• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Mewujudkan Impian Sarjana, Inilah Perjuangan Mahasiswa Pekerja

by Ave Rosa
19 Desember 2024 | 22:39 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 7 mins read
A A
Mewujudkan Impian Sarjana, Inilah Perjuangan Mahasiswa Pekerja

Ilustrasi. Foto: Freepik. Kolase Foto Inset: Avesiar.com

Avesiar – Jakarta

Masa remaja di bangku sekolah menengah atas telah terlewati, dan rata-rata para lulusannya berjuang menuju masa pendewasaan diri yang lebih baik melalui pendidikan yang lebih tinggi. Menjadi mahasiswa adalah salah satu fase penting dalam hidup, penuh dengan peluang untuk belajar dan berkembang dengan cara kuliah demi mencapai titel sarjana.

Biaya kuliah untuk menyelesaikan predikat sarjana juga tidak sedikit. Bagi mereka yang kondisi ekonominya tidak memungkinkan atau ingin belajar mandiri secara finansial untuk membiayai kebutuhan tersebut, kuliah sambil bekerja adalah pilihan.

Berat beban yang harus dijalani tentunya, ketika status sebagai mahasiswa tersebut kemudian ditambah tanggung jawab profesional sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Mereka harus berusaha menyeimbangkan. Sering ada dilema yang harus dihadapi, mendahulukan tugas pekerjaan dan mengerjakan tugas-tugas sebagai mahasiswa di bidang akademik.

Mengemban dua tanggung jawab besar sekaligus sebagai mahasiswa dan pekerja bukanlah perkara mudah. Namun, bagi sebagian anak muda, pilihan ini menjadi jalan untuk mandiri, mendukung pendidikan, dan mempersiapkan masa depan. Di tengah tantangan ini, ada kisah-kisah inspiratif yang menunjukkan kekuatan tekad dan kerja keras. Yuk kita dengar curhatan mereka!

Siti Kholifata Sari, semester 8, Universitas Terbuka

Siti Kholifata Sari, semester 8, Universitas Terbuka. Foto: istimewa

“Alasan utama memilih untuk kuliah sambil bekerja adalah keinginan untuk menjadi sarjana. Hal ini karena kondisi finansial orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Inilah yang membuat saya memutuskan kuliah sambil bekerja. Alasan lain yang membuat saya bertekad untuk mengambil jalan ini karena saya ingin membuktikan kepada saudara saya, kalau saya bisa menjadi sarjana hasil jerih payah saya sendiri,” Komentar dari Siti Kholifata Sari yang sekarang bekerja sambilan sebagai seorang guru kepada kanal KAMU KUAT!, Rabu (18/12/2024).

Awal mendapatkan pekerjaan itu, lanjut Sari, ialah ketika lulus SMA dan mencoba untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang memiliki jurusan pendidikan. Namun, pada saat itu gagal. Kemudian ia mencoba ambil PTN dengan jurusan yang sama, tetapi bisa menjalankan dua peran, karena diharuskan untuk bekerja terlebih dahulu sebagai syarat masuk ke jurusan di perguruan tinggi negeri  tersebut. Sari kemudian  mencoba melamar dari informasi yang diberikan oleh rekan kakak.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

“Kebetulan perkuliahan saya secara online empat tahun penuh, sehingga jadwal kuliah saya tidak bertabrakan dengan pekerjaan. Hanya saja sebagai guru, ketika akhir semester di sekolah sering kali ada kegiatan dan bertabrakan dengan jadwal ujian saya. Solusi untuk hal tersebut saya meminta izin dari jauh-jauh hari untuk tidak bisa mengikuti kegiatan di sekolah dan lebih memprioritaskan pendidikan saya,” ungkapnya.

“Tantangan yang paling sering di hadapi dalam membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, adalah rasa malas sedangkan pekerjaan ini mengharuskan saya untuk bertemu banyak orang yang membuat saya lelah ketika sampai rumah. Pernah terbesit di benak saya untuk cuti kuliah karena lelah membagi waktu serta pikiran. saya meminta saran kepada kakak-kakak saya dan mereka meminta saya untuk melanjutkan perkuliahan tanpa cuti.

Cara mengatasi rasa ingin menyerah selanjutnya yaitu dengan memikirkan wisuda. Sari mengakui ingin menyelesaikan perkuliahan dengan tepat waktu demi menghemat biaya pendidikan. Ia juga tidak sabar melihat orang tuanya menghadiri acara tersebut dengan bangga dan bahagia.

“Teman kuliah sy juga banyak yang menjalani kuliah sambil kerja seperti saya. Dosen juga tidak terlalu menekan untuk selalu mendapatkan nilai bagus dalam perkuliahan dengan kita menyempatkan hadir di kelas online dan mengerjakan tugas dengan tepat waktu, mereka memaklumi dan menghargai karena telah menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan. Tipsnya adalah membuat to do list tugas dan diskusi kuliah yang akan dikerjakan. Pekerjaan sebaiknya dibereskan di tempat kerja tanpa dibawa ke rumah, dan berikan jeda hari untuk memberikan waktu untuk tubuh kita istirahat. Jika dirasa sudah pusing, lebih baik lakukan hal-hal yang disukai seperti sekedar makan-makan,” ucapnya.

Nur A’ini, semester 4,  Universitas Pamulang

Nur A’ini, semester 4,  Universitas Pamulang. Foto: istimewa

Mahasiswa yang akrab dipanggil Aini ini punya tantangan tersendiri. Dengan sistem kuliah yang hybrid yaitu Senin – Jumat online melalui e-learning dan pembelajaran tatap muka di hari Sabtu, terkadang saat melakukan kegiatan e-learning di hari kerja sedikit keteteran. Ia mengakui karena kadang kala di hari kerja tersebut mengharuskan untuk lembur atau pekerjaan di kantor sedang overload, sehingga waktu untuk belajar secara online jadi sedikit berkurang dan terkadang terganggu

“Alasan terbesar saya menjalani dua peran sebagai mahasiswa dan pekerja karena sudah tidak ingin membebani kedua orang tua lagi untuk menanggung biaya kuliah saya. Juga agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi nantinya dengan berbekal ilmu yang dipelajari sewaktu kuliah. Sebenarnya, saya mendapatkan pekerjaan lebih dulu 1 tahun sebelum memutuskan untuk mendaftar kuliah. Saya mendapatkan panggilan pekerjaan pertama saya melalui aplikasi lamaran kerja,” bebernya.

Jika ditanya, pernahkah kamu merasa kewalahan atau ingin menyerah? Aini mengatakan akan menjawab “sering”. Namun, kembali lagi pada tujuan awal, yaitu agar bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik, maka ia harus tetap semangat. Saat sedang merasa terlalu kelelahan, Aini memilih untuk beristirahat seharian di rumah saat hari Minggu atau pergi dengan teman,

“Alhamdulillah selama ini jadwal kuliah dan pekerjaan tidak pernah bertabrakan. Hanya saja, saat kuliah online di hari Senin-Jumat, kadang kala bisa dikerjakannya saat malam hari sepulang kantor. Sekarang saya merasa kuliah menjadi salah satu tempat dan waktu healing saya setelah capek dengan hal pekerjaan, karena di kampus bisa bertemu teman-teman. Selain itu saya juga sangat menyadari ilmu yang didapatkan di kampus sangat berguna untuk kehidupan saya, baik pendidikan akhlak atau materi yang disampaikan sangat mempengaruhi kehidupan saya karna materi yang disampaikan di kuliah saya bisa melihat realisasinya di tempat kerja, sekaligus saya lebih memahami pekerjaan saya,” terang Aini yang mendapat dukungan penuh dari orang tua, keluarga dan sahabat.

Rifki Nur Aldiansyah, semester 3, Universitas Terbuka

Rifki Nur Aldiansyah, semester 3, Universitas Terbuka. Foto: istimewa

Berbeda dengan lainnya,  Rifki beralasan kuliah sambil bekerja adalah untuk menambah penghasilan dan mencari pengalaman baru, agar nanti ketika lulus dari dunia perkuliahan tidak lagi kaget dengan dunia kerja yang begitu luar biasa.

“Awalnya ketika saya mendapatkan pekerjaan itu ada di semester dua. Di mana saya berpikir, bahwa saya harus berubah dan tidak berada di zona nyaman. Karena itu lebih baik saya kuliah sambil kerja. Karena saya merasa walau hal kecil, tapi akan memberikan impact di masa yang akan datang,” katanya.

Tantangan yang paling sering ia dihadapi adalah dalam hal membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Yang paling sering, imbuhnya, kemungkinan terkait jadwal kerja yang sibuk dan tugas yang menumpuk. Terkadang Rifki merasa kewalahan apalagi ketika dekat dengan ujian akhir, di mana banyak tugas dan materi yang harus dipersiapkan dan terkadang jadwal ujian tersebut juga pas sekali dengan hari-hari saat banyak pekerjaan yang harus dilakukan

“Jadwal kuliah saya sangat sering bertabrakan, tetapi untungnya di perusahaan saya manager memberikan keringanan bagi yang berkuliah. Di mana kita dalam satu bulan bisa meminta diliburkan beberapa hari untuk mengikuti ujian sekolah. Perkuliahan yang saya ambil saat ini sejalan dengan apa yang saya kerjakan. Jadi yang saya kerjakan di perkuliahan dapat membantu saya dalam pekerjaan saya,” ujarnya.

Rifki mengakui dukungan dari keluarga, teman, atau atasan dalam menjalani kuliah sambil bekerja sangat penting.  Karena tanpa dukungan mereka ia tidak akan melangkah maju keluar dari zona nyaman. “Motivasi diri saya yaitu tidak memiliki harapan yang terlalu tinggi untuk semua hal. Karena saya percaya apapun yang saya dapatkan, itu adalah hasil terbaik dari apa yang saya lakukan. Rencana masa depan saya adalah supaya bisa masuk ke perusahaan yang lebih baik dalam hal pekerjaan. Bagi teman-teman yang ingin mencoba kuliah sambil kerja, saran saya coba aja dulu walau awalnya agak sedikit kewalahan, tapi lama kelamaan kalian pasti akan dapat cara tersendiri untuk mengatasi segala kesulitan yang kalian hadapi,” pungkasnya.

Dyah Puspitasari Sunaryo Putri, SE., Ak.,.M.Si, Dosen Universitas Pamulang, Tangsel

Dyah Puspitasari Sunaryo Putri, SE., Ak.,.M.Si, Dosen Universitas Pamulang, Tangsel. Foto: istimewa

Menurut dosen bernama Dyah Puspitasari Sunaryo Putri,  seorang remaja yang mempunyai dua peran yaitu mahasiswa dan pekerja merupakan tantangan buat mahasiswa dan universitas. Tantangan untuk seorang mahasiwa adalah bagaimana dia bisa membagi waktu antara pekerjaannya dan tuntutan akademik. Sedangkan tantangan untuk universitas adalah bagaimana memberikan layanan akademik untuk mahasiswa pekerja yang memiliki keterbatasan waktu.

“Mahasiswa pekerja bisa digolongkan menjadi 2 kategori. Pertama, baru berkerja selepas lulus SLTA dan kedua, yang sudah memiliki pekerjaan cukup lama. Dampak untuk pelajar pekerja golongan 1, mereka biasanya lebih sulit mengatur waktu. Sedangkan untuk mahasiswa golongan 2 untuk melakukan kegiatan akademik sudah mandiri,” ujarnya.

Positifnya, lanjut Dyah, bila berada di pekerjaan sesuai dengan kuliahnya, mereka mempunyai pengalaman secara praktik dan teoritis. Pengalaman praktik di pekerjaan bisa mempercepat mereka dalam perkuliahan. Pengalaman teoritis di perkuliahan dapat diaplikasi di pekerjaannya.

“Mengatur prioritas itu tergantung kedewasaan berpikir mahasiswa yang bersangkutan. Mahasiswa yang cenderung lebih dewasa tidak begitu mengalami kendala, karena mereka tahu apa yang menjadi konsekuensi dan apa yang harus dikorbankan. Universitas di tempat saya bekerja memberikan kebijakan untuk mahasiswa yang berhalangan hadir pada saat perkuliahan, yaitu dengan absen penganti di kelas lain atau pemberian tugas khusus,” terangnya.

Ditambahkannya, untuk dukungan dari teman dan keluarga berpengaruh pada semangat, terutama keluarga. Namun, yang paling penting, kata Dyah, adalah dari mahasiswa yang bersangkutan sendiri. Ia mengakui bahwa saat ini statusnya mahasiswa pekerja yang sedang mencoba mengatur waktu dengan baik antara waktu menjadi seorang dosen, mahasiswa S3 dan menjadi seorang ibu.

“Tips dari saya salah satunya adalah hindari terlalu sering memegang gadget, fokus pada tujuan agar segalanya menjadi terasa mudah dan lancar, jangan dijadikan beban jalani saja dengan ikhlas serta banyak bersyukur,” ucapnya memotivasi. (Resty)

Tags: Dilema MahasiswaKerja Sambil KuliahKuliah Sambil KerjaMengejar SarjanaPekerja MahasiswaPerjuangan Lulus SarjanaPerjuangan Menjadi SarjanaSarjana Impian
ShareTweetSendShare
Previous Post

Turki Serukan Embargo Senjata, Mengakhiri Perdagangan dan Mengisolasi Israel

Next Post

Ave Rosa A Djalil’s Quote – Jangan Paksakan

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Ave Rosa A Djalil’s Quote – Jangan Paksakan

Ave Rosa A Djalil’s Quote – Jangan Paksakan

MTQ Khusus Imam Masjid yang Pertama di Indonesia Dibuka Menteri Agama

MTQ Khusus Imam Masjid yang Pertama di Indonesia Dibuka Menteri Agama

Discussion about this post

TERKINI

Iran yang Diundang FIFA ke Markas Besar Diskusi Piala Dunia Terpaksa Absen Akibat Dihina Imigrasi Kanada

7 Mei 2026

Naudzubillah, Nasib Anak yang Dilahirkan dari Hasil Zina Menurut Islam

6 Mei 2026

Mampu Menjangkau 6000 Kilometer, Turki Pamerkan ‘Yildirimhan’ Rudal Balistik Antarbenua

6 Mei 2026

Apa yang Disebut Narcissistic Collapse atau ‘Keruntuhan Narsistik’ dan Cara Melindungi Diri Anda

5 Mei 2026

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

Kuba Menyebut AS Sedang Cari Alasan untuk Lancarkan Intervensi Militer ke Negara Mereka

4 Mei 2026

Menyayat Hati, 8.000 Jenazah Masih Terperangkap di Puing-puing Reruntuhan di Gaza di Tengah 72.000 Jiwa Korban Genosida Israel

3 Mei 2026

Mencermati Hukum Shalat Fardhu di Akhir Waktu Beralasan Menjaga Wudhu

3 Mei 2026

Mengklaim Perang Telah Berakhir, Lebih Baik Tidak Membuat Kesepakatan Sama Sekali dengan Iran

2 Mei 2026

Jadwal Rencana Keberangkatan Jemaah Haji 1447 H, Puncak, dan Kepulangan ke Indonesia

2 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video