Avesiar – Jakarta
Berdagang di zaman modern seperti saat ini transaksinya tidak hanya bisa dilakukan di toko yang berbentuk secara fisik dan bisa didatangi langsung oleh pembelinya, namun juga ke toko online yang menjadi bagian dari e-commerce.
Jika di toko fisik pembeli bisa secara langsung melihat, memegang, dan mengecek fisik barang tersebut, lain halnya dengan berbelanja di toko online. Hal ini menjadi ujian bagi para pedagang untuk berlaku jujur dan amanah terhadap produk atau barang yang ditawarkan sampai terjadi proses jual dan beli.
Namun, godaan berbuat curang demi keuntungan dan terjualnya produk juga semakin mudah. Hal itu bisa dengan memanipulasi harga, penipuan barang, sampai rekayasa ulasan demi terjualnya barang dagangan.
Perilaku yang demikian sangat bertentangan dengan syariat Islam yang menggunakan prinsip jujur dalam menjalankan aktivitas perdagangan. Maka, beruntunglah para pedagang yang menjaga syariat Islam dalam menjalankan penawaran serta jual-beli.
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, Ustadz Muhaimin Yasin seorang Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman, melalui tulisan khutbah Jum’at, menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira di dalam haditsnya mengenai hal tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bersumber dari Ibnu Sa’id:
“Dari Abu Sa‘id, dari Nabi Saw, beliau bersabda: ‘Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, orang-orang yang sangat benar (ash-shiddiqin), dan para syuhada (orang-orang yang mati syahid).” (HR. Tirmidzi)
Hadits tersebut, dituliskannya, menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah bukan sekadar akhlak dalam berdagang, tetapi jalan pintas menuju derajat tinggi di sisi Allah. Maka dalam praktiknya, pedagang yang jujur tidak hanya menahan diri dari kecurangan dan penipuan, tetapi juga menjalankan nilai-nilai iman, islam dan ihsan dalam muamalah sehari-hari.
Ia menuliskan bahwa kejujuran seorang pedagang mencerminkan kebersihan hati. Para ulama dalam menjelaskan makna hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut memaparkan, bahwa kedudukan pedagang yang jujur disejajarkan dengan para nabi, shiddiqin, dan syuhada, bukan karena status sosialnya, tetapi karena kesamaan sifat dan amalnya.
Syekh Hasan al-Fayumi dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib ‘alat Targib wat Tarhib (jilid 8, hal 211), dengan mengutip perkataan Ibnu ‘Athaillah dalam Lathaiful Minan, menjelaskan secara rinci:
“Dalam Lathaif al-Minan, Ibnu ‘Atha’illah berkata: ‘Dengan cara apakah seorang pedagang jujur akan dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada? Ia dikumpulkan bersama para nabi karena para nabi memiliki sifat menunaikan amanah dan memberi nasihat dengan tulus. Maka pedagang itu dikumpulkan bersama mereka karena kesamaan sifat. Ia juga dikumpulkan bersama para shiddiqin (orang-orang yang benar) karena mereka itu memiliki kesucian lahir dan batin, Sama halnya dengan pedagang yang jujur. Serta ia dikumpulkan bersama para syuhada karena para syuhada termasuk orang-orang saleh yang menjauhi yang haram dan mengambil yang halal. Maka pedagang jujur itu dikumpulkan bersama mereka karena kesamaan yang dimiliki.”
Pedagang di era digital, demi memperoleh keistimewaan itu kelak di akhirat, harus berlaku jujur kepada konsumen. Adapun langkah pertama yang harus dilakukan untuk menjadi pedagang jujur adalah menata niat dengan benar.
Berdagang bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan niat yang tulus, seorang pedagang akan berusaha menjual barang dengan mempromosikannya sesuai spesifikasi, tidak menipu pembeli, tidak memanipulasi harga, dan tidak menyembunyikan kekurangan produk.
Kemudian, menjaga amanah dalam setiap transaksi. Dunia digital memang memberi kemudahan, tetapi juga menuntut tanggung jawab moral yang besar. Jadilah pedagang yang dapat dipercaya, menepati janji, dan memberi pelayanan terbaik kepada pelanggan.
Karena dengan kejujuran tersebut, usaha akan tumbuh dengan berkah, kepercayaan akan terjaga, dan hati akan tenang. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tulisnya, pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada. Itu adalah sebuah kedudukan yang mulia bagi siapa pun yang menjadikan kejujuran sebagai jalan hidupnya. (put)













Discussion about this post