KAMU KUAT – Jakarta
Ramadhan dan Idul Fitri bukan sekadar tentang ibadah dan perayaan, tetapi juga tentang momen kebersamaan yang penuh makna. Di bulan yang penuh berkah ini, setiap keluarga memiliki tradisi masing-masing, salah satunya bisa jadi adalah para orang tua memberikan kejutan kepada anak-anaknya.
Kejutan dari orang tua, terutama ayah, sering kali menjadi hal yang paling dinantikan. Bagi sebagian anak, kejutan itu mungkin berupa hadiah istimewa, sementara bagi yang lain, bisa jadi sekadar perhatian lebih, kebersamaan yang lebih hangat, atau bahkan kata-kata sederhana yang penuh makna.
Apapun bentuknya, kejutan dari orang tua selalu memiliki tempat tersendiri di hati anak-anak dan menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Well, guys, berikut beberapa pengakuan dari para remaja dan anak muda sahabat kanal KAMU KUAT! Avesiar.com.
Nazwa Zahira Lintang, mahasiswi semester 4, Universitas Mercu Buana Jakarta

Saat ditanya tentang momen paling berkesan bersama orang tua, terutama ayah, ia menjawab dengan jujur bahwa hubungannya dengan sang ayah tidak begitu dekat. “Saya nggak dekat dengan ayah saya, karena sikap dan sifatnya yang kurang baik,” ungkapnya.
Namun, meskipun hubungan mereka tidak selalu harmonis, ada satu momen yang tetap membekas dalam ingatannya. “Mungkin momen paling berkesannya adalah saat maaf-maafan.”
Bagi sebagian orang, maaf-maafan di Hari Raya adalah rutinitas biasa. Namun, bagi remaja ini, momen itu memiliki makna yang lebih dalam sebuah kesempatan untuk setidaknya merasakan hubungan yang lebih baik, meski hanya sejenak.
Saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri, banyak anak-anak menantikan kejutan dari orang tua, seperti hadiah, makanan spesial, atau bahkan sekadar perhatian lebih. Namun, bagi Najwa, kejutan semacam itu tidak pernah ia alami. “Ayah saya tidak pernah memberikan saya kejutan apapun,” katanya.
Meski begitu, ia tetap merasakan kasih sayang yang luar biasa dari orang-orang terdekatnya. “Di dunia ini yang sayang banget sama saya hanyalah Mama dan kakak laki-laki saya. Dalam hidup, mereka adalah sumber kebahagiaan dan dukungan terbesar,” tambahnya.
Setiap keluarga memiliki tradisi masing-masing menjelang Idul Fitri. Meskipun tidak banyak keterlibatan dari sang ayah, ia menyebut bahwa ada satu tradisi yang masih dilakukan dalam keluarganya. “Mungkin kumpul keluarga di rumah nenek,” katanya singkat.
Bagi banyak orang, berkumpul dengan keluarga besar saat Lebaran adalah momen yang dinantikan. Meskipun tidak selalu sempurna, setidaknya ada kehangatan dalam kebersamaan itu.
Jika diberikan kesempatan untuk memilih kejutan yang paling diinginkan, jawabannya sederhana namun sangat menyentuh. “Cukup orang tua masih ada di dunia saja, itu kejutan terbaik,” ujarnya.
Jawaban ini mencerminkan betapa berharganya keberadaan orang tua dalam hidup seorang anak, terlepas dari hubungan yang mungkin tidak selalu harmonis. Keberadaan mereka saja sudah menjadi anugerah yang tak ternilai.
Di akhir wawancara, kami bertanya apakah ada pesan yang ingin ia sampaikan kepada orang tua atas segala kasih sayang yang telah diberikan selama Ramadan dan Idul Fitri. Tanpa ragu, ia menyampaikan pesan yang begitu tulus dan penuh cinta:
“Terima kasih, Mama, karena sudah selalu ada di sini untuk Wawa. Wawa sayang Mama.”
Kata-kata sederhana ini menunjukkan betapa besar rasa syukur dan cinta yang ia miliki untuk sang ibu, sosok yang selalu hadir dan memberikan kasih sayang tanpa syarat.
Alyssa Malika, siswi kelas 12, SMA BOASH, Bogor

Saat mengingat kembali kejutan yang pernah diberikan oleh orang tuanya, ia teringat pada satu momen di masa kecilnya. “Saat saya masih SD, orang tua saya membelikan saya mukena baru. Waktu itu rasanya senang banget!” kenangnya dengan antusias. Bagi anak kecil, hadiah sederhana seperti itu bisa menjadi kebahagiaan luar biasa.
Namun, bagi dirinya, Ramadan bukan hanya tentang hadiah. Yang paling ia nantikan adalah kebersamaan keluarganya saat berbuka puasa. “Setiap tahun selalu seperti ini. Saat berbuka, kami selalu berkumpul dengan segala hidangannya. Bukan kejutan memang, tapi mereka selalu memberikan hal terbaik untuk saya,” katanya.
Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, ia merasakan tanggung jawab besar dalam keluarganya. Meskipun begitu, ia tetap menikmati momen-momen kebersamaan yang selalu terasa hangat dan penuh kasih sayang.
Baginya, kejutan bukan sekadar hadiah atau perayaan besar. “Menurutku, kejutan itu bukan hanya suatu hadiah besar ataupun didatangi banyak orang untuk mengucapkan selamat. Tetapi saat aku berada dalam masa sulit dan stres, aku sangat senang karena teman-teman, terutama sahabat-sahabatku, selalu jadi pemanis suasana,” ungkapnya.
Dukungan dari orang-orang terdekat, senyuman yang tulus, dan kehadiran mereka di saat sulit adalah kejutan yang paling ia syukuri setiap hari. Kejutan sejati tidak selalu harus berbentuk materi, tetapi bisa berupa perhatian dan kasih sayang yang diberikan tanpa pamrih.
Meskipun ia jarang mendapatkan kejutan, bukan berarti ia tidak ingin memberikan kejutan untuk orang-orang tersayang. “Saat ini, aku sedang mempersiapkan sesuatu untuk orang tua. Aku mohon doanya agar diberikan kelancaran,” kata Alyssa penuh harap.
Ia mengakui bahwa dirinya bukan tipe anak yang sering memberikan hadiah kepada orang tua, terutama ayahnya. “Jadi, aku mau mempersiapkan hal ini sebaik mungkin sebagai bentuk apresiasi atas semua kerja keras mereka,” tambahnya.
Keinginannya untuk membalas kebaikan orang tua menunjukkan betapa ia sangat menghargai pengorbanan mereka. Dan ketika ditanya apakah kejutan dari orang tua itu harus ada atau tidak, ia menjawab dengan jujur.
“Tidak juga sih. Tapi sebetulnya ingin sekali, karena aku termasuk orang yang jarang dikasih kejutan,” ujar Alyssa.
Baginya, kejutan yang paling ia harapkan bukanlah barang mewah, tetapi sebuah momen sederhana yang penuh makna. “Aku pengen saat aku berada di situasi keberhasilan, mereka datang buat meluk aku dan bilang, ‘Mama sama Ayah bangga sama kamu.’ Karena ini jarang banget terjadi,” katanya dengan penuh harapan.
Sebagai anak, ia memahami bahwa orang tuanya sibuk. Namun, ia tahu bahwa di balik kesibukan itu, mereka tetap mengapresiasi setiap usahanya. Hanya saja, mendengar langsung ungkapan kebanggaan dari mereka adalah hal yang sangat ia nantikan.
Kejutan yang diberikan orang tua saat Ramadhan dan Idul Fitri bukan hanya soal materi, tetapi lebih pada makna di baliknya perhatian, kasih sayang, dan usaha untuk membuat anak-anak merasa dihargai dan dicintai.
Momen-momen kecil seperti diberikan hadiah impian, diajak berbuka puasa bersama, atau bahkan sekadar pelukan hangat dan ucapan bangga dari orang tua, bisa menjadi kejutan yang paling berharga bagi anak-anak.
Seiring berjalannya waktu, mungkin hadiah-hadiah itu akan terlupakan, tetapi rasa bahagia dan kehangatan yang menyertainya akan selalu tersimpan di hati. Pada akhirnya, kebersamaan dan kasih sayang orang tua adalah kejutan terindah yang bisa diberikan di setiap Ramadhan dan Idul Fitri.
Syahra Nur Rizky, siswi kelas 12, SMA BOASH, Bogor

Saat ditanya apakah pernah mendapatkan kejutan dari orang tua menjelang Idul Fitri, ia dengan antusias menjawab, “Pernah, kak. Pada saat menjelang Idul Fitri, orang tua aku pernah memberikan suatu hadiah untuk aku. Hadiah itu merupakan salah satu barang yang termasuk dalam wishlist aku.”
Baginya, kejutan itu bukan sekadar tentang hadiah, tetapi tentang perhatian yang diberikan oleh orang tuanya. “Saat itu aku cukup senang karena itu menandakan mereka ingat akan hal-hal kecil yang aku inginkan. Buat aku, itu merupakan kejutan yang sangat berkesan,” tambahnya.
Menariknya, kejutan seperti ini tidak hanya terjadi sekali. “Terjadi setiap tahun, kak. Tapi tidak melulu di saat menjelang Idul Fitri aja,” ujarnya. Artinya, perhatian orang tuanya terhadap hal-hal yang ia suka tidak hanya diberikan saat momen tertentu, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa bentuk kasih sayang tidak selalu harus datang dalam skala besar atau pada perayaan tertentu. Terkadang, perhatian kecil yang diberikan secara konsisten jauh lebih bermakna daripada kejutan sesekali.
Ketika ditanya apakah pernah merasa kecewa karena ada sesuatu yang terlewat dalam kejutan tersebut, jawabannya sangat sederhana tetapi penuh makna. “Alhamdulillah, tidak pernah, kak,” katanya.
Jawaban ini mencerminkan sikapnya yang selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh orang tuanya. Baginya, kejutan bukanlah sesuatu yang harus selalu ada atau ditunggu-tunggu, tetapi lebih kepada bagaimana ia menghargai setiap perhatian dan kasih sayang yang diberikan.
Guys, membaca pengakuan para sahabat kanal KAMU KUAT! tadi ternyata cukup menyentuh. Kejutan dari orang tua, terutama ayah saat Ramadhan dan Idul Fitri, bisa dalam berbagai bentuk. Sebuah kebersamaan pun menjadi sebuah peristiwa yang membekas. Namun apapun yang kita alami dan dapatkan, hendaknya kita harus tetap selalu bersyukur. (Resty)











Discussion about this post