KAMU KUAT – Jakarta
Salah satu ancaman yang sering sulit diatasi dalam masyarakat dan lingkungan dan membawa dampak besar dari keamanan, kenyamanan, dan ketertiban adalah premanisme. Fenomena ini bukan sekadar cerita lama tentang orang bertato yang berdiri di pinggir jalan sambil memalak pedagang.
Di zaman sekarang, premanisme telah menjelma dalam berbagai bentuk, mulai dari gangguan di dalam kehidupan sosial masyarakat, tindakan intimidasi, kekerasan fisik, hingga penguasaan wilayah tertentu demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Lebih dari sekadar aksi individual, premanisme telah menjadi gejala sosial yang kompleks, berakar dari ketimpangan ekonomi, pergaulan negatif, hingga lemahnya penegakan hukum.
Mirisnya, bagi remaja, yang masih mencari jati diri, premanisme bisa menjadi jebakan yang menyeret masa depan ke arah yang suram. Oleh karena itu, memahami apa itu premanisme, bagaimana dampaknya, dan peran kita dalam mencegahnya menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas bersama para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com.
Amelia, siswi kelas 12, SMK Islam Asy-Syuhada

“Iya, premanisme termasuk tindakan kriminal, karena berisi kekerasan, ancaman, dan merugikan orang lain,” ujarnya tegas.
Beruntung, Amelia mengaku lingkungan tempat tinggalnya aman dan tidak ada tindakan premanisme. Tapi dia tetap sadar bahwa fenomena ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Menurut Amelia, salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi. “Mereka mungkin terpaksa melakukan premanisme demi kebutuhan hidup atau keluarga,” katanya.
Tapi bukan cuma itu, lingkungan juga bisa jadi pemicu. “Kalau lingkungannya buruk, seseorang bisa ikut-ikutan, terbawa arus.”
Amelia menegaskan, premanisme itu jelas merugikan. “Bukan cuma masyarakat, tapi juga diri sendiri. Dan lebih parah lagi, bisa jadi contoh buruk buat anak-anak muda,” ucapnya prihatin.
Sebagai remaja, Amelia punya sikap yang jelas: “Kita harus menolong dan mencegah premanisme sejak awal.” Bagaimana caranya? “Laporkan ke pihak berwenang kalau melihat tindakan premanisme. Dan jangan pernah menormalisasi perilaku seperti itu. Kalau dianggap biasa, nanti makin banyak yang ikut-ikutan.”
Menurut Amelia, kesadaran sejak dini penting banget. Kalau remaja bisa jadi pengingat dan pelindung bagi lingkungan sekitarnya, maka perlahan premanisme bisa ditekan.
Fahmi Ryansyah Nasution, siswa kelas 12, SMA BOASH

Premanisme bukan sekadar urusan jago-jagoan di jalan atau pamer kekuatan. Di balik semua itu, ada bentuk nyata dari kriminalitas yang bisa merugikan siapa saja. punya pandangan tajam soal ini.
“Premanisme itu termasuk tindakan kriminal. Karena dilakukan atas dasar nafsu atau keinginan pribadi dengan cara menyulitkan dan mengambil hak orang lain,” ujarnya tegas.
Fahmi pernah melihat langsung bagaimana premanisme terjadi bahkan di lingkungan terdekatnya. “Waktu SMP, ada teman saya yang jadi target oknum yang memanfaatkan kekuasaan mereka untuk memeras. Korbannya sampai merasa terintimidasi,” ceritanya.
Menurut Fahmi, penyebabnya bukan cuma ekonomi atau lingkungan. Ada hal yang lebih dalam seperti tekanan psikologis dan lemahnya perhatian dari lingkungan sekitar. “Kita sering lupa nanya, kenapa mereka bisa sampai seperti itu,” ujarnya.
Premanisme bisa merusak segalanya: lingkungan, mental korban, bahkan masa depan pelakunya sendiri. Anak muda, sering kali belum punya filter kuat dalam pergaulan, jadi salah satu yang paling rentan.
Fahmi bilang, remaja harus belajar bersikap tegas. “Kalau kita jadi korban, cari cara melindungi diri dan jangan ragu lapor ke pihak berwenang,” katanya. Selain itu, ia juga mengajak remaja untuk memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan edukatif.
Premanisme bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja. “Ini bukan soal status atau usia. Kalau ada kesempatan, premanisme bisa muncul. Makanya, edukasi dan saling mengingatkan itu penting banget,” ujar Fahmi menutup obrolan.
Kanaya Adhwa Zahrah Ali, siswi kelas 8, SMP Al Amanah

“Ya, premanisme termasuk tindakan kriminal,” ujarnya. “Karena tindakan tersebut merugikan dan mengancam keselamatan orang lain.”
Kanaya pernah menyaksikan langsung temannya jadi korban premanisme. “Teman aku pernah dikejar dan dipukuli oleh beberapa remaja sekolah lain tanpa alasan. Setelah itu mereka langsung kabur begitu saja,” ceritanya.
Menurut Kanaya, banyak faktor bisa bikin seseorang terjerumus jadi pelaku premanisme. “Bisa karena lingkungan yang nggak baik atau karena terbawa arus pertemanan yang negatif,” ucapnya.
Premanisme bisa meninggalkan trauma pada korbannya. “Selain itu, bisa juga bikin anak muda putus sekolah karena merasa tidak aman atau stres berat,” kata Kanaya.
Lalu, gimana sikap yang sebaiknya kita ambil? “Jangan sampai terlibat, dan segera laporkan kalau melihat tindakan seperti itu,” ujar Kanaya mantap.
Menurutnya, salah satu cara paling efektif untuk menjauh dari premanisme adalah dengan ikut kegiatan yang positif. “Ikut organisasi dan mengembangkan keterampilan diri bisa bantu kita tetap fokus ke hal-hal yang bermanfaat,” tambahnya menutup wawancara.
Andi Djarat Akbar, siswa kelas 11 SMKN 1 Gunung Sindur, Bogor

“Premanisme itu tindakan yang cenderung pakai kekerasan, intimidasi, atau ancaman demi keuntungan pribadi atau kelompok. Biasanya melanggar norma sosial, bahkan hukum,” ujarnya. Sedangkan kriminalitas, tambahnya, adalah segala bentuk perbuatan yang melanggar hukum pidana dan bisa dihukum negara.
Menurut Andi, premanisme jelas termasuk tindakan kriminal. “Soalnya banyak tindakannya kayak pemerasan, penganiayaan, perampasan. Itu semua diatur dalam KUHP dan ada sanksinya,” tegasnya. Selain itu, premanisme merusak ketertiban umum dan sering bertujuan untuk mencari keuntungan secara ilegal.
Andi melihat banyak faktor yang bisa bikin seseorang terlibat dalam premanisme. Lingkungan yang keras, kondisi ekonomi yang sulit, gangguan psikologis, sampai kurangnya dukungan sosial seperti keluarga dan teman, semuanya bisa jadi pemicu.
“Premanisme bikin masyarakat jadi takut, khawatir, dan nggak merasa aman,” ujarnya lagi. Selain itu, bisa merusak fasilitas umum, mempengaruhi anak muda secara negatif, dan menimbulkan biaya sosial yang besar.
Menurut Andi, solusi harus datang dari berbagai arah: pendidikan, pelatihan kerja, dukungan sosial, dan tentu saja penegakan hukum. Tapi bukan cuma pemerintah yang harus bergerak. “Remaja juga punya peran penting,” kata Andi.
Andi menekankan bahwa remaja bisa mulai dari hal kecil: tidak takut melapor, tidak ikut-ikutan, dan berani bicara saat melihat ketidakadilan. “Kita juga bisa aktif di kegiatan positif, kayak olahraga atau seni, supaya nggak terjerumus ke hal-hal negatif,” tambahnya.
Andi percaya kalau remaja jadi contoh baik dan aktif menyuarakan penolakan terhadap premanisme, maka perlahan lingkungan akan berubah. “Premanisme dan kriminalitas memang masalah kompleks, tapi bukan berarti nggak bisa dihadapi. Semua bisa mulai dari kita, para remaja,” tutupnya.
Premanisme dan kriminalitas bukan hanya soal pelanggaran hukum, tapi juga soal hilangnya rasa aman, terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan, dan rusaknya masa depan generasi muda. Dalam menghadapi masalah ini, tidak cukup hanya mengandalkan aparat keamanan.
Diperlukan kesadaran kolektif, terutama dari kalangan remaja, untuk berani bersikap, menolak budaya kekerasan, dan membangun lingkungan yang sehat dan positif. Remaja bisa menjadi agen perubahan dengan ikut serta dalam kegiatan produktif, menyebarkan pesan anti-kekerasan, dan melapor jika menemukan tindakan yang mencurigakan. Masa depan bangsa ada di tangan generasi muda.
Jangan biarkan premanisme merampas potensi luar biasa yang kita miliki. Sudah saatnya kita bangkit, bersatu, dan berkata, cukup sudah kekerasan merusak kehidupan. Mari kita wujudkan lingkungan yang aman, damai, dan beradab untuk semua. (Resty)













Discussion about this post