• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Kisah Nabi Musa Alaihissalam, Melawan Kedzoliman Fir’aun dengan Perintah dan Pertolongan Allah

by Avesiar
8 Agustus 2025 | 22:07 WIB
in True Story
Reading Time: 40 mins read
A A
Kisah Nabi Musa Alaihissalam, Melawan Kedzoliman Fir’aun dengan Perintah dan Pertolongan Allah

Ilustrasi. Gambar: via kabiantour.com

Avesiar – Jakarta

Nabi Musa Alaihissalam adalah seorang bayi yang dilahirkan dikalangan Bani Isra’il yang  pada ketika itu dikuasai oleh Raja Fir’aun yang bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya’qub adalah beribukan Yukabad.

Setelah  meningkat dewasa Nabi Musa telah beristerikan dengan puteri Nabi Syu’aib yaitu  Shafura. Dalam perjalanan hidup Nabi Musa untuk menegakkan Islam dalam penyebaran  risalah yang telah diutuskan oleh Allah kepadanya ia telah diketemukan beberapa  orang nabi di antaranya ialah bapak mertuanya Nabi Syu’aib, Nabi Harun dan Nabi  Khidhir. Di sini juga diceritakan tentang perlibatan beberapa orang nabi yang  lain di antaranya Nabi Somu’il serta Nabi Daud

Catatan :

Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang Syu’aib, mertua Nabi Musa. Sebagian besar berpendapat bahwa ia adalah Nabi Syu’aib Alaihissalam. yang diutuskan sebagai rasul  kepada kaum Madyan, sedang yang lain berpendapat bahwa ia adalah orang lain  yaitu yang dianggap adalah satu kebetulan namanya Syu’aib juga. Wallahu A’lam  bisshawab

Kelahiran  Musa Dan Pengasuhnya

Raja Fir’aun yang  memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa, adalah seorang raja yang zalim,  kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ia memerintah negaranya dengan kekerasan,  penindasan dan melakukan sesuatu dengan sewenang-wenangnya. Rakyatnya hidup  dalam ketakutan dan rasa tidak aman tentang jiwa dan harta benda mereka, terutama Bani Isra’il yang menjadi hamba kekejaman, kezaliman dan bertindak sewenang-wenangnya dari raja dan orang-orangnya.

Mereka merasa tidak tenteram  dan selalu dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah mereka sendiri.  Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan dengan seorang hamba raja  dan berdebar hati mereka karena ketakutan bila kedengaran suara pegawai-pegawai  kerajaan lalu di sekitar rumah mereka, apalagi bunyi kasut mereka sudah terdengar di  depan pintu.

Bacaan Terkait :

Gelar Ulul Azmi yang Disandang 5 Nabi Beserta Mukjizatnya

Load More

Raja Fir’aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas  itu, bergelimpangan dalam kenikmatan dan kesenangan duniawi yang tiada taranya,  bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Pd  suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan oleh seorang ahli nujum kerajaan  yang dengan tiba-tiba dtg menghadap raja dan memberitahu bahwa menurut  firasatnya falaknya, seorang bayi lelaki akan dilahirkan dari kalangan Bani  Isra’il yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan bahkan akan  membinasakannya.

Raja Fir’aun segera mengeluarkan perintah agar semua  bayi lelaki yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh dan agar  diadakan pengusutan yang teliti sehingga tiada seorang pun dari bayi lelaki,  tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu. Maka dilaksanakanlah perintah  raja oleh para pengawal dan tenteranya. Setiap rumah dimasuki dan diselidiki dan  setiap perempuan hamil menjadi perhatian mereka pada saat melahirkan  bayinya.

Raja Fir’aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang  kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota kerajaannya, bahwa wilayah  kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang pun dari bayi laki-laki yang  masih hidup. Ia tidak mengetahui bahwa kehendak Allah tidak dpt dibendung dan  bahwa takdirnya bila sudah difirman “Kun” pasti akan wujud dan menjadi kenyataan  “Fayakun”. Tidak sesuatu kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan bagaimana  hebatnya dapat menghalangi atau mengagalkannya.

Raja Fir’aun sesekali  tidak terlintas dalam fikirannya yang kejam dan zalim itu bahwa kerajaannya yang  megah, menurut apa yang telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan  oleh seorang bayi yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri  akan diwarisi kelak oleh umat Bani Isra’il yang dimusuhi, dihina, ditindas dan  disekat kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah laksana bunga mawar yang tumbuh di  antara duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing dari  tengah kegelapan yang mencekam.

Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi  bin Ya’qub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti dtgnya  seorang bidan yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi dari dalam  kandungannya itu.

Bidan dtg dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama  sembilan bulan dalam keadaan selamat, segar dan sihat afiat. Dengan lahirnya  bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar biasa dirasai oleh setiap  perempuan yang melahirkan namun setelah diketahui oleh Yukabad bahwa bayinya  adalah lelaki maka ia merasa takut kembali.

Ia merasa sedih dan khuatir bahwa  bayinya yang sgt disayangi itu akan dibunuh oleh orang-orang Fir’aun. Ia  mengharapkan agar bidan itu merahasiakan kelahiran bayi itu dari sesiapa pun.  Bidan yang merasa simpati terhadap bayi yang lucu dan bagus itu serta merasa  betapa sedih hati seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan  memberi kesanggupan dan berjanji akan merahasiakan kelahiran bayi  itu.

Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak merasa tenang dan  selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap keselamatan bayinya.  Allah memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya di dalam sebuah peti  yang tertutup rapat, kemudian membiarkan peti yang berisi bayinya itu terapung  di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih dan cemas ke atas keselamatan  bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan bayi itu kepadanya bahkan akan  mengutuskannya sebagai salah seorang rasul.

Dengan bertawakkal kepada  Allah dan kepercayaan penuh terhadap jaminan Illahi, mak dilepaskannya peti bayi  oleh Yukabad, setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung  dipermukaan air sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi  dan mengikuti peti rahasia itu agar diketahui di mana ia berlabuh dan ditangan  siapa akan jatuh peti yang mengandungi erti yang sgt besar bagi perjalanan  sejarah umat manusia.

Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika melihat dari  jauh bahwa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya dan dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri Fir’aun.

Yukabad yang  segera diberitahu oleh anak perempuannya tentang nasib peti itu, menjadi  kosonglah hatinya karena sedih dan cepat serta hampir saja membuka rahasia peti  itu, andai kata Allah tidak meneguhkan hatinya dan menguatkan hanya kepada  jaminan Allah yang telah diberikan kepadanya.

Raja Fir’aun ketika  diberitahu oleh Asiyah, isterinya, tentang bayi laki-laki yang ditemui di dalam  peti yang terapung di atas permukaan sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu seraya berkata kepada isterinya: “Aku kuatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan  membinasakan kerajaan kami yang besar ini.”

Akan tetapi isteri Fir’aun yang sudah  terlanjur menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis itu, berkata kepada suaminya: “Janganlah bayi yang tidak berdosa ini dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami. Hatiku sangat tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan kesayanganmu”.

Demikianlah jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi terlaksananya takdir  itu. Dan selamatlah nyawa putera Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk  menjadi rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang  sudah sesat.

Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu oleh keluarga  Fir’aun, berarti air dan pohon {Mu=air , Sa=pohon} sesuai dengan tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke istana beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi setiap inang yang mencoba dan memberi  air susunya ditolak oleh bayi yang enggan menyedot dari setiap ASI yang  diletakkan ke bibirnya.

Dalam keadaan isteri Fir’aun lagi bingung memikirkan  bayi pungutnya yang enggan menetek dari sekian banyak inang yang didatangkan ke  istana, datanglah kakak Musa menawarkan seorang inang lain yang mungkin diterima  oleh bayi itu.

Atas pertanyaan keluarga Fir’aun, kalau-kalau ia mengenal  keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa: “Aku tidak mengenal siapakah keluarga  dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin menunjukkan satu keluarga yang baik dan selalu  rajin mengasuh anak, kalau-kalau bayi itu dapat menerima air susu ibu keluarga  itu”.

Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir’aun dan seketika itu  jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka begitu bibir sang  bayi menyentuh tetek ibunya, disedotlah air susu ibu kandungnya itu dengan sangat  lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menyusui dengan imbalan upah yang besar. Maka dengan demikian terlaksanalah  janji Allah kepada Yukabad bahwa ia akan menerima kembali puteranya  itu.

Setelah selesai masa meneteknya, dikembalikan Musa oleh ibunya ke  istana, di mana ia di asuh, dibesar dan dididik sebagaimana anak-anak raja yang  lain. Ia mengenderai kenderaan Fir’aun dan berpakaian sesuai dengan cara-cara  Fir’aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai Musa bin  Fir’aun.

Kisah di atas tercantum di dalam Al Qur’an dari ayat 4 – 13 dalam surah  “Al-Qashash” sebagai berikut :

“4.~ Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka  bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari  mereka, menyembelih anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan  mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

5.~ Dan  Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu  dan hendak menjadi mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi  (bumi).

6.~ Dan Kami akan teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami  perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya apa yang selalu mereka  kuatirkan dari mereka itu.

7.~ Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “susukanlah  dia, dan apabila kamu kuatir terhadapnya, maka jatuhkan dia ke dalam sungai  (Nil). Dan janganlah kamu kuatir dan janganlah pula bersedih hati, karena  sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah  seorang) dari para rasul.

8.~ Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan  Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

9.~ Dan berkatalah  isteri Fir’aun: “Ia (Musa) penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu  membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi  anak,” sedang mereka tiada menyadari.

10.~ Dan menjadi kekosongan hati ibu Musa,  seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya  (kepada janji Allah).

11.~ Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang  perempuan: “Ikutilah dia”. Maka kelihatan olehnya Musa dari jauh, sedang mereka  tidak mengetahuinya.

12.~ Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada  perempuan-perempuan yang mau menyusukannya sebelum itu, maka berkatalah saudara  Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepada kamu keluarga yang akan  memeliharakannya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”

13.~ Maka Kami  kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan  supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi manusia kebanyakan tidak mengetahuinya.” { Al-Qashash : 4 ~ 13 }

Musa keluar dari Mesir

Sejak ia dikembali ke  istana oleh ibunya setelah disusui, Musa hidup sebagai salah seorang dari keluarga  kerajaan hingga mencapai usia dewasanya, di mana ia memperoleh asuhan dan  pendidikan sesuai dengan tradisi istana. Allah mengkaruniakannya hikmah dan pengetahuan sebagai persiapan tugas kenabian dan risalah yang diwahyukan  kepadanya. Di samping kesempurnaan dan kekuatan rohani, ia dikaruniai oleh Allah kesempurnaan tubuh dan kekuatan jasmani.

Musa mengetahui dan sadar bahwa ia hanya seorang anak pungut di istana dan tidak setitik darah Fir’aun pun mengalir di dalam tubuhnya dan bahwa ia adalah keturunan Bani Isra’il yang ditindas dan  diperlakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Fir’aun. Karenanya ia berjanji kepada dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi pelindung bagi golongan yang lemah yang menjadi sasaran kezaliman dan keganasan para  penguasa.

Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada orang-orang  yang lemah dan teraniaya, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan ia  terpaksa meninggalkan istana dan keluar dari Mesir.

Peristiwa itu terjadi  ketika Musa sedang berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengah hari di mana  keadaan kota sunyi sepi ketika penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua  berkelahi seorang dari golongan Bani Isra’il bernama Samiri dan seorang lagi  dari kaum Fir’aun bernama Fa’tun. Musa yang mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lebih  besar itu, segera melontarkan pukulan kepada Fatun yang seketika  itu jatuh dan mati.

Musa terkejut  melihat Fatun, orang Fir’aun itu mati karena pukulan yang tidak disengajakan  dan tidak akan berniat membunuhnya. Ia merasa berdosa dan beristighfar kepada  Allah memohon ampun atas perbuatannya yang tidak sengaja, telah melayang nyawa salah seorang dari hamba-hamba-Nya.

Peristiwa matinya Fatun menjadi pembicaraan ramai dan menarik para penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti orang-orang  Isra’illah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar pelakunya diberi  hukuman yang berat , bila ia tertangkap.

Anggota dan pasukan keamanan  negara di hantarkan ke seluruh pelusuk kota mencari jejak orang yang telah  membunuh Fatun, yang sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Musa shj. akan  tetapi, walaupun tidak orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa  cemas dan takut dan berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya  itu bila sampai tercium oleh pihak penguasa.

Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup berhati-hati menghindari kemungkinan terbongkarnya rahasia  pembunuhan yang ia lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam  suatu perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang  dicari.

Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan Fatun,  juga dalam keadaan berkelahi untuk kali keduanya dengan salah seorang dari kaum Fir’aun. Melihat Musa berteriaklah Samiri meminta pertolongannya. Musa  menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya berkata menegur Samiri: ”  Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah sesat.”

Samiri menyangkal bahwa  Musa akan membunuhnya ketika ia mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata: “Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh seorang  kemarin? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri  ini dan bukan orang yang membuat kedamaian”.

Kata-kata Samiri itu  segera tertangkap orang-orang Fir’aun, yang dengan cepat memberitahukannya  kepada para penguasa yang memang sedang mencari jejaknya. Maka berundinglah para  pembesar dan penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan  membunuhnya sebagai balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum  Fir’aun.

Selagi orang-orang Fir’aun mengatur rencana penangkapan Musa, seorang lelaki salah satu dari sahabatnya datang dari penghujung kota memberitahukan kepadanya dan menasihati agar segera meninggalkan Mesir, karena  para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnya apabila ia ditangkap.  lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan Mesir, sebelum pasukan kerajaan  sempat menutup serta menyekat pintu-pintu gerbangnya.

Kisah ini terdapat di dalam al Qur’an surah “Al-Qashshas” ayat 14 – 21 :

“14.~ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikannya hikmah dan  pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang  berbuat baik.

15.~ Dan Musa masuk ke kota {Memphis} ketika penduduknya sedang  tidur, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang lelaki sedang berkelahi, yang  seorangnya dari golongannya (Bani Isra’il) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum  Fir’aun). Maka orang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk  mengalahkan orang dari musuhnya, lalu Musa memukulnya dan matilah musuhnya itu.  Musa berkata; “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah  musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

16.~ Musa berdoa: “Ya Tuhanku,  sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku”.  Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha  Penyayang.

17.~ Musa berkata : “Ya Tuhanku demi nikmat Engkau anugerahkan  kepadaku, aku sesekali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang  berdosa”.

18.~ Karena itu jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu dengan  kuatir (akibat perbuatannya) maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongannya  kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya:  “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat, yang nyata (kesesatannya).

19.~  Maka tatkala Musa hendak memegang dengan kuat orang yang menjadi musuh keduanya,  berkata (seorang dari mereka): “Hai Musa apakah engkau bermaksud hendak  membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak  bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri  (ini), dan tiadalah kamu bermaksud menjadi salah seorang dari orang yang  mengadakan perdamaian”.

20.~ Dan datanglah seorang laki-laki dari hujung kota  bergegas-gegas, seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang  berunding tentangmu, untuk membunuhmu oleh itu keluarlah {dari kota ini}.  Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.

21.~ Maka  keluarlah Musa dari kota ini dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir.  Dia berdoa: “Ya Tuhanku selamatkanlah dari orang-orang yang zalim itu.” {  Al-Qashash : 14 ~ 21 }

Musa bertemu Jodoh di kota  Madyan

Dengan berdoa kepada  Allah: “Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu daya orang-orang yang  zalim” keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir seorang diri, tiada pembantu selain  inayahnya Allah tiada kawan selain cahaya Allah dan tiada bekal kecuali bekal  iman dan takwa kepada Allah. Penghibur satu-satunya bagi hatinya yang sedih  karena meninggalkan tanahi airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah  dari buruan kaum fir’aun yang ganas dan kejam itu.

Setelah menjalani  perjalanan selama lapan hari lapan malam dengan berkaki ayam {tidak berkasut}  sampai terkupas kedua kulit tapak kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu  kota Nabi Syu’aib yang terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di  selatan Palestina.

Nabi Musa beristirehat di bawah sebuah pokok yang rindang  bagi menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan yang jauh, berdiam seorang  diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas anggota istana kerajaan yang  menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi dan  kepada siapa ia harus bertamu, di tempat di mana ia tidak mengenal dan dikenal  orang, tiada sahabat dan saudara.

Dalam keadaan demikian terlihatlah olehnya  sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah sumber air bagi  memberi minum ternakannya masing-masing, sedang tidak jauh dari tempat sumber  air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk memberi minuman  kepada ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah selesai dengan  tugasnya.

Musa merasa kasihan melihat kepada dua orang gadis itu yang  sedang menanti lalu dihampirinya dan ditanya : “Gerangan apakah yang kamu tunggu  di sini?”

Kedua gadis itu menjawab: “Kami hendak mengambil air dan memberi minum  ternakan kami namun kami tidak dapat berdesak dengan lelaki yang masih berada di  situ. Kami menunggu sehingga mereka selesai memberi minum ternakan mereka. Kami  harus lakukan sendiri pekerjaan ini karena ayah kami sudah lanjut usianya dan  tidak dapat berdiri, jangan lagi datang ke mari”.

Lalu tanpa mengucapkan sepatah  kata dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa dan sejurus  kemudian dikembalikannya kepada mereka setelah terisi air penuh sedang sekeliling  sumber air itu masih padat di keliling para pengembala.

Setibanya kedua  gadis itu di rumah berceritalah keduanya kepada ayah mereka tentang pengalamannya  dengan Nabi Musa yang karena pertolongannya yangbtidak diminta itu mereka dapat  lebih cepat kembali ke rumah drp biasa. Ayah kedua gadis yang bernama Syu’aib  itu tertarik dengan cerita kedua puterinya. Ia ingin berkenalan dengan orang  yang baik hati itu yang telah memberi pertolongan tanpa diminta kepada kedua  puterinya dan sekaligus menytakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh salah  seorang dari puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan mengundangnya datang ke  rumah.

Dengan malu-malu pergilah puteri Syu’aib menemui Musa yang masih  berada di bawah pohon yang masih melamun. Dalam keadaan letih dan lapar Musa  berdoa: “Ya Tuhanku aku sangat memerlukan belas kasihmu dan memerlukan kebaikan  sedikit brg makanan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Berkatalah gadis itu  kepada Musa memotong lamunannya: “Ayahku mengharapkan kedatanganmu ke rumah  untuk berkenalan dengan engkau serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu  menolong kami mendapatkan air bagi kami dan ternakan kami.”

Musa sebagai  perantau yang masih asing di negeri itu, tiada mengenal dan dikenali orang tanpa  berfikir panjang menerima undangan gadis itu dengan senang hati. Ia lalu  mengikuti gadis itu dari belakang menuju ke rumah ayahnya yang bersedia  menerimanya dengan penuh ramah-tamah, hormat dan mengucapkan  terimakasihnya.

Dalam berbincang-bincang dan bercakap-cakap dengan Syu’aib ayah kedua gadis yang sudah lanjut usianya itu Musa mengisahkan kepadanya  peristiwa yang terjadi pd dirinya di Mesri sehingga terpaksa ia melarikan diri  dan keluar meninggalkan tanah airnya bagi mengelakkan hukuman penyembelihan yang  telah direncanakan oleh kaum Fir’aun terhadap dirinya.

Berkata Syu’aib  setelah mendengar kisah tamunya: “Engkau telah lepas dari pengejaran dari  orang-orang yang zalim dan ganas itu adalah berkat rahmat Tuhan dan  pertolongan-Nya. Dan engkau sudah berada di sebuah tempat yang aman di rumah  kami ini, di mana engkau akan tinggallah dengan tenang dan tenteram selama engkau  suka.”

Dalam pergaulan sehari-hari selama ia tinggal di rumah Syu’aib sebagai  tamu yang dihormati dan disegani Musa telah dapat menawan hati keluarga tuan  rumah yang merasa kagum akan keberaniannya, kecerdasannya, kekuatan jasmaninya,  perilakunya yang lemah lembut, budi perkertinya yang halus serta akhlaknya yang  luhur. Hal mana telah menimbulkan idea di dalam hati salah seorang dari kedua  puteri Syu’aib untuk mempekerjakan Musa sebagai pembantu mereka.

Berkatalah  gadis itu kepada ayahnya: “wahai ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu kami  menguruskan urusan rumahtangga dan penternakan kami. Ia adalah seorang yang kuat  badannya, luhur budi perkertinya, baik hatinya dan boleh  dipercayai.”

Saranan gadis itu disepakati dan diterima baik oleh ayahnya  yang memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa tinggal bersamanya di rumah,  menunjukkan sikap bergaul yang manis perilaku yang hormat dan sopan serta tangan  yang ringan suka bekerja, suka menolong tanpa diminta.

Diajaklah Musa  berunding oleh Syu’aib dan berkatalah kepadanya:

“Wahai Musa! Tertarik oleh  sikapmu yang manis dan cara pergaulanmu yang sopan serta akhlak dan budi  perkertimu yang luhur, selama engkau berada di rumah ini kami dan mengingat akan  usiaku yang makin hari makin lanjut, maka aku ingin sekali mengambilmu sebagai  menantu, mengahwinkan engkau dengan salah seorang dari kedua gadisku ini. Jika  engkau dengan senang hati menerima tawaranku ini, maka sebagai maskahwinnya, aku  minta engkau bekerja sebagai pembantu kami selama lapan tahun menguruskan  penternakan kami dan soal-soal rumahtangga yang memerlukan tenagamu. Dan aku  sangat berterima kasih kepada mu bila engkau secara suka rela mahu menambah dua  tahun di atas lapan tahun yang menjadi syarat mutlak itu.”

Nabi Musa  sebagai buruan yang lari dari tanah tumpah darahnya dan berada di negeri orang  sebagai perantau, tada sanak saudara, tiada sahabat telah menerima tawaran  Syu’aib iut sebagai kurniaan dari Tuhan yang akan mengisi kekosongan hidupnya  selaku seorang bujang yang memerlukan teman hidup untuk menyekutunya menanggung  beban penghidupan dengan segala duka dan dukanya.

Ia segera tanpa berfikir panjang berkata kepada Syu’aib: “Aku merasa sangat bahagia, bahwa paman berkenan  menerimaku sebagai menantu, semuga aku tidak menghampakan harapan paman yang  telah berjasa kepada diriku sebagai tamu yang diterima dengan penuh hormat dan  ramah tamah, kemudian dijadikannya sebagai menantu, suami kepada anak puterinya.  Syarat kerja yang paman kemukakan sebagai maskawin, aku setujui dengan penuh  tanggungjawab dan dengan senang hati.”

Setelah masa lapan tahun bekerja  sebagai pembantu Syu’aib ditambah dengan suka rela dilampaui oleh Musa,  dikahwinkanlah ia dengan puterinya yang bernama Shafura. Dan sebagai hadiah  perkahwinan diberinyalah pasangan penganti baru itu oleh Syu’aib beberapa ekor  kambing untuk dijadikan modal pertama bagi hidupnya yang baru sebagai  suami-isteri.

Pemberian beberpa ekor kambing itu juga merupakan tanda terima kasih Syu’aib kepada Musa yang selama ini di bawah pengurusannya, penternakan Syu’aib  menjadi berkembang biak dengan cepatnya dan memberi hasil serta keuntungan yang  berlipat ganda.

Kisah ini diurai di dalam ayat 22 sampai ayat  28, surah “Al-Qashash” juz 20 :

“22.~ Dan tatkala ia menghadap ke negeri Madyan, ia  berdoa (lagi}: “Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki ke jalan yang benar.”

23.~ Dan  tatkala ia sampai di sumber air di negeri Madyan, ia menjumpai di sana  sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternakannya) dan ia menjumpai di  belakang orang ramai itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternaknya.  Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu  menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum  pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya) sedang ayah kami orang tua  yang telah lanjut umurnya.”

24.~ Maka Musa memberi minum ternakan itu (untuk  menolong) keduanya, kemudian kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: ” Ya  Tuhanku! Sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan  kepadaku.”

25.~ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang daripada kedua  wanita itu dengan malu-malu ia berkata: “Sesungguhnya bapaku memanggilmu agar ia  memberi pembalasan (kebaikanmu) memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala  Musa mendatangi ayah mereka (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai  dirinya). Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari  orang-orang yang zalim itu.”

26.~ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:  “Ya ayah, ambil ia sebagai orang yang bekerja (dengan kita). karena  sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (dengan kita)  ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

27.~ Berkatalah dia (Syu’aib): ”  Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua  anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu  cukupkan sepuluh tahun itu adalah dari kemauanmu, maka aku tidak mau memberati  kamu. Dan kamu insya Allah kelak akan mendapatiku termasuk orang-orang yang  baik.”

28.~ Dia berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu, mana saja dari  kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan  tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.”  (Al-Qashash : 22 – 28)

Nabi Musa Alahissalam pulang ke Mesir dan menerima  Wahyu

Sepuluh tahun lebih Musa  meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia melarikan diri dari buruan kaum  Fir’aun. Suatu waktu yang cukup lama bagi seseorang dpt bertahan menyimpan rasa  rindunya kepada tanah air, tempat tumpah darahnya , walaupun ia tidak pernah  merasakan kebahagiaan hidup di dalam tanah airnya sendiri.

Apa lagi seorang  seperti Musa yang mempunyai kenang-kenangan hidup yang seronok dan indah selama  ia berada di tanah airnya sendiri selaku seorang dari keluarga kerajaan yang  megah dan mewah, maka wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah tumpah darahnya  dan ingin pulang kembali setelah ia beristerikan Shafura, puteri  Syu’aib.

Bergegas-gegaslah Musa berserta isterinya mengemaskan barang dan  menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari orang tuanya dan bertolaklah menuju  ke selatan menghindari jalan umum supaya tidak diketahui oleh orang-orang  Fir’aun yang masih mencarinya.

Setibanya di “Thur Sina” tersesatlah Musa  kehilangan pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan  demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas lereng sebuah  bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata kepada isterinya: 

“Tinggallah kamu disini menantiku. Aku pergi melihat api yang menyala di atas  bukit itu dan segera aku kembali. Mudah-mudahan aku dapat membawa satu berita  kepadamu dari tempat api itu atau setidak-tidaknya membawa sesuluh api bagi  menghangatkan badanmu yang sedang menggigil kesejukan.”

Tatkala Musa  sampai ke tempat api itu terdengar oleh dia suara seruan kepadanya datang dari  sebatang pohon kayu di pinggir lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang  diberkahi Allah.

Suara seruan yang didengar oleh Musa itu ialah:

“Wahai Musa!  Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu  berada di lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah  apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah Allah tiada Tuhan  selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat akan  Aku.”

Itulah wahyu yang pertama yang diterima  langsung oleh Nabi Musa sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan  oleh Allah sebagai rasul dan nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam kesempatan  bercakap langsung dengan allah di atas bukit Thur Sina itu telah diberi bekal  oleh Allah yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap  kaum Fir’aun yang sombong dan zalim itu.

Bertanyalah Allah kepada Musa:  “Apakah itu yang engkau pegang dengan tangan kananmu hai Musa!” Suatu pertanyaan  yang mengadungi erti yang lebih dalam dari apa yang sepintas lalu dapat  ditangkap oleh Nabi Musa dengan jawapannya yang sederhana. “Ini adalah  tongkatku, aku bertelekan pdnya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan  kambingku. Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk  keperluan-keperluan lain yang penting bagiku.”

Maksud dan erti dari  pertanyaan Allah yang nampak sederhana itu baru dimegertikan dan diselami oleh  Musa setelah Allah memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas  tanah, lalu menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat  sehingga menjadikan Musa lari ketakutan. Allah berseru kepadanya: “Peganglah  ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan  asal.”

Maka begitu ular yang sedang merayap itu ditangkap dan dipegang oleh  Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia terima dari Syu’aib, mertuanya  ketika ia bertolak dari Madyan.

Sebagai mukjizat yang kedua, Allah  memerintahkan kepada Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata  setelah dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat  atau penyakit.

Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah “Thaahaa” ayat 9  sehingga 23 juz 16 sebagai berikut :~

“9.~ Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 10.~ Ketika itu  melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu {di sini}  sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit  daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.” 11.~  Mak ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: “Hai Musa, 12.~  Sesungguhnya Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu,  sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa. 13.~ Dan aku telah memilih  kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan {kepadamu}. 14.~ Sesungguhnya  Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan  dirikanlah solat untuk mengingati Aku. 15.~ Sesungguhnya hari kiamat itu akan  datang. Aku merahasiakan {waktunya} agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan  apa yang diusahakannya. 16.~ Maka sesekali janagnlah kamu dipalingkan  daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang  mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu menjadi binasa.” 17.~ Apakah itu  yang ditangan kananmu, hai Musa?” 18.~ Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku  bertelekan padanya dan aku memukul {daun} dengannya untuk kambingku dan bagiku  ada lagi keperluan yang lain padanya.” 19.~ Allah berfirman: “Lemparkanlah ia,  hai Musa!” 20.~ Lalu dilemparkanlah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi  seekor ular yang merayap dengan cepat. 21.~ Allah berfirman: “Peganglah ia dan  jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asalnya.” 22.~ Dan  kepitkanlah tanganmu di ketiakmu, nescaya ia keluar menjadi putih cemerlang  tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain {pula}. 23.~ untuk Kami perlihatkan  kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.” {Thaahaa  : 9 ~ 23 }

Musa diperintahkan berdakwah kepada  Fir’aun

Raja Fir’aun yang telah  berkuasa di Mesir telah lama menjalankan pemerintahan yang zalim, kejam dan  ganas. Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi  dan bangsa Isra’il yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana  penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.

Tindakan  sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan terutamanya ditujukan kepada  Bani Isra’il yang tidak diberinya kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka  dikenakan kerja paksa dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak  dikenakan terhadap penduduk bangsa Egypt, bangsa Fir’aun sendiri.

Selain  kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang ditimpakan oleh Fir’aun atas  rakyatnya, terutama kaum Bani Isra’il. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang  harus disembah dan dipuja. Dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya  ke jalan yang sesat tanpa pendoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah  mereka terjerumus ke lembah kemaksiatan dan kerusakan moral dan akhlak.

Maka  dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina itu diperintahkanlah  Musa oleh Allah untuk pergi ke Fir’aun sebagai Rasul-Nya, mengajakkan beriman  kepada Allah, menyedarkan dirinya bahwa ia adalah makhluk Allah sebagaimana  lain-lain rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi  tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah  Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.

Nabi Musa  dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah meninggalkan Madyan, selalu  dibayang oleh ketakutan kalau-kalua peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan  sepuluh tahun yang lalu itu, belum terlupakan dan masih belum hilang dari  ingatan para pembesar kerajaan Fir’aun.

Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahwa  mereka akan melakukan pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidak sengaja itu  dengan hukuman pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah  mereka. Ia hanya terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah  darahnya dengan memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibat  yang mungkin akan dihadapi.

Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan  selama perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan  pembalasan Fir’aun, Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya  :~

“Pergilah engkau ke Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, segala  bayangan itu dilempar jauh-jauh dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan  perintah Allah menghadapi Fir’aun apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya untuk  menenteramkan hatinya berucaplah Musa kepada Allah: “Aku telah membunuh seorang  drp mereka , maka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah  seorang pembantu dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk  menyertaiku dalam melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku  menghadapi orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah  {lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan  bermujadalah.”

Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka  digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi  menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Fir’aun  dengan diiringi firman Allah:

“Janganlah kamu berdua takut dan khuatir akan  disiksa oleh Fir’aun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku mendengar serta melihat  dan mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan Fir’aun. Berdakwahlah kamu  kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya  dan ajaklah ia beriman dan bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan  kecongkakannya kalau-kalau dengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua  ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan takut akan akibat kesombongan dan  kebonmgkakannya.”

Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam ayat 33 sehingga ayat 35  surah “Al-Qashash” dan ayat 42 sehingga ayat 47 surah “Thaha” sebagai berikut  :~

“33.~ Musa  berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seseorang manusia dari  golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku,

34.~ dan saudaraku Harun  dia lebih petah lidahnya drpku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu  untuk membenarkan {perkataan} ku sesungguhnya aku khuatir mereka akan  mendustakan aku.”

35.~ Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu  dan Kami berikan kepadamu kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat  mencapaimu {berangkat kami berdua} dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan  orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.” (Al-Qashash : 33 – 35)

“42.~ Pergilah kamu berserta saudara kamu dengan membawa ayat-ayat-Ku  dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.

43.~ Pergilah kamu berdua  kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melewati batas.

44.~ Maka berbicaralah  kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan  ingat atau takut”

45.~ Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami sesungguhnya  kami kuatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melewati batas 

46.~ Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua kuatir, sesungguhnya Aku berserta  kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

47.~ Maka datanglah kamu berdua  kepadanya {Fir’aun} dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan  Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra’il bersama kami dan janganlah kamu menyeksa  mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti {atas  kerasulan kami} dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang  mengikuti petunjuk.” (Thaha : 42 – 47)

Mujadalah (dialog) antara Musa dengan  Fir’aun

Diperolehi kesempatan oleh  Musa dan Harun, menemui raja Fir’aun yang menyatakan dirinya sebagai tuhan itu,  setelah menempuh beberapa rintangan yang lazim dilampaui oleh orang yang ingin  bertemu dengan raja pd waktu itu. Pertemuan Musa dan Harun dengan Fir’aun  dihadiri pula oleh beberapa anggota pemerintahan dan para  penasihatnya.

Bertanya Fir’aun kepada mereka berdua:: “Siapakah kamu berdua  ini?”

Musa menjawab: “Kami, Musa dan Harun adalah pesuruh Allah kepadamu agar  engkau membebaskan Bani Isra’il dari perhambaan dan penindasanmu dan menyerahkan  meeka kepada kami agar menyebah kepada Allah dengan leluasa dan menghindari  seksaanmu.”

Fir’aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya:

“Bukankah engkau adalah Musa yang telah kami mengasuhmu sejak masa bayimu dan  tinggal bersama kami dalam istana sampai mencapai usia remajamu, mendapat  pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai? Dan bukankah engkau  yang melakukan pembunuhan terhadap diriseorang drp golongan kami? Sudahkah  engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa kami kepada  kamu?”

Musa menjawab: “Bahwasanya engkau telah memeliharakan aku sejak masa  bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau banggakan. Karena jatuhnya aku  ke dalam tanganmu adalah akibat kekejaman dan kezalimanmu tatkala engkau  memerintah agar orang-orangmu menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir,  sehingga ibu terpaksa membiarkan aku terapung di permukaan sungai Nil di  dalam sebuah peti yang kemudian dipungut oleh isterimu dan selamatlah aku dari  penyembelihan yang engkau perintahkan.

Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu  akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang terselubung bagiku. Sebab dalam  perantauanku setelah aku melarikan diri dari negerimu, Allah mengurniakan aku  dengan hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan pesuruh-Nya.

Maka  dalam rangka tugasku sebagai Rasul datanglah aku kepadamu atas perintah Allah  untuk mengajak engkau dan kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan  penindasanmu terhadap Bani Isra’il.”

Fir’aun bertanya: “Siapakah Tuhan  yang engkau sebut-sebut itu, hai Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini selain aku  yang patut di sembah dan dipuja?”

Musa menjawab: “Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan  nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam.”

Tanya Fir’aun: “Siapakah  Tuhan seru sekali alam itu?”

Musa menjawab: “Ialah Tuhan langit dan bumi dan  segala apa yang ada antara langit dan bumi.”

Berkata Fir’aun kepada para  penasihatnya dan pembesar-pembesar kerajaan yang berada disekitarnya.  Sesungguhnya Rasul yang diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila  kemudia ia balik bertanya kepada Musa dan Harun: “Siapakah Tuhan kamu  berdua?”

Musa menjawab: “Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan  kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk  kepadanya.”

Fir’aun bertanya: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang  dahulu yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan malahan menyembah  berhala dan patung-patung?”

Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di  sisi Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan seksanya di atas mereka maka  itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan mereka kembali ke  jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan seksa mereka hingga hari kiamat,  maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum mengetahuinya. Allah  telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan seksanya adalah jalan yang  benar.”

Rif’aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa  yang diucapkan secara tegas dan berani merasa tersinggung kehormatannya sebagai  raja yang telah mempertuhankan dirinya lalu menujukan amarahnya dan berkata  kepada Musa secara mengancam: “Hai Musa! jika engkau mengakui tuhan selain aku,  maka pasti engkau akan kumasukkan ke dalam penjara.”

Musa menjawab: “Apakah  engkau akan memenjarakan aku walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda  yang membuktikan kebenaran dakwahku?”

Fir’aun menentang dengan berkata:  “Datanglah tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan  kebenaran kata-katamu jika engkau benar-benar tiak  berdusta.”

Dialog  {mujadalah} antara Musa dan Fir’aun sebagaimana dihuraikan di atas dpt dibaca  dalam surah “Asy-Syu’ara” ayat 18 hingga ayat 31 juz 19 sebagimana berikut  :~

“18.~ Fir’aun  berkata: “Bukankah kami telah mengasuhmu diantara {keluarga} kami diwaktu kamu  masih kanak-kanak dan kamu tinggal diantara {keluarga} kami beberapa tahun dari  umurmu.

19.~ dan kamu telah berbuat sesuatu perbuatan yang telah kamu lakukan  itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa.”

20.~  Berkata Musa: “Aku telah melakukannya sedang aku di waktu itu termasuk  orang-orang yang khilaf.

21.~ Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut  kepada kamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikan aku  salah seorang diantara rasul-rasul.

22.~ Budi yang kamu limpahkan kepada ku ini  adalah {disebabkan} perhambaan darimu terhadap Bani Isra’il.”

23.~ Fir’aun  bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

24.~ Musa menjawab: “Tuhan pencipta  langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu  sekalian {orang-orang} mempercayainya”.

25.~ Berkata Fir’aun kepada orang-orang  sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”.

26.~ Musa berkata: “Tuhan kamu  dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”

27.~ Fir’aun berkata:  “Sesungguhnya Rasulmu yang diutuskan kepada kamu sekalian benar-benar orang  gila”.

28.~ Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada  di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”.

29.~ Fir’aun  berkata: “Sungguh jika kamu menyenbah Tuhan selain aku benar-benar aku akan  menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”.

30.~ Musa berkata: “Dan apakah  kamu (akan melakukan itu) walaupun aku tunjukkan kepadamu sesuatu {keterangan}  yang nyata jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar.” (Asy-Syura : 18 ~  31)

Musa Memperlihatkan Dua Mukjizat Kepada  Fir’aun

Menjawab tentangan Fir’aun  yang menuntut bukti atas kebenarannya Musa dengan serta-merta meletakkan tongkat  mukjizatnya di atas yang segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata  menghala ke Fir’aun. Karena ketakutan melompat lari dari singgahsananya  melarikan diri seraya berseru kepada Musa: ” Hai Musa demi asuhanku kepadamu  selama delapan belas tahun panggillah kembali ularmu itu.” Kemudian dipeganglah  ular itu oleh Musa dan kembali menjadi tongkat biasa.

Berkata Fir’aun  kepada Musa setelah hilang dari rasa heran dan takutnya: “Adakah bukti yang  dapat engkau tunjukkan kepadaku?”

“Ya, lihatlah.” Musa menjawab serta  memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya. Kemudian tatkala tangannya  dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan mata Fir’aun  itu dan orang-orang yang sedang berada disekelilingnya.

Fir’aun sebagai raja  yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja  menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan  dun mukjizat. Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh  oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa  Musa dan Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai  Mesir dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.

Fir’aun  dianjurkan oleh penasihatnya yang dikepalai oleh Haman agar mematahkan sihir  Musa dan Harun itu dengan mengumpulkan ahli-ahli sihir yang terkenal dari  seluruh daerah kerajaan untuk bertanding melawan Musa dan Harun. Anjuran mana  disetujui oleh Fir’aun yang merasa itu adalah pikiran yang tepat dan jalan yang  terbaik untuk melumpuhkan kedua mukjizat Allah yang oleh mereka dianggapnya  sebagai sihir.

Anjuran itu lalu ditawarkan kepada Musa yang seketika tanpa  ragu-ragu sedikit pun menerima tentangan Fir’aun untuk beradu dan bertanding  melawan ahli-ahli sihir. Musa berkeyakinan penuh bahwa dengan perlindung Allah  ia akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu, pertandingan antara  perbuatan sihir yang diilham oleh syaitan melawan mukjizat yang dikurniakan oleh  Allah.

Pada suatu hari raya kerajaan telah bersetuju untuk mengadakan  hari pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah penduduk kota menuju ke tempat  yang telah ditentukan untuk menyaksikan perlumbaan kepandaian menyihir yang buat  pertama kalinya diadakan di kota Mesir.

Juga sudah berada di tempat ahli-ahli  sihhir yang terpandai yang telah dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajaan  masing-masing membawa tongkat , tali dan lain-lain alat sihirnya. mereka cukup  bersemangat dan akan berusaha sepenuh kepandaian mereka untuk memenangi  pertandingan. mereka telah memperolhi janji dari Fir’aun akan diberi hadiah dan  wang dalam jumlah yang besar bila berhasil mengalahkan Musa dengan mematahkan  daya sihirnya.

Setelah segala sesuatu selesai disiapkan dan masing-masing  pembesar negeri sudah mengambil tempatnya mengelilingi raja Fir’aun yang telah  duduk di atas kursi singgahsananya maka dinyatakanlah pertandingan dimulai.  Kemudian atas persetujuan Musa dipersilakan para lawannya beraksi lebih dahulu  mempertujukan ke pandai sihirnya.

Segeralah ahli-ahli sihir Fir’aun menujukan  aksinya melemparkan tongkat dan tali-temali mereka ke tengah-tengah lapangan . Musa  merasa takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali itu  seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak mebiarkan hamba  utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya orang-orang kafir itu. Allah  berfirman kepada Musa disaat ia merasa cemas itu: “Janganlah engkau merasa takut  dan cemas hai Musa! engkau adalah yang lebih unggul dan akan menang dalam  pertandingan ini. Lemparkanlah yang ada ditanganmu segera.”

Para  ahli-ahli sihir yang pandai dalam bidangnya itu tercengang ketika melihat ular  besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa dan menelan ular-ular dan segala apa  yang terbayangsebagai hasil tipu sihir mereka. mereka segera menyerah kalah bertunduk  dan bersujud {kepada Allah} dihadapan Musa seraya berkata:

“Itu bukanlah  perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu yang  digerakkan oleh kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan  Harun maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka dn  beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan saksikan dengan mata  kepala kami sendiri.”

Fir’aun raja yang congkak dan sombong yang menuntut  persembahan dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda  marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat menyerah kalah kepada  Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhannya dan kepada kenabiannya serta  menjadi pengikut-pengikutnya. Tindakan mereka itu dianggapnya sebagai  pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap ketuhanannya dan  merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta prestasinya. Ia berkata kepada  mereka:

“Adakah kamu berani beriman kepada Musa dan menyerah kepada keputusannya  sebelum aku izinkan kepada kamu?” Bukankah ini suatu persekongkolan drp kamu  terhadapku? Musa dpt mengalah kamu sebab ia mungkin guru dan pembesar yang telah  mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah mengatur bersama-samanya tindakan  yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini. Aku tidak akan tinggal diam  menghadapi tindakan khianatmu ini. Akanku potong tangan-tangan dan kaki-kakimu  serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal pohon kurma sebagai hukuman dan  balasan bagi tindakan khianatmu ini.”

Ancaman Fir’aun itu disambut mereka  dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Karena Allah telah membuka mata hati  mereka dengan cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata  kebathilan yang menyesatkan atau ancaman Fir’aun yang menakutkan. mereka  sebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan seni sihir dpt membedakan yang mana  satu sihir dan yang mana bukan.

Maka sekali mereka diyakinkan dengan mukjizat Nabi  Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah keyakinan itu akan dpt  digoyahkan oleh ancaman apa pun. Berkata mereka kepada Fir’aun menanggapi  ancamannya: “Kami telah memdpat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan  mengabaikan kenyataan itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu.

Kami akan  berjalan terus megikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai pesuruh oleh  yang benar. Maka terserah kepadamu untuk memutuskan apa yang engkau hendak  putuskan terhadap diri kami. Keputusan kamu hanya berlaku di dunia ini sedang  kami mengharapkan pahala Allah di akhirat yang kekal dan  abadi.”

Kisah di atas terdapat dalam surah “Asy-Syu’ara” ayat 32 sehingga ayat 51  juz 19 :

“32~ Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu  {menjadi ular}. 33~ Dan ia menarik tangannya {dr dalam saku bajunya} maka  tiba-tiba tangan itu menjadi putih {bersinar} bagi orang-orang yang melihatnya.  34~ Fir’aun berkata pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya:  “Sesungguhnya Musa itu benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, 35~ ia hendak  mengusir kamu dari negeri kamu sendiri dengan sihirnya maka karena itu apakah  yang kamu anjurkan?” 36~ mereka menjawab: “Tundalah {urusan} dia dan saudaranya dan  kirimlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan {ahli sihir}, 37~  nescaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu”. 38~  Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang  maklum, 39~ dan dikatakan kepada orang ramai: “Berkumpullah kamu sekalian, 40~  semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir, jika mereka adalah orang-orang yang  menang”. 41~ Maka tatkala ahli-ahli sihir dtg , mereka pun bertanya kepada Fir’aun:  “Apakah kami sungguh-sungguh mendpt upah yang besar jika kami adalah orang-orang  yang menang?” 42~ Fir’aun menjawab: “Ya, kalu demikian, sesungguhnya kamu  sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan {kepadaku}”. 43~  Berkatalah Musa kepada mereka: “Jatuhkalah apa yang kamu hendak jatuhkan”. 44~ Lalu  mereka menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka lalu berkata: ” Demi  kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami akan benar-benar akan menang”. 45~ kemudian  Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang  mereka ada-adakan itu. 46~ Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud  {kepada Allah}, 47~ mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam ,  48~ yaitu Tuhan Musa dan Harun”. 49~ Fir’aun berkata: “Apakah kamu sekalian  beriman kepada Musa sebelumaku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia  benar-benar pemimpinmu yang mengajar sihir kepadamu, maka kamu nanti pasti  benar-benar akan mengetahui {akibat perbuatanmu}, sesungguhnya aku akan memotong  tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya”. 50~  Mereka berkata: “Tidak ada kemudharatan {kepada kami}, sesungguhnya kami akan  kembali kepada Tuhan kami, 51~ sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan  kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama  sekali beriman.” (Asy-Syu’ara : 32 – 51)

Fir’aun Tetap Keras  Kepala dan Semakin Bingung

Nabi Musa yang telah  mengalahkan ahli-ahli sihir dengan kedua mukjizatnya makin meluas pengaruhnya,  sedan Fir’aun dengan kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan  kehormatannya menurun. ia khuatir jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan  mengancam keselamatan kerajaannya serta kekekalan mahkotanya.

Para penasihat dan  pembantu-pembantu terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa kecemasan dan  kekhuatirannya, tetapi mereka sebaliknya makin membakar dadanya dan makin menakut-nakutinya. mereka berkata kepadanya: “Apakah engkau akan terus membiarkan  Musa dan kaumnya bergerak secara bebas dan meracuni rakyat dengan macam-macam  kepercayaan dan ajaran-ajaran yang menyimpang dari apa yang telah kita warisi  dari nenek-moyang kita? Tidakkah engkau sadar bahwa rakyat kita makin lama makin  terpengaruh oleh hasutan-hasutan Musa. sehingga lama-kelamaan niscaya kita dan  tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya akan  hancur binasalah negara dan kerajaanmu yang megah ini.”

Fir’aun menjawab:  “Apa yang kamu huraikan itu sudah menjadi perhatiku sejak dikalahkannya  ahli-ahli sihir kita oleh Musa. Dan memang kalau kita membiarkan Musa terus  melebarkan sayapnya dan meluaskan pengaruhnya di kalangan pengikut-pengikutnya  yang makin lama makin bertambah jumlahnya, pasti pada akhirnya akan merusakkan  adab hidup masyarakat negara kita serta membawa kehancuran dan kebinasaan bagi  kerajaan kita yang megah ini. karenanya aku telah merancang akan bertindak  terhadap Bani Isra’il dengan membunuh setiap orang lelaki dan hanya wanita  sahaja akanku biarkan hidup.”

Rancangan jahat fir’aun diterapkan oleh  pegawai dan kaki tangan kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan macam-macam  tindakan kejam ditimpakan atas Bani Isra’il yang memang menurut anggapan  masyarakat, mereka itu adalah rakyat kelas kambing dalam kerajaan Fir’aun yang  zalim itu. Dengan makin meningkatnya kezaliman dan penindasan yang mereka terima  dari alat-alat kerajaan Fir’aun, datanglah Bani Isra’il kepada Nabi Musa,  mengharapkan pertolongan dan perlindungannya.

Nabi Musa tidak dpt berbuat byk  pada masa itu bagi Bani Isra’il yang tertindas dan teraniaya. Ia hanya  menenteramkan hati mereka, bahwa akan tiba saatnya kelak,di mana mereka akan  dibebaskan oleh Allah dari segala penderitaan yang mereka alami. Dianjurkan oleh  Nabi Musa agar mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah agar  Allah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya karena Allah telah menjanjikan  akan mewariskan bumi-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang soleh, sabar dan  bertakwa!

Fir’aun bertujuan melemahkan kedudukan Nabi Musa dengan  tindakan kejamnya terhadap Bani Isra’il yang merupakan kaumnya, bahkan tulang  belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah Nabi Musa tidak sedikit pun  terhambat oleh tindakan Fir’aun itu. Demikian pula tidak seorang pun drp  pengikut-pengikutnya yang terpengaruh dengan tindakan Fir’aun itu. Sehingga  tidak menjadi luntur iman dan keyakinan mereka yang sudah bulat terhadap risalah  Musa.

Karena sasaran yang dituju dengan tindakan kekejaman yang tidak  berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak dpt menerima dakwah Nabi Musa  dan para pengikutnya, yang dilhatnya bahkan semakin bersemangat menyiarkan  ajaran iman dan tauhid, maka Fir’aun tidak mempunyai pilihan selain harus  menyingkirkan orang yang menjadi pengikutnya, yaitu dengan membunuh Nabi  Musa.

Fir’aun memanggil para penasihat dan pembesar-pembesar kerajaannya  untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa. Di antara mereka yang di  undang itu terdapat seorang mukmin dari Keluarga Fir’aun yang merahasiakan  imannya.

Di tengah-tengah perdebatan dan perundingan yang berlangsung dalam  pertemuan yang diadakan oleh Fir’aun untuk membincangkan cara pembunuhan Nabi  Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan pembelaannya terhadap Nabi  Musa dan nasihat serta tuntunan bagi mereka yang hadir. Ia berkata:

“Apakah kamu  akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa, hanya berkata bahwa Allah  adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan kepercayaannya itu kepada kamu  bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia telah mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti  yang nyata untuk menyakinkan kamu akan kebenaran ajarannya. Jika andainya dia  seorang pendusta, maka dia sendirilah yang akan menanggung dosa akibat dustanya.  Namun jika ia adalah benar dalam kata-katanya, maka nescaya akan menimpa kepada  kamu bencana azab yang telah dijanjikan olehnya. Dan dalam keadaan yang demikian  siapakah yang akan menolong kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan  itu?”

Fir’aun memotong pidato orang mukmin itu dengan berkata:  “Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku tidak mengemukan  kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu  melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan  negara.”

Berucap orang mukmin dari keluarga Fir’aun itu melanjutkan:  “Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap berkeras kepala dan enggan menempuh  jalan yang benar yang dibawa oleh para nabi-nabi, bahwa kamu akan ditimpa azab  dan seksa yang membinasakan, sebagaimana telah dialami oleh kaum Nuh, kaum Aad,  kaum Tsamud dan umat-umat yang datang sesudah mereka. Apa yang telah dialami  oleh kaum-kaum itu adalah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka karena Allah  tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya”.

Mukmin itu  meneruskan nasihatnya:”Wahai kaumku! Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima  seksa dan azab Tuhan di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling  kebelakang, tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamu itu dari seksa  Allah. Hai kaum ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan bagimu dan mengajak  kamu ke jalan yang benar. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini hanya  merupakan kesenangan sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal  adalah di akhirat kelak.”

Orang mukmin dari keluarga Fir’aun itu tidak  dpt mengubah sikap Fir’aun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah berusaha  dengan menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan kata-katanya yang rapi,  lengkap dengan contoh-contoh dari sejarah umat-umat yang terdahulu yang telah  dibinasakan oleh Allah karena perbuatan dan pembangkangan mereka  sendiri.

Fir’aun dan pengikut-pengikutnya bahkan menganjurkan kepada orang  mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela Musa dan menyetujui  rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk melepaskan pendiriannya yang pro Musa  dan mengabungkan diri dalam barisan mereka menentang Musa dan segala ajarannya.  Ia diancam dengan dikenakan tindakan kekerasan bila ia tidak mahu mengubah sikap  pro kepada Musa secara suka rela.

Berkata orang mukmin itu menanggapi  anjuran Fir’aun:

“Wahai kaumku, sangat aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku  berseru kepada kamu untuk kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku  untuk berkufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang aku tidak  ketahui, sedang aku berseru kepadamu untuk beriman kepada Allah, Tuhan YAng Maha  Esa, Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun. Sudah pasti dan tidak dapat diragukan  lagi, bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak akan menolongku dari murka  dan seksa Allah di dunia mahupun di akhirat. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan  kembali kepada Allah yang akan memberi pahala syurga bagi orang-orang yang  soleh, bertakwa dan beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas  akan diberi ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku perhatikanlah nasihat dan  peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran kata-kataku ini kelak bila sudah  tidak berguna lagi orang menyesal atau merasa susah karena perbuatan yang telah  dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan nasibku kepada Allah. Dialah Yang  Maha Mengetahui dan Maha Melihat perbuatan dan kelakuan  hamba-hamba-Nya.”

Kisah di atas tercantum dalam surah  “Al-A’raaf” ayat 127 sehingga ayat 129 juz 9 dan surah “Al-Mukmin” ayat 28  sehingga ayat 33 dan ayat 38 sehingga ayat 45 juz 24 :

“127~ Berkata pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun {kepada Fir’aun}:  “Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakkan di negeri  ini {Mesir} dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab: “Akan  kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan  mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh ke atas mereka”. 128~ Musa berkata  kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah sesungguhnya  bumi {ini} kepunyaan Allah dipusakakannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari  hamba-hamba-Nya. Dan kesusahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.  129~ Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas {oleh Fir’aun} sebelum kamu datang  kepada kami dan sesudah kamu datang.” Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah  membinasakan musuh-musuh kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi{-Nya} maka  Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” { Al-A’raaf : 127 ~ 129 }

“28~  Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang  mneyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki  karena dia menyatakan “Tuhanku ialah Allah” padahal dia telah datang kepadamu  dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang  pendusta, maka dialah yang menanggung {dosa} dustanya itu dan jika dia seorang  yang benar, nescaya sebahagia {bencana} yang diancamkannya kepadamu akan  menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas  lagi pendusta. 29~ Hai kaumku utkmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di  muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu  menimpa kita?” Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa  yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu selain jalan yang  benar.” 30~ Dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku  khuatir kamu akan ditimpa {bencana} seperti peristiwa {kehancuran} golongan yang  bersekutu, 31~ {yakni} seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan orang-orang  yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman  terhadap hamba-hamba-Nya. 32~ HAi kaumku, sesungguhnya aku khuatir terhadapmu  akan seksaan hari panggil-memanggil. 33~ {yaitu} hari {ketika} kamu {lari}  berpaling kebelakang, tidak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu  dari {azab} Allah dan siapa yang disesatkan Allah nescaya tidak ada baginya  seorang pun yang akan memberi petunjuk.” { Al-Mukmin : 28 ~ 33 }

“38~  Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku ikutilah aku akan menunjukkan  kepadamu jalan yang benar. 39~ Hai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini  hanyalah kesenangan {sementara} dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang  kekal. 40~ Barabg siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas  melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa y

Wallahua’lam. (Dikutip dari Kisah 25 Nabi & Rasul)

Tags: FiraunKesombongan FiraunKisah Nabi MusaMembelah LautNabi MusaNabi Musa AlaihissalamNabi Musa AS
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menghemat Uang untuk Segala Kebutuhan di Rumah, Terutama untuk Kesehatan dan Anggaran yang Ngepas

Next Post

Ketua Partai di Israel Mengatakan Rencana Netanyahu Menduduki Kembali Kota Gaza Membahayakan Nyawa Para Sandera

Mungkin Anda Juga Suka :

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

...

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

28 Maret 2026

...

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

23 Maret 2026

...

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

30 Desember 2025

...

Load More
Next Post
Survei Membuktikan, 64 Persen Warga Amerika Menentang Rencana Pendudukan Trump di Gaza

Ketua Partai di Israel Mengatakan Rencana Netanyahu Menduduki Kembali Kota Gaza Membahayakan Nyawa Para Sandera

Kisah Nabi Harun Alaihissalam, Juru Bicara Nabi Musa yang Dianggap Lemah oleh Kaumnya

Kisah Nabi Harun Alaihissalam, Juru Bicara Nabi Musa yang Dianggap Lemah oleh Kaumnya

Discussion about this post

TERKINI

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026

Judi Online Makan Korban 200 Ribu Anak Indonesia, Termasuk 80 ribu Anak di Bawah 10 Tahun

16 Mei 2026

Man with Leaps, Guz Reza Syarief yang Kini Tidak Hanya Memotivasi Seni Memimpin, Tapi Juga Berdakwah

16 Mei 2026

Bahayanya Melanggar Hukum Haji, 19 Warga Indonesia Ditangkap Otoritas Saudi

15 Mei 2026

Kokohnya Arief ‘Wing’ Wiryawan Mantan Humas yang Banting Setir Jadi Dirut Properti, Hearty Leader

15 Mei 2026

Jangan Ketawa, Ini Singkatan-singkatan Pembelajaran Kelas Daring

14 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video