Avesiar – Cerpen dan Puisi
Kidung Resah Para Terompah
Oleh: Mas Ngabehi
****************
Kami hanyalah terompah jalanan,
menapak di tanah yang kian usang.
Menghantar langkah para penguasa,
namun dilupakan saat tahta menjulang.
—————————–
Kami dipakai, diinjak, dan ditinggalkan,
seperti rakyat yang hanya angka di laporan.
Dipuji saat mereka butuh suara,
ditinggal saat pesta kuasa digelar megah.
—————————–
Dulu mereka berjanji setia,
katanya akan merawat bangsa.
Namun kini, yang mereka jaga hanyalah kursi,
sementara rakyat terhimpit sunyi.
—————————–
Di lorong pasar, ibu-ibu menawar hidup,
menyulam asa dari receh yang tersisa.
Sementara di gedung tinggi berlapis kaca,
mereka membagi harta yang bukan haknya.
—————————–
Kami mendengar tangis di balik gang yang pilu,
anak-anak merintih lapar dan lesu.
Di sekolah, ilmu dijual mahal,
di rumah sakit, nyawa dihitung angka.
—————————–
Kami hanyalah terompah di jalanan,
menyaksikan kepedihan yang dianggap biasa.
Sementara mereka berpidato lantang,
tentang kemakmuran yang tak pernah datang.
—————————–
Negeri ini, di mana keadilannya?
Mengapa hukum hanya fatamorgana?
Mengapa janji tinggal cerita lama,
dan kebenaran dikubur tanpa pusara?
—————————–
Kami resah dalam kidung panjang,
di antara debu dan langkah yang letih.
Sampai kapan rakyat jadi terompah,
yang diinjak oleh pemimpin yang serakah.
—————————–
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post