• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Lentera di Tengah Kabut  (bagian 4, habis)

by Avesiar
3 Maret 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 5 mins read
A A
Cerpen: Lentera di Tengah Kabut  (bagian 4, habis)

Ilustrasi. Foto: via mahasiswa.co.id & ist. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Lentera di Tengah Kabut  (bagian 4, habis)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Ketika akhirnya mereka mencapai dataran rendah yang aman, semua warga berhenti dan menatap Rahmat. Lentera di tangannya masih menyala, cahayanya memancar hangat di tengah dinginnya malam.

“Lentera itu… menyelamatkan kita,” bisik salah seorang warga.

Pak Kyai Marwan melangkah maju, menatap Rahmat dengan mata yang kini penuh penghormatan. “Rahmat, aku salah menilai lentera ini. Cahaya ini bukanlah ancaman, tetapi penyelamat. Kau telah menunjukkan kepada kami bahwa perubahan tidak selalu berarti kehancuran.”

Rahmat tersenyum kecil. “Pak Kyai, lentera ini hanyalah alat. Yang menyelamatkan kita adalah keberanian dan kerja sama kita sebagai sebuah komunitas.”

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Malam itu, warga desa berkumpul di tempat pengungsian sementara. Lentera Rahmat diletakkan di tengah-tengah mereka, menjadi simbol harapan dan persatuan. Anak-anak yang dulu belajar membaca dengan Rahmat mulai bercerita kepada orang tua mereka tentang huruf-huruf yang mereka kenal, menyebarkan semangat baru di antara warga.

Pak Kyai Marwan, yang selama ini menjadi penjaga tradisi, berdiri di samping Rahmat. Ia menepuk bahu pemuda itu dengan penuh rasa hormat.

“Rahmat, aku ingin kau tahu bahwa tradisi kita adalah fondasi, tetapi aku menyadari sekarang bahwa kita juga harus membuka diri terhadap hal-hal baru. Kau telah mengajarkan kami semua pelajaran yang berharga.”

Rahmat menatap lentera di tengah warga, cahayanya memantul di wajah-wajah yang penuh harapan. “Pak Kyai, kabut ini mungkin tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi kita sekarang tahu bahwa kita memiliki cahaya untuk melawannya.”

Keesokan harinya, ketika matahari akhirnya muncul di balik kabut yang mulai menipis, warga desa memulai kehidupan baru dengan semangat yang berbeda. Lentera Rahmat, yang kini menjadi simbol harapan, diletakkan di balai desa sebagai pengingat akan keberanian mereka melawan kegelapan.

Desa itu mungkin masih diselimuti kabut, tetapi di hati setiap warganya, cahaya telah menyala.

Cahaya Baru bagi Desa

Setelah bencana yang mengguncang desa, udara yang sebelumnya dipenuhi oleh ketidakpastian kini mulai berganti dengan semangat kebersamaan. Warga yang dulunya saling terpecah kini bersatu, menemukan kekuatan dalam kerjasama yang tak terbayangkan sebelumnya.

Lentera Rahmat, yang dulu hanya sebuah harapan kecil yang hampir padam, kini menjadi simbol yang terang di tengah malam yang gelap. Cahaya yang memancar dari lentera itu tak hanya menerangi jalanan desa, tetapi juga hati-hati yang sebelumnya rapuh karena ketakutan akan masa depan.

Kesadaran kolektif mulai tumbuh di setiap sudut desa. Rahmat tidak hanya mengajari warga tentang teknologi dan inovasi, tetapi juga membangkitkan rasa ingin tahu yang selama ini terpendam. Warga yang dulunya enggan membuka diri terhadap dunia luar kini menjadi lebih terbuka, menganggap pengetahuan bukan lagi sebagai hal yang mengancam, melainkan sesuatu yang bisa menyelamatkan.

Mereka mulai berani bertanya, mencari jawaban, dan belajar bersama-sama. Setiap malam, balai desa yang dulunya sunyi kini dipenuhi oleh warga yang datang untuk belajar membaca dan menulis. Mereka bersemangat menyusuri setiap huruf dan angka, dengan harapan baru yang menyinari setiap langkah mereka.

Lentera Rahmat kini tergantung di atas pintu balai desa, menyinari para pejuang pengetahuan yang datang dari berbagai pelosok. Cahaya lentera itu tak hanya menerangi ruang, tetapi juga menyinari jiwa mereka yang dahaga akan perubahan.

Tradisi yang dulu dipegang erat kini bertemu dengan inovasi yang membawa harapan. Mereka belajar bahwa tradisi bukanlah hal yang harus ditinggalkan, melainkan sesuatu yang bisa diperbaharui dan diperkaya dengan ilmu pengetahuan baru.

Rahmat berdiri di sudut balai desa, memandang warga yang tengah asyik belajar. Dalam hati, ia merenungkan perjalanan yang telah mereka lewati bersama. Ia sadar, kabut yang dahulu menyelimuti hidup mereka bukanlah hukuman, melainkan ujian keberanian.

Ujian untuk menemukan cahaya di dalam diri mereka sendiri. Tak ada yang bisa menghalangi perjalanan mereka menuju cahaya, asalkan mereka memiliki keberanian untuk melangkah. Lentera itu kini bukan hanya simbol dari inovasi, tetapi juga keberanian untuk menghadapi gelapnya ketidaktahuan dan menggantinya dengan terang pengetahuan.

“Ini adalah cahaya kita,” gumam Rahmat pelan, menatap lentera yang bersinar terang di tengah malam. “Lentera yang menyinari jalan kita, bukan hanya di luar sana, tetapi juga di dalam hati kita. Kita tidak lagi takut pada kegelapan, karena kita tahu kita bisa membawa cahaya itu sendiri.”

Cerita ini pun berakhir, namun perubahan yang dimulai dari lentera kecil itu terus berlanjut. Desa yang dahulu terbelakang kini menjadi sebuah komunitas yang penuh dengan harapan, kerja keras, dan semangat belajar.

Cahaya lentera Rahmat yang dulu hanya secercah kini menjadi sumber terang yang tak akan pernah padam, terus membimbing langkah-langkah mereka menuju masa depan yang lebih cerah.

Di malam-malam yang sunyi, ketika angin berhembus lembut, cahaya lentera itu tetap menggantung di balai desa, menyinari warga yang tengah belajar bersama. Di bawah cahaya itu, mereka menemukan jalan baru—jalan yang penuh dengan ilmu, harapan, dan kebersamaan.

Lentera itu bukan hanya sumber terang, tetapi juga pengingat bahwa dalam setiap kabut kehidupan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. (selesai)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanCerpen MotivasiKabutLentera
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sifat Munafik, Al Qur’an dan Hadits Menyebutkan Tentang Bahayanya yang Besar

Next Post

Apa Momen Kebersamaan Keluarga dan Kejutan Ortu, Terutama Ayah untuk Kamu di Ramadhan dan Idul Fitri?

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Apa Momen Kebersamaan Keluarga dan Kejutan Ortu, Terutama Ayah untuk Kamu di Ramadhan dan Idul Fitri?

Apa Momen Kebersamaan Keluarga dan Kejutan Ortu, Terutama Ayah untuk Kamu di Ramadhan dan Idul Fitri?

Pembuluh Darah Mata Pecah Disebut Perdarahan Subkonjungtiva, Berikut 10 Penyebabnya

Pembuluh Darah Mata Pecah Disebut Perdarahan Subkonjungtiva, Berikut 10 Penyebabnya

Discussion about this post

TERKINI

Stasiun ABC Berpendapat Pemerintahan Trump Diduga Berupaya Membungkam Kebebasan Berbicara Terkait Program TV ‘The View’

9 Mei 2026

Balasan dari Allah Bagi yang Membantu dan Meringankan Kesulitan Orang Lain

8 Mei 2026

Iran yang Diundang FIFA ke Markas Besar Diskusi Piala Dunia Terpaksa Absen Akibat Dihina Imigrasi Kanada

7 Mei 2026

Naudzubillah, Nasib Anak yang Dilahirkan dari Hasil Zina Menurut Islam

6 Mei 2026

Mampu Menjangkau 6000 Kilometer, Turki Pamerkan ‘Yildirimhan’ Rudal Balistik Antarbenua

6 Mei 2026

Apa yang Disebut Narcissistic Collapse atau ‘Keruntuhan Narsistik’ dan Cara Melindungi Diri Anda

5 Mei 2026

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

Kuba Menyebut AS Sedang Cari Alasan untuk Lancarkan Intervensi Militer ke Negara Mereka

4 Mei 2026

Menyayat Hati, 8.000 Jenazah Masih Terperangkap di Puing-puing Reruntuhan di Gaza di Tengah 72.000 Jiwa Korban Genosida Israel

3 Mei 2026

Mencermati Hukum Shalat Fardhu di Akhir Waktu Beralasan Menjaga Wudhu

3 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video