Avesiar – Jakarta
Mendidik anak dalam Islam bukan sekadar membekali mereka dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan akhlak mulia, keimanan, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan ini berlangsung sejak dini dan dilakukan melalui keteladanan, kasih sayang, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang spiritual anak.
Dalam Islam, yang paling utama adalah menanamkan nilai tauhid pengakuan akan keesaan Allah. Sejak kecil, anak diajarkan untuk mengenal, mencintai, dan takut kepada Allah dengan pemahaman yang penuh cinta dan penghargaan, bukan ketakutan buta.
Anak perlu dibiasakan bersikap jujur, sopan, disiplin, dan penuh kasih sayang. Cara terbaik untuk mengajarkannya adalah dengan menjadi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Ibadah seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah diajarkan secara perlahan dan menyenangkan agar anak tumbuh mencintai ibadah, bukan sekadar menjalankan kewajiban.
Prinsip Islam dalam Mendidik Anak
Islam menekankan pentingnya mendidik anak dengan kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua yang lebih baik kepada anaknya selain akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)
Pendidikan dalam Islam juga menghargai suara anak. Anak perlu didengarkan, dihargai pendapatnya, dan diberi ruang untuk belajar dari kesalahan. Islam melarang kekerasan fisik maupun verbal dalam mendidik, karena pendidikan yang berhasil dibangun dari hati, bukan ketakutan.
Metode Mendidik Anak dalam Islam
Para ulama dan pendidik Islam mengembangkan beberapa metode yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:
Metode Graduasi (At-Tadarruj): Mengajarkan secara bertahap sesuai kemampuan anak.
Metode Levelisasi (Mura’at Al-Mustawayat): Menyesuaikan pendekatan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.
Metode Keteladanan (Al-Uswah Wa Al-Qudwah): Anak belajar dari perilaku orang tuanya.
Metode Dialog (Al-Hiwar): Mendorong anak untuk bertanya dan berpikir kritis.
Metode Kisah (Al-Qishash): Mendidik lewat cerita inspiratif dari kisah para Nabi dan orang-orang saleh.
Landasan dari Al-Qur’an dan Hadis
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6:
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini menjadi dasar bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing anak menuju kebaikan.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil.” (HR Abu Ya’la dari Aisyah RA)
“Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha.” (HR At-Tirmidzi)
Lingkungan rumah harus menjadi tempat yang aman, hangat, dan mendukung tumbuhnya keimanan. Orang tua perlu menciptakan suasana yang menenangkan, jauh dari konflik, dan kaya dengan nilai-nilai kebaikan.
Shinta, Ibu Rumah Tangga

Menurut Shinta, tantangan terbesar dalam mendidik anak zaman sekarang adalah derasnya arus informasi. “Sekarang gak gampang mendoktrin anak, kita harus punya cukup ilmu, logika yang kuat, dan komunikasi dua arah yang sehat,” katanya dengan penuh semangat.
Menurutnya, menjaga nilai-nilai Islam di tengah tantangan digital perlu dimulai dari lingkungan yang mendukung serta memberi contoh langsung sesuai kemampuan kita. “Gak harus sempurna, yang penting istiqamah dan realistis,” ujarnya.
Ia mengakui, belum punya tips manjur soal gadget karena anaknya, Anakku, masih sangat lengket dengan HP. “Tapi paling nggak, HP itu ada gunanya kalau kita manfaatkan buat hal positif, seperti share info islami di grup keluarga,” jelasnya.
Di keluarganya, ibadah jadi fokus utama dalam pendidikan anak. Anak laki-laki dibiasakan sholat di masjid, dan seluruh keluarga rutin mengaji setelah Subuh. “Ngaji itu wajib buat semua di rumah,” ujarnya mantap.
Peran ibu dalam membentuk akhlak, menurutnya, terletak pada keteladanan. “Kalau anak ada yang kurang pas, ya ditegur. Kadang juga ngobrol santai soal kondisi mereka sekarang yang jelas beda dengan zaman kita dulu. Setidaknya kita paham sudut pandang mereka,” tuturnya.
Shinta juga menyoroti perbedaan besar antara zaman dulu dan sekarang. “Dulu gak ada gadget, sekarang kalau gak dikendalikan bisa jadi pisau tajam yang merusak komunikasi anak dan orang tua. Larangan dan nasihat aja gak cukup, orang tua harus punya ilmu dan argumen yang kuat.”
Menurutnya, cara menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan tergantung usia anak. “Kalau masih di bawah 15 tahun, mereka seperti tawanan. Harus jelas batasan mana yang boleh dan enggak. Tapi setelah 15, jadikan mereka teman diskusi. Hargai pendapat mereka seperti orang dewasa.” ujar Shinta menutup wawancara
Lis Lia, Ibu Rumah Tangga

Menurut Lis Lia, mendidik anak di era digital jauh lebih kompleks dibandingkan zaman dahulu. “Anak-anak sekarang terpapar banyak informasi yang belum tentu positif, dan lebih suka menatap layar ketimbang bermain atau berinteraksi langsung,” ujarnya.
Karena itu, orang tua harus lebih proaktif dalam mengajarkan penggunaan teknologi yang bijak.
Untuk menghindari pengaruh buruk gadget dan media sosial tanpa membuat anak merasa terkekang, ia berbagi beberapa langkah penting: membatasi waktu layar, memantau aktivitas online, mengajak anak melakukan kegiatan fisik dan kreatif, serta memberi contoh penggunaan teknologi yang sehat. “Diskusi terbuka tentang manfaat dan risikonya juga sangat penting,” tambahnya.
Dalam Islam, peran ibu sebagai madrasah pertama sangat utama. Lis Lia menjelaskan bahwa ibu harus menanamkan nilai-nilai akhlak lewat keteladanan. “Menjadi contoh adalah kunci. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar,” katanya.
Selain itu, ia juga rutin membacakan kisah Islami, mengajarkan ibadah seperti shalat dan mengaji, serta membentuk karakter anak melalui tanggung jawab dan empati.
Ia menambahkan, perbedaan besar antara pola asuh dulu dan sekarang terletak pada pendekatan. “Dulu lebih otoriter, sekarang lebih demokratis. Dulu peran ayah hanya mencari nafkah, sekarang lebih terlibat dalam pengasuhan,” ujarnya. Teknologi juga menjadi faktor besar yang membedakan pola asuh zaman dahulu dan kini.
Menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan menurutnya harus dilakukan dengan penuh hikmah. “Tunjukkan cinta, tapi tetap beri batasan. Ajarkan tanggung jawab, tapi juga dengarkan pendapat mereka. Intinya, didik dengan hati dan teladan yang baik,” ucapnya.
Dewi Fitriyanti, Ibu Rumah Tangga

Tantangan mendidik anak zaman sekarang sangat berbeda dengan masa lalu. Menurutnya, media sosial, gadget, dan internet kini menjadi tantangan utama yang bisa memengaruhi cara pikir dan perilaku anak.
Orang tua harus lebih aktif mengontrol akses anak terhadap konten-konten yang tidak pantas, karena situs-situs berbahaya semakin mudah diakses. Ia pun menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengawasi dan membatasi konten digital yang tidak layak untuk anak-anak.
Menurutnya, agar anak tetap tumbuh dengan nilai-nilai Islam, pendidikan iman harus dimulai sejak dini. Ia menyarankan orang tua untuk mengajarkan doa, mengenalkan anak pada keindahan ciptaan Allah melalui alam sekitar, membiasakan membaca Al-Qur’an, dan menanamkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menghindarkan anak dari dampak buruk media sosial dan gadget, ujarnya, orang tua perlu mengatur waktu penggunaan, mengontrol konten, dan mengajarkan anak untuk bijak dalam menggunakan teknologi. “Ajak anak melakukan aktivitas positif seperti bermain bersama, olahraga, dan mengaji. Itu lebih sehat dan menyenangkan,” katanya.
Ujarnya lagi, ibu memiliki peran besar sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Menurutnya, ibu harus mengenalkan Allah, mengajarkan shalat dan membaca Al-Qur’an, serta membentuk karakter anak melalui pengajaran akhlak dan keterampilan hidup seperti memasak dan membersihkan diri. “Dengan begitu, anak tumbuh menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Dalam mendidik anak, menurutnya, orang tua harus menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan. Memahami karakter anak, memberi teladan, memberi disiplin secara bijak, serta menggunakan pujian sebagai motivasi adalah kunci sukses dalam membentuk karakter anak.
Ujarnya, pola asuh zaman dulu cenderung lebih keras dan berpusat pada ibu, karena dominasi budaya patriarki. Tapi sekarang, pola asuh lebih lembut dan seimbang berkat banyaknya ilmu parenting yang mudah diakses. “Teknologi dan literasi membuat peran ayah kini lebih aktif dalam pengasuhan. Pengasuhan jadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ibu,” jelasnya.
Mendidik anak dalam Islam adalah investasi akhirat. Dengan membentuk anak yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab, orang tua telah mewariskan kebaikan yang terus mengalir pahalanya. Islam tidak hanya menuntun cara berpikir, tetapi juga membentuk hati yang lembut, sikap yang santun, dan akhlak yang luhur. (Resty)













Discussion about this post