Avesiar – Jakarta
Nabi Allah yang mendapat rintangan yang luar biasa untuk mengajak umatnya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama ratusan tahun adalah Nabi Nuh Alaihissalam. Selain rintangan serta tantangan hebat dari kaumnya yang kafir, beliau juga mendapat ejekan, olok-olok dan kata-kata kotor lainnya.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, pada permulaan surat Nuh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Nuh AS bahwa Dia telah mengutusnya kepada kaumnya. Dia memerintahkan kepada Nabi Nuh AS agar memberikan peringatan akan datangnya azab Allah sebelum menimpa mereka.
Ia mengajak agar kaumnya mengerjakan apa yang diperintahkan dan membenarkan risalah yang disampaikannya. Jika mereka (kaum Nabi Nuh AS) mau bertaubat dan kembali ke jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, niscaya azab itu akan diangkat (dilenyapkan dari mereka). Namun, kaumnya tidak mendengarkan apa yang diperingatkan oleh Nabi Nuh AS.
Nabi Nuh Alaihissalam tidak mengenal putus asa, menasehati dan memberi peringatan kepada kaumnya yang mendurhakai Allah. Sedikit sekali jumlah mereka yang beriman dan mengikuti ajakannya. Padahal perjuangan beliau menelan waktu sekitar 910 tahun lamanya.
Perjuangan Nabi Nuh Alaihissalam tersebut disebutkan dalam Al Qur’an Surah Nuh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.”
“Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu.”
“(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,”
“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.”
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.”
“Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Surah Nuh, ayat 1 – 7)
Apabila umat manusia berbuat hal-hal yang melampaui batas kemanusiaan dan durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka akan disediakan azab yang sangat pedih di akhiratdan ditimpa siksa yang kejam di dunia.
Kemudian ayat-ayat selanjutnya menyatakan bagaimana Nabi Nuh Alaihissalam meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena kaumnya mendustainya dan Allah menenggelamkan mereka hingga musnah, termasuk anaknya yang bernama Kanan,
“Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.”
“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.”
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”
“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.”
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Surah Nuh, ayat 24 – 28)
Sekalipun keluarga sendiri, apabila berlainan keyakinan, itu bukanlah berarti keluarganya sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti memberi pertolongan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mengikuti ajakan nabi-Nya.
Nuh bermunajat kepada Tuhannya dengan memanjatkan doa. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.“ ( QS Hud : 45)
Inilah hati seorang ayah yang terbakar kesedihan lalu bermunajat terhadap Tuhannya, karena menyangka anaknya adalah anggota keluarganya dan memiliki keimanan. Inilah pujian yang dipanjatkan Nabi Nuh kepada Allah agar doanya diterima.
Lalu turunlah penjelasan dari Tuhan kepada Nuh secara gamblang dan sempurna. Allah berfirman:
“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Hud : 46)
Tatkala Nuh menyadari akan larangan dari Tuhannya dia bekata, Nuh berkata:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Hud : 47)
Nabi Nuh meminta maaf kepada Tuhannya, bertobat, beristighfar dan kembali kepada Allah. Selain itu Nabi Nuh tidak mengulangi perbuatannya lagi yaitu mendoakan anaknya Kanan yang kafir.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegur dan memberi peringatan kepada Nuh AS yang tetap mendoakan anaknya yang kafir dan fasik. Allah juga memberi nasehat kepada Nuh agar jangan sekali-kali mengulangi perbuatannya itu.
Sadar akan kekeliruannya, Nabi Nuh menyesal. Beliau lantas menangis selama 300 tahun sehingga di bawah kedua matanya seperti air mancur karena seringnya dia menangis. (put/dari berbagai sumber)













Discussion about this post