KAMU KUAT – Jakarta
Siapa sih yang nggak suka ditraktir? Bayangkan lagi nongkrong bareng teman-teman, tiba-tiba ada yang bilang, “Udah, Aku aja yang bayar” Pasti rasanya senang, kan? Tapi, di sisi lain, ada juga orang yang justru lebih bahagia saat mentraktir orang lain karena merasa senang bisa berbagi.
Traktiran sering dianggap sebagai bentuk perhatian, simbol kebersamaan, atau bahkan cara untuk mempererat hubungan pertemanan. Tapi, apakah traktiran selalu menyenangkan?
Bagaimana jika traktiran justru menimbulkan rasa sungkan atau ada maksud tersembunyi di baliknya? Yuk, kita bahas lebih dalam serunya dunia traktiran dengan para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com.
Jan Fadly Anwar, siswa kelas 11, SMA Negeri 12, Tangerang Selatan

Bagi banyak remaja, traktiran adalah bagian dari kebersamaan. Ada yang senang mentraktir, ada juga yang lebih suka ditraktir. Salah satu siswa kelas 11 SMA 12 Tangsel, Jan Fadly Anwar, berbagi pandangannya tentang hal ini.
“Kalau menurut aku, lebih suka ditraktir karena kesannya seru.”
Menurutnya, momen seperti ulang tahun atau acara khusus menjadi waktu yang pas untuk traktiran bersama teman-teman.
Saat ditraktir, Jan mengaku merasa senang dan menikmati momen tersebut. “Perasaan saya happy.” Namun, ia juga menyadari bahwa ada konsep take and give artinya ada timbal balik dalam traktiran. Meskipun ia tidak pernah menolak traktiran, terkadang ia merasa tidak enak karena jarang mentraktir balik.
“Pernah merasa tidak enak karena saya jarang mentraktir.” ujar Jan
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun traktiran itu menyenangkan, sebagian orang tetap merasa ada tanggung jawab sosial untuk berbagi kembali di lain kesempatan.
Bagi Jan, orang yang suka mentraktir adalah orang yang baik karena berbagi rezeki dengan orang lain. Namun, ia menekankan bahwa traktiran biasanya dilakukan pada acara tertentu, seperti ulang tahun atau momen spesial lainnya.
“Menurutku bagus, karena mereka membagi rezeki kepada orang lain, tapi biasanya di acara tertentu.”
Cici, mahasiswi semester 1, Universitas Pamulang

Salah satu mahasiswa semester 1 di Universitas Pamulang, Cici, berbagi pandangannya tentang tema ini. Menurutnya, ia lebih suka mentraktir karena merasa senang saat bisa membuat orang lain bahagia.
“Saya suka mentraktir karena senang melihat orang lain merasa senang,” ujar Cici.
Namun, ketika berada di posisi yang ditraktir, ia mengaku sering merasa kurang nyaman. “Saya tidak menolak ditraktir, tapi terkadang merasa kurang enak hati.” Ungkap cici.
Rasa tidak nyaman itu muncul karena beberapa alasan. Salah satunya adalah jika orang yang mentraktir bukan teman dekatnya. “Kalau yang mentraktir adalah orang yang baru saya kenal, saya merasa seperti punya hutang budi,” ujarnya.
Selain itu, ia juga khawatir tidak bisa membalas traktiran tersebut atau takut jika traktiran itu sebenarnya hanya basa-basi dan tidak dilakukan dengan ikhlas.
Menurut Cici, mentraktir bisa membuat hubungan pertemanan semakin erat, terutama jika dilakukan dalam suasana yang tepat. “Mentraktir bisa menjadi bentuk perhatian, kebiasaan berbagi, dan menciptakan kenangan bersama,” seru Cici
Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua traktiran itu benar-benar tulus. Terkadang, seseorang mentraktir karena ada maksud tertentu, misalnya ingin mendapatkan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu. “Kadang saya merasa ada maksud di balik traktiran, misalnya seseorang ingin mencari keuntungan atau menutupi suatu hal,” ucapnya.
Selain itu, ada juga momen di mana seseorang merasa terpaksa mentraktir karena didesak oleh teman-temannya. Hal ini tentu bisa menjadi tekanan sosial yang tidak menyenangkan.
Menurut Cici, seseorang yang sering mentraktir bisa dikategorikan menjadi dua jenis, Orang yang memang dermawan, senang berbagi tanpa mengharapkan balasan dan orang yang punya maksud tertentu, misalnya ingin mendapatkan keuntungan atau sekadar pencitraan.
Bagi Cici, jika seseorang benar-benar tulus dalam mentraktir, hal itu bisa menjadi sesuatu yang baik. Namun, jika terasa ada maksud di baliknya, sebaiknya lebih berhati-hati.
Raina Keisya, siswi kelas 9, SMP Negeri 11, Tangerang Selatan

Menurut Raina, ia lebih suka mentraktir dibandingkan ditraktir. “Kalau secara personal, aku lebih suka mentraktir karena timbul rasa kepuasan dan senang aja,” ujar Raina.
Baginya, mentraktir bukan hanya soal berbagi makanan atau minuman, tapi juga memberikan kebahagiaan bagi orang lain.
Meskipun lebih suka mentraktir, Raina juga merasa senang saat ditraktir. Namun, ia mengakui ada situasi di mana ia merasa kurang nyaman. “Nggak enak kalau tiba-tiba ditraktir dan nggak ada event apa-apa. Tapi kalau temen ada yang ulang tahun atau ada alasan lain, nggak masalah. Soalnya selama ini di antara temen-temenku, kita selalu saling traktir balik,” ujarnya.
Menurutnya, dalam pertemanan, traktiran bukan sekadar soal siapa yang bayar, tapi lebih ke saling berbagi dan menghargai satu sama lain. Bagi Raina, traktiran bisa menjadi salah satu cara mempererat hubungan pertemanan. “Karena merasa dipedulikan mungkin? Biasanya kalau udah mentraktir tuh kesannya sudah dekat,” ujarnya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa ia selalu menolak traktiran yang datang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. “Aku selalu nolak kalau tiba-tiba ditraktir. Soalnya aku memang nggak suka ditraktir kalau nggak ada apa-apa,” beber Raina.
Hal ini menunjukkan bahwa bagi Raina, traktiran harus dilakukan dengan alasan yang jelas dan bukan sekadar basa-basi.
Raina mengaku senang melihat orang yang suka mentraktir, karena menurutnya itu adalah tanda seseorang yang baik dan murah hati. “Suka lihatnya! Karena secara nggak langsung, bisa dilihat kalau orangnya tuh baik dan royal. Dan teman-temanku rata-rata kayak gitu semua,” katanya.
Beruntungnya, ia juga tidak pernah mengalami tekanan untuk mentraktir teman-temannya. “Aku nggak pernah merasa terpaksa mentraktir karena dipojok-pojokin teman.”
Baik Raina, mentraktir maupun ditraktir, semuanya kembali ke niat dan kebersamaan. Jika dilakukan dengan tulus, traktiran bisa menjadi momen yang menyenangkan dan mempererat pertemanan. Tapi, kalau sampai menimbulkan rasa tidak nyaman atau ada maksud tersembunyi, tentu bisa menjadi beban.
Pada akhirnya, baik ditraktir maupun mentraktir, yang paling penting adalah niat dan ketulusan. Jika ingin mentraktir, lakukan dengan senang hati tanpa mengharapkan balasan. Sebaliknya, kalau ditraktir, nggak ada salahnya menerima, asal tetap tahu batasan dan nggak bergantung pada orang lain.
Traktiran seharusnya menjadi momen menyenangkan, bukan jadi beban atau membuat seseorang merasa berhutang budi.
Jadi, apakah kamu lebih suka menikmati traktiran atau justru senang berbagi dengan mentraktir teman-temanmu? Apa pun pilihanmu, yang terpenting adalah kebersamaan dan menghargai satu sama lain. (Resty)











Discussion about this post