hukum adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi remaja. Kesadaran akan hukum sejak dini dapat membantu remaja memahami hak dan kewajiban mereka, bertindak bijak, dan menjadi individu yang bertanggung jawab.
Remaja melek hukum bukan hanya sebuah tren, tapi kebutuhan yang seharusnya dimiliki generasi muda. Kesadaran hukum dapat membantu memahami aturan, tetapi juga membangun generasi yang lebih bertanggung jawab.
Penasaran seperti apa para remaja dan praktisi hukum berikut ini punya pendapat tentang kesadaran hukum di masa muda? Mari kita simak!
Nadya Azzahra Putri Hermawan, siswi kelas 12, SMA Boash Bogor

Berawal dari kegemarannya membaca puisi sejak sekolah dasar, Nadya mulai menaruh perhatian pada isu-isu sosial dan hukum ketika duduk di bangku kelas 1 SMP. “Aku mulai tertarik soal hukum setelah membaca puisi berjudul Peringatan karya Wiji Thukul,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bait puisi tersebut, “Apabila rakyat berani mengeluh itu artinya sudah gawat,” memicu rasa ingin tahunya. “Kenapa rakyat bisa mengeluh? Kenapa itu dianggap gawat? Dari situ aku mulai sering membaca puisi yang berisi kritik terhadap pemerintah,” tambahnya.
Minatnya terhadap dunia hukum semakin tumbuh seiring waktu. Ketika lulus SMP, ia aktif membaca karya-karya serupa dan bahkan mengikuti berbagai lomba baca puisi. Ketika duduk di kelas 11 SMA, ia menemukan informasi seleksi Duta Hukum HAM Jawa Barat di media sosial dan memutuskan untuk mencoba peruntungannya.
“Proses seleksinya cukup panjang,” kenangnya. Mulai dari membuat video perkenalan yang membahas kasus tertentu, hingga menjalani serangkaian tes pemahaman hukum. Perjalanan itu tidak mudah, terlebih sebelumnya ia sempat gagal dalam seleksi program serupa, seperti Parlemen Remaja. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah.
“Alhamdulillah, aku lolos dan sekarang masih menjabat sebagai anggota dengan masa bakti 2024-2025,” pekiknya bangga.
Sebagai Duta Hukum, ia aktif merancang program yang melibatkan teman-teman sekolahnya. Salah satu inisiatifnya adalah membentuk organisasi yang memanfaatkan sistem asisten guru di sekolahnya. Sistem ini melibatkan siswa kelas 10 dan 11 sebagai penggerak utama.
Menurutnya, pemahaman hukum di kalangan remaja sebenarnya sudah cukup baik. “Sebagian besar siswa tahu kok, hukum itu apa dan konsekuensinya kalau melanggar. Tapi sayangnya, mereka hanya sebatas mengetahui, tidak tahu bagaimana mengimplementasikannya,” ungkapnya. Ia menyoroti kurangnya wadah yang memberikan ruang bagi remaja untuk memahami dan menerapkan hukum dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap ke depannya, pemahaman tentang hukum dapat ditanamkan melalui kebiasaan di kehidupan pribadi, bukan hanya melalui individu tertentu yang bergerak. “Aku ingin Duta Hukum HAM Jabar menjadi wadah utama bagi para pelajar untuk menggali lebih dalam soal hukum, sekaligus mengajak teman-teman sebaya untuk lebih peduli.”
Dengan cita-cita besar untuk meningkatkan kesadaran hukum di kalangan remaja, ia juga tengah mengikuti seleksi sebagai pengurus Duta Hukum tingkat Kota Bogor. “Semoga ini jadi langkah berikutnya untuk memberikan kontribusi yang lebih luas,” tutupnya dengan semangat.
Mutiara Putri Sakinah, siswi kelas 11, SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

“Saya pribadi merasa kalau remaja yang melek hukum itu keren, dan memang seharusnya begitu,” ujar remaja yang bercita-citajadi pengacara itu.
Menurutnya, memahami hukum sejak remaja jauh lebih baik dibandingkan baru mulai memahaminya saat dewasa. “Akan ada waktunya kita masuk ke dunia hukum, jadi lebih baik kita belajar dari sekarang,” tambahnya.
Kesadaran hukum, menurutnya, pertama-tama harus diajarkan oleh orang tua. “Didikan orang tua itu cerminan anaknya. Mereka harus mengajarkan hukum dan konsekuensi dari setiap tindakan sejak dini,” katanya. Pendidikan hukum dari rumah menjadi fondasi penting agar anak-anak paham bahwa setiap tindakan memiliki dampaknya masing-masing.
Namun, ia juga menyadari bahwa masih banyak teman sebaya yang kurang peduli terhadap hukum. “Ada teman-teman saya yang beralasan kalau mereka masih remaja, jadi merasa hukum itu belum berlaku untuk mereka. Padahal, itu pandangan yang keliru,” ungkapnya.
Ia berharap remaja bisa lebih peduli dan memahami hukum. Dengan begitu, setiap aksi yang mereka lakukan tidak semena-mena karena mereka sadar akan konsekuensi dan dampaknya.
“Kalau remaja melek hukum, mereka akan lebih bertanggung jawab. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat sekitar,” jelasnya.
Cita-citanya menjadi pengacara menjadi motivasi bagi Putri untuk terus belajar dan memahami hukum lebih dalam. Putri percaya bahwa generasi muda yang peduli hukum adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan tertib.
Ferranda Rahmansyah, siswa kelas XI, SMKN 1 Gunung Sindur, Bogor

“Menurutku, remaja yang melek hukum itu penting karena hukum selalu ada di sekitar kita. Kalau remaja paham hukum, mereka jadi tahu mana hak dan kewajiban mereka, juga bisa lebih bijak dalam bertindak,” ungkap remaja yang aktif dalam menyuarakan pentingnya kesadaran hukum.
Ferrandamenjelaskan bahwa remaja yang melek hukum memiliki beberapa karakteristik penting, yaitu; Paham Hak dan Kewajiban: Mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, Sadar Konsekuensi: Mengerti bahwa setiap tindakan memiliki dampak dan konsekuensi. Bijak dalam Bermedia Sosial: Tahu batasan dalam penyebaran informasi, menghindari ujaran kebencian, dan menjaga privasi orang lain. Mampu Melindungi Diri Sendiri, Tahu kapan harus melapor atau mencari bantuan hukum saat menghadapi masalah, Aktif Melawan Ketidakadilan: Berani bertindak jika ada ketidakadilan, tetapi dengan cara yang benar sesuai hukum.
Sebagai seorang remaja yang melek hukum, ia sudah memulai langkah-langkah sederhana dalam kesehariannya. “Misalnya, patuhi aturan lalu lintas. Kalau pakai kendaraan, pastikan punya SIM, selalu pakai helm, dan taati rambu-rambu lalu lintas,” jelasnya.
Selain itu, ia juga berencana menyebarkan “virus positif” kepada teman-temannya mengenai kesadaran akan hak dan kewajiban. Salah satu contohnya adalah mengedukasi teman-temannya soal penggunaan knalpot brong.
“Memahami kewajiban itu penting, misalnya tidak memakai knalpot brong karena itu mengganggu warga sekitar. Kendaraan memang hak kita, tapi kewajiban tetap harus didahulukan,” tegasnya.
Namun, ia mengakui bahwa kesadaran hukum di kalangan remaja masih sering dianggap enteng. “Sebagian remaja sekarang masih banyak yang menentang hukum atau menganggapnya tidak relevan dengan mereka,” ujarnya.
Ia berharap remaja lain bisa lebih peduli terhadap hukum dan memahami bahwa hukum bukanlah batasan, melainkan pedoman untuk menciptakan kehidupan yang lebih tertib dan harmonis. “Kalau remaja sadar hukum, mereka bisa menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab dan bijak,” tambahnya.
Surahmat, SH, MH, Praktisi Hukum

Remaja adalah generasi penerus bangsa yang akan menentukan masa depan suatu negara. Oleh karena itu, pemahaman hukum sejak usia muda menjadi hal yang sangat penting. Dalam wawancara dengan seorang pakar hukum, terungkap sejumlah poin penting mengenai pentingnya kesadaran hukum di kalangan remaja, tingkat kesadaran hukum saat ini, hingga peran media sosial dalam mengedukasi remaja.
Menurut pakar hukum, remaja diharapkan memiliki kesadaran:
• Mencegah Kesalahan dan Tindak Pidana: Pemahaman hukum membantu remaja menghindari perbuatan yang melanggar hukum, baik disengaja maupun tidak disengaja.
• Memahami Hak dan Kewajiban: Kesadaran hukum memungkinkan remaja menjalankan hak dan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
• Mengenali Pentingnya Mematuhi Aturan: Hukum tidak hanya mengatur, tetapi juga melindungi dari tindakan ilegal pihak lain.
• Menghindari Kesalahan Digital: Dalam era digital, ketidaktahuan hukum bisa menyebabkan tindakan melanggar hukum, seperti hacking, penipuan online, atau membuat konten tidak pantas.
“Ketidakpahaman hukum dapat membuat remaja melakukan tindak pidana tanpa mereka sadari. Misalnya, menggunakan teknologi untuk hacking atau menyebarkan informasi yang melanggar privasi orang lain,” jelas praktisi hukum Surahmat, SH, MH.
Oleh karena itu, remaja yang melek hukum akan terhindar dari pelanggaran hukum, mampu melindungi hak-haknya, dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Sayangnya, tingkat kesadaran hukum remaja saat ini dinilai masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:
• Kurangnya Pendidikan Hukum: Pendidikan hukum di sekolah atau institusi pendidikan lainnya belum cukup kuat untuk memberikan pemahaman mendalam kepada remaja.
• Keteladanan Aparat Hukum: Penegakan hukum yang tidak konsisten, bahkan adanya pelanggaran hukum oleh aparat, turut memengaruhi pandangan remaja terhadap hukum.
“Remaja saat ini kurang memahami arti penting hukum dalam kehidupan sosial mereka. Pendidikan hukum yang lebih intensif dan konsisten harus segera dilakukan, terutama di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Di era digital, media sosial memiliki peran penting untuk meningkatkan kesadaran hukum di kalangan remaja. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
• Kampanye Kesadaran Hukum: Media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan informasi tentang hukum melalui postingan, video, atau infografis yang menarik.
• Edukasi Interaktif: Platform media sosial memungkinkan diskusi langsung, baik melalui komentar, direct message, atau live streaming dengan ahli hukum.
• Wawancara dan Podcast: Mengundang ahli hukum untuk berbagi pengalaman melalui wawancara atau podcast bisa menjadi cara yang efektif untuk mengedukasi remaja.
“Media sosial adalah alat yang sangat kuat jika digunakan dengan bijak. Platform ini dapat menghubungkan remaja dengan informasi hukum yang mereka butuhkan,” terang Surahmat.
Menurut praktisi hukum ini, remaja yang melek hukum adalah mereka yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, memiliki kesadaran yang baik tentang aturan, dan selalu mempertimbangkan dasar hukum sebelum bertindak.
“Remaja yang melek hukum tidak hanya melindungi hak-haknya sendiri, tetapi juga hak orang lain. Mereka akan lebih bertanggung jawab dalam bertindak dan membuat keputusan,” tambahnya.
Dengan demikian, kesadaran hukum di kalangan remaja bukan hanya tentang menghindari pelanggaran, tetapi juga tentang menciptakan generasi yang paham akan pentingnya keadilan, aturan, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan dukungan pendidikan hukum yang baik dan pemanfaatan media sosial secara optimal, remaja yang melek hukum dapat menjadi agen perubahan untuk masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
Kamu juga harus paham dan taat hukum ya, Guys! (Resty)













Discussion about this post