Avesiar – Jakarta
Pesawat nirawak (drone) Rusia menyerang kantor pusat badan intelijen Ukraina, SBU, yang menyebabkan kepulan asap hitam membubung ke udara di pusat kota Kyiv.
Dilansir The Guardian, Jum’at (4/9/2026), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan SBU untuk memberikan “tanggapan yang tepat dan nyata” atas serangan tersebut, sementara Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha menyebutnya sebagai “eskalasi besar”.
Tidak lama setelah serangan hari Jumat itu, jalan-jalan di sekitar markas besar SBU ditutup, dengan petugas bersenjata berpatroli di area tersebut.
Sejumlah ambulans dan kendaraan layanan darurat disiagakan di sekitar lokasi kejadian, yang terletak dekat dengan Katedral St. Sophia, sebuah situs warisan dunia UNESCO.
“Sayangnya, sebuah drone Rusia menghantam gedung pusat SBU di Jalan Volodymyrska, Kyiv, tepat di seberang Katedral St. Sophia. Drone tersebut diarahkan langsung ke kantor Kepala Dinas Keamanan di gedung itu,” ujar Zelenskyy dalam sebuah unggahan di Telegram.
Serangan drone dan rudal Rusia menghujani Kyiv terus-menerus selama lebih dari sepekan. Pada hari Jumat, Zelenskyy menyerukan agar Rusia menghentikan serangan selama kunjungan negosiator AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke kota tersebut pada hari Minggu, serta menyatakan bahwa Ukraina akan menjamin keamanan wilayah udara Rusia selama mereka berada di Moskow.
Ukraina sedang menghadapi kekurangan kritis rudal pencegat Patriot buatan AS yang mampu menembak jatuh ancaman yang datang. Banyak serangan Rusia baru-baru ini menggunakan model drone bertenaga jet yang mampu mencapai kecepatan 250 mil per jam (sekitar 400 km/jam), sehingga sulit untuk dicegat.
Jarang terjadi gedung pemerintah di pusat kota Kyiv terkena serangan Rusia, terutama pada siang hari bolong. Ledakan akibat hantaman pada gedung SBU tersebut terdengar hingga beberapa blok jauhnya.
Insiden ini kemungkinan akan memperparah eskalasi serangan yang saling dilancarkan oleh Moskow dan Kyiv dalam beberapa pekan terakhir, dalam upaya untuk menghancurkan ketahanan dan moral satu sama lain. Hal ini juga akan memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Kyiv dalam mempertahankan infrastruktur vitalnya dari serangan Rusia.
Serangan tersebut terjadi dua hari sebelum utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, dijadwalkan mengunjungi Kyiv untuk pertama kalinya. (ard)











Discussion about this post