Avesiar – Jakarta
Perkataan dan perbuatan tidak sejalan adalah sifat munafik yang berbahaya bagi seorang Muslim. Hal ini di mana seseorang menunjukkan kepalsuan melalui lisan, tetapi hatinya tidak sejalan. Bukan hanya tentang perkataan, tetapi juga perbuatan yang tidak konsisten dengan hati.
Dilansir laman resmi Nahdlatul Ulama, Kamis (27/2/2025), dalam materi Khutbah Jum’at, dituliskan bahwa kita harus waspada agar tidak terjebak dalam sifat ini, terutama di bulan suci Ramadhan, saat kita berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Setiap Muslim harus berusaha menjauhi sifat munafik yang sangat tercela ini, yang sangat dilarang dalam Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala. berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 8-10:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir’, padahal mereka sesungguhnya tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, dan mereka tidak sadar.”
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengungkapkan tentang orang-orang Mukmin sejati, kemudian orang-orang kafir sejati, dan akhirnya menyentuh kelompok ketiga yang berbeda dari kedua kelompok sebelumnya.
Meskipun secara lahiriah tampak seperti orang beriman, namun secara batiniah kelompok ini menyamai orang kafir. Mereka adalah orang-orang munafik, yang termasuk penghuni neraka paling bawah.
Sifat munafik adalah ancaman serius bagi kehidupan umat Islam, baik dalam hubungan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala maupun sesama manusia. Seorang munafik menampakkan keimanan di luar, namun menyembunyikan kekufuran atau ketidakikhlasan di dalam hati. Mereka sering berbohong, mengingkari janji, dan tidak konsisten dalam tindakan.
Pada masa Hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hal ini pun terjadi. Dalam kitab Rahiqul Makhtum, Safiur Rahman Mubarakfuri menyebutkan tantangan yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah adalah kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Mereka enggan berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, merusak persaudaraan, dan menyebar fitnah di Madinah.
Dalam Perang Uhud, setelah kemenangan awal di Perang Badar, sebagian orang munafik merasa takut dan kecewa ketika musuh kembali menyerang. Mereka berpura-pura setia kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi hati mereka tidak sepenuhnya beriman. Mereka menyebarkan keraguan di kalangan kaum Muslimin dan berusaha menghindari peperangan.
Begitu pula dalam Perjanjian Hudaibiyah antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan orang Quraisy, beberapa orang munafik berusaha menghasut umat Islam dan merusak perjanjian tersebut. Mereka menunjukkan kesetiaan di luar, tetapi hatinya penuh kebencian dan pengkhianatan terhadap Islam.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengajarkan kita tentang ciri-ciri orang munafik yang perlu kita waspadai, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits berikut:
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.”
Hadits ini bekaitan dengan keimanan seseorang, Imam Al-Kirmani dalam kitab Fathul Bari, dalam bab ‘alamatul munafiq, halaman 111 menjelaskan:
“Sifat Munafik itu adalah tanda dari tidak adanya iman.”
Sifat munafik adalah ancaman serius bagi kita semua. Orang munafik sering mengingkari janji, baik kecil maupun besar, dan tidak menjaga kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Mereka beribadah dan beramal hanya untuk dilihat orang, bukan karena Allah semata.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan peringatan keras tentang sifat ini dalam Surat An-Nisa’ ayat 145, di mana Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik akan mendapatkan tempat paling rendah di neraka. Ini adalah ancaman yang sangat serius.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan betapa rendahnya kedudukan orang munafik di neraka. Salah satu cara menghindarinya adalah dengan selalu ikhlas dalam beribadah, jujur dalam setiap perkataan, dan menepati janji. Kita harus berusaha menjaga konsistensi dalam amal dan perilaku, baik di hadapan Allah maupun sesama manusia. (adm)













Discussion about this post