KAMU KUAT – Jakarta
Setiap hari, ribuan pengendara sepeda motor melintas di jalanan Indonesia. Mulai dari kota besar hingga desa terpencil. Namun, tidak semua dari mereka menyadari bahwa satu hal kecil, yakni memakai helm dapat menentukan hidup dan mati dalam sekejap.
Helm bukan sekadar pelengkap gaya berkendara, melainkan pelindung kepala yang menjadi garis pertahanan terakhir dari ancaman cedera fatal saat kecelakaan terjadi. Ironisnya, meskipun aturan tentang penggunaan helm telah diatur jelas dalam undang-undang, kesadaran masyarakat untuk mematuhinya masih perlu ditingkatkan.
Dikutip dari hukumonline.com, Pasal 106 ayat (8) UU No. 22/2009 mengatur bahwa:
“Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia.”
Jadi, berdasarkan ketentuan di atas pengendara motor baik pengemudi maupun penumpang diwajibkan menggunakan helm dengan Standar Nasional Indonesia.
Lalu, seberapa pentingkah sebenarnya memakai helm saat naik motor? Dan apa saja aturan lalu lintas yang mengatur hal ini?
Artikel dari kanal KAMU KUAT! Avesiar.com kali ini akan mengajak pembaca khususnya remaja untuk mengulas pentingnya penggunaan helm dari sisi keselamatan, hukum, dan kesadaran sosial.
Naynara, mahasiswi semester 2, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan

Naynara punya pandangan yang tegas soal ini. Saat diwawancarai, ia mengatakan bahwa, “Penggunaan helm sangat penting karena itu sesuai dengan aturan lalu lintas kita. Ketika menggunakan kendaraan sepeda motor, kita diwajibkan menggunakan helm. Penggunaan helm tidak hanya diwajibkan saat perjalanan jauh atau di jalanan besar, tetapi juga saat berkendara jarak dekat.”
Menurutnya, helm adalah pelindung yang wajib dipakai kapan pun, di mana pun. “Helm penting untuk keselamatan pengendara, terlepas dari jarak yang ditempuh,” tambahnya.
Tapi, bagaimana dengan aturan soal helm di Indonesia? Apakah sudah cukup ketat?
Naynara menjawab, “Sepertinya sudah cukup ketat, namun pelaksanaan peraturannya saja yang kurang dievaluasi dan diedukasi.”
Ia menyoroti bahwa hukum sudah ada, tapi penerapannya yang masih belum maksimal. Banyak orang hanya taat aturan kalau ada yang mengawasi.
Ketika ditanya soal kebiasaan orang yang hanya pakai helm saat melihat polisi, Naynara cukup prihatin. Katanya, “Itu menunjukkan perilaku yang kurang konsisten dan tidak mencerminkan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara. Itu lebih berfokus pada menghindari sanksi hukum daripada menjaga keselamatan diri sendiri.”
Lalu, siapa yang bisa membantu membangun kesadaran itu sejak dini? Naynara percaya, keluarga dan sekolah punya peran besar. Ia juga menyarankan agar keluarga bisa berdiskusi tentang keselamatan berkendara secara terbuka. “Orang tua yang selalu memakai helm akan menanamkan kebiasaan positif pada anak-anak,” ujarnya.
Sementara di sekolah, edukasi bisa dilakukan lewat kegiatan yang kreatif. “Misalnya mengadakan kampanye keselamatan atau program seperti ‘Hari Helm Nasional’ agar siswa mengalami langsung pentingnya memakai helm,” usul Naynara menutup wawancara
Tadya Tamam Lazuardi Imani, siswa kelas 9, SMP Negeri 18, Kota Bogor

Tadya Tamam Lazuardi Imani, siswa kelas 9F dari SMPN 18 Kota Bogor, punya pandangan yang matang soal ini. “Menurut saya pribadi, memang menggunakan helm adalah bagian dari aturan. Namun, aturan itu pun dibuat untuk keselamatan pribadi dalam menggunakan kendaraan,” ujarnya saat diwawancarai.
Tadya termasuk yang konsisten memakai helm. Ia mengerti bahwa beberapa orang merasa helm ribet kalau jaraknya dekat, tapi menurutnya itu bukan alasan untuk mengambil risiko. “Mau sedekat apa pun jaraknya, saya selalu memakai helm, karena untuk keamanan sendiri juga,” tuturnya.
Ketika ditanya soal fenomena pengendara yang cuma pakai helm saat melihat polisi, Tadya mengaku menyayangkan hal itu. “Berarti ia hanya memakai helm untuk menaati aturan, bukan untuk keselamatan. Saya harap orang seperti ini jumlahnya terus berkurang dan segera memahami pentingnya helm,” ucapnya.
Ia juga menyoroti kurangnya edukasi publik saat ini. “Menurut saya, kampanye mengenai penggunaan helm khususnya pada remaja mulai berkurang. Jarang sekali saya menemukan kampanye seperti itu. Jadi pengaruhnya belum cukup besar,” jelasnya.
Lalu, siapa yang bisa ikut berperan dalam menanamkan kesadaran ini? Tadya menegaskan pentingnya peran keluarga dan sekolah. “Pertama-tama harus ditanamkan bahwa helm fungsi utamanya adalah untuk keselamatan. Keluarga bisa membiasakan pemakaian helm sejak dini,” katanya.
Tak hanya asal pakai helm, Tadya juga paham soal pentingnya standar keamanan. “Saya mengetahui standar helm yang sesuai dengan SNI, dan itu penting, karena standar itu sudah ditetapkan sebagai aman untuk digunakan saat berkendara,” ungkapnya.
Dan terakhir, ia menutup dengan nada tegas, “Kemungkinan paling ringan tidak memakai helm itu ditilang. Tapi kemungkinan terburuknya? Kecelakaan lalu lintas yang kadang bisa merenggut nyawa seseorang.”
Apa yang disampaikan Tadya jadi tamparan halus untuk kita semua. Nyawa nggak bisa diulang, dan keselamatan harus jadi prioritas utama. Helm bukan hanya alat untuk hindari sanksi hukum, tapi bentuk nyata kita menghargai hidup.
Yuk, jangan tunggu ada polisi dulu baru pakai helm. Jadilah generasi yang peduli keselamatan karena itu keren dan bijak.
Aliyah A. Najiha, siswi kelas 7, SMP Negeri 4, Tangerang Selatan

Aliyah A. Najiha, punya pengalaman menarik soal kebiasaan memakai helm. “Menurut saya, penggunaan helm itu sangat penting sekali, karena sudah termasuk dalam peraturan lalu lintas, dan juga banyak sekali yang masih melanggar padahal itu sangat penting untuk keselamatan,” ujar Aliyah membuka obrolan dengan nada tegas.
Awalnya, Aliyah pun sempat malas memakai helm karena merasa berat dan ribet. Tapi titik balik datang dari sebuah berita. “Saya pernah malas untuk memakai helm tapi setelah saya menonton berita viral yang sedang ramai, banyak sekali orang yang tidak selamat saat kecelakaan karena tidak memakai helm,” katanya.
Sejak saat itu, dia jadi sadar bahwa helm bukan pilihan, tapi keharusan. Menurutnya, memakai helm bukan cuma soal menaati peraturan. “Yang prioritas buat saya yaitu untuk keselamatan saya sendiri,” jelasnya.
Kesadaran ini muncul karena ia menyadari risiko besar yang bisa terjadi kalau kita mengabaikan hal sepele seperti menggunakan helm saat mengendarai dan menjadi penumpang sepeda motor.
Aliyah juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kurangnya kampanye dan ketegasan dari pemerintah. “Saya masih melihat banyak sekali orang yang tidak memakai helm, media kampanye itu kurang dalam menegaskan peraturan tersebut,” kata Aliyah.
Ia sangat setuju jika ada sanksi lebih tegas untuk pelanggaran ini. Bahkan, ia memberi contoh inovasi seperti kamera tilang otomatis di Jakarta yang bisa mendeteksi pelanggaran.
Ketika ditanya soal harga helm, ia menjawab dengan kritis, “Saya juga bingung, kenapa masih banyak orang yang tidak mau menggunakan helm, padahal harga masih termasuk standar, tidak terlalu mahal, kenapa masih tidak mau beli? Padahal itu untuk kepentingan diri sendiri.” tutup Aliyah.
Helm bukan aksesori gaya itu pelindung kepala dari maut yang tak bisa ditebak datangnya. Jadi, sebelum kamu naik motor, jangan lupa satu hal penting pakai helm, bukan alasan. Jadilah generasi yang sadar, bukan sekadar ikut-ikutan.
Kesadaran memakai helm bukan soal takut ditilang, tapi soal menghargai hidup. Yuk, mulai dari diri sendiri! Jangan nunggu ada polisi dulu baru pakai helm. Karena sejatinya, pelindung terbaik kita saat berkendara bukan cuma aturan, tapi juga kesadaran. Dan kesadaran itu, bisa dimulai dari kamu. (Resty)













Discussion about this post