Avesiar – Cerpen dan Puisi
Lentera di Tengah Kabut (bagian 3)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Malam itu, Rahmat duduk di samping lentera, memandangi cahayanya yang tenang. Di kepalanya, pikiran-pikiran berkecamuk. Lentera ini memang sederhana, tetapi telah menjadi simbol sesuatu yang lebih besar: perlawanan terhadap kegelapan ketidaktahuan.
Di sisi lain desa, isu tentang lentera Rahmat semakin meluas. Beberapa warga, terutama para pemuda, mulai mempertanyakan keputusan para tetua. Mereka melihat Rahmat bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai seseorang yang membawa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mungkin diperlukan oleh desa mereka.
“Aku ingin belajar membaca,” kata Arif, seorang pemuda berusia 18 tahun, kepada teman-temannya. “Rahmat punya sesuatu yang kita tidak punya: pengetahuan. Apa salahnya belajar darinya?”
Namun, ketakutan yang ditanamkan oleh para tetua masih kuat. Banyak warga yang takut dihukum jika mereka terlihat mendukung Rahmat. Ketegangan di desa semakin memuncak, seperti tali yang ditarik hingga batasnya.
Malam berikutnya, Rahmat terkejut melihat beberapa pemuda dan anak-anak mendatangi rumahnya secara diam-diam. Mereka mengetuk pintu perlahan, dan ketika Rahmat membukanya, ia melihat wajah-wajah yang penuh harapan.
“Kami ingin belajar, Kak Rahmat,” kata salah satu anak dengan suara pelan.
Rahmat tersenyum kecil. “Masuklah, tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu.”
Ruang tamu Rahmat kembali dipenuhi suara-suara belajar. Lentera tua itu menerangi wajah-wajah muda yang haus akan pengetahuan. Setiap kata, setiap huruf yang diajarkan Rahmat, menjadi semacam perlawanan kecil terhadap tradisi yang membelenggu mereka.
Namun, di luar sana, ancaman terus membayangi. Pak Kyai Marwan mengumpulkan lebih banyak warga untuk mengambil tindakan terhadap Rahmat. Mereka merencanakan sesuatu yang akan mengakhiri perjuangan kecil Rahmat sekali dan untuk selamanya.
“Besok malam, kita akan memadamkan lentera itu,” kata Pak Kyai Marwan dengan nada penuh keyakinan. “Rahmat harus mengerti bahwa cahaya asing tidak punya tempat di desa ini.”
Rahmat, di sisi lain, tahu bahwa perjuangannya tidak akan mudah. Namun, setiap malam yang ia habiskan bersama anak-anak dan pemuda desa, ia semakin yakin bahwa lentera itu bukan hanya sekadar cahaya, melainkan simbol keberanian untuk bermimpi di tengah kegelapan.
Ketegangan mencapai puncaknya, dan Rahmat tahu, malam berikutnya akan menjadi malam yang menentukan. Lentera tua itu terus menyala, memancarkan cahaya kecil namun penuh makna, di tengah kabut yang semakin pekat.
Lentera yang Memecah Kabut
Hujan deras mengguyur desa tanpa henti selama tiga hari berturut-turut. Tanah di lereng bukit yang rapuh mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Warga desa berkumpul di balai desa, cemas namun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Pak Kyai Marwan, yang selama ini menjadi pemimpin, tampak bingung dan tak berdaya menghadapi ancaman bencana yang mendekat.
Di rumahnya, Rahmat menatap lentera tua yang masih memancarkan cahaya hangat. Ia tahu, sesuatu yang besar akan segera terjadi. Ketika gemuruh longsor terdengar dari arah bukit, kabut semakin pekat, menyelimuti seluruh desa. Suara teriakan dan kepanikan menggema, membuat suasana semakin mencekam.
“Longsor! Longsor!” teriak salah seorang warga yang berlari ke arah balai desa.
Rahmat segera berlari keluar rumah, membawa lentera di tangannya. Cahaya lentera itu menerobos kabut, menjadi satu-satunya sumber terang di tengah kegelapan yang menyelimuti desa. Ia tahu, saat ini adalah saatnya bertindak.
“Semua orang, dengarkan saya!” teriak Rahmat ketika tiba di balai desa. “Kita harus segera meninggalkan desa ini. Longsor dari bukit akan menyapu semuanya!”
Pak Kyai Marwan menatap Rahmat dengan sorot mata ragu. “Kita tidak bisa pergi begitu saja. Kabut terlalu tebal, kita tidak akan bisa melihat jalan!”
“Lentera ini cukup untuk menerangi jalan,” jawab Rahmat tegas. “Ikuti cahaya ini. Kita harus bergerak sekarang, atau semuanya akan terlambat.”
Beberapa warga, terutama anak-anak dan pemuda yang pernah belajar dengan Rahmat, langsung berdiri di belakangnya. Namun, sebagian besar masih ragu, terbelenggu oleh ketakutan dan ketidakpastian. Rahmat tidak menyerah. Ia mendekati Pak Kyai Marwan.
“Pak Kyai, ini bukan tentang tradisi atau perubahan,” kata Rahmat dengan nada penuh keyakinan. “Ini tentang menyelamatkan nyawa. Cahaya ini bukan ancaman, melainkan harapan. Tolong, bantu saya memimpin mereka.”
Pak Kyai Marwan terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah. Jika ini yang kau yakini, kami akan mengikutimu.”
Dengan lentera di tangan, Rahmat memimpin warga desa melalui jalan sempit yang berliku, menuruni lereng bukit yang licin dan berbahaya. Kabut tebal membuat perjalanan menjadi sulit, tetapi cahaya lentera itu cukup untuk menunjukkan jalan. Warga mengikuti dalam diam, hanya suara hujan dan langkah kaki yang terdengar.
Saat mereka mencapai tempat yang lebih aman, gemuruh longsor terdengar semakin dekat. Sebuah pohon besar tumbang di belakang mereka, menandai bahwa waktu mereka hampir habis. Rahmat berhenti sejenak, menyalakan lentera lebih terang, dan mengarahkan warga untuk mempercepat langkah mereka.
Di tengah perjalanan, seorang anak kecil tersandung dan menangis. Rahmat segera berlutut, mengangkat anak itu, dan membawanya di punggungnya. Lentera di tangan kanannya tetap menyala, menjadi panduan bagi yang lain. Pak Kyai Marwan, yang mengikuti di belakang, mulai memimpin doa bersama.
“Ya Tuhan, lindungilah kami dalam perjalanan ini. Berikan kami kekuatan untuk melewati cobaan ini,” suara Pak Kyai menggema di tengah suara hujan.
Warga lainnya mengikuti doa tersebut, dan suasana yang tadinya penuh kepanikan berubah menjadi haru dan kekuatan bersama. (bersambung ke bagian 4)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post