Avesiar – Jakarta
Artikel opini dari penulis ternama Sally Rooney, yang menyatakan dukungannya terhadap kelompok Palestine Action yang kini dilarang, dan mengatakan akan menggunakan royalti dari BBC untuk mendanai kelompok tersebut, menjadi berita utama setelah menulis, dikutip dari The New Arab, Senin (18/8/2025).
Penulis Normal People itu menerbitkan artikelnya di Irish Times, “Saya dengan senang hati akan menerbitkan pernyataan ini di surat kabar Inggris, tetapi itu sekarang illegal,” demikian ia menuliskan.
Tulisan Sally Rooney menyoroti bagaimana polisi Inggris awal bulan ini menangkap lebih dari 500 pengunjuk rasa damai di London karena menyatakan dukungannya terhadap Palestine Action.
Didirikan tahun 2020, Palestine Action melakukan protes aksi langsung terhadap senjata dan produsen senjata, terutama mereka yang mengirim peralatan ke Israel untuk digunakan melawan warga sipil Palestina.
Usai melarangnya sebagai organisasi teroris dengan kedudukan hukum yang sama dengan militan bersenjata seperti kelompok Negara Islam (ISIS) dan al-Qaeda, Pemerintah Inggris menuai kritik luas. Terlebih dengan adanya kebijakan bahwa menunjukkan dukungan apa pun kepada kelompok tersebut dapat dikenakan hukuman hingga 14 tahun penjara.
“Ketika warga negara kami ditangkap di bawah rezim otoriter di tempat lain, Negara dan layanan konsulernya cenderung bertindak, atau setidaknya berpura-pura bertindak, untuk membela hak asasi manusia pemegang paspor Irlandia. Kini, karena yurisdiksi yang dimaksud terletak di sebelah dan bahkan lebih dekat lagi, para pemimpin kami anehnya tampak enggan bertindak,” tulis Rooney.
Rooney kemudian mendesak pemerintah di Dublin untuk mengambil tindakan terkait pendanaan dan dukungan Inggris terhadap Israel dalam perangnya di Gaza.
“Palestine Action, yang dilarang berdasarkan hukum yang sama, bertanggung jawab atas nol kematian dan tidak pernah menganjurkan penggunaan kekerasan terhadap manusia mana pun. Lalu mengapa para pendukungnya ditangkap karena mengenakan kaus, sementara mural yang merayakan regu pembunuh sejati dibiarkan tidak tersentuh?” lanjutnya.
Novelis tersebut meminta polisi untuk menyelidiki para penjual dan toko yang menjual buku-bukunya jika mereka benar-benar yakin ia melakukan tindakan terorisme dengan mendukung Palestine Action.
“Dalam beberapa tahun terakhir, stasiun televisi pemerintah Inggris juga telah menayangkan dua adaptasi novel saya yang bagus, dan karena itu secara teratur membayar saya biaya residual,” tulisnya.
Ronney juga menegaskan bahwa ia berniat menggunakan hasil penjualan karyanya itu, serta platform publiknya secara umum, untuk terus mendukung Palestine Action dan aksi langsung melawan genosida dengan cara apa pun yang ia bisa.
Dengan sinis ia menyebut supermarket dan peritel Inggris seperti WH Smith sebagai “organisasi yang meragukan” karena menjual karyanya.
Wanita tersebut telah mengambil sikap tegas terhadap perang Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 61.800 warga Palestina, melukai lebih dari 100.000 lainnya, dan menghancurkan wilayah kantong tersebut.
Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ahli PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia sebagai genosida, perang tersebut juga telah menjerumuskan wilayah kantong tersebut ke dalam krisis kemanusiaan yang mendalam karena Israel terus membatasi bantuan secara ketat, yang sejauh ini telah menyebabkan lebih dari 200 orang meninggal karena kelaparan.
Sedangkan Keir Starmer dan pemerintahannya dianggap Ronney telah merampas “hak dan kebebasan dasar” warga negaranya untuk melindungi hubungan Inggris dengan Israel, yang menurutnya memiliki konsekuensi yang mendalam.
Dengan pelarangan Palestine Action bulan lalu, lanjutnya, berarti bahwa banyak seniman, pekerja kreatif, dan penulis tidak lagi dapat berbicara di depan umum dengan aman di Inggris. (ard)













Discussion about this post