Avesiar – Jakarta
Kata “istiqomah” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sering kita dengar dalam nasihat para ustadzah, motivator muslimah, hingga ceramah-ceramah di majelis taklim. Tapi apa sebenarnya makna istiqomah dan bagaimana cara seorang muslimah bisa menjaga sikap istiqomah dalam kesehariannya?
Apa Itu Istiqomah?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istiqomah atau istikamah berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Dalam konteks Islam, istiqomah adalah sikap teguh dalam keimanan dan konsisten dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta menjauhi larangan-Nya.
Sikap istiqomah, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, memiliki makna yang cukup dalam dan diimpikan banyak Muslim meskipun banyak tantangan untuk mewujudkannya.
Imam Abu Ali ad-Daqaq, seorang ulama besar abad ke-9 Hijriyah, mengatakan bahwa istiqomah adalah tanda kesempurnaan amal. Sementara itu, al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi menjelaskan bahwa istiqomah adalah tetap teguh dalam iman dan tidak tergelincir dalam ibadah maupun keyakinan.
Bagi seorang muslimah, istiqomah adalah prinsip hidup. Ini adalah kekuatan jiwa yang menjaga seorang wanita tetap dalam jalan yang lurus meskipun dunia terus berubah dan tantangan datang silih berganti.
Mengapa Istiqomah Penting bagi Muslimah?
Istiqomah adalah kunci keberhasilan dalam hidup seorang muslimah. Dengan istiqomah, ia akan :
• Meraih keberkahan hidup,
• Mendapat ketenangan hati,
• Diterima oleh Allah SWT di sisi-Nya,
• Dan dijauhkan dari kekhawatiran duniawi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Maka beristiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Cara Muslimah Menjaga Istiqomah
Menjadi wanita yang istiqomah bukan hal yang mudah, namun sangat mungkin untuk dilakukan. Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk menjaga istiqomah:
1. Niat yang Ikhlas :
Luruskan niat hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap ibadah dan kebaikan.
2. Buat Jadwal Rutin :
Atur jadwal harian yang mendukung ibadah dan amalan baik.
3. Perbanyak Doa dan Dzikir :
Minta kekuatan hati dalam setiap sujud dan perbanyak dzikir agar hati tetap terhubung dengan Allah.
4. Berteman dengan Orang Shalihah :
Lingkungan baik akan memperkuat keimanan.
5. Bertahap dan Sabar :
Mulai dari hal kecil tapi konsisten. Kesabaran adalah kunci istiqomah.
6. Muraqabah, Mu’ahadah, dan Muhasabah :
Merasa diawasi Allah, menepati janji ketaatan, dan introspeksi diri.
7. Jauhi Hal-hal yang Mengganggu :
Hindari tontonan, media, dan teman yang menjauhkan dari Allah.
8. Teladani Muslimah Salihah :
Ambil inspirasi dari para istri nabi dan wanita-wanita shalihah sepanjang sejarah.
9. Renungi Al-Qur’an :
Jadikan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan dan tuntunan hidup.
10. Jaga Keikhlasan :
Jangan berharap pujian manusia; cukup ridha Allah sebagai tujuan.
11. Bersihkan Hati :
Hindari penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong.
12. Rawat Kesehatan Fisik dan Mental :
Tubuh yang sehat membantu semangat ibadah dan aktivitas positif lainnya.
Istiqomah dalam Al-Qur’an dan Hadis
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini mengajarkan bahwa istiqomah memang berat, namun upaya untuk terus memperbaiki diri sudah merupakan langkah menuju istiqomah yang sejati.
Jadilah Muslimah yang Istiqomah
Wahai muslimah, istiqomah bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang ketekunan. Bukan tentang tidak pernah salah, tapi tentang bangkit setiap kali tergelincir.
Dengan istiqomah, seorang wanita akan menjadi cahaya dalam keluarganya, keteladanan di lingkungannya, dan kekasih Allah di dunia dan akhirat. Mari terus berusaha menjadi pribadi yang istiqomah dalam iman, ibadah, dan akhlak mulia.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)
Mengulas sikap istiqomah, beberapa teman muslimah Avesiar.com punya cerita tersendiri. Seperti apa?
Aini Rais, Ibu Rumah Tangga

Bagi Aini, istiqomah bukan tentang melakukan hal besar sekali waktu, melainkan melakukan kebaikan kecil secara terus-menerus. Seperti sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kebaikan itu bisa berupa senyum, membantu orang lain, bersedekah secara rutin, atau sekadar menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan.
Aini mengakui bahwa lingkungan yang belum mendukung sering menjadi tantangan tersendiri. Namun, dalam setiap perjuangannya untuk tetap istiqomah, ia menemukan ketenangan, kedamaian, dan menjadi pribadi yang lebih positif dalam menghadapi ketidaknyamanan hidup.
“Perubahan itu tidak selalu mudah, apalagi ketika lingkungan tidak ikut berubah. Tapi justru di situlah tantangannya,” ungkapnya.
Tak bisa dipungkiri, masa futur atau menurunnya semangat beribadah juga kerap datang. Saat itu, Aini kerap merasa ingin menyerah. Namun ada satu hal yang membuatnya tetap bangkit, keinginan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. “Walau saya tidak sempurna, saya ingin anak-anak bisa melihat ibunya berjuang untuk terus memperbaiki diri,” tuturnya.
Di era digital ini, Aini melihat sisi positif dari media sosial. Baginya, platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok bisa menjadi tempat belajar dan mendapatkan inspirasi dari para ustadzah, muslimah salihah, dan konten-konten kebaikan. “Banyak sekali ilmu yang saya dapat dari media sosial. Dari situ saya jadi semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” tutur Aini mengakhiri wawancara.
Osyah Ulfah, Ibu Rumah Tangga

“Melakukan kebaikan secara terus-menerus walau sekecil apa pun itu penting,” ujar Osyah, Ia percaya bahwa kebaikan kecil yang dilakukan dengan konsisten lebih bermakna daripada niat besar yang hanya sebatas angan.
Namun, seperti halnya setiap orang yang ingin berada di jalan kebaikan, Osyah pun menghadapi tantangan. Yang paling besar justru bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri.
“Tantangan terbesar adalah dari diri sendiri, bagaimana tetap bisa istiqomah dan tidak tergoda dalam hal yang tidak baik,” ucapnya jujur.
Ia menambahkan bahwa kedekatannya dengan Allah menjadi kunci ketenangan dan kedamaian batinnya. Rasa lelah dan keinginan untuk menyerah pun pernah menghampiri.
Namun Osyah memilih untuk tetap bertahan. Ia meyakini bahwa selama Allah dilibatkan dalam setiap langkah, jalan keluar akan selalu terbuka. “Pernah ingin menyerah, tapi saya berusaha untuk tetap di jalan-Nya, selalu melibatkan Allah di dalamnya dan mendekat pada lingkungan yang baik,” katanya mantap.
Dalam era digital saat ini, Osyah juga menyadari peran media sosial dalam kehidupan spiritualnya. Ia mengaku banyak terbantu dengan adanya berbagai konten positif dan ilmu yang tersebar luas. Namun ia juga tak menampik bahwa media bisa menjadi ujian dalam menjaga konsistensi.
“Peran media sudah pasti banyak membantu karena banyak ilmu dan informasi kebaikan yang saya cari. Tapi banyak juga yang bisa mengganggu keistiqomahan. Saya harus terus berusaha untuk tetap berada di jalan-Nya,” ungkapnya.
Ketika ditanya tentang sosok yang menjadi inspirasinya, Osyah tak ragu menyebutkan nama besar yang menjadi panutan umat Islam. “Tokoh yang menginspirasi saya adalah Nabi Muhammad dan istri-istri beliau, terutama Siti Khadijah,” ucapnya dengan penuh rasa hormat.
Nenek Bunga

Istiqomah bukan hanya tentang paham atau tidak, melainkan tentang tekad untuk terus berjalan di jalan kebaikan meski belum sempurna. Itulah pandangan pribadi Nenek Bunga, yang tengah meniti jalan hijrah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
“Menurut saya, istiqomah adalah melaksanakan ibadah secara berkelanjutan walaupun kita belum begitu paham. Yang terpenting adalah berbuat kebaikan menurut syariat Islam pada umumnya,” ujarnya.
Perjalanan istiqomah tentu tidak selalu mulus. Tantangan pun hadir, bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam diri sendiri. “Tantangan terbesar saya adalah rasa malas dan lingkungan,” tuturnya.
Meski demikian, ia merasakan perubahan besar sejak memilih untuk lebih dekat dengan Allah. Hidupnya menjadi lebih tenang, dan rasa diawasi oleh Allah membuatnya lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.
Berbeda dengan sebagian orang yang sempat merasa ingin menyerah, ia justru tidak pernah berpikir untuk mundur. “Tidak sih, saya tidak pernah merasa ingin menyerah karena lingkungan yang saya pilih sekarang mendukung saya dalam berhijrah,” ungkapnya mantap.
Ia menambahkan bahwa motivasinya datang dari kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. “Saya meyakini kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan di alam kubur begitu lama sampai datangnya hari kiamat.”
Dalam proses hijrahnya, media sosial juga punya peran penting. Ia merasa sangat terbantu dengan berbagai konten ceramah dari para ustadz dan ustadzah yang tidak selalu bisa ia temui secara langsung.
Dan saat ditanya siapa sosok yang paling menginspirasinya. “Tokoh inspirasi saya adalah sahabat saya sendiri, yaitu Ustadzah Kokom Komalawati dan Ustadzah Jauhariah. Walaupun mereka hidup sendiri (single parents), mereka bisa tetap istiqomah. Masa saya yang masih punya pendamping tidak bisa?”
Jawaban itu seolah menampar lembut siapa pun yang sedang mencari alasan untuk menyerah. Bahwa istiqomah bukan soal kondisi, tapi soal pilihan hati apakah kita benar-benar ingin dekat dengan Allah, atau tidak.
Diah, Ibu Rumah Tangga

“Makna istiqomah dalam kehidupan saya sebagai muslimah adalah konsisten dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah,” ujar Diah dengan tenang.
Namun, menjaga konsistensi itu tak selalu mudah. Tantangan demi tantangan datang, terutama dari dalam diri. Diah mengakui bahwa iman tak selalu stabil. “Tantangan terbesar adalah naik turunnya iman, suka futur karena kesibukan dunia,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha kembali ke poros iman. Hasilnya, hidup terasa jauh lebih baik. “Perubahannya sangat terasa, semakin baik dalam ibadah dan ketaatan, serta lebih tenang dalam menjalani hidup. Saya jadi lebih mengutamakan akhirat,” tambahnya.
Ketika ditanya apakah pernah merasa ingin menyerah dalam berhijrah, Diah menjawab dengan tegas, “Tidak.” Alasannya sederhana tapi dalam, keinginan untuk menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah.
Lebih dari itu, ia sangat bersyukur dikelilingi oleh sahabat dan lingkungan yang baik. “Alhamdulillah saya punya lingkungan dan sahabat yang selalu mengingatkan kepada Allah, selalu diingatkan untuk ikut kajian dan lainnya.”
Diah juga merasakan manfaat besar dari media sosial dalam proses hijrahnya. Di tengah banyaknya konten tak bermanfaat, ia memilih untuk memetik ilmu dari para ustadz yang membimbing dengan pemahaman yang lurus.
“Media sosial sangat membantu, terutama dalam menambah ilmu agama. Jadi lebih banyak ilmu yang saya dapat dari ustadz-ustadz,” katanya.
Sosok-sosok yang menginspirasi Diah pun datang dari kalangan ulama “Ustadz Firanda dan Ustadz Khalid, karena ilmu mereka sesuai sunnah,” ujarnya penuh kekaguman.
Cerita dari Para muslimah Avesiar.com adalah contoh nyata bahwa istiqomah bukan tentang siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang paling bersungguh-sungguh. Bahwa meski iman kadang naik turun, selama hati tetap ingin dekat dengan Allah, jalan itu akan selalu terbuka. (Resty)













Discussion about this post