KAMU KUAT – Jakarta
Setiap remaja pasti punya strategi masing-masing untuk merayu orang tua. Ada yang lebih mudah berbicara dengan ayah, ada juga yang merasa ibu lebih gampang diluluhkan. Mulai dari hal kecil seperti minta jajan tambahan, sampai barang kesayangan seperti skincare atau baju. Buat sebagian besar remaja, semua tergantung dari kepribadian orang tua dan bagaimana kita mendekati mereka.
Nah, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu lebih sering meminta sesuatu ke Mama atau Papa? Dan apa trik andalanmu untuk meluluhkan hati mereka? Berikut cerita dari sahabat remaja
Radella, siswa kelas 9 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Depok.

Bagi sebagian remaja, ayah adalah sosok yang paling mudah dirayu. Seperti yang diceritakan seorang teman, “Menurut saya, ayah lebih mudah dirayu karena kepribadiannya yang lembut dan mudah memahami. Saya merasa nyaman berbagi perasaan dengan beliau, dan hal itu membuat komunikasi jadi lebih lancar. Kalau ada keperluan penting, saya biasanya bilang ke ayah,” ujar Radella
Namun, urusan nyemil atau hal kecil lainnya bisa jadi lebih cocok dilakukan bersama ibu. “Kalau soal makanan atau nyemil, saya lebih sering bareng ibu. Kami suka nyemil bareng, jadi rasanya lebih gampang untuk minta hal-hal kecil ke beliau,” ungkapnya.
Ada juga cerita menarik soal pengalaman pertama memiliki handphone. “Saat pandemi, saya butuh handphone untuk belajar daring. Awalnya ayah tidak setuju karena saya dianggap masih terlalu muda. Tapi setelah saya menjelaskan bahwa saya membutuhkannya untuk ulangan sekolah, akhirnya ayah setuju, dengan syarat saya harus patungan. Itu mengajarkan saya pentingnya usaha untuk mendapatkan apa yang saya inginkan,” ungkapnya.
Quinella Raisa Kanam, siswi kelas 7, SMPIT INSAN HARAPAN

Beda dengan cerita sebelumnya, Raisa merasa lebih gampang minta kepada Mamanya. Tapi bukan berarti semua permintaan langsung dikabulkan begitu saja. Ada trik khusus yang biasanya Raisha gunakan untuk meluluhkan hati Mama, yaitu bantu-bantu dulu di rumah. “Biasanya aku bantuin orang tua dulu. Cuci piring, ngejemur baju, nyapu, ngepel, yang kayak gitu-gitu deh. Setelah membantu, biasanya suasana hati Mama jadi lebih baik, sehingga lebih gampang untuk meminta sesuatu,” bebernya.
Hasilnya Langsung Dikasih? “Dikasih sih,” lanjutnya. Tentu saja, ini tergantung juga pada jenis permintaannya. Kalau permintaannya masuk akal dan tidak terlalu besar, biasanya langsung dikabulkan.
Selain dengan bantu-bantu biasanya Raisha mempunyai jurus khusus, yaitu kadang ia pakai kata-kata yang halus, tapi kadang bermanja juga. Misalnya, memeluk mama sambil bilang, “Mama baik banget deh kalau ngasih aku ini” atau sekadar bercanda untuk mencairkan suasana.
Hal-hal yang sering diminta biasanya nggak jauh-jauh dari kebutuhan remaja, seperti baju, skincare, atau makeup. “Aku sering minta baju, skincare, sama makeup. Kalau bilangnya ke Mama, lebih gampang dikasih,” tutup Raisha.
Syifa Nashwa Azzahra, siswi kelas 10, MAN 1 Kota Tanggerang Selatan

“Kalau aku sih biasanya tergantung, bisa Umi atau Abi. Cuma kalau untuk secara keseluruhan, lebih sering ke Umi. Tapi nggak selalu juga,” cerita Najwa. Menurutnya, siapa yang lebih mudah dirayu bergantung pada jenis permintaan dan suasana hati orang tua.
Salah satu cara yang sering dilakukan untuk mendapatkan persetujuan orang tua adalah dengan membantu pekerjaan mereka. “Biasanya aku bantuin apa yang Umi atau Abi perlukan, kayak bersih-bersih rumah. Tapi kadang nggak langsung dikabulkan, jadi perlu waktu juga,” jelasnya.
Membantu orang tua, menurut dia, tidak hanya menunjukkan niat baik, tetapi juga bisa menjadi cara untuk membangun suasana hati yang mendukung. Namun, tidak semua permintaan bisa langsung dikabulkan. Dalam situasi seperti ini, ada dua pilihan menunggu atau berusaha sendiri.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, biasanya aku akan membatalkan permintaanku. Misalnya, aku ingin alat lukis tapi nggak dikabulkan karena nggak memungkinkan. Akhirnya, aku beli sendiri pakai uang tabunganku,” ujarnya.
Menabung untuk membeli barang yang diinginkan adalah bentuk kemandirian yang baik. Ini menunjukkan bahwa kita tidak selalu bergantung pada orang tua untuk memenuhi keinginan kita. Tapi ada kalanya, keinginan itu hilang seiring waktu. “Kadang aku nggak jadi beli sendiri kalau sudah nggak minat lagi. Jadi, tergantung kebutuhan aja,” tambahnya.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa membujuk orang tua bukan hanya soal mendapatkan apa yang kita mau, tapi juga tentang usaha dan kompromi. Membantu mereka, bersabar, dan mencari solusi sendiri ketika perlu adalah langkah-langkah bijak yang bisa diambil. Selain itu, keinginan yang tidak terpenuhi pun bisa menjadi pelajaran penting tentang apa yang sebenarnya memang kita butuhkan. (Resty)













Discussion about this post