Avesiar – Jakarta
Sering dalam hidup ini sebagai manusia, hamba Allah, seorang Muslim dihadapkan kepada kondisi dan keadaan yang sedih, membuat kecewa, patah semangat, dan bentuk-bentuk ketidakpuasan lainnya.
Meskipun di satu sisi, manusia sering mengucapkan kata-kata ikhlas untuk menerima segala kondisi dan keadaan yang terjadi pada mereka, sehingga mampu membuat hati lebih tenang dan menerimanya.
Konsep menerima sepenuhnya atau ridho kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala memang tidak semudah di kata-kata, namun juga di hati. Inilah yang akan menjadikan seorang Mukmin dekat kepada Allah.
Sehingga dapat dinyatakan bahwa ridho terhadap qadha Allah mengajarkan manusia untuk menerima segala peristiwa dalam hidup sebagai bagian dari kehendak Allah. Meskipun demikian keyakinan tersebut tidak mengurangi keberanian manusia untuk bertindak, berusaha, dan bertanggung jawab dalam kehidupan yang dijalani.
Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam.
“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim)
Terdapat juga kisah singkat berikut yang bisa membuat kita ridho kepada Allah:
Ja’far bin Sulaiman Ash-Shun’i bercerita: Suatu hari, ketika Sufyan Ats-Tsuri berada di tempat Robi’ah Al-Adawiyyah, ia berseru, “Ya Allah ridhoi kami.”
Robi’ah menukas, “Tidakkah kau malu kepada Allah meminta ridho-Nya, sementara kau sendiri tidak ridho terhadap-Nya?!”
Sufyan serta-merta berkata, “Astagfirullah, aku memohon ampun kepada Allah.”
Aku lalu bertanya kepada Robi’ah, “Kapan seorang hamba menjadi orang yang ridho terhadap Allah?”
Ia menjawab, “Jika kebahagiaannya menyambut musibah sama seperti kebahagiannya menyambut nikmat.”
Beberapa hadits lainnya dapat menenangkan, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam,
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barang siapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan murka-Nya.” (HR at-Tirmidzi).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam juga bersabda,
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk dari Allah dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (HR at-Tirmidzi).
Balasan atas ridho kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti firman Allah dalam Al Qur’an berikut ini.
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan meraka pun ridho kepadanya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadiid:22).
Dikutip dari berbagai sumber, demi mencapai derajat ridho pada ketentuan Allah, di mana manusia sering tidak mudah menerima hal buruk yang Allah beri dalam hidup bisa dipahami hal-hal berikut:
1. Kita sadar bahwa Allah yang paling berhak atas diri kita
Seorang pencipta memiliki hak 100 persen terhadap apa yang ia ciptakan. Allah yang berhak 100% melakukan apapun yang dikehendaki atas ciptaan-Nya.
“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj:18)
Sebagai makhluk yang Ia ciptakan, kita diberi pilihan untuk ridho pada kehendak Allah atau malah protes. Ketahuilah bahwa Allah tak memaksa makhluk-Nya untuk ridho, meski Ia berhak memaksa kita meridhoi-Nya, namun Ia justru meminta kepasrahan kita.
Apabila kita ridho pada ketentuan Allah, maka sesungguhnya kita adalah hamba yang berpikir. Namun, jika kita tidak ridho, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Tidak Membutuhkan makhluk-Nya.
Dapat dikatakan, orang yang tidak ridho atau belum ridho pada ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tengah berlaku zhalim pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya jika tak meridhoi apa yang Allah lakukan terhadap dirinya?
2. Yakin bahwa musibah dan ujian bisa jadi bentuk cinta Allah
Cara selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan meyakini sebenar-benarnya bahwa musibah dan ujian bisa jadi salah satu bentuk cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seorang hamba. Sehingga tidak perlu meratapi takdir yang terasa tidak menyenangkan, karena ada balasan pahala yang besar di balik semua itu.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an,
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah). Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah, maka baginya kemarahan (Allah).” (HR. At-Tirmidzi no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahihah no.146)
3. Percaya bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk diri kita
Banyak orang tidak ridho pada ketentuan Allah karena mereka tak yakin bahwa apa yang dikehendaki Allah untuk terjadi adalah yang terbaik. Padahal segala pengetahuan dan ilmu ada di sisi-Nya, mengapa kita tak mempercayai-Nya?
Hal ini sama seperti seorang anak yang benci dan protes, mengapa ia diberikan makanan sayur-sayuran yang tak disukainya, atau tidak diizinkan untuk bermain hujan-hujanan di tengah gemuruh petir yang menyambar? Ini karena sang anak tak mengetahui bahwa apa yang orang tua lakukan untuknya adalah demi kebaikannya.
4. Meningkatkan kualitas ibadah
Ikhlas juga membantu meningkatkan kualitas ibadah seseorang, karena dengan melakukan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tanpa ada motif atau kepentingan lain, maka ibadah tersebut akan menjadi lebih khusyuk dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
5. Meningkatkan kepercayaan diri
Orang yang memiliki sifat ridho atau ikhlas cenderung memiliki kepercayaan diri yang kuat, karena ia tidak terpengaruh oleh pandangan atau penilaian orang lain. Ia melakukan apa yang dianggap benar karena ridho dan ikhlas kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena ingin dipuji atau mendapat pengakuan dari orang lain.
6. Membuat hidup lebih tenang
Ridho daniIkhlas juga dapat membuat hidup seseorang menjadi lebih tenang dan damai, karena ia menerima segala keadaan yang terjadi dalam hidupnya sebagai ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pasti memiliki hikmah dan kebaikan.
Keyakinan seorang Mukmin bahwa kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah yang terbaik, akan membuat ia akan pasrah dan ridho pada apapun yang Allah pilihkan untuknya dan menjadi hamba yang beruntung. Wallahua’lam. (ros/dari berbagai sumber)













Discussion about this post