Avesiar – Jakarta
Keikhlasan adalah sikap yang mulia, yang dengan sikap tersebut seseorang dapat menerima apa adanya karena ia tahu bahwa Allah lah yang mengatur segala urusan hamba-hambaNya.
Dengan sikap ikhlas tersebut, seseorang akan merasa lapang dada dengan apa yang dilakukannya kepada orang lain, tanpa harus merasa kecewa jika sesuatu tidak sesuai harapannya. Namun, ternyata memiliki sikap ikhlas tidak semudah yang diucapkan. Sering kita mengucap kata “ikhlas”, sementara di hati kecil masih tersimpan perasaan gamang atau bahkan sebaliknya.
Kisah tentang seorang ulama dan santrinya berikut, dikutip dan disusun dari berbagai sumber, sering diceritakan dalam berbagai cerita dan percakapan yang tidak selalu sama dalam setiap publikasinya.
Tentang kisah nyata dari cerita ini juga belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, pesan spiritual dan moral yang terkandung di dalamnya semoga mampu membuat kita bisa bersikap ikhlas dan legowo, terutama hal ini menjadi rahasia umum para ulama yang memang memberikan sesuatu tanpa pamrih.
Di sebuah desa hiduplah seorang Kyai sepuh dan sholeh bersama istrinya. Ia memiliki murid yang banyak dan tersebar di segala penjuru desa. Pembawaan Kyai itu teduh, dihormati dan disayangi oleh semua kalangan. Sebagaimana lazimnya rumah ulama, rumah sang Kyai selalu dikunjungi banyak orang, termasuk santri-santrinya.
Suatu hari, datanglah salah satu santrinya. Sudah menjadi kebiasaan dan salah satu akhlak yang baik, sang santri pun membawa sesuatu untuk diberikan kepada gurunya itu. Santri ini miskin. Ia hanya memiliki singkong. Itu pun tidak banyak. Sebagian kisah menyebut hanya 3 ikat singkong.
Dengan penuh keikhlasan dan rasa tawadhu, santri tersebut datang berkunjung dengan membawa singkong yang dimilikinya. Usai mengucap salam, mencium tangan sang Kyai, bertanya kabar, dan berbincang-bincang, sang santri kemudian pamit.
Saat pamit, sang santri memberikan oleh-oleh berupa singkong tersebut kepada sang Kyai.
“Alhamdulillah,” jawab sang Kyai. “Kalau begitu, segera ke belakang ya. Ambil ayam. Boleh disembelih buat makan atau kamu pelihara ya.”
Meski agak sungkan, si santri pun mengikuti perintah sang Kyai seraya berharap keberkahan dari pemberian orang shalih.
Setelah kepulangan santri pertama, datanglah santri kedua. Kali ini, ia membawa ayam jago yang besar, gemuk, dan gagah. Santri tersebut kemudian memberikan apa yang ia bawa kepada sang Kyai dengan penuh keikhlasan.
“Mohon maaf, Kyai. Cuma seekor ayam. Semoga berkah buat kami,” ujar sang santri tawadhu.
“Alhamdulillah, insya Allah berkah, Le,” lanjut sang kyai sebelum santrinya pulang, “Kamu ke belakang ya. Itu ada kambing. Sudah lama gak beranak. Boleh disembelih, dijual, atau dipelihara.”
Sang santri kedua pun sibuk mengucap tahmid dan takbir, lalu pamit dari rumah sang Kyai.
Di balik silaturrahmi kedua santri tersebut, tersebutlah Si Fulan yang memperhatikan dua fenomena itu dari kejauhan.
Fulan bukanlah seorang santri. Tapi, tinggal di dekat kampung sang Kyai. Ia memperhatikan dengan betul dua kejadian itu. Ia pun membayangkan, “Santri pertama membawa singkong, dapatnya ayam. Santri kedua membawa ayam dapatnya kambing.”
Ia pun bergegas ke belakang rumahnya. Ada kambing yang lebih besar dan gemuk dari kambing yang diberikan sang Kyai ke santri kedua. Dengan semangat, ia menggiring kambingnya itu seraya berdendang, “Pasti saya dapat kerbau nih. Atau, kambing dua ekor.”
Saat hendak pulang, Si Fulan kemudian memberikan apa yang ia bawa kepada sang Kyai dengan penuh harapan. Seekor kambing diserahkan kepada sang Kyai sebagai oleh-olehnya.
“O, terima kasih. Mudah-mudahan berkah.”
Ditemuinya istrinya di belakang, katanya: “Istriku, ini kita dapat kambing lagi dari muridku yang lain. Kita kini hanya punya tiga ikat singkong. Ya sudah, itu saja kita berikan sebagai hadiah.”
Lalu ia keluar sambil membawa tiga ikat singkong. Si Fulan menerima pemberian sang Kyai, yang hanya singkong, bukan sapi seperti yang dibayangkan, kaget dan kecewa.
Tetapi, bagaimanapun dengan agak dipaksakan ia tetap tersenyum, kemudian mohon diri sambil menyesali ternyata ketidakikhlasannya malah berbuah kemalangan. (put/dikutip dan disusun dari berbagai sumber)











Discussion about this post