Avesiar – Jakarta
Bersikap istiqomah jelas bukan perkara yang mudah. Terutama di zaman di mana kebohongan sering dipercaya dan kebenaran menjadi sesuatu yang asing. Namun, untuk menjadi seorang yang istiqomah, setiap Muslim bisa meyakinkan diri untuk tetap memegang teguh sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadits.
Sebelum membahas lebih detail tentang sifat dan sikap istiqomah, Avesiarers bisa mengetahui terlebih dahulu penjelasan tentang hal ini, dikutip dari berbagai sumber.
Istiqamah atau istikamah dalam terminologi Islam adalah hal berpendirian kuat atau teguh pendirian. Alif merupakan contoh dari nama yang istiqamah. Jadi bisa disimpulkan istiqama, yastaqimu, istiqamah yang berarti tegak lurus. Dalam KBBI, istikamah berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
Sedangkan menurut istilah, istiqomah atau istikamah adalah tetap dalam pendirian, yaitu ketetapan hati untuk selalu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang baik atau berketetapan hati, tekun, dan terus-menerus menggiatkan usahanya untuk mencapai cita-citanya. Dalam Islam, istikamah secara spesifik adalah sebuah komitmen dan konsisten dalam tauhid, ibadah, dan akhlak.
Istiqomah dapat berarti lurus, benar, dan tetap pendirian. Tetap pendirian atas suatu keyakinan yakni kebenaran ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. dan melaksanakan segala ketentuan-Nya. Orang yang istikamah selalu kukuh dalam menjaga akidahnya dan tidak akan goyang keimanannya dalam menjalani tantangan hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, surat Fussilat, ayat ke-30,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah)’, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih.” (Q.S 41:30).
Demikian juga sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR Muslim).
Sifat ini sering kali diucapkan dan sering juga diingkari. karena melaksanakannya bukanlah hal yang mudah. Istiqomah berada di jalan yang lurus dan benar.
Ali bin Abi Thalib R.A, ia menyebutkan bahwa istiqomah berarti melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Sedangkan Umar bin Khattab mendefinisikan sebagai suatu hal yang bertahan pada satu perintah dan tidak melakukan suatu apapun yang dilarang.
Sahabat lainnya seperti Usman bin Affan menyebutkan bahwa istiqomah berkaitan dengan keikhlasan dan Abu Bakar Ashshiddiq mendefinisikan sebagai perbuatan yang tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau tidak melakukan perbuatan syirik.
Ibnu Qayyim membagi istiqomah atas bentuk:
1. Istikamah dalam perkataan, yakni berlaku tegas dalam ucapan sesuai dengan kebenaran yang diyakini tanpa mengubahnya demi suatu keuntungan, yang bertentangan dengan kebenaran.
2. Istikamah dalam perbuatan, yakni berlaku mantap dalam melaksanakan suatu pekerjaan, tidak ragu takut, cemas oleh sesuatu.
3. Istikamah dalam sikap, yakni teguh dalam sikap yang sesuai dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
4. Istikamah dalam niat, yakni mantap menuju suatu maksud yang benar.[
Untuk dapat menjadi istiqomah, berikut hal-hal yang harus dilakukan:
1. Luruskan Niat dan Tujuan
Sebuah hadits disampaikan, bahwa niat adalah pilar utama dalam ibadah. Seseorang bisa dinilai kebaikannya walaupun masih dalam niat, sedangkan niat buruk tidak Allah hitung selagi belum terlaksana. Setiap amalan apapun, terdapat niatnya masing-masing.
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR Bukhari dan Muslim)
2. Memaknai Kalimat Syahadat
Kalimat syahadat adalah ikrar penentu keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Kalimat syahadat ini yang membuat kita menjadi seorang muslim dan tidak.
Misalnya seperti yang dialami oleh keluarga sahabat bernama Ammar bin Yasir. Ia rela dicambuk hingga tersiksa fisiknya dan meninggal dunia demi mempertahankan kalimat syahadat.
3. Membaca dan Memahami Al-Quran
Adalah petunjuk umat Islam, Al-Quran juga memberikan keteguhan dan motivasi untuk beribadah. Membaca dan memahami Al-Quran membuat Muslim semakin yakin kepada kebenaran Islam, eksistensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tentunya segala kebenaran di alam semesta.
Keteguhan hati akan terwujud bagi orang yang benar-benar memahami dan memaknai Al-Qur’an. Hal ini juga disampaikan dalam Al-Quran, surat An-Nahl, ayat 102.
“Katakanlah: Jibril menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
4. Berkumpul dan Bergaul dengan Orang-orang yang Sholeh
Sahabat Avesiar tentu pernah mendengar bahwa dengan siapa kita bergaul maka itulah siapa diri kita nantinya. Seseorang yang berteman dengan seorang pandai besi, akan mendapati badan atau pakaian kita hangus terbakar, atau mendapat bau yang kurang sedap. Bergaul dengan penjual parfum, mungkin kita akan kedapatan baunya. Untuk itu, dengan siapa kita bergaul maka kita akan terpengaruh olehnya.
Berteman dan bergaul dengan orang-orang sholeh bisa melalui majelis ilmu, pengajian, atau mencari lewat teman-teman yang baik di sekitar.
5. Berdoa dan Memohon Keteguhan Hati pada Allah SWT
Dalam hidup ini, Allah lah yang membolak-balikan hati manusia. Ia yang mengetahui segala apa yang ada dalam hati kita. Untuk itu, berdoa dan senantiasalah memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita benar-benar bisa diberikan kekuatan untuk istiqomah di jalan-Nya.
Seperti doa yang ada dalam hadits riwayat Thirmidzi berikut,
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
Semoga sikap istiqomah dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana ulasan di atas. Wallahua’lam. (adm/dari berbagai sumber)













Discussion about this post