Avesiar – Jakarta
Melanjutkan operasi militer brutal dan genosida di Gaza, ditegaskan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, adalah satu-satunya cara untuk membebaskan tawanan Israel yang tersisa, dilansir The New Arab, Ahad (20/4/2025).
Pernyataan brutal itu adalah tanggapan brutal Netanyahu yang menolak seruan Israel dan warganya untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan Hamas pada hari Sabtu.
“Saya yakin kita dapat membawa pulang sandera kita tanpa harus tunduk pada perintah Hamas. Kita berada pada tahap kritis operasi ini, dan pada titik ini, kita membutuhkan kesabaran dan tekad untuk menang,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan video pada Sabtu malam.
Sejak Hamas menolak tuntutan Israel agar menyerah untuk mengakhiri perang, pernyataan itu adalah komentar publik pertama Netanyahu yang kini tengah diburu banyak negara-negara anggota ICC untuk ditangkap atas genosida di Gaza.
Hamas, awal pekan ini menawarkan pembebasan 59 tahanan yang ditahannya di Gaza dengan imbalan diakhirinya perang secara permanen, sebuah tawaran yang dengan cepat ditolak oleh pemerintah Israel.
Penolakan Netanyahu untuk kembali ke perundingan gencatan senjata terjadi di tengah meningkatnya dukungan di Israel untuk perdamaian yang dinegosiasikan.
Sedangkan jajak pendapat terbaru pekan ini menunjukkan bahwa hampir dua pertiga warga Israel mendukung perundingan untuk mengakhiri perang dengan imbalan pembebasan tawanan yang tersisa.
Di lain sisi, sayap kanan Israel mendesak Netanyahu untuk mengintensifkan serangan terhadap Gaza, dengan menteri-menteri ekstremis di kabinetnya menuntut pendudukan penuh atas Gaza dan pengusiran warga Palestina.
Kecaman atas komentar pemimpin pembantaian warga Gaza itu datang kelompok Israel yang mewakili keluarga tawanan.
“Banyak kata dan slogan tidak akan dapat menyembunyikan fakta sederhana, Netanyahu tidak punya rencana. Ada satu solusi yang jelas, layak, dan mendesak yang dapat dicapai sekarang: mencapai kesepakatan yang akan membawa semua orang pulang, bahkan jika itu berarti menghentikan pertempuran,” kata Forum Sandera dan Keluarga Hilang dalam sebuah pernyataan.
Disebutkan, hampir semua dari 147 tawanan Israel yang dibebaskan selama 18 bulan terakhir, dibebaskan melalui negosiasi.
Tahanan yang tersisa seharusnya dibebaskan selama fase kedua gencatan senjata, yang berakhir pada 18 Maret setelah Israel secara sepihak memberlakukan kembali pengepungannya di Gaza dan melanjutkan serangan militernya.
Pasukan Israel sejak pelanggaran gencatan senjata itu telah menewaskan hampir 1.800 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, dan melukai ribuan lainnya.
Blokade yang dilakukan zionis Israel menyebabkan 2,2 juta penduduk Gaza kelaparan, dan badan-badan bantuan memperingatkan bahwa persediaan makanan dan bantuan yang menipis dengan cepat dapat menyebabkan wilayah itu dilanda kelaparan. (ard)











Discussion about this post