Avesiar – Jakarta
Iman kepada qada dan qadar yang termasuk dalam rukun iman yang enam adalah bukan hanya sekadar keyakinan, namun juga pondasi ketenangan hati dalam menghadapi setiap liku kehidupan. Beriman kepada qada dan qadar berarti meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan ilmu-Nya yang mahasempurna.
Untuk menyelami seputar qada dan qadar, dikutip dari beberapa sumber, berikut penjelasan yang semoga menambah wawasan dan mengingatkan kita.
Memahami Qada dan Qadar
Qada adalah ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak zaman azali, sebelum segala sesuatu terjadi. Sementara qadar adalah perwujudan dari qada itu sendiri. Sebagai contoh, Allah telah menetapkan bahwa seseorang akan lahir di waktu dan tempat tertentu (qada), lalu hal itu terjadi sesuai ketetapan-Nya (qadar).
Dengan pemahaman ini, kita diajarkan bahwa segala sesuatu tidaklah terjadi secara kebetulan. Bahkan daun yang gugur di tengah hutan pun tak luput dari catatan takdir Allah.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Tentang Qada dan Qadar
Berikut adalah beberapa ayat yang menegaskan tentang ketetapan Allah :
• QS Al-Ahzab: 38
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”
• QS Al-Qamar: 49
“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
• QS Al-Mursalaat: 22–23
“Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.”
• QS Al-Hijr: 21
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.”
• QS Ar-Ra’d: 11
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat-ayat tersebut di atas menegaskan bahwa semua terjadi dengan takdir Allah, namun Allah juga memberi ruang untuk manusia berusaha.
Beberapa Hadis Tentang Qada dan Qadar
Beberapa hadis juga menjelaskan betapa pentingnya menerima dan meyakini takdir:
• “Siapa yang tidak rida dengan qada-Ku dan qadar-Ku, maka carilah tuhan selain Aku.” (HR. Thabrani)
• “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, lalu Allah berfirman: ‘Tulislah!’ Maka pena pun menulis takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.”
• “Tidak ada musibah yang menimpa kecuali telah tertulis dalam Lauhul Mahfuz.” (HR. Muslim)
Apa saja Hikmah dan Manfaat Iman kepada Qada dan Qadar?
Mengimani qada dan qadar bukan berarti pasrah buta tanpa usaha. Sebaliknya, iman kepada takdir justru membawa banyak manfaat :
• Ketenangan jiwa dalam menghadapi ujian hidup.
• Bersyukur saat mendapat nikmat, dan bersabar saat diuji.
• Bertawakal, yakni menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha.
• Terhindar dari sifat sombong saat berhasil, dan tidak putus asa saat gagal.
• Optimis dan giat berikhtiar, karena tahu bahwa setiap usaha tidak sia-sia di sisi Allah.
Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari?
Contoh nyata bagaimana qada dan qadar bisa menjadi panduan dalam hidup:
• Pendidikan: Kita bisa memilih belajar giat atau malas. Takdir Allah akan berjalan, tapi usaha kita menentukan hasil akhir yang akan diberikan-Nya.
• Karier: Allah memberikan jalan, tetapi kita tetap perlu bekerja keras, berdoa, dan bijak mengambil keputusan.
• Kesehatan: Menjaga tubuh dengan pola hidup sehat adalah bentuk usaha, walau ajal tetap di tangan Allah.
• Relasi Sosial: Memilih teman yang baik, membina hubungan positif, dan menjauhi lingkungan negatif adalah bentuk ikhtiar.
• Menghadapi Musibah: Saat kehilangan, sakit, atau gagal, iman kepada qada dan qadar membuat kita bisa berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Bagaimana Mengembangkan Sifat Positif Lewat Takdir?
Mengimani takdir membuat kita sadar bahwa:
• Kita harus selalu bersyukur, bahkan dalam ujian.
• Harus tetap sabar dan optimis meski jalan terlihat sulit.
• Wajib berusaha semaksimal mungkin, lalu bertawakal.
• Perlu menjaga akhlak dan memperbanyak amal saleh.
• Selalu menerima kritik dan introspeksi dengan rendah hati.
• Menjadikan hidup sebagai ladang untuk meraih ridha Allah.
Qada dan qadar adalah bagian dari rencana Allah yang penuh hikmah. Meski segala sesuatu telah ditetapkan, Allah tetap memberi manusia kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Maka, iman kepada qada dan qadar seharusnya memotivasi kita untuk terus berusaha, bukan malah membuat kita pasrah tanpa arah.
Sebagaimana para ulama katakan :
“Beriman kepada takdir bukan alasan untuk diam, tetapi panggilan untuk bergerak dengan keyakinan.”
Untuk itu, mari kita hidup dalam kerangka iman, ikhlas menerima, sungguh-sungguh berusaha, dan senantiasa bersyukur dalam setiap takdir yang Allah tetapkan. Karena di balik semua itu, ada cinta dan rencana Allah yang terbaik.
Berbicara tentang mengimani qada dan qadar, beberapa Ibu ini memiliki pendapat sesuai dengan apa yang mereka alami. Yuk kita simak!
Dini Purnamasari, Ibu Rumah Tangga

Dalam kehidupan, tak semua berjalan sesuai rencana. Ada takdir yang datang tak terduga, ada kenyataan yang tak sesuai harapan. Namun, bagi seorang muslimah, menerima ketetapan Allah adalah bagian dari keimanan. Hal inilah yang diyakini oleh Dini Purnamasari, seorang ibu yang mencoba tetap kuat dalam menghadapi realita kehidupan.
“Menghadapi takdir yang tidak sesuai harapan itu memang berat rasanya, tapi semua atas kehendak Allah SWT. Jadi kita harus ridha dengan semua yang diberikan, karena mau tidak mau kita harus siap menghadapi dan menerima semua ketetapan-Nya,” ungkap Dini.
Tak mudah memang. Namun baginya, menenangkan diri adalah kunci. “Caranya dengan istighfar, berpikir jernih, dan yakin bahwa setelah ada kesulitan, akan ada kemudahan di kemudian hari.” Keyakinan ini merujuk pada janji Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” seperti tertulis dalam Al Qur’an, surah Al-Insyirah, ayat 6.
Dini mengakui, membedakan mana yang harus diterima sebagai takdir dan mana yang harus diperjuangkan lewat usaha bukan hal yang mudah. “Cukup berat ya, karena saya bukan ibu yang penyabar, hahaha. Tapi mau nggak mau harus menerima, dijalani dengan ikhlas,” katanya jujur.
Meski tidak sempurna, ia tetap berusaha. Karena di dalam hatinya tersimpan satu keyakinan besar: “Saya yakin dan percaya tidak ada doa yang sia-sia dan usaha yang sia-sia. Kita akan menerima takdir yang baik menurut versi Allah.”
Sebagai ibu, Dini tidak hanya belajar untuk ikhlas, tetapi juga berusaha menanamkan nilai ketekunan dan keyakinan kepada anak-anaknya. “Dalam mendidik anak, saya selalu memberikan masukan, nasihat, dan selalu meyakinkan kepada anak-anak saya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Jangan mudah menyerah, harus yakin dan selalu berusaha,” tuturnya.
Namun, ia juga menyadari bahwa meyakinkan anak-anak tidak semudah mengucapkannya. “Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan mereka dengan sungguh-sungguh. Caranya? Dengan doa dan usaha semaksimal mungkin,” ucapnya penuh kesungguhan.
Ai mengakui bahwa kita mungkin tak selalu mendapat yang kita inginkan, tapi Allah selalu memberi yang kita butuhkan. “Sebuah pelajaran berharga dari seorang ibu yang terus belajar menerima, sembari tetap berusaha,” ucapnya.
Mutia Iravati, Ibu Rumah Tangga

“Takdir Allah itu sudah pasti yang terbaik. Sebaik-baik perancang ya Allah. Jadi udah pasti tenang menerima pesan cinta dari-Nya,” ungkap Mutia Iravati mantap.
Seringkali, konsep qodho dan qodar hanya berhenti pada hafalan rukun iman. Padahal, memahami keduanya secara mendalam justru membuat kita lebih kuat menghadapi hidup.
“Qodho adalah ketetapan, sedangkan qodar adalah realisasi dari ketetapan itu. Untuk membedakannya ya pasti perlu cukup ilmu dong,” jelas Mutia.
Ia juga menambahkan bahwa takdir terbagi menjadi dua, ada yang tetap dan tidak bisa diubah, dan ada yang bisa diubah melalui ikhtiar dan doa. “Ikhtiar dan doa itu kewajiban kita. Tapi tetap, Allah sudah menetapkan. Mana yang bisa diubah dan tidak, semua ada ilmunya. Panjang kalau dijelasin,” candanya ringan.
Dalam peran sebagai seorang ibu, Mutia menekankan pentingnya mengenalkan konsep takdir pada anak bukan dengan dogma, tapi dengan pemahaman.
“Bukan cuma sekadar dihafal rukun imannya, tapi dipahami. Kalau anak paham soal qodho dan qodar, InsyaAllah mereka nggak akan gampang menyerah,” ucapnya yakin.
Namun pemahaman saja tidak cukup. “Motivasi dan contoh nyata dari orang tua juga faktor pendukung utama. Anak harus lihat langsung bagaimana kita tidak mudah menyerah dalam hidup,” tambahnya.
Mutia juga mengangkat isu penting yang kini sering luput dari perhatian, ghowzul fikri atau serangan pemikiran. Menurutnya, budaya populer bisa jadi pintu masuk pelemahan keimanan generasi muda. “Ghowzul fikri itu datang lewat budaya dan gaya hidup. Contohnya, K-pop yang sekarang begitu diidolakan anak-anak. Sampai semua gayanya ditiru,” ujar Mutia prihatin.
Ia menyoroti bagaimana sebagian figur dari budaya populer tersebut mudah menyerah saat menghadapi masalah, bahkan ada yang memilih mengakhiri hidup. “Pola seperti ini merusak nilai keimanan dan penerimaan terhadap takdir,” tegasnya.
Dyah Ratna, Ibu Rumah Tangga

Setiap insan pasti pernah mengalami kenyataan yang tak sejalan dengan harapan. Saat impian tak terwujud atau ujian datang silih berganti, rasa sedih dan kecewa tentu hadir. Namun bagi Dyah Ratna, kunci menghadapi semuanya adalah kembali kepada Allah. “Sedih dan kecewa pasti, itu manusiawi. Tapi tidak boleh terus berlarut dalam kesedihan,” ungkapnya dengan jujur.
Bagi Dyah, ujian hidup bukanlah tanda Allah menjauh. Justru sebaliknya, itu adalah isyarat cinta dari Sang Pencipta. “Mungkin Allah sedang kangen sama kita. Allah ingin kita lebih banyak menyebut nama-Nya,” tuturnya lembut.
Ia menegaskan bahwa ujian adalah sarana agar kita kembali bergantung sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam pandangannya, takdir dibagi menjadi dua: mubram (yang tidak bisa diubah seperti kematian) dan muallaq (yang bergantung pada usaha manusia). Maka penting bagi setiap muslimah untuk tidak salah memahami antara ketetapan dan usaha.
“Saat sesuatu sudah menimpa, itu namanya nasib. Jika nasib buruk datang, kita tidak boleh putus asa. Harus tetap berusaha dan berdoa,” jelas Dyah.
Ia juga meyakini bahwa takdir bukanlah alasan untuk menyerah. “Takdir bisa diikhtiarkan, kecuali yang mubram. Semua tergantung seberapa serius kita meminta dan berusaha,” tambahnya.
Dyah menyadari bahwa mendidik anak di era gadget dan pergaulan bebas adalah tantangan besar. Banyak nilai-nilai keimanan yang terkikis karena pengaruh lingkungan dan media. “Sulit bagi orang tua masuk untuk memberi petuah tentang iman dan takdir. Tapi tidak ada kata terlambat. Kita harus pintar menyiasati agar ilmu kehidupan bisa tetap ditanamkan,” ujarnya.
Dalam mendidik anak, Dyah selalu menekankan pentingnya usaha dan semangat hidup. “Selagi Allah masih memberikan napas, kita wajib berusaha yang terbaik. Jangan menyia-nyiakan waktu hanya untuk bersedih atau putus asa,” katanya.
Dyah menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa hanya kepada Allah tempat menggantungkan harap. Dalam setiap kesulitan ada hikmah, dalam setiap takdir ada cinta Allah yang tersembunyi. “Kita harus bisa menggali hikmah dari ujian, agar tetap bisa bersyukur di balik kesedihan yang dialami,” pungkasnya.
Dari pernyataan-pernyataan para ibu di atas, kita belajar bahwa memahami takdir bukan sekadar pasrah atau menyerah, tapi sebuah proses ilmu, iman, dan perjuangan.
Muslimah hari ini dituntut untuk cerdas menghadapi tantangan zaman, mulai dari mendidik anak hingga menyaring budaya yang masuk. Karena sejatinya, ridha terhadap takdir tidak akan lahir dari ketidaktahuan, tapi dari hati yang penuh ilmu, keyakinan, dan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahua’alam. (Resty)













Discussion about this post