Avesiar – Cerpen dan Puisi
Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 1)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Adzan maghrib berkumandang merdu di sebuah masjid kecil di pinggiran kota. Cahaya lampu kuning temaram berpadu dengan redupnya sinar senja yang mulai tenggelam.
Mirab Sunyi – Tempat Hati Bertemu
Masjid itu sederhana, tetapi selalu ramai dengan jamaah yang datang bukan hanya untuk menunaikan shalat, melainkan juga mencari ketenangan dan keberkahan. Tempat ini menjadi saksi bisu banyak doa yang dipanjatkan, harapan yang tersemat, serta takdir yang perlahan dijalin.
Di sudut ruang shalat wanita, seorang gadis muda duduk dengan tenang. Aisyah namanya. Wajahnya teduh, penuh ketulusan, mencerminkan kedamaian hati yang selalu ia jaga. Ia seorang wanita sederhana, berhati lembut, dan penuh kasih sayang. Setiap hari, selepas mengajar anak-anak mengaji di masjid, ia menyempatkan diri untuk duduk lebih lama, berzikir, atau sekadar meresapi ayat-ayat suci yang ia lantunkan dengan suara lembut.
Di sisi lain, di saf pria, seorang pemuda termenung setelah shalat. Rafi. Nama itu dulu dikenal di lingkungannya sebagai pemuda yang tak begitu peduli dengan agama. Namun, beberapa bulan terakhir, ia sering terlihat di masjid ini, datang dengan langkah berat tapi hati yang perlahan mencari arah.
Malam itu, selepas shalat maghrib, Rafi tetap duduk di tempatnya. Ia memperhatikan sekeliling, meresapi suasana yang begitu menenangkan. Matanya tanpa sengaja tertuju pada sosok Aisyah yang masih khusyuk dalam doanya.
Bukan karena rupa, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Sebuah keteduhan yang membuat hati Rafi bergetar. Ada cahaya yang terpancar dari keshalihahannya, sesuatu yang belum pernah ia temukan dalam dirinya sendiri.
Tak sadar, Rafi menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.
“Kau masih di sini, Rafi?” suara lembut seorang pria tua menyadarkannya. Itu suara Ustadz Salman, imam masjid yang selama ini menjadi pembimbingnya.
Rafi tersenyum tipis, menundukkan kepala. “Iya, Ustadz. Saya hanya ingin lebih lama di sini. Rasanya lebih damai.”
Ustadz Salman mengangguk, lalu duduk di sampingnya. “Itulah rahmat Allah, Nak. Hati yang mencari-Nya, akan selalu menemukan ketenangan di rumah-Nya.”
Rafi menggenggam tangannya sendiri. “Saya merasa kecil, Ustadz. Seperti belum pantas untuk berada di sini, di antara orang-orang yang lebih baik dari saya.”
Ustadz Salman tersenyum bijak. “Nak, bukan tentang seberapa baik kita di masa lalu. Tapi seberapa besar keinginan kita untuk berubah. Tidak ada manusia yang sempurna, yang ada hanya manusia yang ingin memperbaiki dirinya. Dan Allah selalu menerima hamba-Nya yang datang dengan niat yang tulus.”
Rafi mengangguk pelan. Namun, hatinya masih dipenuhi pertanyaan. Ia tahu bahwa hijrahnya masih belum sempurna. Ia masih berusaha. Dan kini, tanpa ia sadari, hatinya mulai terusik oleh sosok yang baru ia kenal dari kejauhan. Aisyah. Wanita yang bahkan tak pernah ia ajak bicara.
Malam semakin larut. Aisyah akhirnya bangkit, bersiap pulang. Ia mengambil Al-Qur’an yang selalu menemaninya dan berjalan menuju halaman masjid.
Saat itu, tanpa sengaja, ia dan Rafi berpapasan. Mata mereka hanya saling menunduk. Tak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang menyelimuti, seolah angin pun enggan mengusiknya.
Hati Rafi berdebar. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia tahu batasan. Ia bukan siapa-siapa bagi Aisyah. Ia bahkan belum yakin dengan dirinya sendiri. Tapi entah kenapa, dalam satu momen singkat itu, ia merasa takdir sedang mengajaknya berbicara.
Saat langkah Aisyah semakin menjauh, Rafi hanya bisa berdiri diam. Tanpa sadar, bibirnya berbisik pelan, “Ya Allah, jika dia baik untukku, maka dekatkanlah. Jika tidak, jauhkanlah aku dari perasaan yang belum tentu menjadi takdirku.” (bersambung ke bagian 2)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).











Discussion about this post