Avesiar.com
Ikhtiar itu harus. Usaha itu wajib. Kerja itu punya fadhilah tinggi. Tetapi kerja ngoyo mati-matian itu sebenarnya gak ada referensinya di Al Qur’an. Kalimat Al Qur’an pada taqwa saja mas’tatho’tum, semampumu. Jadi gak ada tuntunan melampui batas-batas kemanusiaan.
Kalo pagi kerja, siang kerja, sore kerja, malam kerja, tengah malam kerja, tentu pasti ada batas yang dilampaui.
Waktu untuk keluarga tidak ada. Waktu untuk selftalk tidak ada, waktu untuk merenung, muhasabah, juga akhirnya gak ada. Istirahat apalagi. Akhirnya keluarga retak, kesehatan terganggu, kehidupan pribadi jadi rusak.
Ikhtiar itu harus. Itu kenapa Nabi Musa ‘alahissalam tetap diminta pukulkan tongkat ke laut. Padahal Nabi Musa ‘alaihissalam sudah ikrarkan Iman,
“Kalla inna ma’iyya Rabbiy Sayahdin“
“Gak, gak begitu, Rabbku bersamaku, dan akan memberi petunjuk padaku.”
Ikrar Iman sudah. Bahwa isi hati dan pikiran Nabi Musa ‘alaihissalam sudah beriman penuh. Tetapi tetap saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala minta Ikhtiar, Allah minta validasi iman, ada perintah pukulkan tongkat ke laut.
Di sinilah validasi imannya, percaya atau nggak. Kalo percaya, taat, ya pukulkan tongkatnya, walau rada-rada gak nyambung ke otak, apa hubungannya laut membentang dengan pukulan tongkat.
Namun Nabi Musa ‘alaihissalam memutuskan ikhtiar, memutuskan yakin, memutuskan berbuat, maka dipukulkanlah tongkat, terbelahlah lautan.
Dari kisah Al Qur’an ini kita belajar, bahwa Nabi Musa masuk dalam zona iman terlebih dahulu, barulah bekerja secara fisik. Nabi Musa ‘alaihissalam memutuskan mengimani Rabbnya, meyakini akan adanya petunjuk, baru ngikutin wahyu.
Maka kerjanya cukup sederhana. Tongkatnya sudah di tangan, aktivitasnya tinggal memukulkan ke laut. Jebret. Selesai. Ikhtiarnya gak repot.
Nabi Musa gak diminta bikin kapal penyeberangan, jembatan penyeberangan, atau nimbun lautan supaya jadi daratan, gak sama sekali. Kerja Nabi Musa ‘alaihissalam hanya memukulkan tongkat. Jebret. Selesai.
Hari ini banyak di antara kita kebalik. Usaha dulu yang keras, tanpa ingat Allah. Ingatnya kompetensi, ingatnya kekuatan diri, ingatnya kepintaran diri. Jadi tanpa disadari, kita memutuskan berada di luar zona iman, kita berada di luar zona keajaiban.
Iman itu adalah zona pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, zona keajaiban, zona di mana akal manusia gak sanggup mencapainya, itulah zona yang harusnya kita masuki terlebih dahulu, baru kemudian berusaha, nanti usahanya akan sangat sederhana. Biasanya demikian.
Mereka yang pencapaiannya luar biasa, kalo mereka jujur dan tawadhu, ketika ditanya bagaimana caranya kok bisa sukses, pasti mereka juga bingung jawabnya.
“Kami juga gak ngerti, tiba-tiba ada supplier, ada dukungan mitra, produk laku, ya udah jadi besar sendiri, kayak mimpi.”
“Kami rasanya kerja biasa-biasa aja, pagi sampai sore. Malam istirahat, Alhamdulillah Allah hadirkan karyawan bagus-bagus, di luar nalar, dapat anak-anak begini.”
“Waktu itu ada konveksi bangkrut, kami ditawari pakai mesin dan tempat, gak pake modal, ya udah jalan, sampai akhirnya tempat ini kebeli.”
Selalu begitu. Mereka yang sudah memutuskan masuk zona iman, biasanya ikhtiarnya kecil, usahanya biasa aja, tapi hasilnya besar. Lautan terbelah, Fir’aun tenggelam.
Berbeda dengan orang kebanyakan. Semua sudah diusahakan. Rasanya pagi jadi malam, malam jadi siang. Tapi makin banyak outlet yang tutup, makin banyak fraud di mana-mana, makin banyak dead stock.
Mari kita mulai hari-hari kita dengan istighfar, taubat, qiyam al lail, menghadap Allah dengan tawadhu, barulah kemudian kita bekerja. Nanti Allah himpun dan ringkaskan urusan kita, karena kita sudah masuk zonanya Nabi Musa ‘alaihissalam.
Ikhtiar itu sederhana. Tongkatnya ada di tangan Nabi Musa ‘alaihissalam, maka tools yang dibutuhkan untuk melesat hebat, sebenarnya sudah ada melekat di diri kita. Gak perlu nyari apa-apa yang di luar, pasti ‘tongkat Musa’ itu di dalam diri.
Ikhtiar itu sederhana di dalam Al Qur’an. Tinggal diketuk itu lautan, lautannya terbelah. Gak usah disedot, dibendung, ditimbun. Gak usah. Al Qur’an ngajarinnya cuma dipukul. Tuk. Terbelah sendiri.
Tapi itulah yang hari ini kita gak punya. Ketukan dalam iman. Pukulan dalam iman. Kerja dalam iman. Berusaha dalam iman. Kita hari ini meletakkan Iman pada zona utopia, zona ilusi. Kita gak yakin-yakin amat. Pikiran kita kadang-kadang mirip munafiqin di awal ayat Al Baqarah. Beriman itu bodoh.
Itulah mereka yang menganggap bodoh orang beriman. Itulah mereka yang menganggap amal sholih dikali sepuluh itu janji utopis. Ya sudah. Risiko tanggung masing-masing, silakan tawakkal dengan usaha diri sendiri, silakan capek sendiri, silakan salto-salto sendiri, babak belur sendiri. Mangga.
Kita yang Insya Allah hidup batinnya, mari kita putuskan beriman saja. Tawakkal kepada Allah saja. Sujud yang dalam. Lalu sembari usaha semampu dan se-dikasih jalannya saja. Cukup. Insya Allah Allah tolong.
Oleh: Ustadz Rendy Saputra
(Dikutip dari konten Facebook ybs yang juga beredar di postingan Whattsapp public/edited)













Discussion about this post