KAMU KUAT – Jakarta
Setiap sore di bulan Ramadan, jalanan mulai dipadati oleh para pencari takjil yang ingin mendapatkan hidangan terbaik untuk berbuka puasa. Dari pedagang kaki lima di pinggir jalan hingga pasar Ramadan yang selalu ramai, berbagai jenis makanan dan minuman menggoda selera tersaji di setiap sudut kota. Aroma manis kolak, gurihnya gorengan, serta segarnya es campur menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melepas dahaga setelah seharian berpuasa.
Bagi sebagian orang, berburu takjil bukan hanya sekadar mencari makanan berbuka, tetapi juga menjadi tradisi yang mempererat kebersamaan, baik bersama keluarga maupun teman. Di tengah hiruk-pikuk pencarian takjil, ada keseruan tersendiri saat harus antre panjang, bersaing dengan pembeli lain, atau bahkan menemukan menu takjil favorit yang sudah lama dinantikan.
Yuk ikuti seru dan lucunya pengalaman beberapa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com berikut!
Mochammad Rafi Eka Hilmi Fauzan, mahasiswa semester 4, Fakultas Hukum, Universitas Jember

Menurut Rafi, suasana menjelang berbuka di sekitar UNEJ sangat ramai. “Rame banget, kak. Malah kalau kita bawa kendaraan bermotor di area sekitar kampus pukul 16.00 sudah tidak bisa jalan lancar. Bahu jalan kanan maupun kiri penuh penjual serba-serbi makanan, mulai dari yang ringan sampai yang berat,” katanya.
Di antara banyaknya pilihan takjil, ada dua makanan yang menjadi favorit mahasiswa dan warga sekitar, yaitu Es Kuwut dan Tahu Kocek khas Jember. “Es Kuwut itu yang dari timun,” jelasnya.
Sedangkan Tahu Kocek, menurut Rafi, adalah camilan khas Jember yang unik. “Tahu Kocek itu seperti tahu bakso, tapi dalamnya isi kanji. Tahu ini dipotong kecil-kecil, lalu digoreng lagi sampai krispi di luar dan kenyal di dalam. Setelah itu, diberi bumbu dari bawang putih, cabai, dan garam yang diulek bareng di cobek, kemudian ditambahkan irisan kubis,” paparnya.
Karena ramainya suasana berburu takjil, Rafi dan teman-temannya biasanya membentuk tim agar lebih efisien. “Biasanya kita bikin tim biar nggak lama. Ada yang bagian nyari minum, ada yang beli jajanan, ada yang beli makanan berat, dan ada juga yang cari war takjil di masjid-masjid besar di area kampus. Kalau sudah kebeli semua, baru nanti kita buka bersama di salah satu kos atau kontrakan teman,” ujarnya.
Namun, berburu takjil tak selalu berjalan mulus. Ada saja kejadian lucu yang mereka alami. “Pernah beli lauk, tapi lupa beli nasi! Terus, pernah juga saking ramenya, kita ambil gorengan sendiri dan lupa bayar. Tapi habis salat Tarawih, kita balik lagi buat bayar, kok,” katanya sambil tertawa.
Meski ramai dan penuh sesak, Rafi tidak merasa terganggu dengan suasana ini. Justru baginya, inilah yang membuat Ramadan semakin terasa spesial.
“Kalau dibilang keganggu, nggak juga sih, kak. Dari desak-desakan itu, vibe Ramadan-nya kerasa banget. Apalagi kalau pas war takjil, rasanya dunia sempit banget karena semua orang tumpah ruah di sana. Bisa aja lagi beli ketemu dosen, teman, atau bahkan jodoh mungkin, hehehe. Seru aja sih, kapan lagi kalau nggak pas Ramadan? Walau agak ketar-ketir juga kalau jajanan yang kita incar harus war,” katanya.
Selain berburu takjil untuk diri sendiri, Rafi juga aktif mengikuti kegiatan Takjil on the Road, di mana mahasiswa membagikan makanan berbuka puasa kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Aku sering ikutan, apalagi biasanya mulai minggu ke-2 Ramadan udah mulai banyak kegiatan ini. Organisasi mahasiswa sering ngadain, dan aku sering ikut mulai dari belanja, bungkusin, sampai bagiin takjil. Bahkan pernah juga berburu takjil buat dibagiin, wkwkwk,” ungkapnya.
Namun, ia juga mengingatkan agar kegiatan ini dilakukan dengan tertib. “Kalau bisa, yang mau ngadain Takjil on the Road pilih jalan yang lebar, biar nggak macet dan nggak rawan kecelakaan. Kita sih nggak pilih-pilih siapa yang dikasih, tapi lihat situasi dan kondisi juga. Takutnya pengendara jadi gagal fokus dan berujung kecelakaan, misalnya kalau mereka tiba-tiba melambat,” pesannya.
Daevara Haechal Prazasya, siswa kelas 10, SMA Negeri 1 Bogor

Bulan Ramadan identik dengan tradisi berbuka puasa bersama dan berburu takjil di sore hari. Namun, tidak semua orang tertarik untuk ikut dalam euforia ini.
Daevara, seorang remaja yang kami wawancarai, justru mengaku jarang membeli takjil di luar. “Yang pertama, kadang takjil pinggir jalan itu ramai yang beli dan antri, jadi saya nggak mau ribet. Yang kedua, saya lebih suka langsung makanan berat masakan rumah. Jadi kalau saya mau takjil, biasanya bikin sendiri aja sih,” ujarnya santai.
Makanan berat seperti soto dan rendang menjadi pilihannya untuk berbuka. Baginya, makanan ringan seperti gorengan atau kolak kurang menarik dibandingkan sajian utama yang lebih mengenyangkan.
Namun, bagaimana pandangannya tentang War Takjil yang sering terjadi di berbagai daerah? Daevara punya pendapat cukup tegas. “Kalau menurut saya, ini nggak ada manfaatnya ya. Soalnya malah bikin kericuhan, misalnya kalau War Takjil di pinggir jalan bisa bikin macet,” katanya.
Meski begitu, Daevara memiliki pandangan berbeda mengenai kegiatan Takjil on the Road di mana sekelompok orang membagikan makanan berbuka kepada masyarakat yang membutuhkan. “Kalau Takjil on the Road kan lebih ke berbagi ya. Menurut saya, sah-sah aja sih, selagi nggak bikin kericuhan,” jelasnya.
Menurutnya, berbagi takjil di jalan memiliki manfaat yang lebih besar daripada sekadar berdesakan membeli makanan untuk diri sendiri. “Manfaatnya pastinya membuat masyarakat sekitar senang, sehingga terjalin erat hubungan persaudaraan. Lingkungan juga jadi lebih aman, tentram, dan damai,” tambahnya.
Dari obrolan singkat ini, terlihat bahwa tidak semua remaja memiliki pandangan seragam tentang tradisi War Takjil. Ada yang menikmati keseruannya, ada pula yang lebih memilih cara lain untuk menikmati buka puasa. Yang terpenting, kegiatan di bulan Ramadan tetap dilakukan dengan semangat kebersamaan dan tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain.
Naila Anindya, siswi kelas 7, SMP Negeri 5 Bogor

Mencari takjil adalah rutinitas yang tidak boleh dilewatkan oleh Naila. “Biasanya kalau bulan puasa gini saya selalu mencari takjil, terutama es dan gorengan untuk buka puasa,” ujar Naila.
Namun, berburu takjil tidak selalu mudah. Ia mengungkapkan bahwa sering kali ada banyak orang yang kehabisan karena tingginya minat, bahkan dari mereka yang bukan muslim. “Kadang suka banyak orang yang kehabisan karena banyak yang mencari takjil. Cuman, alhamdulillah aku selalu dapat gorengan dan es-nya walaupun harus war sama banyak orang,” katanya sambil tertawa.
Meski sering mencari takjil, ia mengaku tidak memiliki langganan tetap. “Enggak sih, kak,” jawabnya singkat. Selain itu, ia juga tidak setiap hari berburu takjil, melainkan hanya saat ada waktu luang. “Enggak sih, kak, pas ada waktunya saja,” jelasnya.
Saat berburu takjil, ia biasanya tidak sendirian. “Keluarga atau enggak teman sih, kak,” ungkapnya. Baginya, mencari takjil bersama orang-orang terdekat menjadi pengalaman yang lebih seru dan menyenangkan.
Ketika ditanya pendapatnya tentang Takjil on the Road, ia memberikan pandangan yang cukup bijak. “Takjil on the Road itu bagi-bagi takjil bareng di luar rumah, biasanya sambil berbagi makanan ke orang yang butuh. Kalau tujuannya buat bantu sesama dan tetap tertib, pastinya bagus. Tapi kalau cuma buat konvoi, kebut-kebutan, atau bikin rusuh, malah jadi ganggu orang lain,” jelasnya.
Meski sering kali diwarnai dengan antrean panjang dan keramaian yang padat, berburu takjil di bulan Ramadan tetap menjadi salah satu momen yang paling dinanti. Lebih dari sekadar mencari makanan untuk berbuka, tradisi ini menghadirkan pengalaman sosial yang menyenangkan dari berbincang dengan pedagang, bertemu teman lama, hingga berbagi makanan dengan sesama.
Namun, di tengah euforia berburu takjil, penting untuk tetap menjaga ketertiban, tidak berebut, dan menghargai pedagang serta sesama pembeli. Ramadan adalah bulan penuh berkah, di mana kebersamaan dan kepedulian terhadap orang lain menjadi nilai utama.
Dengan menjadikan momen berburu takjil sebagai ajang silaturahmi dan berbagi, kita tidak hanya menikmati kelezatan hidangan berbuka, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan makna Ramadan itu sendiri.
Kalau kamu seseru apa berburu takjilnya? (Resty)













Discussion about this post