• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional & Opini Budaya

Prof Abdul Hadi: Melihat Indonesia dari Perspektif Sastra dan Kebudayaan

by Ave Rosa
15 Oktober 2021 | 15:16 WIB
in Budaya
Reading Time: 3 mins read
A A
Prof Abdul Hadi: Melihat Indonesia dari Perspektif Sastra dan Kebudayaan

Guru Besar Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Prof. Abdul Hadi WM. Foto istimewa

Avesiar – Jakarta

Guru Besar Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Profesor Abdul Hadi WM mengatakan bahwa pembelahan sosial saat ini akibat hanya membicarakan politik kekuasaan terlalu sering, maka yang terancam adalah persatuan kita.

Hal tersebut diulasnya salam diskusi Forum Ekonomi Politik Didik J. Rachbini melalui Twitter Space, Rabu (13/10/2021), dalam siaran pers yang dikirim ke avesiar.com.

Menurut Prof Abdul Hadi, kebudayaan itu sesuatu yang luas, tidak hanya berbicara aspek kesenian dan adat istiadat. Pencapaian-pencapaian Iptek, filsafat, dan teknologi adalah juga rangkuman dari kebudayaan.

Ia juga menyatakan bahwa kebhinekaan adalah merupakan realitas, tidak terancam. Tetapi karena kebhinnekaan tidak dijaga, maka persatuan kita terancam karena pengingatnya melulu politik, bukan kebudayaan. 

“Jadi sekarang masalahnya adalah bagaimana memberdayakan kembali kebudayaan agar kuat dan memperkuat persatuan. Seperti Jepang kebudayaannya kuat dan menjadikan negara itu kuat,” ujarnya.

Abdul Hadi juga mengingatkan bahwa dalam sejarah di Indonesia tidak ada perang antar agama. “Sejarah kita adalah sejarah kita, bukan Eropa. Tidak ada rasisme di Indonesia. Rasisme itu ada dalam kebudayaan barat. Di mana ephos yunani, yang dibela itu bangsa. Pemujaan berlebihan terhadap nasionalisme,” paparnya.

Abdul Hadi juga menyatakan bahwa saat ini kita lupa untuk mengembangkan kebudayaan dalam alam pikiran masyarakat Indonesia.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

“Akibatnya segala tingkah laku masyarakat, cara berpikir, cara pandang, tidak lagi mencerminkan kebudayaan unggul. Hal itu merupakan tanggungjawab sosial dari Pemerintah dan masyarakat sipil secara umum,” tambah Abdul Hadi.

Menyoroti sistem ekonomi yang hanya mengambil satu sudut kapitalisme saja dan dijalankan di semua pelosok Indonesia. Padahal, lanjutnya, kehidupan sosial ekonomi pedesaan kita sejak dulu tidak mengenal sistem ekonomi liberal.

Ia juga mengungkapkan penyeragaman sistem perundang-undangan, yang juga dipaksakan dan tidak mengikuti alur budaya masyarakat lokal.

“Suku Dayak dan Madura baku hantam di Kalimantan dulu antara lain disebabkan oleh masalah lahan yang diatur lewat peraturan perundangan soal pertanahan yang tidak mengikuti alur kearifan budaya lokal,” tambahnya.  

Abdul Hadi juga mengkritik bahwa tata laksana pemerintahan desa yang harus mengikuti pola pemerintahan di Jawa yakni bupati, lurah, dan camat.

“Padahal di Minangkabau yang dikenal hanya sistem Nagari, begitu pula contohnya di Aceh (Mukim dan lain-lain), dan Papua yang berbeda dalam memandang tata budaya pemerintahan wilayah desa masing-masing. Jadi tidak bisa diseragamkan,“ jelasnya.

Terkait bahasa dan kebudayaan Abdul Hadi mengeluhkan bahwa sejak zaman penjajahan Belanda bahasa lokal kita “dibunuh” dan kemampuan berbahasa kita hanya diperkenalkan dengan huruf latin.

“Padahal budaya dan bahasa kita sejak lama hanya mengenal empat bahasa. Bahasa Arab, Melayu, Arab Melayu, dan Bahasa Jawa, pada kesusasteraan dan peninggalan warisan kerajaan-kerajaan di Jawa sebagai lingua franka atau bahasa pengantar,” bebernya.

Ia juga menyarankan agar kita belajar dari kebudayaan orang Jepang yang amat memperhatikan perkembangan Bahasa. Ia mencontohkan Restorasi Meiji di Jepang justru memulai dengan memuliakan kebudayaan dan perkembangan bahasa Jepang.

Sehingga karena kuatnya mempertahankan kebudayaan dan bahasa, maka masyarakat di Jepang dari atas hingga ke kalangan bawah, mempunyai cara pandang yang sama dalam menghadapi arus perubahan atau modernisasi.

“Berbeda dengan bangsa kita yang gampang sekali larut atau berubah kepribadian gara-gara arus kebudayaan modern barat yang masuk dan tidak ada filter penyaring kebudayaan. Terpokok melalui pertahanan bahasa unggul,” kata Abdul Hadi.

Ia juga mengingatkan agar kita tidak meremehkan perihal pertahanan budaya melalui bahasa, juga kesusastraan. Substansi bahasa ada dalam Sastra. Kalau Bahasa bisa dipertahankan dengan baik, tambahnya, maka kemampuan berbahasa anak bangsa bisa digunakan dengan baik untuk berekspresi dan berpikir. Karya-karya sastra unggul jaman dulu lahir dari kemampuan berbahasa yang tinggi dari para pendahulu kita.

Abdul Hadi menjelaskan bahwa intipati kebudayaan itu selalu kreatif dan ada 3 intipati yakni kecerdasan, kebajikan, dan kreatifitas.

“Selama itu dipelihara oleh bangsa kita, maka kita akan bisa bersaing menjadi bangsa besar. Bijaksana dengan mengambil pelajaran dari masa lampau, pelajari sastra dan apa yang berkembang di masyarakat,” tuturnya.

Ia mengungkap bahwa kisah Mahabharata dikenal secara luas dalam masyarakat Indonesia, tidak hanya suku Jawa. Tapi Mahabharata memang menjadi modal budaya Jawa.

“Hal itu justru harus dijadikan pijakan moral, sebagaimana bangsa Jepang juga mempertahankan dan mengembangkan Kebudayaan dan bahasanya,” pungkasnya. (sen)

Tags: Indonesia dari Perspektif Sastra dan KebudayaanProfesor Abdul Hadisastrauniversitas paramadina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Apa Itu Thibbun Nabawi, Pengertian dan Macamnya

Next Post

Ekonomi Berangsur Pulih, Jakarta Jadi Bidikan Investor Singapura

Mungkin Anda Juga Suka :

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026

...

Wartawan Diajak LPPOM MUI Praktik Memeriksa Produk Terkontaminasi Babi

Wartawan Diajak LPPOM MUI Praktik Memeriksa Produk Terkontaminasi Babi

20 Januari 2024

...

Liburan Nataru ke TMII, Menparekraf Sandiaga Pastikan Kondusif dan Banyak Atraksinya

Liburan Nataru ke TMII, Menparekraf Sandiaga Pastikan Kondusif dan Banyak Atraksinya

28 Desember 2023

...

Naik Motor Ekspedisi Promosikan Indonesia dari Cape Town Afsel ke Nordkapp di Norwegia

Naik Motor Ekspedisi Promosikan Indonesia dari Cape Town Afsel ke Nordkapp di Norwegia

8 Desember 2023

...

Mushaf Al Qur’an Terjemahan Bahasa Melayu Ambon Telah Terbit

Mushaf Al Qur’an Terjemahan Bahasa Melayu Ambon Telah Terbit

1 Desember 2023

...

Load More
Next Post
Ekonomi Berangsur Pulih, Jakarta Jadi Bidikan Investor Singapura

Ekonomi Berangsur Pulih, Jakarta Jadi Bidikan Investor Singapura

Testing Masif Tahap Ketiga di Sekolah Tangerang Nihil Kasus

Testing Masif Tahap Ketiga di Sekolah Tangerang Nihil Kasus

Discussion about this post

TERKINI

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026

Sumber Senior Iran Sebut AS Setuju Cairkan Aset Iran Demi Pembicaraan di Islamabad, Seorang Pejabat AS Membantah

11 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video