Penyelenggaraan acara untuk apa yang disebut ‘Hari Kemerdekaan’ Israel, yang bertepatan dengan Nakba Palestina, yang dihadiri oleh beberapa politisi dan tokoh sayap kanan hingga ekstrem kanan, di British Museum London, Mendapat kecaman luas.
Energy Embargo for Palestine, organisasi yang berbasis di Inggris, menyebutkan rincian acara tersebut sengaja dirahasiakan. Sumber dari dalam memberi tahu kelompok tersebut bahwa staf dan pengunjung umum diberi tahu bahwa sebuah “acara perusahaan besar” akan diadakan sebagai gantinya.
Disebutkan bahwa acara itu dihadiri pemimpin Konservatif Inggris Kemi Badenoch, Duta Besar Israel untuk Inggris Tzipi Hotovely, pemimpin Partai Reformasi Nigel Farage, dan komedian Jimmy Carr.
Postingan media sosial tentang acara tersebut muncul pada hari Rabu, sehari setelah acara tersebut berlangsung.
Sejumlah demonstran pro-Palestina dikurung di jalan samping oleh Polisi Metropolitan, di luar museum. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “British Museum, putuskan hubungan dengan genosida Israel” dan “Penjahat perang keluar dari lembaga publik”.
Energy Embargo for Palestine mengatakan kepada The New Arab bahwa mereka berunjuk rasa di luar museum karena mereka “percaya bahwa tidak masuk akal bagi lembaga publik untuk secara diam-diam menyelenggarakan acara propaganda untuk kedutaan Israel dalam rangka merayakan ‘Hari Kemerdekaan Israel’ ketika lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari tanah mereka, dan sementara Israel terus melakukan genosida brutal di Gaza”.
“Bagi kami, fakta bahwa acara ini harus diselenggarakan secara rahasia menunjukkan kekuatan gerakan solidaritas Palestina di Inggris. Lebih dari 70 persen masyarakat Inggris menginginkan genosida di Gaza diakhiri, dan mayoritas masyarakat Inggris memiliki pandangan yang tidak baik terhadap Israel.” “Kami telah mengungkap wajah asli British Museum, yang tampil sebagai lembaga progresif, tetapi telah membuka pintunya bagi kaum rasis, Neo-Nazi, dan transfobia, dan mendapat keuntungan dari menyewakan tempat itu kepada mereka,” terang Energy Embargo for Palestine.
Di media sosial, penulis Noah Angell juga mengkritik British Museum, menyebut acara itu sebagai perayaan “kekerasan kolonial yang mendasar selama genosida aktif yang dibantu Inggris”, merujuk pada ekspor militer Inggris yang terus berlanjut ke Israel meskipun ada seruan untuk embargo senjata.
“Demi semua yang baik, jauhi tempat ini. Boikot BM,” Angell memposting di X.
Peserta lainnya termasuk wakil pemimpin Partai Reformasi Richard Tice, presenter dari penyiar sayap kanan GB News, dan Maria Eagle, menteri Pengadaan Pertahanan dan Industri Inggris, yang berbicara di acara tersebut tentang persekutuan Inggris dengan Israel dan “haknya untuk membela diri”.
Disebutkan The New Arab, mereka menghubungi British Museum dan Kedutaan Besar Israel di London untuk memberikan komentar, tetapi tidak mendapat tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Peristiwa itu terjadi hanya dua hari sebelum warga Palestina di seluruh wilayah pendudukan dan diaspora memperingati ulang tahun ke-77 Nakba, atau “malapetaka”, ketika milisi Zionis melakukan kampanye pembersihan etnis dan pemindahan paksa terhadap sedikitnya 750.000 warga Palestina pada tahun 1948 untuk mendirikan Negara Israel. (ard)













Discussion about this post