• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Healtech Hidup Sehat

Mengenal Perilaku Kekanakan atau Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa

by Avesiar
17 Mei 2025 | 23:31 WIB
in Hidup Sehat
Reading Time: 6 mins read
A A
Mengenal Perilaku Kekanakan atau Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa

Ilustrasi. Foto: Freepik

Avesiar – Jakarta

Orang-orang dewasa yang masih memiliki sikap yang cenderung kekanak-kanakan (childish) mungkin sering Anda temui, atau bisa jadi Anda mengalaminya sendiri. Kondisi tersebut harus dipahami terlebih dahulu penyebabnya.

Dilansir laman Alodokter, disebutkan bahwa Sindrom Peter Pan merupakan kondisi di mana orang dewasa tidak bersikap layaknya orang seusianya.

Sindrom ini lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, serta bisa memengaruhi hubungan sosial serta profesionalnya karena sering melepas tanggung jawab. Oleh karena itu, penanganan diperlukan agar perilaku tersebut tidak mengganggu pekerjaan.

Proses pendewasaan memang tidaklah mudah. Menjadi dewasa berarti tanggung jawab pun juga ikut bertambah. Hal tersebut bisa membuat beberapa orang tidak ingin menjadi dewasa. Perasaan inilah yang memicu terjadinya sindrom Peter Pan.

Sindrom perilaku kekanakan sebenarnya bukanlah gangguan kesehatan mental, melainkan kumpulan perilaku dari orang yang tidak bisa menjadi dewasa. Namun, perilaku-perilaku itu bisa merugikan orang terdekatnya. Tidak hanya ingin lepas dari tanggung jawab, penderita sindrom Peter Pan juga memiliki sifat narsistik.

Penyebab Sindrom Peter Pan

Mengenai penyebab pasti sindrom Peter Pan belum diketahui. Tetapi pola asuh memegang peranan penting dalam terjadinya sindrom tersebut. Pola asuh dapat memengaruhi sikap dan keterampilan anak ketika mereka dewasa nanti. Masalah ekonomi juga bisa memicu seseorang mengalami sindrom Peter Pan.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya sindrom Peter Pan:

1. Pola asuh orang tua yang protektif

Terlalu membebaskan anak memang tidak baik, tetapi terlalu protekti dan mengekang anak juga sebaiknya dihindari.

Pola asuh permisif bisa membuat anak menjadi narsistik dan menghindari tanggung jawab, sedangkan pola asuh protektif dapat mengakibatkan anak takut dengan dunia orang dewasa. Anak akan menganggap bahwa menjadi orang dewasa hanya akan mendapatkan kesulitan.

Pola asuh protektif mengajarkan anak untuk hanya fokus menikmati masa kanak-kanaknya tanpa mengembangkan keterampilan apa pun. Orang tua yang protektif juga tidak memberikan kebebasan, bahkan terlalu mengontrol dan mengarahkan apa saja kegiatan yang harus dilakukan anak.

Akibatnya, anak menjadi takut untuk mengambil keputusan sendiri jika tidak mendapat arahan atau bimbingan, tidak memiliki percaya diri, sering merasa cemas, bahkan tidak tahu apa yang mereka inginkan. Kondisi ini bisa terbawa sampai anak menjadi dewasa, sehingga mengalami sindrom Peter Pan.

2. Pola asuh orang tua yang permisif

Orang tua yang terlalu permisif, atau dalam artian terlalu memberikan kebebasan pada anak, dapat mengakibatkan sindrom Peter Pan. Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak apa-apa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa adanya batasan.

Orang tua yang selalu bertanggung jawab menyelesaikan dan mengurus segala kesalahan anak, dengan alasan melindungi anak, juga bisa menjadi pemicu sindrom Peter Pan.

Pola asuh yang satu ini membuat anak tidak pernah belajar dari kesalahannya, sehingga menjadi pribadi yang narsistik, suka memberontak dan menentang, serta tidak bisa menghargai orang lain.

3. Masalah ekonomi

Sindrom Peter Pan juga bisa terjadi saat seseorang beranjak dewasa. Salah satu pemicunya bisa disebabkan oleh masalah finansial. Kondisi ini lebih memengaruhi anak-anak muda ketika mulai memasuki dunia kerja.

Hal-hal seperti upah yang rendah hingga minimnya jenjang karir dapat membuat seseorang kehilangan motivasi dan semangat untuk mengejar masa depan. Apalagi jika ada banyak tekanan yang dapat menambah kecemasan seseorang terhadap masalah finansial, contohnya inflasi, tagihan, atau cicilan.

Ia pun berpikir bahwa menjadi orang dewasa memiliki banyak tanggung jawab dan beban finansial demi memperoleh kehidupan yang layak. Kondisi tersebut yang akhirnya memicu perilaku sindrom Peter Pan.

Ciri-Ciri Sindrom Peter Pan

Penderita sindrom Peter Pan seringkali kesulitan untuk berkomitmen dan bertanggung jawab, termasuk dalam pekerjaan maupun hubungan. Perilaku tersebut akhirnya bisa memengaruhi orang-orang terdekatnya.

Sifat kekanak-kanakan memang secara alami ada di dalam diri setiap orang. Namun, jika sifat dan perilaku ini sudah membuat seseorang tidak bisa menjalani kehidupannya, baik dalam dunia kerja maupun relasi dengan sesama, kondisi ini harus diatasi.

Berbeda dengan sifat kekanakan pada umumya, penderita sindrom Peter Pan cenderung memiliki beberapa perilaku berikut ini dalam dunia kerja atau sosial:

•             Menyalahkan orang lain atas kegagalannya

•             Mendahulukan keinginan pribadi dan tidak mementingkan orang lain

•             Takut menerima kritikan

•             Sering terlambat menyelesaikan pekerjaan

•             Sering meninggalkan pekerjaan ketika merasa bosan, diberi tanggung jawab, atau stres

•             Tidak punya ambisi dan motivasi untuk melakukan pekerjaan

•             Tidak ingin mengembangkan keterampilan di bidang tertentu

•             Emosi yang tidak terkontrol ketika menghadapi situasi tertentu

•             Tidak ingin terlibat dan tidak bisa diandalkan

•             Tidak terlibat dalam pengambilan keputusan

•             Terlalu bergantung dengan orang lain

•             Mengabaikan pekerjaan dan tanggung jawab

•             Tidak memiliki tujuan atau perencanaan jangka panjang

•             Membelanjakan uang dengan tidak bijaksana dan memiliki masalah dengan keuangan pribadi

•             Menghindar dari konflik yang ada dan tidak mencari solusi untuk menyelesaikannya

Ada beberapa kasus salah satunya seperti terlambat menyelesaikan pekerjaan atau tidak memiliki rencana jangka panjang, mungkin bisa disebabkan karena seseorang memiliki impiannya sendiri. Tidak ada salahnya memiliki tujuan dan mengejar mimpi, asalkan dilakukan dengan cara yang sehat.

Jika hanya berfokus pada satu hal saja dan ternyata ambisi ini sampai menghalangi kesuksesan di bidang yang lain, sudah saatnya untuk mempertimbangkan pilihan atau tujuan masa depan yang lebih realistis. Mengejar mimpi dan tujuan tanpa melakukan upaya yang bijaksana untuk mencapainya bisa menjadi tanda dari sindrom Peter Pan.

Mengatasi Sindrom Peter Pan

Karena perilaku ini dapat berdampak ke orang di sekitarnya, tentu saja sindrom Peter Pan harus diatasi. Apabila Anda mengenal orang terdekat atau pasangan yang memiliki perilaku atau ciri-ciri menyerupai sindrom Peter Pan seperti yang telah disebutkan, cobalah komunikasikan dengan baik.

Sampaikan apa yang Anda rasakan terhadap perilaku yang dilakukan pasangan, lalu ajaklah ia ke psikolog untuk mendapatkan pertolongan yang sesuai.

Menjadi orang dewasa memang akan dihadapkan dengan tanggung jawab yang berat. Namun, jika ternyata Anda merasa kewalahan dan mengalami ciri-ciri yang mirip dengan sindrom Peter Pan, bahkan hingga mengganggu hubungan dengan orang di sekitar, jangan takut untuk mencari bantuan dari psikolog. (adm)

Tags: Perilaku KekanakanSindrom Peter Pan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Museum Ini Diam-diam Menyelenggarakan Hari Kemerdekaan Israel yang Menjajah Palestina Sejak Nakba 1948

Next Post

Penjelasan Soal Beriman Kepada Qada dan Qadar serta Bagaimana Mereka Menjalankannya

Mungkin Anda Juga Suka :

Adab-adab dan Sunnah Minum yang Baik Bagi Kesehatan Menurut Islam

Adab-adab dan Sunnah Minum yang Baik Bagi Kesehatan Menurut Islam

16 Juni 2026

...

Proses Penuaan Mempengaruhi Kerja Pencernaan, Cara Mengimbanginya Agar Tetap Optimal

Proses Penuaan Mempengaruhi Kerja Pencernaan, Cara Mengimbanginya Agar Tetap Optimal

8 Juni 2026

...

Menua dengan Baik, Ada 7 Tanda Menurut Para Ahli Geriatri

Menua dengan Baik, Ada 7 Tanda Menurut Para Ahli Geriatri

7 Juni 2026

...

Kalori yang Terbakar Jika Berjalan Kaki Selama 30 Menit

Kalori yang Terbakar Jika Berjalan Kaki Selama 30 Menit

27 Mei 2026

...

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

21 Mei 2026

...

Load More
Next Post
Penjelasan Soal Beriman Kepada Qada dan Qadar serta Bagaimana Mereka Menjalankannya

Penjelasan Soal Beriman Kepada Qada dan Qadar serta Bagaimana Mereka Menjalankannya

Memahami Soal Menuntut Ilmu Tak Kenal Usia, Inilah yang Dilakukan Para Wanita Lansia

Memahami Soal Menuntut Ilmu Tak Kenal Usia, Inilah yang Dilakukan Para Wanita Lansia

Discussion about this post

TERKINI

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme, Perpres Nomor 111 Tahun 2025 Disahkan

6 Juli 2026

Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei Dihadiri Jutaan Orang dan Teriakan “Matilah Amerika dan Israel”

5 Juli 2026

Daftar Kebiasaan Kecil yang Membantu Jalani Hidup Lebih Bahagia dan Sehat, Nomor 8 Cukup Menantang

4 Juli 2026

Warga Nahdliyin Diminta Gelar Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar Ke-35 NU

4 Juli 2026

Aplikasikan 11 Tips Keuangan di Masa yang Tidak Menentu

3 Juli 2026

Perilaku LGBT Tidak Normal dan Ilegal, Ketum MUI Merespons Menteri HAM Pigai

2 Juli 2026

Kembali Rampas Tanah Palestina, Pemukim Israel Ilegal Bangun Pos Pemukiman Ilegal di Khan al-Ahmar

2 Juli 2026

Tiga Tanda Kucing Sedang Mengalami Tekanan Emosional yang Parah, Menurut Para Ahli

1 Juli 2026

Para Jemaah Haji Asal Aceh yang Terlilit Utang Akibat Banjir Menerima Bantuan Saat Kepulangan

1 Juli 2026

Porak-porandanya Venezuela, Lebih dari 58.000 Bangunan Rusak dan Hancur Menurut Penilaian Awal NASA

30 Juni 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video