Avesiar – Jakarta
Menjelang hari lahirnya yang ke-50 tahun pada Sabtu, 26 Juli 2025, Majelis Ulama Indonesia menggelar berbagai kegiatan sejak pekan sebelumnya. Dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia, Rabu 923/7/2025), kegiatan yang dan akan dilaksanakan antara lain; tasyakur bakti sosial, ziarah, layanan sosial, hingga program makan bergizi untuk santri dan siswa madrasah.
Untuk agenda ziarah, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat sekaligus Panitia Milad ke-50, KH Rofiqul Umam Ahmad, menyebut kegiatan dimulai dengan ziarah ke makam para mantan Ketua Umum, Sekjen, dan Sekum MUI dari masa ke masa yang telah wafat, ke makam para pendiri ormas Islam seperti ke makam pendiri Nahdlatul Ulama Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari di Jombang, termasuk makam pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh penting Sarekat Islam seperti HOS Cokroaminoto.
“Insya Allah pada Kamis mendatang, kami juga akan berziarah ke makam Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, di Jombang,” ungkapnya dikutip dari laman MUI.
Tidak hanya itu, program lainnya dalam Milad Emas tersebut yaitu; pernikahan massal bagi 40 pasangan warga yang selama ini menikah tanpa buku nikah, pengobatan gratis untuk masyarakat di sekitar Wisma Kodimul Ummah, Matraman, dan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, serta khitanan massal yang bekerja sama dengan RS Sari Asih Ciputat.
Sedangkan dalam waktu dekat, kegiatan lainnya berupa pencanangan program Pekan Makan Bergizi untuk santri dan siswa madrasah yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (24/7) di Sekolah Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan di Ponpes Assiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat (25/7).
Kedua kegiatan tersebut rencananya akan dihadiri masing-masing oleh Ketua Wantim MUI KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar.
Disebutkan juga bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dikabarkan akan menghadiri puncak Milad ke-50 MUI pada Sabtu malam di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Terkait kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, Kiai Rofiq menjelaskan bahwa pihak panitia sudah mendapat kabar adanya rencana kehadiran Presiden.
“Informasinya beliau akan hadir, kami tentu sangat berharap kabar baik ini bertahan hingga hari-H. Tapi memang sampai saat ini kami masih menunggu konfirmasi resmi dari Istana,” jelasnya.
Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan 4 catatan penting di momen Milad Emas ke-50 Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.
“Sebagai bagian dari rumah besar umat Islam di Indonesia, PBNU memiliki beberapa masukan dan catatan yang sifatnya konstruktif terhadap MUI, apalagi di momentum usia ke-50 ini yang semestinya menjadi titik refleksi dan konsolidasi bersama,” ujar Kiai Zulfa Mustofa dikutip dari laman MUI, Rabu (23/7/2025).
Pertama, PBNU mendorong agar MUI semakin memperkuat posisinya sebagai payung umat yang inklusif, bukan hanya representatif kelompok-kelompok tertentu.
Menurut PBNU, dalam beberapa waktu terakhir, ada kesan bahwa MUI kadang terlalu dekat dengan afiliasi-afiliasi ideologis tertentu yang justru berpotensi menggerus semangat ukhuwah Islamiyah. “PBNU berharap MUI bisa kembali menegaskan dirinya sebagai lembaga yang betul-betul milik seluruh umat, bukan sebagian golongan,” sambungnya.
Kedua, dalam hal fatwa, PBNU menyarankan agar MUI lebih berhati-hati dan bijaksana, mengedepankan ijtihad jama’i (kolektif) yang matang dan tidak tergesa-gesa.
PBNU menegaskan bahwa fatwa MUI memiliki dampak yang besar di masyarakat. Untuk itu, PBNU mengingatkan, jika tidak disertai sensitivitas sosial, bisa menimbulkan polemik atau bahkan perpecahan. “PBNU menginginkan fatwa-fatwa MUI bersifat membimbing, bukan menghakimi,” tegasnya.
Sebagai masukan ketiga; dari segi kelembagaan, PBNU menilai penting bagi MUI untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam hal-hal strategis seperti sertifikasi halal, pembinaan dai, hingga rekomendasi terhadap organisasi tertentu.
PBNU menegaskan bahwa proses-proses tersebut harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun etis.
Dan terakhir, PBNU mengajak MUI untuk lebih aktif dalam merespons isu-isu keumatan kontemporer secara progresif, termasuk isu lingkungan, keadilan sosial, ekonomi syariah yang berpihak kepada masyarakat kecil, serta tantangan digitalisasi. (adm)













Discussion about this post