KAMU KUAT – Jakarta
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang perjalanan menumbuhkan kesabaran, kemandirian, dan rasa syukur. Bagi anak kos, menjalani puasa jauh dari keluarga adalah pengalaman yang menantang. Tantangan tersebut seperti harus menyiapkan makan sahur dan buka puasa sendiri dengan menu ala kadarnya versi mereka.
Namun, di balik pengalaman tersebut, terdapat pelajaran berharga tentang menghargai nikmat sekecil apapun dan menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan. Sebagai anak kos semuanya harus dilakukan sendiri atau bersama teman-teman seperjuangan. Mereka juga terkadang saling berbagi makanan dengan teman sekamar.
Momen Ramadan di kos dengan cerita tersendiri dan penuh makna itu dibagikan oleh para anak muda ini kepada tim kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com. Seperti apa?
Siti Nur Nabiya , mahasiswi semester 2, Poltekkes Kemenkes Jakarta 3

Buka puasa jadi momen yang selalu ditunggu, apalagi kalau ada menu favorit. Buat Nabiya, dua hal yang selalu ada saat berbuka adalah es campur dan kurma. “Kalau untuk buka puasa, aku lebih suka es campur sama kurma,” katanya.
Sensasi manis dan segar dari es campur memang cocok untuk melepas dahaga setelah seharian puasa. Tapi, Nabiya nggak asal berburu takjil. “Aku biasanya mulai cari takjil jam 5 sore dan lebih suka minuman dingin dibanding yang hangat saat berbuka,” ujarnya.
Sahur juga jadi bagian penting selama puasa, dan Nabiya punya menu andalan yang simpel tapi mengenyangkan: nasi, telur, dan mie. “Selalu ada sih, Kak,” katanya. Kadang, kalau nggak sempat makan berat, ia lebih memilih nyemil sedikit sebelum tidur sekalian berdoa.
Untuk persiapan sahur, Nabiya biasanya sudah menyiapkan beberapa makanan siap saji biar lebih praktis. Tapi kalau lagi capek, solusi terbaiknya adalah beli makanan jadi. “Kadang kalau lagi capek, beli sih, Kak. Kalau sahur biasanya kita beli juga,” ujarnya.
Menjalani puasa jauh dari keluarga bukan hal yang mudah, tapi bagi Nabiya, tinggal di kos justru jadi pengalaman berharga. “Saya lebih suka di kos sih, Kak, soalnya ngajarin mandiri,” katanya.
Selama Ramadan, ia belajar mengatur waktu, memasak sendiri, hingga mengelola keuangan agar cukup selama sebulan penuh. Meskipun terkadang ada rasa rindu dengan suasana rumah, tinggal di kos memberinya banyak pelajaran hidup.
Meskipun menikmati momen Ramadan, Nabiya mengaku ada tantangan yang harus dihadapi, yaitu masalah lambung. “Aku seringnya lambung sih, Kak,” katanya. Biasanya, kalau sudah kambuh, ia langsung minum obat agar tidak semakin parah.
Menariknya, meskipun punya masalah lambung, Nabiya tetap suka makanan pedas. “Aku suka sih makanan pedas,” katanya mengakhiri wawancara.
Juliana Prihatini, mahasiswi semester 4 , Politeknik Negeri Subang, Jawa Barat

Menjalani Ramadan di kos tentu berbeda dengan di rumah. Tidak ada masakan ibu, tidak ada yang membangunkan sahur, dan harus pintar mengatur pola makan agar tetap kuat berpuasa. Juliana Prihatini, mahasiswi semester 4 di Politeknik Negeri Subang, berbagi pengalaman dan tipsnya dalam menjalani Ramadan sebagai anak kos.
Buat Juliana, makanan berkuah adalah menu sahur favorit. “Kalau dari aku pribadi, untuk sahur lebih suka dengan makanan berkuah seperti sop, sawi putih, atau makanan dengan kuah,” ujarnya.
Namun, karena tinggal di kos, ia punya menu andalan yang selalu tersedia, yaitu abon dan tumis pakcoy. Selain praktis, menu ini tetap bergizi dan bisa bertahan lebih lama.
Berbeda dengan sahur, Juliana lebih suka makanan kering saat berbuka. “Kalau berbuka, saya lebih suka lauk kering seperti tempe orek dan kacang teri,” katanya.
Saat di kos, menu buka puasanya lebih simpel, biasanya gorengan dan orek. “Ini biasa kalau di rumah juga, Kak,” tambahnya. Walaupun sederhana, yang penting tetap bisa mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Juliana punya cara sendiri agar tetap kuat menjalani puasa, terutama sebagai mahasiswa yang harus tetap aktif. “Cara agar saya kuat menjalani puasa itu ada,” katanya. Beberapa tips yang juliana lakukan adalah, hanya melakukan aktivitas yang penting.
“Kalau ada acara yang tidak wajib, saya tidak perlu hadir karena akan membuat lelah. Kalau kumpul dengan yang tidak puasa bisa bikin tergoda,” ujarnya.
Untuk menjaga asupan cairan dan nutrisi ia mengakui biasa minum Pocari Sweat untuk menambah cairan ion tubuh, minum vitamin, dan makan sesuai porsi. Beruntungnya, Juliana sudah terbiasa dengan puasa sunnah, jadi Ramadan tidak terlalu berat baginya. “Alhamdulillah, sudah terbiasa puasa sunnah, jadi rasanya sama saja,” katanya.
Salah satu tantangan terbesar anak kos saat Ramadan adalah bangun sahur. Juliana punya trik jitu agar tidak kesiangan. “Aku memasang alarm satu jam sebelum sahur, setiap 10 atau 15 menit secara berulang,” jelasnya.
Contohnya, kalau mau bangun jam 3, ia memasang alarm jam 2:00, 2:15, 2:30, dan seterusnya. “Sejauh ini cara ini efektif buat membangunkan saya untuk tahajud hingga sahur,” tambahnya.
Juliana lebih suka memasak sendiri saat Ramadan, terutama karena makanan di sekitar kosnya kurang cocok dengan seleranya. “Melihat kondisi waktu, kalau efisien buat masak, saya masak. Kalau nggak, beli. Tapi hampir 80 persen saya selalu masak,” ujarnya.
Meskipun sudah terbiasa hidup mandiri, Juliana tetap merasa Ramadan di rumah lebih menyenangkan. “Lebih enak di rumah, tentunya bisa bersama keluarga dan terutama bisa bantu mamah,” katanya.
Rustu Fattah Ar Rozzaaq, mahasiswa semester 4, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Bagi Rustu, buka puasa di kos biasanya tidak terlalu ribet. Menu wajibnya selalu ada takjil yang dibeli di pinggir jalan, seperti gorengan dan es teh. Sementara itu, sahurnya lebih praktis, andalan utamanya adalah mie instan atau nasi dengan telur, yang penting cepat dan gampang dibuat.
Namun, ada kalanya ia ingin merasakan suasana rumah dengan masakan yang lebih spesial. “Kalau lagi niat, kadang masak ayam goreng sambel biar lebih berasa rumahnya,” ujarnya. Selain itu, ia juga selalu menyediakan cemilan manis untuk buka puasa agar lebih bervariasi.
Sebagai anak kos, persiapan makanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Rustu biasanya menyetok makanan instan seperti mie dan sarden untuk sahur, serta susu dan roti sebagai cadangan jika malas masak.
Tak hanya itu, kiriman makanan dari rumah juga menjadi penyelamat, terutama stok makanan kering dari sang ibu. “Mama suka kasih stok makanan kering kayak rendang, sambal, atau yang simpel-simpel aja, jadi tinggal dipanasin aja,” kata Rustu. Hal ini sangat membantu, terutama ketika ia merasa malas atau tidak sempat menyiapkan makanan sendiri.
Tinggal di kos tentu memiliki tantangannya sendiri saat menjalani Ramadan. Salah satu hal yang sering dialami Rustu adalah kesiangan saat sahur. “Tantangannya lebih ke suka kesiangan pas sahur, terus juga dari makanan agak repot karena harus siapin sendiri,” tuturnya.
Untuk menghindari telat bangun sahur, ia mencoba tidur lebih awal. Biasanya, setelah salat tarawih dan makan malam, ia langsung tidur agar bisa bangun tepat waktu saat sahur.
Meskipun sahur sering dilakukan sendiri, buka puasa justru menjadi momen kebersamaan bagi anak-anak kos. “Kalau sahur sih biasanya sendiri, tapi kalau buka bareng-bareng sama teman-teman yang lain,” kata Rustu. Kebiasaan ini membuat suasana Ramadan di kos tetap terasa hangat meskipun jauh dari keluarga.
Namun, jika dibandingkan, ia tentu lebih memilih menjalani Ramadan di rumah. “Pastinya lebih suka di rumah sih, wkwk,” candanya. Di rumah, menu buka puasa lebih lengkap dan selalu ada hidangan wajib keluarga seperti gorengan dan es kelapa.
Momen Ramadan di kos mungkin penuh tantangan, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Dari sahur yang seadanya hingga buka puasa yang penuh kebersamaan, setiap detiknya mengajarkan arti kesabaran, kebersyukuran, dan kebersamaan.
Tak masalah seberapa sederhana menu yang tersaji, yang terpenting adalah hati yang selalu bersyukur dan semangat yang tetap menyala. Karena Ramadan bukan tentang kemewahan, tetapi tentang bagaimana kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan makna. (Resty)













Discussion about this post