Avesiar – Jakarta
Jalur Gaza, rumah bagi 2,3 juta warga Palestina, telah mengalami lebih dari enam minggu setelah blokade total Israel berupa pemutusan bantuan dan pasokan yang disengaja telah menjerumuskan daerah kantong itu ke dalam bencana kelaparan buatan manusia.
Dikutip dari The New Arab, Kamis (10/4/2025), makanan yang ditimbun selama gencatan senjata singkat di awal tahun telah habis. Tidak hanya itu, toko roti tutup, pasar kosong dan dapur darurat beroperasi dengan waktu yang terbatas.
Dilaporkan bahwa antrean panjang di utara, di Nuseirat, terbentuk di dapur luar tempat anak-anak yang kelelahan melambaikan ember kosong, berharap hanya mendapat sesendok nasi. Program Pangan Dunia, yang pernah memasok 25 toko roti di Gaza, mengatakan semuanya sekarang tutup. Paket makanan, yang sudah dikurangi hingga sangat sedikit, akan segera dihentikan sama sekali.
Juliette Touma dari UNRW mengatakan, itu adalah perang terhadap yang hidup, bukan hanya yang mati. “Bayi dan anak-anak tidur dalam keadaan lapar, ibu tidak bisa menyusui, harga tidak masuk akal, dan Gaza terjerumus dalam kelaparan ekstrem. Semua itu karena pengepungan yang direkayasa,” ujarnya, dikutip dari The New Arab.
Dilaporkan juga harga kebutuhan pokok meroket yang tidak dapat dijangkau oleh sebagian besar orang. Mjsalnya harga untuk sekarung tepung seberat 25 kilogram telah meroket menjadi lebih dari 60 dolar dari harga sebelunya 6 dolar. Kemudian harga minyak goreng 10 dolar per liter. Dan jikapun ada, sekaleng sarden dijual seharga 5 dolar.
Dewan Pengungsi Norwegia memperingatkan bahwa distribusi makanan hampir sepenuhnya dihentikan. Persediaan terakhir yang tersisa dijatah untuk menjaga dapur umum tetap beroperasi selama beberapa hari lagi. Médecins Sans Frontières melaporkan anak-anak dan ibu hamil mengalami kekurangan gizi parah. Ibu-ibu yang menyusui sendiri terlalu lemah untuk memproduksi ASI.
Di lain sisi, penjajah Palestina, Israel, menyangkal adanya krisis kelaparan. Militernya mengklaim pengepungan diperlukan untuk mencegah bantuan mencapai kelompok perlawanan Palestina dan menuduh Hamas mengeksploitasi pengiriman bantuan kemanusiaan, klaim yang dibantah oleh otoritas Gaza.
Israel melalui Kementerian luar negerinya mengatakan ribuan truk memasuki Gaza selama gencatan senjata singkat sebelum penutupan total pada bulan Maret, dengan membingkai kebijakan kelaparannya sebagai tindakan keamanan.
Kelompok Hak Asasi Manusia dan pejabat Palestina mengatakan bahwa hal itu adalah siksaan secara kolektif, taktik yang disengaja, dan tidak manusiawi yang dirancang untuk menghancurkan semangat dan kelangsungan hidup seluruh masyarakat.
“’Jika bukan dengan bom, maka dengan kelaparan,” katanya.
Saat ini di Gaza, sebagaimana dunia menyaksikannya, Israel menjadikan kelaparan sebagai senjata perang. (ard)













Discussion about this post