Avesiar – Jakarta
Persetujuan atas pengajuan rencana Netanyahu agar militer Israel menduduki kembali seluruh wilayah kantong tersebut, yang 75 persennya telah berada di bawah pendudukan Israel oleh kabinet keamanan Israel, mendapat peringatan dari ketua Partai Shas yang ultra-Ortodoks, Aryeh Deri, dikutip dari TRT World, Jum’at (8/8/2025).
Ia mengatakan bahwa memperpanjang perang akan menimbulkan biaya politik dan membahayakan nyawa para sandera, merespons rapat kabinet yang dimulai pada hari Kamis, dengan sebuah keputusan diumumkan pada Jumat pagi.
Deri, seorang menteri tanpa portofolio tersebut, meminta para menteri untuk mempertimbangkan penilaian militer, dengan mengatakan bahwa rencana Netanyahu berisiko menimbulkan “kerusakan politik yang berkelanjutan” dan dapat menempatkan para tawanan pada risiko yang lebih besar, lapor KAN.
Tidak hanya Deri, Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir juga menyampaikan sebuah peringatan. Menurut laporan tersebut, rencana tersebut menyerukan pasukan pendudukan Israel untuk maju ke wilayah yang belum pernah mereka invasi sebelumnya, termasuk apa yang digambarkan sebagai “kamp pelatihan Hamas” di Gaza tengah dan Kota Gaza itu sendiri.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah tekanan yang semakin besar dari dalam dan luar negeri untuk mencapai kesepakatan guna menyelamatkan para tawanan yang tersisa yang ditahan oleh kelompok-kelompok perlawanan Palestina di Gaza dan menarik kembali wilayah yang dilanda genosida tersebut dari ambang krisis kelaparan.
Netanyahu mempresentasikan rencana bertahap untuk merebut kendali Gaza selama pertemuan berisiko tinggi tersebut, lapor media lokal.
Siaran publik KAN, mengutip sumber resmi yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Netanyahu mengusulkan apa yang digambarkan sebagai strategi “ringan” dan “bertahap” dalam salah satu pertemuan paling sensitif sejak genosida Gaza dimulai.
Zamir kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana apa pun yang melibatkan pendudukan kembali penuh atas Gaza.
Ia menyebutkan risiko-risiko utama, termasuk cedera pada sandera, kelelahan pasukan dan cadangan Israel, serta kerusakan pada legitimasi internasional Israel.
Menjelang pertemuan tersebut, Netanyahu berbicara di udara di AS, di mana ia mengatakan kepada Fox News bahwa pemerintah bermaksud untuk mengambil kendali penuh atas Gaza.
Saat pertemuan dimulai, ratusan orang berunjuk rasa di dekat kantor perdana menteri di Yerusalem Barat, di mana mereka menuntut kesepakatan untuk membebaskan para sandera.
Sebelumnya pada hari Kamis, keluarga para sandera berlayar dari pelabuhan Ashkelon [Asqalan dalam bahasa Arab] untuk mendekati Gaza yang terkepung. (ard)













Discussion about this post