• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i Harmoni Keluarga

Mendidik Anak Secara Islami dan Komentar Para Ibu

by Ave Rosa
20 April 2025 | 23:39 WIB
in Harmoni Keluarga
Reading Time: 7 mins read
A A
Mendidik Anak Secara Islami dan Komentar Para Ibu

Ilustrasi. Foto: ist & Pexels. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Jakarta

Mendidik anak dalam Islam bukan sekadar membekali mereka dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan akhlak mulia, keimanan, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan ini berlangsung sejak dini dan dilakukan melalui keteladanan, kasih sayang, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang spiritual anak.

Dalam Islam, yang paling utama adalah menanamkan nilai tauhid  pengakuan akan keesaan Allah. Sejak kecil, anak diajarkan untuk mengenal, mencintai, dan takut kepada Allah dengan pemahaman yang penuh cinta dan penghargaan, bukan ketakutan buta.

 Anak perlu dibiasakan bersikap jujur, sopan, disiplin, dan penuh kasih sayang. Cara terbaik untuk mengajarkannya adalah dengan menjadi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah diajarkan secara perlahan dan menyenangkan agar anak tumbuh mencintai ibadah, bukan sekadar menjalankan kewajiban.

Prinsip Islam dalam Mendidik Anak

Islam menekankan pentingnya mendidik anak dengan kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua yang lebih baik kepada anaknya selain akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)

Pendidikan dalam Islam juga menghargai suara anak. Anak perlu didengarkan, dihargai pendapatnya, dan diberi ruang untuk belajar dari kesalahan. Islam melarang kekerasan fisik maupun verbal dalam mendidik, karena pendidikan yang berhasil dibangun dari hati, bukan ketakutan.

Bacaan Terkait :

Parenting Islami Mengenali Bakat Anak

Membentuk Karakter Positif Anak Lewat 5 Prinsip Parenting

Panduan Ikhtiar Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Al Qur’an dan Hadits

Load More

Metode Mendidik Anak dalam Islam

Para ulama dan pendidik Islam mengembangkan beberapa metode yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:

Metode Graduasi (At-Tadarruj): Mengajarkan secara bertahap sesuai kemampuan anak.

Metode Levelisasi (Mura’at Al-Mustawayat): Menyesuaikan pendekatan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Metode Keteladanan (Al-Uswah Wa Al-Qudwah): Anak belajar dari perilaku orang tuanya.

Metode Dialog (Al-Hiwar): Mendorong anak untuk bertanya dan berpikir kritis.

Metode Kisah (Al-Qishash): Mendidik lewat cerita inspiratif dari kisah para Nabi dan orang-orang saleh.

Landasan dari Al-Qur’an dan Hadis

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ayat ini menjadi dasar bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing anak menuju kebaikan.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil.” (HR Abu Ya’la dari Aisyah RA)

 “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha.” (HR At-Tirmidzi)

Lingkungan rumah harus menjadi tempat yang aman, hangat, dan mendukung tumbuhnya keimanan. Orang tua perlu menciptakan suasana yang menenangkan, jauh dari konflik, dan kaya dengan nilai-nilai kebaikan.

Shinta, Ibu Rumah Tangga

Shinta, Ibu Rumah Tangga. Foto: istimewa

Menurut Shinta, tantangan terbesar dalam mendidik anak zaman sekarang adalah derasnya arus informasi. “Sekarang gak gampang mendoktrin anak, kita harus punya cukup ilmu, logika yang kuat, dan komunikasi dua arah yang sehat,” katanya dengan penuh semangat.

Menurutnya, menjaga nilai-nilai Islam di tengah tantangan digital perlu dimulai dari lingkungan yang mendukung serta memberi contoh langsung sesuai kemampuan kita. “Gak harus sempurna, yang penting istiqamah dan realistis,” ujarnya.

Ia mengakui, belum punya tips manjur soal gadget karena anaknya, Anakku, masih sangat lengket dengan HP. “Tapi paling nggak, HP itu ada gunanya kalau kita manfaatkan buat hal positif, seperti share info islami di grup keluarga,” jelasnya.

Di keluarganya, ibadah jadi fokus utama dalam pendidikan anak. Anak laki-laki dibiasakan sholat di masjid, dan seluruh keluarga rutin mengaji setelah Subuh. “Ngaji itu wajib buat semua di rumah,” ujarnya mantap.

Peran ibu dalam membentuk akhlak, menurutnya, terletak pada keteladanan. “Kalau anak ada yang kurang pas, ya ditegur. Kadang juga ngobrol santai soal kondisi mereka sekarang yang jelas beda dengan zaman kita dulu. Setidaknya kita paham sudut pandang mereka,” tuturnya.

Shinta juga menyoroti perbedaan besar antara zaman dulu dan sekarang. “Dulu gak ada gadget, sekarang kalau gak dikendalikan bisa jadi pisau tajam yang merusak komunikasi anak dan orang tua. Larangan dan nasihat aja gak cukup, orang tua harus punya ilmu dan argumen yang kuat.”

Menurutnya, cara menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan tergantung usia anak. “Kalau masih di bawah 15 tahun, mereka seperti tawanan. Harus jelas batasan mana yang boleh dan enggak. Tapi setelah 15, jadikan mereka teman diskusi. Hargai pendapat mereka seperti orang dewasa.” ujar Shinta menutup wawancara

Lis Lia, Ibu Rumah Tangga

Lis Lia, Ibu Rumah Tangga. Foto: istimewa

Menurut Lis Lia, mendidik anak di era digital jauh lebih kompleks dibandingkan zaman dahulu. “Anak-anak sekarang terpapar banyak informasi yang belum tentu positif, dan lebih suka menatap layar ketimbang bermain atau berinteraksi langsung,” ujarnya.

Karena itu, orang tua harus lebih proaktif dalam mengajarkan penggunaan teknologi yang bijak.

Untuk menghindari pengaruh buruk gadget dan media sosial tanpa membuat anak merasa terkekang, ia berbagi beberapa langkah penting: membatasi waktu layar, memantau aktivitas online, mengajak anak melakukan kegiatan fisik dan kreatif, serta memberi contoh penggunaan teknologi yang sehat. “Diskusi terbuka tentang manfaat dan risikonya juga sangat penting,” tambahnya.

Dalam Islam, peran ibu sebagai madrasah pertama sangat utama. Lis Lia menjelaskan bahwa ibu harus menanamkan nilai-nilai akhlak lewat keteladanan. “Menjadi contoh adalah kunci. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar,” katanya.

Selain itu, ia juga rutin membacakan kisah Islami, mengajarkan ibadah seperti shalat dan mengaji, serta membentuk karakter anak melalui tanggung jawab dan empati.

Ia menambahkan, perbedaan besar antara pola asuh dulu dan sekarang terletak pada pendekatan. “Dulu lebih otoriter, sekarang lebih demokratis. Dulu peran ayah hanya mencari nafkah, sekarang lebih terlibat dalam pengasuhan,” ujarnya. Teknologi juga menjadi faktor besar yang membedakan pola asuh zaman dahulu dan kini.

Menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan menurutnya harus dilakukan dengan penuh hikmah. “Tunjukkan cinta, tapi tetap beri batasan. Ajarkan tanggung jawab, tapi juga dengarkan pendapat mereka. Intinya, didik dengan hati dan teladan yang baik,” ucapnya.

Dewi Fitriyanti, Ibu Rumah Tangga

Dewi Fitriyanti, Ibu Rumah Tangga. Foto: istimewa

Tantangan mendidik anak zaman sekarang sangat berbeda dengan masa lalu. Menurutnya, media sosial, gadget, dan internet kini menjadi tantangan utama yang bisa memengaruhi cara pikir dan perilaku anak.

Orang tua harus lebih aktif mengontrol akses anak terhadap konten-konten yang tidak pantas, karena situs-situs berbahaya semakin mudah diakses. Ia pun menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengawasi dan membatasi konten digital yang tidak layak untuk anak-anak.

Menurutnya, agar anak tetap tumbuh dengan nilai-nilai Islam, pendidikan iman harus dimulai sejak dini. Ia menyarankan orang tua untuk mengajarkan doa, mengenalkan anak pada keindahan ciptaan Allah melalui alam sekitar, membiasakan membaca Al-Qur’an, dan menanamkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menghindarkan anak dari dampak buruk media sosial dan gadget, ujarnya, orang tua perlu mengatur waktu penggunaan, mengontrol konten, dan mengajarkan anak untuk bijak dalam menggunakan teknologi. “Ajak anak melakukan aktivitas positif seperti bermain bersama, olahraga, dan mengaji. Itu lebih sehat dan menyenangkan,” katanya.

Ujarnya lagi, ibu memiliki peran besar sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Menurutnya, ibu harus mengenalkan Allah, mengajarkan shalat dan membaca Al-Qur’an, serta membentuk karakter anak melalui pengajaran akhlak dan keterampilan hidup seperti memasak dan membersihkan diri. “Dengan begitu, anak tumbuh menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Dalam mendidik anak, menurutnya, orang tua harus menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan. Memahami karakter anak, memberi teladan, memberi disiplin secara bijak, serta menggunakan pujian sebagai motivasi adalah kunci sukses dalam membentuk karakter anak.

Ujarnya, pola asuh zaman dulu cenderung lebih keras dan berpusat pada ibu, karena dominasi budaya patriarki. Tapi sekarang, pola asuh lebih lembut dan seimbang berkat banyaknya ilmu parenting yang mudah diakses. “Teknologi dan literasi membuat peran ayah kini lebih aktif dalam pengasuhan. Pengasuhan jadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ibu,” jelasnya.

Mendidik anak dalam Islam adalah investasi akhirat. Dengan membentuk anak yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab, orang tua telah mewariskan kebaikan yang terus mengalir pahalanya. Islam tidak hanya menuntun cara berpikir, tetapi juga membentuk hati yang lembut, sikap yang santun, dan akhlak yang luhur. (Resty)

Tags: mendidik anak dalam keluargaMendidik Anak IslamiMendidik Anak Sesuai Tuntunan Al Qur’an dan Hadits
ShareTweetSendShare
Previous Post

Warga Israel Minta Pembantaian di Gaza Dihentikan, Netanyahu Nekat Menolak

Next Post

Pemimpin Katolik Paus Fransiskus Meninggal, Vatikan Akan Memulai Manuver Pemilihan Paus Baru dalam Konklaf

Mungkin Anda Juga Suka :

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

29 Mei 2026

...

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

23 Mei 2026

...

Menciptakan Keluarga Samawa atau Harmonis ala Imam Al-Ghazali

Menciptakan Keluarga Samawa atau Harmonis ala Imam Al-Ghazali

31 Maret 2026

...

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

12 Februari 2026

...

Jenis-jenis Perkawinan yang Bejat di Masa Jahiliyah dan Diganti dengan Pernikahan Suci Islami

Jenis-jenis Perkawinan yang Bejat di Masa Jahiliyah dan Diganti dengan Pernikahan Suci Islami

27 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Pemimpin Katolik Paus Fransiskus Meninggal, Vatikan Akan Memulai Manuver Pemilihan Paus Baru dalam Konklaf

Pemimpin Katolik Paus Fransiskus Meninggal, Vatikan Akan Memulai Manuver Pemilihan Paus Baru dalam Konklaf

Ketahui Jenis-jenis Akad Berikut Saat Transaksi Perbankan Syariah

Ketahui Jenis-jenis Akad Berikut Saat Transaksi Perbankan Syariah

Discussion about this post

TERKINI

Khusyuknya Abdul Kholiq, Dosen PTIQ Juara Hafidz Qur’an, Pengurus NU Depok, Dai dan Assesor Nasional

4 Juni 2026

Gelar 104 Pertandingan Terdiri dari 48 Tim dan 12 Grup di 16 Kota 16 Stadion serta Harga Tiket

3 Juni 2026

Budiyanto Darmastono “The Pioneer Minded”, Bos Kurir SAP Ekspres yang Terapkan IT Terdepan untuk COD

3 Juni 2026

Memahami Tarekat atau Thoriqoh, Terminologi, Pengertian, dan Para Tokohnya

2 Juni 2026

Membuminya Endang Rosawati, Eks Corsec BNI Syariah Kini CEO Taha Institute, Edukasi Keuangan Syariah

2 Juni 2026

Kolumbia Gelar Pilpres yang Diikuti 10 Kandidat dan Lebih Dari 40 Juta Warga di Tengah Polarisasi

1 Juni 2026

Laporan Tes Kognitif Trump Dibahas Analis Medis CNN

31 Mei 2026

Jemaah Haji per 1 Juni Bertahap Kembali ke Indonesia Usai Ditutup Rangkaian Ibadah di Armuzna

31 Mei 2026

Minuman-minuman Favorit yang Menurut Studi Membuat Risiko Demensia Lebih Rendah

30 Mei 2026

Konsep Pria Alfa atau Alpha Male, Memahami serta Kontroversi dan Alternatif Maskulin Sehat

30 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video