Avesiar – Jakarta
Berteman adalah ciri manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Namun, Islam juga memberikan panduan perihal berteman, terutama jika memasuki usia 40 tahun, di mana kualitas pertemanan juga menjadi sesuatu yang sangat krusial.
Mengenai berteman sesuai anjuran syariat, dikutip dari berbagai sumber, semoga bisa mencerahkan agar mampu memperbaiki diri dan memberi manfaat.
Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk surga tapi tidak menemukan sahabatnya. Ia lalu memohon kepada Allah, dan Allah pun mengeluarkan sahabatnya dari neraka hanya karena permohonan tulus itu. (HR. Al-Bukhari).
Masyaa Allah, itulah indahnya persahabatan yang dibangun karena Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud)
Kita tak bisa berjalan sendiri dalam kehidupan. Teman adalah bagian penting dari perjalanan kita, termasuk dalam urusan iman dan ketakwaan. Terutama bagi seorang muslimah, memilih teman bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga keselamatan jiwa dan akhirat. Islam dengan bijak mengajarkan bahwa siapa teman kita, akan mencerminkan siapa diri kita.
Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau,
“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”
Kriteria Teman yang Baik Menurut Islam
1. Beriman dan Bertakwa
Teman yang baik adalah mereka yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Ketika kita lalai, ia menasihati dengan lembut. Ketika kita semangat dalam ibadah, ia ikut menyemangati.
2. Berakhlak Mulia
Sahabat sejati bukan yang hanya hadir saat senang, tapi juga menjaga perasaan dan tidak menyakiti. Mereka jujur, amanah, dan tidak iri. Bersama mereka, hati terasa nyaman.
3. Mengajak pada Kebaikan
Teman yang baik tidak hanya menyemangati untuk rajin salat atau ikut kajian, tapi juga menjadi teladan lewat sikapnya. Kata-katanya menenangkan, tindakannya menyejukkan.
4. Menjauh dari Perbuatan Buruk
Mereka menjaga dirinya dari hal-hal yang Allah larang, dan secara tak langsung ikut menjaga kita juga. Bersama mereka, kita merasa lebih aman dari dosa.
5. Menjaga Silaturahmi
Persahabatan dalam Islam dibangun atas dasar cinta karena Allah. Teman yang baik akan selalu menjaga hubungan, walau jarak memisahkan.
6. Tidak Tamak Dunia
Sahabat sejati tidak mengajak kita sibuk mengejar dunia, tapi saling mengingatkan bahwa dunia ini fana. Ia akan membantu kita fokus pada akhirat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap ridha-Nya” (QS. Al-Kahf: 28).
Ayat ini menunjukkan pentingnya memilih teman yang mengingat Allah dalam kesehariannya.
Mengapa Teman yang Baik Itu Penting?
• Menjaga Iman Tetap Hidup
Di saat iman turun, sahabat yang baik akan menjadi penyemangat.
• Teladan Akhlak Sehari-hari
Kita belajar banyak dari cara mereka bersikap.
• Menjauhkan dari Dosa
Mereka menjaga kita agar tidak larut dalam pergaulan yang salah.
• Meningkatkan Kualitas Hidup
Teman baik membawa ketenangan, bukan drama. Mereka ada saat kita butuh, dan tetap ada meski tanpa diminta.
Tips Memilih Teman yang Baik untuk Muslimah
1. Dekati Lingkungan Kajian atau Komunitas Islami
Biasanya, di situlah kita akan bertemu teman-teman yang sefrekuensi dalam keimanan dan semangat hijrah.
2. Perhatikan Cara Mereka Menghadapi Masalah
Teman yang baik tidak melampiaskan masalah dengan bergosip atau marah-marah, tapi kembali kepada Allah dengan sabar.
3. Jangan Hanya Lihat dari Tampilan Luar
Kadang teman yang terlihat biasa saja justru menyimpan kebaikan luar biasa. Jangan buru-buru menilai.
4. Jadilah Teman yang Baik Juga
Kalau kita ingin punya teman yang baik, kita juga harus belajar menjadi pribadi yang layak dijadikan teman.
Sahabat bukan sekadar teman ngobrol, tapi bisa jadi salah satu sebab kita masuk surga. Maka pilihlah sahabat yang menuntun, bukan menjatuhkan. Yang mendekatkanmu kepada Allah, bukan menjauhkan. Karena persahabatan karena Allah, akan berlanjut hingga ke akhirat.
Quotes Muslimah tentang Persahabatan
“Teman yang baik bukan yang membuatmu nyaman dalam kelalaian, tapi yang membuatmu malu saat melupakan Allah.”
“Bersahabat karena Allah adalah investasi akhirat yang tak pernah merugi.”
“Sahabat sejati bukan hanya hadir di saat senang, tapi juga membawamu lebih dekat pada surga.”
Yuk kita simak cerita dari para sahabat muslimah avesiar.com tentang hal di atas!
Ade Fauziah, Ibu Rumah Tangga

Menurut Ade Fauziah, seorang muslimah yang aktif dalam majlis taklim, “Agama seseorang itu tergantung agama temannya, maka perhatikanlah siapa yang kamu jadikan teman.” Kutipan ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan betapa pentingnya memilih teman yang baik.
Bagi Ade, peran teman dalam ketaatan sangatlah penting. “Teman yang baik adalah yang melarang kita dari maksiat dan membantu kita untuk taat,” ungkapnya.
Ia merasakan bahwa berkumpul di majelis taklim dan berada di tengah orang-orang saleh menjadi salah satu cara terbaik menjaga semangat ibadah. Kehadiran teman-teman yang salihah membuat ibadah terasa lebih ringan dan menyenangkan. “Karena tidak sendirian dalam ketaatan,” ujarnya.
Teman yang baik akan mengajak dalam kebaikan, dan saling menguatkan ketika keimanan turun. Lingkungan tempat kita tinggal, bekerja, dan bersosialisasi sangat menentukan siapa kita sebenarnya. “Pengaruh lingkungan itu sangat menentukan karakter seseorang karena faktor kebiasaan yang mendominasi,” jelas Ade.
Jika kita terbiasa berada di tengah lingkungan yang lalai, maka tanpa sadar kita pun akan larut. Sebaliknya, ketika kita memilih lingkungan yang penuh kebaikan, perlahan kebaikan itu akan menjadi bagian dari diri.
Menjaga diri agar tetap dalam jalur ketaatan tentu tidak selalu mudah. Ade mengakui bahwa tantangan terbesar adalah kesabaran. “Kita harus sabar membawa diri kita dari arus pertemanan yang buruk, dan juga sabar berusaha mengubah keburukan menjadi kebaikan.”
Ia mengutip sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
“Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak mau bergaul dan tidak sabar atas gangguan.” (HR. Bukhari)
Dan seperti kata Bu Ade, “Majelis taklim dan lingkungan yang saleh adalah tempat terbaik untuk menemukan teman sejati dalam ketaatan.”
Septi Yuri Yana, Ibu Rumah Tangga

“Sebagai seorang muslimah, Saya meyakini bahwa teman memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan keimanan seseorang.” Dalam Islam, sahabat bukan hanya sekadar orang yang menemani kita tertawa atau bercerita, tetapi mereka adalah bagian dari perjalanan hidup yang turut membawa kita mendekat kepada Allah.
Menurut Yuri, “Teman yang baik adalah mereka yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga menguatkan saat lemah. Mereka adalah sosok yang mendukung dan memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka tak ragu memberikan nasihat jujur, menjaga amanah dan rahasia, serta memiliki empati yang tinggi. Bahkan dalam kesulitan, mereka tetap bersama, bukan menjauh.”
“Dalam memilih teman saya tidak hanya melihat kesamaan hobi atau obrolan yang nyambung. Saya lebih mencari mereka yang punya komitmen kuat terhadap agama, yang berakhlak mulia, serta yang mampu memberi energi positif dan motivasi dalam menapaki jalan kebaikan. Karena sejatinya, teman yang baik bukan hanya menyenangkan, tapi juga mendidik,” bebernya.
Teman yang seperti ini bukan hanya mendampingi secara lahir, tapi juga menguatkan secara batin. Mereka menjadi penyemangat dalam ibadah. Ketika semangat mulai menurun, teman yang baik akan mengingatkan dengan lembut, mengajak dalam kebaikan, atau membagikan hikmah dari ilmu yang mereka pelajari. Mereka adalah cermin, pengingat, dan bahkan pelindung kita dari futur.
Lingkungan pertemanan pun menjadi sangat berpengaruh. “Saya percaya bahwa lingkungan yang kita pilih akan mencetak kebiasaan dalam diri kita. Jika pertemanan kita dipenuhi dengan orang-orang yang senantiasa menjaga nilai-nilai Islam, maka kita pun terdorong untuk ikut memperbaiki diri.
Sebaliknya, lingkungan yang jauh dari nilai-nilai kebaikan bisa saja menggerus iman secara perlahan.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Namun, membangun dan menjaga pertemanan yang sehat dan Islami bukan tanpa tantangan. Salah satu hal tersulit adalah menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial dan spiritual. Ada kalanya perbedaan pendapat, konflik kecil, atau ujian ego menguji hubungan. Tapi saya percaya, selama ada komunikasi yang baik, niat yang lurus, dan kesabaran, maka pertemanan seperti ini bisa tetap tumbuh dalam keberkahan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa, “Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (HR. Bukhari).
“Saya yakin, pertemanan yang dibangun atas dasar iman dan kecintaan kepada Allah akan langgeng tidak hanya di dunia, tapi juga menjadi sebab pertemuan kembali di akhirat. Karena itulah, saya ingin terus mencari dan menjaga sahabat-sahabat yang bukan hanya menyenangkan hati, tapi juga menuntun langkah menuju surge,” tutupnya
Wulan, Ibu Rumah Tangga

Sebagai seorang muslimah, Wulan meyakini bahwa memilih teman bukanlah perkara sepele. Teman memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan mengarahkan langkah hidup, termasuk dalam urusan agama. “Memilih teman itu sangat penting, apalagi memilih teman yang baik, karena teman yang baik bisa selalu mengajak kita melakukan apa pun yang baik,” ujarnya.
Islam memang sangat menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang sehat. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud).
Teman yang saleh bukan hanya menemani di dunia, tetapi juga menjadi penolong dalam kebaikan yang mengarah pada ridha Allah. Dalam kehidupan sehari-harinya, Wulan berusaha menerapkan nilai-nilai ini dengan selektif dalam memilih teman.
Bagi Wulan, kriteria utama dalam memilih teman adalah mereka yang bisa mengingatkan dalam kebaikan, menjaga ibadah, dan memiliki akhlak yang baik. “Kalau kita berteman dengan yang malas beribadah atau melalaikan ibadah, secara tidak langsung dan tanpa kita sadari kita akan ikut terbawa,” ungkapnya.
Peran teman memang sangat penting dalam menjaga semangat ibadah dan akhlak. Teman bisa menjadi penyemangat untuk bangun di sepertiga malam, mengajak hadir ke majelis ilmu, atau sekadar saling mengingatkan saat iman mulai turun.
Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahf ayat 28: “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”.
Wulan pun meyakini bahwa karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertemanannya. “Lingkungan pertemanan itu penting untuk kehidupan sehari-hari,” katanya. Dalam lingkungan yang baik, seseorang lebih mudah tumbuh dalam nilai-nilai kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat menyeret seseorang pada kebiasaan yang jauh dari nilai Islam.
Namun, menjaga pertemanan yang sehat dan Islami bukan tanpa tantangan. Tantangan terbesar menurut Wulan adalah bagaimana agar tidak ikut terbawa arus pertemanan yang buruk. Di sinilah diperlukan keteguhan hati dan prinsip. Sebab, seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim), yang menunjukkan bahwa kedekatan dengan seseorang bisa membawa pengaruh langsung, entah itu kebaikan atau keburukan.
Sebagai muslimah, penting bagi kita untuk menjadikan pertemanan sebagai sarana menuju surga, bukan sebaliknya. Maka, mari kita berhati-hati dalam memilih siapa yang akan kita izinkan berjalan bersama kita di jalan kehidupan ini. (Resty Rizky Lestari)













Discussion about this post