Avesiar – Jakarta
Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Menuntut ilmu bukan hanya tugas para pelajar di bangku sekolah. Hal ini yang bisa jadi renungan setiap pribadi untuk merenungi dan menjalani ungkapan “Menuntut ilmu tak kenal usia.”
Kalimat bijak di atas mengajarkan bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup. Dan juga tidak ada kata terlambat untuk terus berkembang. Dari anak-anak yang baru mengenal huruf, hingga orang tua yang rambutnya telah memutih, semua memiliki kesempatan dan kewajiban yang sama untuk terus belajar.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut ulasan tentang menuntut ilmu dalam agama.
1. Ilmu, Kewajiban Sepanjang Hayat
Dalam Islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang tidak dibatasi oleh waktu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.” Artinya, selama kita masih diberi napas oleh Allah, kita dianjurkan untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman.
2. Usia Bukan Penghalang
Mungkin banyak orang merasa malu belajar di usia dewasa. Padahal, sejarah dan kehidupan modern penuh dengan kisah inspiratif dari mereka yang memulai segalanya di usia yang tidak muda. Ada yang baru bisa membaca Al-Qur’an di usia 60, ada pula yang meraih gelar sarjana saat sudah menjadi kakek. Mereka membuktikan bahwa semangat belajar tidak pernah pudar oleh waktu.
3. Terus Belajar, Terus Bertumbuh
Dunia terus berubah. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan kehidupan menuntut kita untuk tidak berhenti belajar. Ketika kita mau terus memperbarui ilmu, kita akan lebih siap menghadapi tantangan zaman dan mampu memberi manfaat lebih besar bagi sekitar.
4. Dalil-dalil tentang Pentingnya Ilmu
Keutamaan ilmu ditekankan Islam melalui banyak ayat dan hadis. Beberapa di antaranya:
QS. Al-Mujadalah: 11
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
QS. Al-Alaq: 1-5
Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah perintah membaca. Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sebagai dasar peradaban manusia.
QS. Al-Isra: 36
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Ayat ini menegaskan bahwa kita tidak boleh hidup dalam kebodohan, melainkan harus mencari ilmu agar tidak tersesat.
QS. An-Nisa: 162
Menyebut orang-orang yang mendalam ilmunya sebagai orang yang istimewa dan diberi pemahaman dalam agama.
5. Belajar adalah Ciri Orang Hebat
Orang yang mau terus belajar adalah mereka yang tidak pernah puas dengan keadaan. Mereka sadar bahwa semakin banyak yang dipelajari, semakin sadar pula bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Semangat inilah yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih berkah, bermakna, dan bermanfaat.
“Menuntut ilmu tak kenal usia” bukan hanya kata-kata bijak, tapi prinsip hidup yang harus kita pegang teguh. Usia boleh bertambah, tapi semangat belajar jangan pernah padam. Karena dengan ilmup, hidup jadi lebih terang, hati lebih tenang, dan masa depan lebih cemerlang.
Pengalaman beberapa wanita lansia atau para nenek ini menuntut ilmu atau belajar agama, semoga bisa menjadi penyemangat serta motivasi kita untuk terus belajar, terutama ilmu agama dan syariat Islam.
Mbah Zaenah

Di usianya yang tidak lagi muda, Mbah Zaenah tetap semangat mengikuti majelis ilmu. Ia bukan sekadar datang untuk mengisi waktu luang, melainkan benar-benar hadir dengan hati yang tulus ingin belajar. “Bagi Mbah, menuntut ilmu itu hukumnya wajib, apalagi kita sebagai umat Islam,” ujarnya mantap.
Mbah Zaenah percaya bahwa menuntut ilmu tidak memandang usia. “Kita harus bersyukur Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih memberi semangat untuk belajar dan belajar,” katanya dengan mata berbinar.
Saat ini, Mbah Zaenah sedang giat belajar tahsin (membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar). Meski usianya tak muda lagi, ia justru merasa sangat nyaman dan bahagia bisa belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Salah satu hal yang membuat Mbah Zaenah semakin semangat adalah suasana majelis ilmu. “Mbah lebih semangat kalau bisa berkumpul untuk menuntut ilmu agama. Apalagi guru-gurunya sabar dan mengajar dengan ikhlas,” tuturnya.
Baginya, guru yang sabar adalah anugerah yang membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Mbah Zaenah mengaku tak merasakan tantangan yang berat dalam belajar. “Sejak kecil Mbah sudah terbiasa berada di majelis ilmu, jadi tidak merasa terbebani sama sekali. Semuanya dijalani dengan ikhlas,” ungkapnya.
Kisah perjuangan Mbah Zaenah dalam belajar tahsin sangat menginspirasi. Awalnya, ia belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Namun setelah menemukan tempat belajar tahsin yang dekat dengan rumah, ia tak menyia-nyiakan kesempatan.
“Alhamdulillah, Mbah mendapat guru yang sangat sabar. Meskipun Mbah tidak muda lagi, beliau tetap sabar membimbing. Itu yang membuat Mbah semakin semangat belajar,” katanya haru.
Nenek Setiana

Di usia yang semakin lanjut, semangat Nenek Setiana untuk terus menuntut ilmu justru semakin kuat. Baginya, usia bukanlah penghalang untuk terus belajar, apalagi dalam urusan agama. “Menuntut ilmu dalam Islam itu sangat penting dan sangat dianjurkan, walaupun usia kita sudah lanjut,” tutur Nenek Setiana penuh keyakinan.
Nenek Setiana menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Hal inilah yang menjadi dorongan kuat baginya untuk tetap semangat belajar, terutama dalam memperdalam ilmu agama. “Karena hukumnya wajib, ini yang membuat Nenek terpacu untuk terus belajar,” ucapnya.
Tak dipungkiri, belajar di usia senja memiliki tantangannya sendiri. “Rasa minder dan malu pasti ada,” ungkap Nenek Setiana.
Namun, ia memilih untuk menyikapinya dengan cara yang positif. “Yang penting kita tetap semangat. Lagipula, anak-anak muda juga sering memberikan support kepada kami yang sudah sepuh. Itu sangat berarti,” tambahnya kemudian tersenyum hangat.
Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh Nenek Setiana adalah mudah lupa. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. “Sering cepat lupa, tapi alhamdulillah guru-guru yang membimbing selalu sabar dan telaten,” ceritanya.
Ia juga menekankan pentingnya kesabaran dan kebiasaan mengulang materi agar ilmu yang dipelajari bisa lebih melekat.
Bagi Nenek Setiana, belajar bukan soal mengejar gelar atau pengakuan, melainkan bagian dari jalan menuju ridha Allah. Ia ingin sisa usianya diisi dengan hal-hal bermanfaat, dan menuntut ilmu adalah salah satu cara terbaik untuk itu.
Umi Pristiwati

Bagi Umi Pristiwati, menuntut ilmu bukan hanya aktivitas, melainkan jalan hidup. Ia percaya bahwa ilmu adalah bekal terpenting untuk kehidupan dunia dan akhirat. “Tidak ada kata menyerah dalam menuntut ilmu, selama masih sehat, harus terus belajar. Ini bekal untuk akhirat,” ujarnya penuh semangat.
Umi menyebut bahwa ilmu adalah penerang dalam beribadah. Tanpa ilmu, ibadah bisa jadi sia-sia. “Kita ibadah tanpa ilmu, sayang… sia-sia. Harus pakai ilmu, agar ibadah kita benar dan diterima Allah,” tuturnya.
Sebagai penguat, Umi mengutip beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Allah akan menambah petunjuk bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari ilmu : “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 17)
Umi juga menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Bagi Umi, setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap bacaan, setiap catatan semuanya adalah bagian dari perjalanan menuju surga.
Meski bersemangat, Umi tidak memungkiri adanya tantangan dalam belajar di usia senja. “Belajar di hari tua memang berbeda. Kadang harus diulang-ulang, kurang cepat menangkap. Tidak seperti anak muda,” jelasnya.
Ia pun membandingkannya dengan pepatah bijak: “Belajar waktu kecil seperti menulis di atas batu, tertanam kuat. Tapi belajar di hari tua seperti menulis di atas air, cepat mengalir.”
Namun justru dari tantangan itulah muncul kesabaran dan rasa syukur. “Umi bersyukur sekali masih diberi kesempatan menuntut ilmu. Dari yang awalnya tidak tahu, sekarang jadi tahu. Dari ibadah yang mungkin salah, sekarang jadi lebih sesuai sunnah dan Al-Qur’an. Alhamdulillah, itu semua karena ilmu,” tutupnya.
Umi Tita Haerani Sulaeman

Di balik senyum hangat dan langkah sederhana, tersimpan semangat luar biasa dari seorang ibu yang tidak pernah berhenti belajar, Umi Tita Haerani Sulaeman. Baginya, menuntut ilmu bukan soal usia, melainkan soal tekad. “Yang namanya menuntut ilmu tidak ada batasannya, selagi kita masih sehat dan bisa mengikuti,” kata Umi Tita.
Ia menyadari bahwa umur adalah misteri, namun selama masih diberi kesempatan oleh Allah, maka belajar adalah pilihan terbaik. “Yuk, jangan menyerah,” ajaknya bersemangat.
Menghadapi kenyataan bahwa kemampuan tubuh tidak sekuat dulu, Umi Tita tetap memotivasi diri sendiri dan para ibu lainnya untuk terus bersemangat. “Buat Mama-mama yang sudah mulai banyak dirasa, tetap semangat,” pesannya.
Ia percaya bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Umi Tita mengakui bahwa tantangan terbesar di usia senja adalah mudah lupa. Namun ia menghadapinya dengan lapang dada.
Meski terkadang muncul rasa kurang percaya diri, beliau memilih untuk mengabaikannya dan terus maju. “Tantangan terbesar tidak ada, cuma karena usia jadi sering lupa,” ucapnya ringan. (Resty)













Discussion about this post