Avesiar – Jakarta
Melaksanakan Haji atau Umroh adalah sesuatu yang dapat dilakukan lazimnya oleh Muslim dan Muslimah yang mampu secara finansial. Namun, ibadah tersebut secara syariah bukan perjalanan fisik seperti halnya wisata atau piknik, melainkan perjalanan spiritual yang idealnya membuat seorang Muslim dan Muslimah menjadi manusia yang lebih baik lagi secara tuntunan Islam.
Khusus ibadah Haji, hal ini adalah tuntunan Rukun Islam ke-5, melaksanakan Haji ke Baitullah jika mampu. Sedangkan Umroh, yang hampir sama pelaksanaannya dengan Haji, sering disebut sebagai “Haji Kecil” karena perbedaan Haji dan Umroh juga bisa dilihat dari rukun-rukunnya.
Ada 5 rukun Haji yaitu; niat ihram, wuquf di Arafah, tawaf, sa’i, serta memotong rambut. Sementara, rukun umrah hanya ada 4, yaitu; niat ihram, tawaf, sa’i, dan memotong rambut. Dalam hal ini, wuquf di Arafah bukan termasuk rukun umrah.
Pelaksanaan Haji dilakukan dari rentang waktu mulai dari awal bulan Syawal sampai subuhnya hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah). Sedangkan waktu pelaksanaan umrah bebas bisa kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang dimakruhkan.
Untuk waktu-waktu yang dimakruhkan untuk melaksanakan umrah adalah:
• Hari Arafah (tanggal 9 Zulhijah)
• Hari Nahar (tanggal 10 Zulhijah)
• Hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah)
Wajib Haji : Niat ihram dari miqat, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, tawaf wada, dan menjaga urutan pelaksanaan.
Bagi Muslimah, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dengan matang untuk bisa melaksanakan ibadah khusus tersebut, terutama Haji. Dikutip dari berbagai sumber, persiapannya antara lain:
1. Persiapan Fisik dan Mental
Menjaga kesehatan, olahraga teratur, dan memperkuat mental untuk menghadapi kondisi ibadah yang cukup melelahkan, sangat penting.
2. Persiapan Keuangan
Mengumpulkan biaya Haji secara halal dan memastikan keuangan keluarga tetap stabil saat ditinggal berHaji adalah bagian dari tanggung jawab yang perlu diperhatikan.
3. Persiapan Administrasi dan Dokumen
Menyiapkan dokumen penting seperti paspor, visa, dan surat kesehatan menjadi langkah penting sebelum berangkat ke Tanah Suci.
4. Ketika Tidak Kuat Menyempurnakan Ibadah
Dalam kondisi tertentu, seperti ketika sakit di Mina dan tidak mampu melempar jumrah, Islam memberikan keringanan. Seorang jemaah boleh mewakilkan lempar jumrah atau menggantinya dengan membayar dam. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat, memahami keterbatasan umatnya.
Beberapa Muslimah yang juga Ibu rumah tangga berikut berbagi pengalaman mereka menunaikan ibadah Haji dan Umroh. Yuk, kita simak!
Lita Dwi Novia, Ibu Rumah Tangga

Menurut Lita Dwi Novia, seorang ibu rumah tangga, ibadah umrah bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan hati. “Melalui umrah kemarin, saya makin sadar akan kebesaran nikmat Allah. Meski tidak bekerja mencari uang, saya sangat bersyukur dan merasa lebih dekat pada Allah,” ujarnya.
Dalam mempersiapkan diri secara mental dan spiritual, ia terus menjaga hubungan dengan Allah. “Saya banyak berdzikir, berdoa dalam hati, dan yakin Allah selalu ada dan menyayangi kita,” tambahnya.
Hikmah terbesar dari perjalanan umrah, kata Lita, adalah keinginan kuat menjadi ahli surga sekeluarga. “Dunia ini sementara, yang kita bawa hanya amal ibadah,” ungkapnya.
Sebagai ibu, Lita juga punya peran dalam mengenalkan makna Haji kepada anak-anak. “Saya tanamkan bahwa mereka anak-anak sholeh yang Allah pilih untuk datang ke rumah-Nya. Mereka harus bersyukur dan meningkatkan ibadahnya,” tuturnya.
Tantangan terbesarnya adalah mempersiapkan mental anak-anak. Namun, menurut Lita, soal finansial bukanlah penghalang. “Rezeki milik Allah. Kami memilih mendahulukan ibadah daripada urusan duniawi,” jelasnya.
Setelah umrah, Lita merasa lebih tenang dan ikhlas. “Saya lebih rajin ibadah, bersih hati, dan menerima takdir Allah. Karena sejatinya, hidup kekal itu nanti di akhirat,” pungkasnya.
Rin Nuraeni Trismara, Ibu Rumah Tangga

“Haji itu menghapus dosa dan mengingatkan bahwa semua milik kita hanyalah titipan Allah,” ujarnya. Bagi Rin, seorang ibu rumah tangga, Haji bukan sekadar rukun Islam, tapi perjalanan hati yang memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Untuk mempersiapkannya, ia menekankan pentingnya niat yang lurus karena Allah, pikiran positif, serta menjauhi gosip dan perilaku buruk. “Jaga kesehatan juga penting, mulai dari makan sehat sampai rutin olahraga,” tambahnya.
Soal hikmah, ia menyebut: “Doa terkabul, dosa diampuni, dan hati terasa lebih dekat dengan Allah.”
Sebagai ibu, Rin juga mengenalkan Haji kepada anak sejak dini. “Mulai dari shalat, puasa, sampai akhlak baik dan cerita nabi. Semua itu menumbuhkan cinta anak pada ibadah.”
Namun, persiapan Haji tidak selalu mudah. “Ada tantangan dokumen, stamina, dan kesiapan hati. Tapi kalau niat kita kuat, insyaAllah dimudahkan.”
Setelah memahami makna Haji, ia merasa lebih pasrah, lebih banyak doa, dan lebih tenang menjalani hidup. “Niatkan terus, banyak berdoa, sedekah, dan pasrahkan pada Allah. Jangan pernah menyerah, karena panggilan Haji datang di waktu terbaik,” ucapnya berbagi pesan.
Naning Irawati, Ibu Rumah Tangga

“Haji itu bentuk syukur dan cara kita mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Naning Irawati, seorang ibu rumah tangga yang memaknai Haji sebagai kewajiban sekaligus anugerah luar biasa dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Persiapan mental dan spiritual pun ia lakukan dengan sungguh-sungguh. “Saya banyak belajar, terutama soal kesiapan batin. Karena Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga jiwa.”
Ia percaya, Haji adalah panggilan khusus. “Saat berhaji, itulah waktu terbaik untuk taubat dan berserah diri. Kita benar-benar hanya bergantung pada Allah.”
Sebagai seorang ibu, Naning juga menanamkan nilai-nilai ini sejak dini kepada anak-anaknya. “Saya ajarkan bahwa Haji itu kewajiban, dan kalau sudah mampu, jangan ditunda, meski masih muda.”
Namun, tantangan tetap ada. “Kadang dana yang disiapkan terpakai lagi untuk kebutuhan keluarga yang mendesak,” ujarnya jujur. Tapi semangatnya tak surut.
Setelah mendalami makna Haji, ia merasa imannya makin kuat. “Saya merasa kecil di hadapan Allah. Dosa banyak, jadi makin ingin dekat dengan-Nya.”
Bagi seorang Muslim dan Muslimah, melaksanakan Haji dan Umroh sepatutnya menjadikannya hamba Allah yang lebih taqwa dalam menjalankan syariat agama dan memberi contoh kepada keluarganya. (Resty)












Discussion about this post