Avesiar – Jakarta
Banyaknya orang yang sukses dalam menyikapi sebuah tantangan demi tercapainya tujuan bukan karena sebuah kebetulan atau faktor keberuntungan. Hal ini tidak lepas dari cara yang ditempuh secara mental dan spiritual.
Dari sisi mental, perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan, bahkan prestasi dalam bidang dan pengakuan apapun, membutuhkan sebuah sikap yang tidak dimiliki atau tidak semua orang mau menjalaninya. Sikap ini disebut “kegigihan” atau tekad yang kuat pantang menyerah.
Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, kegigihan atau persistens disebutkan sebagai berikut,
Persistence is a key personality trait, describing an individual’s propensity to remain motivated, resilient, and goal-driven in the face of challenges and difficulties they may encounter whilst carrying out tasks and working towards goals.
Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut,
Kegigihan merupakan salah satu sifat kepribadian utama yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk tetap termotivasi, tangguh, dan berorientasi pada tujuan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang mungkin mereka hadapi saat melaksanakan tugas dan bekerja untuk mencapai tujuan.
Seseorang atau pribadi yang memiliki sikap ini akan terus berusaha mencapai tujuan, cita-cita, mimpinya, atau tujuan perusahaannya jikapun tantangan yang dihadapi tergolong sulit dan membutuhkan usaha yang extra-ordinary.
Tidak hanya tantangan, namun bagaimana seseorang yang memiliki sikap persistens atau kegigihan ini mampu merespons kegagalan serta kemunduran yang terjadi untuk kembali melangkah maju demi mencapai tujuan utama, keberhasilan.
Hal ini ditegaskan juga dalam unggahan artikel di laman Psychology Fanatic pada 2 Februari 2024 dan diperbaharui pada 6 November 2024, Berjudul, Persistence – The Psychology of Persistence: Why We Keep Going.
Psikologi Kegigihan: Mengapa Kita Terus Maju
Kegigihan, yang sering disebut sebagai sifat juara, merupakan elemen kunci dalam mengejar kesuksesan dan kepuasan. Kualitas luar biasa ini dapat didefinisikan sebagai keteguhan hati dalam suatu tindakan meskipun menghadapi kesulitan, rintangan, atau keputusasaan. Dalam bidang psikologi, baik peneliti maupun praktisi telah lama mengakui dampak mendalam dari kegigihan terhadap perilaku dan pencapaian manusia.
Definisi Utama:
Dalam psikologi, istilah “kegigihan” merujuk pada kemampuan untuk terus bekerja menuju suatu tujuan meskipun menghadapi rintangan, kemunduran, atau kesulitan. Hal ini melibatkan upaya yang terus-menerus dan fokus pada tugas yang sedang dikerjakan, bahkan ketika menghadapi tantangan. Kegigihan sering dikaitkan dengan ketahanan, tekad, dan kemauan untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan. Sifat ini penting dalam mencapai tujuan jangka panjang dan kesuksesan dalam berbagai bidang kehidupan.
Pada intinya, penelitian psikologis secara rumit menghubungkan kegigihan dengan ketahanan, tekad, dan tekad yang tak tergoyahkan. Individu yang menunjukkan tingkat kegigihan yang tinggi biasanya memiliki dorongan batin yang kuat untuk mengejar tujuan dan aspirasi mereka, terlepas dari tantangan yang mungkin mereka hadapi di sepanjang jalan. Dengan demikian, komitmen yang tak tergoyahkan ini memungkinkan mereka untuk mengatasi kemunduran, belajar dari kegagalan, dan akhirnya muncul lebih kuat dan lebih bertekad.
Kegigihan dan Hasil Positif
Studi psikologis secara konsisten menunjukkan korelasi antara kegigihan dan berbagai hasil positif. Dari prestasi akademis hingga kesuksesan profesional, individu yang menunjukkan pendekatan ulet terhadap usaha mereka lebih mungkin untuk mencapai tujuan mereka dan mewujudkan ambisi mereka. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kegigihan dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan emosional dan pola pikir yang lebih tangguh ketika menghadapi kesulitan.
Kegigihan dan Kemunduran
Kegigihan dalam menghadapi kemunduran adalah elemen kunci untuk mencapai kesuksesan. Baik itu dalam memperjuangkan tujuan pribadi, pencapaian profesional, atau bahkan dalam menghadapi tantangan dalam hubungan interpersonal, kemampuan untuk bertahan meskipun menghadapi rintangan sering kali menjadi faktor penentu antara keberhasilan dan kegagalan. Pola pikir ini menumbuhkan ketahanan, tekad, dan kekuatan untuk melewati masa-masa sulit, yang pada akhirnya mengarah pada pertumbuhan dan pencapaian.
Dalam mengejar usaha apa pun, kemunduran tidak dapat dihindari. Namun, cara seseorang menanggapi kemunduran ini adalah yang terpenting. Merangkul kegigihan berarti tidak membiarkan kegagalan sementara menggagalkan kemajuan, tetapi menggunakannya sebagai peluang untuk belajar dan beradaptasi. Ini tentang mempertahankan sikap positif dan keyakinan teguh pada kemampuan seseorang, bahkan ketika keadaan mungkin tampak mengecewakan.
Lebih jauh, kegigihan terkait erat dengan konsep kegigihan, kualitas yang mencakup gairah dan ketekunan terhadap tujuan jangka panjang. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kegigihan yang tinggi lebih mungkin berhasil dalam pengejaran mereka, melampaui mereka yang memiliki bakat atau kecerdasan alami tetapi kurang dalam ketekunan. Ini menyoroti pentingnya kegigihan sebagai kekuatan pendorong di balik pencapaian.
Ini adalah kualitas penting yang mendorong individu maju, memungkinkan mereka untuk menavigasi rintangan dan kemunduran dengan tekad yang tak tergoyahkan. Dengan menanamkan pola pikir yang tangguh dan gigih, seseorang dapat secara efektif mengarahkan perjalanan mereka menuju kesuksesan, apa pun tantangan yang dihadapi di sepanjang jalan.
Kegigihan Lebih dari sekadar Kekuatan Karakter
Kita tidak memiliki kegigihan hanya karena faktor bawaan, tetapi juga oleh pengaruh lingkungan dan pengalaman pribadi. Yang menggembirakan, ini menunjukkan bahwa kita dapat memelihara dan menyempurnakan kapasitas kita untuk tetap berusaha melalui perhatian penuh yang disengaja dan intervensi strategis. Dengan menumbuhkan pola pikir yang berorientasi pada pertumbuhan dan merangkul tantangan sebagai peluang untuk tumbuh, individu dapat secara bertahap meningkatkan kapasitas mereka untuk kegigihan dan ketabahan.
Kegigihan adalah salah satu dari empat sifat temperamen yang diukur oleh Temperament and Character Inventory (TCI), alat penilaian kepribadian yang banyak digunakan. Kegigihan juga terkait dengan sifat kepribadian lainnya, seperti ketelitian, transendensi diri, dan aktivitas.
Pada artikel tersebut seseorang atau pribadi juga bisa mengembangkan kegigihan mereka. Berikut adalah saran tersebut.
Cara Mengembangkan Kegigihan
Kita dapat mengembangkan kegigihan melalui kombinasi pola pikir dan tindakan. Berikut ini beberapa strategi untuk menumbuhkan kegigihan:
Tetapkan Sasaran yang Jelas: Tetapkan sasaran yang spesifik dan dapat dicapai untuk mempertahankan fokus dan motivasi.
Buat Rencana: Uraikan sasaran menjadi tugas-tugas yang dapat dikelola, untuk menciptakan peta jalan menuju kesuksesan. Rencana kita harus dapat dilaksanakan, bukan harapan yang lemah, yang dibangun di atas keinginan yang tidak realistis.
Tetap Fleksibel: Beradaptasi dengan tantangan dan kemunduran tanpa melupakan tujuan akhir.
Cari Umpan Balik dan Bimbingan: Kita harus cukup rendah hati untuk belajar. Kegigihan bukanlah berpegang teguh pada kapal yang tenggelam, tetapi upaya yang bijaksana dan terpelajar untuk bergerak menuju kesuksesan.
Cari Dukungan: Kelilingi diri Anda dengan individu yang memotivasi dan mendukung untuk memperkuat tekad Anda.
Latih Kasih Sayang pada Diri Sendiri: Bersikap baik kepada diri sendiri saat menghadapi rintangan, yang membantu mempertahankan antusiasme dan tekad.
Visualisasikan Keberhasilan: Bayangkan mencapai sasaran Anda untuk mempertahankan motivasi selama masa-masa sulit.
Rayakan Kemajuan: Akui dan rayakan tonggak sejarah yang Anda capai di sepanjang jalan.
Ingat, kegigihan adalah keterampilan yang berkembang seiring waktu dengan upaya dan ketahanan yang konsisten.
Kegigihan yang Bermasalah
Kegigihan tidak selalu bermanfaat. Dalam beberapa kasus, kegigihan bersifat maladaptif. Roy F. Baumeister, Todd F. Heatherton, dan Dianne M. Tice menulis, “meskipun berhenti terlalu dini adalah salah satu jalan menuju kegagalan, bertahan melewati titik optimal adalah jalan yang kurang dikenal tetapi sering kali sama-sama merusak menuju kegagalan yang mahal” (Baumeister, dkk., 1994).
Pada dasarnya, kegigihan yang sehat membutuhkan ketekunan dalam perilaku yang tepat untuk mencapai tujuan yang dapat dicapai.
Kita memerlukan beberapa monitor bawaan untuk memberi sinyal ketika penggunaan upaya kita yang optimal terbuang sia-sia. Tentu saja, tidak ada sistem peringatan yang sempurna. Sering kali, kita begitu berinvestasi dalam tujuan kita saat ini sehingga kita tidak dapat melihat kesia-siaan untuk melanjutkan. Pendapat luar dari orang-orang yang terampil dan berpengetahuan dapat menjadi panduan yang efektif.
Konsep Terkait
Efikasi Diri: Konsep ini merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan mencapai tujuan. Konsep ini memainkan peran penting dalam menentukan tingkat motivasi, usaha, dan ketekunan yang dilakukan seseorang dalam berbagai aktivitas.
Teori Penentuan Nasib Sendiri: Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterkaitan. Otonomi merujuk pada kebutuhan untuk merasa memegang kendali atas tindakan dan tujuan sendiri, kompetensi merujuk pada kebutuhan untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungan, dan keterkaitan merujuk pada kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain dan untuk peduli dan diperhatikan oleh orang lain.
Harga Diri: Sementara efikasi diri adalah tentang keyakinan terhadap kemampuan seseorang untuk berhasil dalam tugas-tugas tertentu, harga diri merujuk pada rasa harga diri seseorang secara keseluruhan. Keduanya saling terkait, karena efikasi diri yang tinggi dapat meningkatkan harga diri.
Pengaturan Diri: Ini melibatkan pengendalian perilaku, emosi, dan pikiran seseorang dalam mengejar tujuan jangka panjang. Efikasi diri memengaruhi pengaturan diri dengan memengaruhi cara individu menetapkan tujuan, memantau kemajuan, dan bertahan dalam menghadapi tantangan.
Lokus Kontrol: Konsep ini mengacu pada tingkat keyakinan orang bahwa mereka memiliki kendali atas hasil peristiwa dalam hidup mereka. Individu dengan lokus kontrol internal yang tinggi sering kali memiliki efikasi diri yang lebih tinggi karena mereka percaya tindakan mereka berdampak langsung pada kesuksesan mereka.
Teori Pemberdayaan: Teori pemberdayaan meneliti faktor penentu internal dan eksternal yang saling terkait yang memengaruhi perilaku.
Psychology Fanatic pada unggahannya tersebut juga memberikan kesimpulan atas apa yang disebut sikap Persistens atau kegigihan ini sebagai berikut,
Sifat kegigihan merupakan bukti ketahanan dan tekad yang luar biasa dari jiwa manusia. Melalui pengaruhnya yang tak tergoyahkan, kegigihan memberdayakan individu untuk mengatasi rintangan, melampaui keterbatasan, dan mewujudkan aspirasi terdalam mereka. Saat kita terus mengeksplorasi sifat multifaset dari sifat tekad dan keuletan yang menarik ini, kita mengungkap signifikansinya yang mendalam dalam membentuk jalan kita menuju kesuksesan dan kemajuan.
Jadi, apakah Anda adalah orang yang memiliki sikap ini? Atau sedang berusaha untuk memiliki dan tabah menjalaninya? Semua tergantung pada Anda. (ard)











Discussion about this post