Avesiar – Jakarta
Pemimpin jutaan umat Katolik Paus Fransiskus meninggal dunia pada usia 88 tahun, Senin (21/4/2025), pukul 07.35, dikutip dari The Guardian, setelah berjuang atas penyakit paru-paru kronis.
Sebelumnya, Paus Fransiskus dirawat di rumah sakit Gemelli di Roma pada tanggal 14 Februari karena krisis pernapasan yang berkembang menjadi pneumonia ganda. Ia menghabiskan 38 hari di sana, rawat inap terlama selama 12 tahun kepausannya.
Setelah ke luar dari rumah pada tanggal 23 Maret, ia sempat tampil ke publik untuk terakhir kalinya pada hari Minggu, ketika ia berbicara singkat kepada orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk misa Paskah.
Disebutkan bahwa Fransiskus menyederhanakan ritual pemakaman paus tahun lalu dan sebelumnya mengatakan bahwa ia telah merencanakan makamnya di Basilika Santa Maria Maggiore di lingkungan Esquilino di Roma, tempat ia pergi untuk berdoa sebelum dan sesudah perjalanan ke luar negeri. Paus biasanya dimakamkan dengan sangat meriah di gua-gua di bawah Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan.
Kematiannya yang menimbulkan duka mendalam selama beberapa hari dan minggu mendatang, akan dibarengi dengan dimulainya manuver di dalam Vatikan mengenai siapa yang akan menggantikan Fransiskus dan menjadi kepala gereja Katolik ke-268.
Hal itu akan ditandai dengan kedatangan para kardinal dari seluruh dunia menuju Roma untuk menghadiri konklaf, ritual pemilihan rahasia dan rumit yang diadakan di Kapel Sistina dan melibatkan sekitar 138 kardinal yang memenuhi syarat untuk memberikan suara.
Sebelum kematian Fransiskus, beberapa calon potensial yang dibicarakan antara lain; Matteo Zuppi, seorang kardinal progresif Italia Pietro Parolin yang menjabat sebagai sekretaris negara Vatikan, dan Kardinal Luis Antonio Tagle, dari Filipina.
Perpecahan tajam dalam kuria mungkin aja semakin parah dengan setelah kematiannya, di mana kaum konservatif berusaha merebut kendali gereja dari para reformis.
Fransiskus, selama 12 tahun masa kepausannya menjadi pejuang vokal bagi kaum miskin, terpinggirkan, dan kurang beruntung di dunia, dan seorang kritikus blak-blakan terhadap keserakahan perusahaan dan kesenjangan sosial dan ekonomi.
Tidak hanya itu. sosok yang sederhana tersebut juga mengkritik pemborosan dan hak istimewa di dalam Vatikan, serta menyerukan para pemimpin gereja untuk menunjukkan kerendahan hati. Sehingga pandangannya itu membuat banyak kardinal dan pejabat Vatikan yang berkuasa marah, yang sering kali berusaha menggagalkan upaya Fransiskus untuk merombak lembaga-lembaga gereja kuno.
Pada masa kepemimpunannya, Fransiskus harus menghadapi salah satu masalah terbesar, yaitu pelecehan seksual oleh para pendeta dan tindakan gereja yang menutup-nutupi kejahatan yang dilakukan oleh para pendeta dan uskup.
Akibat kasus-kasus pelecehan yang dilakukan oleh para pendeta dan uskup tersebut, tahun 2019 Fransiskus memanggil para uskup dari seluruh dunia ke Roma untuk membahas krisis tersebut.
Ia kemudian mengeluarkan dekrit yang mengharuskan para pendeta dan biarawati untuk melaporkan pelecehan seksual dan tindakan menutup-nutupinya kepada otoritas gereja, dan menjamin perlindungan bagi para pelapor. (ard)













Discussion about this post