KAMU KUAT – Jakarta
Setiap anak pasti memiliki keinginan apakah keinginan dibelikan barang tertentu, diizinkan pergi bersama teman, atau sekadar ingin mendapat perhatian lebih. Namun, pernahkah sebagai anak, bertanya pada diri sendiri, apakah cara kita dalam menyampaikan keinginan itu kepada orang tua sudah benar?
Tanpa disadari, banyak remaja yang terbiasa memaksa orang tua untuk menuruti keinginannya, bahkan sampai membuat orang tua merasa tertekan, sedih, atau kewalahan.
Mereka lupa bahwa di balik setiap permintaan yang dipenuhi, ada keringat, lelah, dan mungkin pengorbanan yang besar dari orang tua. Tidak hanya itu, mungkin orang tua sedang kesulitan atau memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi selain dari sekedar keinginan anaknya tidak bukan sesuatu yang mendesak atau urgent.
Ulasan ini mengajak kita semua, khususnya para remaja, untuk merenung dan melihat kembali bagaimana sikap kita terhadap orang tua. Apakah kita sudah cukup bijak? Ataukah selama ini kita hanya menuntut tanpa memahami?
Berikut pengalaman dari para sahabat kanal KAMU KUAT! Avesiar.com
Elfath Bintang Adrian, kelas 11, SMK Letris Indonesia 2

Elfath punya cara unik dan bijak untuk mendapatkan sesuatu. Bukan dengan merengek atau ngambek, tapi dengan berprestasi dulu. “Kalau ingin sesuatu, saya biasanya berusaha dulu. Misalnya jadi juara kelas atau menang lomba. Karena kalau orang tua bangga, hati mereka bisa luluh dan akhirnya mau memenuhi keinginan saya.”
Ia percaya bahwa kebanggaan orang tua bisa jadi ‘jalan pintas’ untuk mewujudkan keinginannya selama masih masuk akal dan nggak memberatkan. Tapi kalau ternyata keinginannya terlalu mahal atau di luar kemampuan keluarga?
“Kalau memang itu di luar jangkauan mereka, saya nggak akan maksa. Lebih baik saya nabung aja pelan-pelan.”
Elfath nggak sungkan mengakui bahwa waktu kecil, dia pernah memaksa orang tuanya untuk membelikan sepeda baru.
“Saya iri lihat teman-teman naik sepeda BMX, sedangkan saya cuma punya sepeda lipat. Akhirnya saya nangis supaya dikasih sepeda baru. Waktu itu saya belum ngerti betapa susahnya cari uang.”
Untungnya, saat itu orang tuanya diberi rezeki dan akhirnya Elfath mendapatkan sepeda impiannya. Tapi sekarang, setelah lebih dewasa, dia melihat kejadian itu dengan pandangan yang berbeda. “Kadang saya pengen marah sama diri saya yang dulu. Tapi saya juga sadar, waktu itu saya belum ngerti seperti sekarang.”
Elfath juga punya pandangan jernih soal perbedaan antara meminta dan memaksa. “Kalau meminta itu dengan cara baik-baik. Tapi kalau pakai marah karena keinginannya nggak dipenuhi, itu sudah termasuk memaksa.”
Menurutnya, orang tua nggak harus selalu memenuhi keinginan anak. Karena mereka pasti tahu mana yang baik dan tidak untuk anaknya. Bahkan kalau bisa, mereka menggantinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat asal tidak memberatkan juga.
Dan sekarang, kalau Elfath menginginkan sesuatu, dia lebih memilih berpikir matang. “Saya akan tenang dulu, mikir apakah itu baik atau tidak. Kalau nggak baik, ya saya alihkan ke yang lain yang lebih berguna.”
Apalagi kalau barang yang diinginkan harganya mahal? “Saya lebih milih nabung. Karena saya sadar, saya lahir bukan dari keluarga kaya. Dan saya nggak mau membebani orang tua.” seperti kata Elfath “Membuat orang tua bangga adalah kunci lebih baik dari sekadar merengek.”
Mahira Orlinafita Ahza. Siswi kelas 10, SMA Rimba Madya

Mahira Orlinafita Ahza, siswi kelas 10 dari SMA Rimba Madya, punya cara sendiri yang cukup unik dan bijak dalam menyampaikan keinginan kepada orang tuanya. “Trik khususnya sih kak, lihat mood orang tua. Aku selalu begitu kalau mau minta sesuatu.”
Menurut Mahira, mood orang tua bisa sangat memengaruhi bagaimana mereka merespons permintaan anak. Kalau suasana hati mereka sedang baik, besar kemungkinan keinginan bisa terkabul. Tapi kalau lagi lelah atau banyak pikiran, lebih baik ditunda dulu.
Mahira juga dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan usaha sendiri dulu sebelum meminta bantuan. “Kalau sesuatu itu butuh uang cukup besar, baru deh dibantu sedikit sama orang tua.”
Mahira punya pandangan jernih soal meminta dan memaksa. Menurutnya, meminta berarti tetap siap menerima jawaban apa pun dari orang tua, entah itu “iya” atau “tidak”. Tapi kalau memaksa? “Kalau memaksa, kita nggak peduli apa kondisi orang tua saat itu. Yang penting keinginan kita dipenuhi.”
Mahira percaya, tidak semua keinginan harus dituruti saat itu juga. Tergantung kebutuhan. Kalau keinginannya mendesak dan penting, barulah harus diusahakan. Tapi kalau bisa ditunda, ya ditunda
Momen paling menyentuh dalam cerita Mahira adalah ketika ia berbagi soal perasaan tidak enak hati saat orang tua tidak bisa memenuhi keinginannya.
“Aku sebenarnya nggak enak sama orang tua. Kadang mereka sampai minta maaf karena nggak bisa memenuhi keinginanku. Padahal aku nggak apa-apa.”
Walau ada rasa sedih, Mahira memilih untuk tetap kuat dan menyemangati dirinya sendiri agar bisa memenuhi keinginannya dengan usaha pribadi. Sikap dewasa seperti inilah yang patut ditiru remaja lainnya. “Aku selalu nyemangatin diri sendiri untuk bisa memenuhi sesuatu itu sendiri.” Tutup Mahira.
Altamis Basel Abrisam, siswa kelas 8, SMP Muhammadiyah 29 Sawangan, Depok

Altamis Basel punya pendapat dan pengalaman tersendiri ketika berhadapan dengan situasi seperti itu. Sebagai seorang anak, dia akui kadang memikirkan suatu keinginan yang sama dengan remaja lainnya. Namun, ia mengakui bahwa ia memiliki cara tersendiri.
“Biasanya, saya akan meminta dengan sopan dan memberi alasan yang masuk akal kenapa saya pengen banget punya hal tersebut. Misalnya, “Papi, aku pengen buku tulis, boleh nggak? Aku janji akan rajin menulis dan belajar dengan buku tulisnya”,” ucapnya.
Alta juga mengakui bahwa ia tidak pernah memaksa kepada orang tuanya ketika menginginkan sesuatu. “Tidak pernah sih. Aku selalu berusaha untuk meminta dengan sopan dan menghargai keputusan orang tua. Aku lebih suka untuk ngerti alasan mereka dan cari alternatif lain kalau permintaanku ditolak,” bebernya.
Menurut Altamis, perbedaan antara meminta dan memaksa yaitu, meminta itu kalau kita ngomong sopan dan menurut pada keputusan orang tua. Sedangkan memaksa itu jika kita ngeyel dan marah-marah kalau permintaannya ditolak.
Alta sadar bahwa orang tua tidak bisa selalu harus menuruti keinginan anaknya. “Enggak selalu. Karena orang tua memilki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Jadi mereka harus mempertimbangkan dulu sebelum memutuskan yang baik untuk kita. Mereka mungkin punya alasan yang lebih penting buat tidak membelikan sesuatu. Kayak keuangan yang terbatas atau barangnya nggak cocok buat kita,” ungkapnya.
Bagaimana kamu merespons jika orang tuamu berkata ‘tidak’ saat kamu minta sesuatu?
Ketika orang tuanya mengatakan “tidak” saat Alta meminta sesuatu, Alta mengakui akan menanyakan alasan mengapa tidak bisa atau tidak boleh dan ia memahami pendapat orang tua. “Aku akan berterima kasih atas pertimbangan mereka dan tidak merasa kesal,” ujarnya.
Ketika ia ingin sesuatu yang mahal, Alta mengakui akan menabung terlebih dahulu. “Atau saya menawarkan diri untuk membantu membayar sebagian harga barang tersebut dari uang tabungan agar tidak terlalu memberatkan orang tua,” jelasnya.
So, buat kamu para remaja, tentu kamu juga akan punya sikap yang baik dan memahami orang tua jika punya keinginan tertentu kan? (Resty)












Discussion about this post