KAMU KUAT – Jakarta
Pernah nggak kamu merasa ingin beli sesuatu hanya karena lagi tren, padahal barang itu sebenarnya nggak terlalu kamu butuhin? Misalnya, sepatu baru padahal yang lama masih bagus, atau nongkrong di kafe mahal hanya karena teman-teman juga ke sana.
Sebagai remaja, wajar banget kalau kita punya banyak keinginan. Apalagi di zaman sekarang, di mana media sosial sering bikin kita tergoda untuk selalu ikut-ikutan. Tapi, tahu nggak sih, ada perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan?
Dua hal ini sering bikin kita bingung saat harus mengambil keputusan, apalagi soal uang, waktu, atau prioritas hidup.
Dalam artikel ini, kita bakal bahas dan simak pengalaman para sahabat kanal kamu kuat avesiar.com bagaimana cara membedakan keduanya, kenapa penting untuk bisa mengendalikan keinginan, dan gimana caranya agar kita bisa jadi remaja yang bijak dalam menentukan pilihan.
Siap buat mikir lebih dewasa dan nggak gampang terjebak sama godaan sesaat? Yuk, baca sampai habis.
Sulthon Muhammad Nazhif, mahasiswa semester 6, ITPLN jurusan Teknik Industri

Sulthon Muhammad Nazhif, mahasiswa semester 6 di ITPLN jurusan Teknik Industri, punya cerita menarik soal ini. Dalam wawancara singkat, ia membagikan pengalaman pribadinya tentang bagaimana keinginan yang kuat bisa jadi sesuatu yang berarti asal dijalani dengan niat dan kesadaran yang benar.
“Menurut saya, kebutuhan itu hal yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan adalah dorongan dalam diri untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan,” jelas Sulthon.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan buat Sulthon adalah saat dia punya keinginan kuat untuk magang di perusahaan yang berkaitan dengan PLN. Keinginan itu bukan semata karena tugas kuliah, tapi lebih karena ketertarikannya yang besar terhadap dunia kelistrikan dan bagaimana energi menjadi bagian penting dalam kehidupan.
“Waktu itu, saya benar-benar ingin magang di PLN Engineering. Saya ingin terlibat langsung dalam dunia kelistrikan Indonesia. Ketika akhirnya kesampaian, saya merasa sangat bangga. Ternyata keinginan itu bukan cuma soal ambisi pribadi, tapi juga bisa jadi pengalaman berharga yang membentuk motivasi dan arah hidup saya,” ceritanya.
Tapi, tentu saja, membedakan keinginan dan kebutuhan bukan hal yang mudah. Sulthon juga mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menahan diri dan berpikir rasional. “Kadang keinginan itu terasa lebih menyenangkan, padahal belum tentu kita butuh saat itu juga,” katanya jujur.
ĶIa juga menyebutkan bahwa keluarga dan orang-orang terdekat seperti teman memiliki peran besar dalam membantunya menentukan pilihan. Mereka memberi nasihat, sudut pandang baru, bahkan kadang menegur kalau ia mulai terbawa arus keinginan yang kurang penting.
Di akhir obrolan, Sulthon menyampaikan pesan yang sangat relevan untuk kita para remaja, “Wajar kok kalau kita punya banyak keinginan. Tapi kita juga harus belajar membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan. Jangan gampang terpengaruh media sosial atau gaya hidup orang lain.”
Dari cerita Sulthon, kita bisa belajar bahwa keinginan memang bisa menjadi motivasi. Tapi saat bisa dikendalikan dan dipilih dengan bijak, barulah keinginan itu berubah jadi langkah nyata menuju masa depan yang lebih cerah.
Elysia Maila Hana Andini, siswi kelas 10, SMA-SMAK Bogor

Elysia Maila Hana Andini, siswi kelas 10 di SMA-SMAK Bogor, pernah mengalami hal yang mungkin juga relate banget buat kamu. Saat sekolah mengadakan kunjungan ke toko buku, ia membeli sebuah buku yang sebenarnya nggak dia sukai, hanya karena ilustrasinya bagus dan karena teman-temannya juga beli.
“Saya beli buku itu karena ikut-ikutan dan tertarik sama tampilannya. Tapi setelah dibeli, bukunya nggak pernah saya baca sampai habis. Saya malah nyesel dan merasa uangnya jadi terbuang sia-sia,” cerita Elysia.
Menurut Elysia, kebutuhan adalah hal yang memang diperlukan dan harus dipenuhi terlebih dahulu. Sedangkan keinginan, lebih ke sesuatu yang kita inginkan tapi belum tentu bermanfaat atau benar-benar kita perlukan saat itu. Namun dalam praktiknya, keinginan sering kali menang, apalagi kalau sudah menyangkut gengsi.
“Tantangan terbesarnya itu ada di gengsi. Kadang saya pengen sesuatu cuma karena ingin terlihat beda atau punya ‘privilege’. Padahal, hal itu mengorbankan kebutuhan yang sebenarnya lebih penting,” ungkapnya jujur.
Elysia juga berbagi bahwa keluarga berperan besar dalam membentuk kebiasaan berpikir bijak soal belanja. Di keluarganya, setiap keinginan harus “dibayar” dengan pencapaian tertentu terlebih dulu. Jadi nggak ada yang benar-benar gratis. Tapi tetap saja, pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial juga kuat banget, terutama di masa remaja seperti sekarang.
“Menurut saya, penting banget untuk belajar membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang hanya keinginan sesaat. Karena keputusan yang kita ambil hari ini bisa berdampak besar pada kebiasaan dan masa depan kita nanti,” tutup Elysia.
Sifa, siswi kelas 10, SMA Rimba Madya, Kota Bogor

Sifa punya pengalaman yang sangat relate soal ini. Dengan jujur, dia bilang kalau kebutuhan adalah hal-hal yang benar-benar wajib dipenuhi seperti makanan, minuman, dan tempat tinggal.
Sedangkan keinginan? Ya, itu cuma rasa “pengen aja”—misalnya beli HP baru atau baju yang lagi tren. “Aku pernah beli barang cuma karena pengen. Seneng sih di awal, tapi kadang jadi nyesel karena jadi boros,” cerita Sifa.
Tantangan terbesarnya? Menahan diri. “Susah nahan nafsu sih, apalagi kalau ada diskon atau barangnya lagi viral banget. Rasanya kayak harus punya juga,” katanya sambil tertawa.
Dan seperti kebanyakan dari kita, Sifa juga mengakui bahwa media sosial punya pengaruh besar. Saat melihat orang lain pamer barang baru, outfit keren, atau gaya hidup yang terlihat sempurna, rasa ingin punya hal yang sama jadi sulit dihindari.
“Media sosial ngaruh banget menurut aku. Jadi pengen ikut-ikutan biar nggak ketinggalan atau keliatan keren,” jelasnya.
Tapi pengalaman juga mengajarkan Sifa bahwa memilih keinginan dibanding kebutuhan bisa bikin nyesel, terutama saat uang habis dan ternyata ada hal penting yang harus dibeli tapi nggak bisa.
“Pernah banget nyesel. Waktu itu uang udah kepake buat hal yang nggak penting, terus pas butuh buat bayar sesuatu yang penting malah nggak ada,” katanya.
Well, guys, bisa belajar mengendalikan keinginan itu memang nggak gampang, tapi penting. Kita harus belajar membedakan mana yang benar-benar penting untuk kita dan mana yang cuma bikin kita terlihat “ikut tren” sesaat. Karena masa depan yang baik dimulai dari pilihan-pilihan bijak hari ini. (Resty)













Discussion about this post