KAMU KUAT – Jakarta
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dominasi media sosial, ternyata membaca buku masih menjadi kegiatan yang digemari sebagian remaja. Meski kini bersaing dengan konten-konten digital yang serba cepat dan instan, buku tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Setiap remaja punya selera bacaan yang berbeda, mulai dari kisah cinta yang manis, cerita fantasi yang penuh imajinasi, hingga novel penuh misteri yang bikin penasaran. Buku tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga media untuk mengekspresikan diri, mencari pelarian dari stres, dan bahkan menggali inspirasi.
Lalu, seperti apa sebenarnya jenis buku yang paling disukai remaja saat ini? Dan apa alasan mereka memilih buku-buku tersebut di tengah banyaknya pilihan hiburan lain? Yuk kita bahas dengan para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com
Muhammad Ihya Ramadhan, mahasiswa semester 5, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester 5 di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Muhammad Ihya Ramadhan masih menyempatkan diri untuk membaca buku, terutama di waktu luang. Saat kebanyakan orang memilih scrolling media sosial untuk mengisi kejenuhan, Ihya memilih membuka lembar demi lembar buku fiksi.
“Aku suka baca buku, biasanya pas ada waktu luang. Rasanya seru dan bisa jadi hiburan kalau lagi bosan,” ujarnya.
Ihya mengaku bahwa genre fiksi adalah favoritnya. Bukan tanpa alasan, menurutnya, fiksi mampu membangun imajinasi dan kreativitas. Salah satu buku yang paling berkesan baginya adalah Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. “Itu buku fiksi pertama yang aku baca, dan sejak itu aku jadi suka baca buku,” kenangnya.
Untuk urusan mencari bacaan baru, Ihya sering mendapat rekomendasi dari teman-temannya. Ia juga lebih suka membaca buku cetak daripada versi digital. “Lebih seru aja rasanya kalau bisa buka halaman demi halaman secara langsung,” katanya sambil tersenyum.
Ketika ditanya apa yang membuatnya tertarik membaca sebuah buku, Ihya menjawab singkat, “Sinopsisnya.” Ia mengaku belum pernah ikut komunitas baca, namun tetap menjadikan membaca sebagai kegiatan favorit saat ingin menyendiri dan menenangkan pikiran. “Membaca memberi waktu sendiri untuk fokus menyelesaikan cerita, dan itu menyenangkan.”
Menariknya, meski suka cerita fiksi, Ihya lebih tertarik dengan buku yang serius dan mengandung banyak pesan moral.
Baginya, membaca bukan hanya hiburan, tapi juga kebiasaan positif yang penting untuk dibangun sejak remaja. “Penting banget. Karena bisa jadi habit yang baik, apalagi kalau sudah terbiasa dari sekarang.” Ujar Ihya menutup wawancara
Anindita Ramadhani, mahasiswi semester 6, Universitas Padjadjaran (UNPAD)

Bagi Anindita Ramadhani, mahasiswa semester 6 di Universitas Padjadjaran (UNPAD), membaca bukan sekadar hobi, tapi juga tempat pelarian dari penatnya rutinitas. Meski frekuensi membacanya tergantung mood, ia mengaku cukup sering menghabiskan waktu bersama buku terutama yang bergenre romansa, fiksi, dan fantasi.
“Aku suka baca karena menyenangkan. Buku romansa dan fantasi itu bisa bikin aku tenggelam dalam cerita yang kadang jauh dari kenyataan, tapi tetap relate,” ungkapnya.
Salah satu buku yang paling membekas di hati Anindita adalah Dilan 1990. Ia menyukai gaya bahasa puitis dalam kisah cinta Dilan dan Milea. “Aku suka romansa puitis, dan buku itu pas banget di hati,” tambahnya.
Soal rekomendasi buku, Anindita biasanya mendapatkannya dari teman, media sosial, atau bahkan dari koleksi buku ibunya di rak rumah. Ia lebih memilih buku cetak daripada digital. “Kalau digital, ujung-ujungnya malah buka media sosial. Buku cetak bikin lebih fokus dan mendalami isi ceritanya,” jelasnya.
Hal pertama yang menarik perhatiannya dari sebuah buku biasanya adalah cover dan sinopsis. Kalau dua hal itu sudah menarik, besar kemungkinan Anindita akan membacanya sampai selesai.
Menurutnya, kebiasaan membaca itu penting, terutama bagi remaja. “Karena membaca bisa meningkatkan kecerdasan otak,” tegasnya. Meski belum pernah ikut komunitas baca, ternyata Anindita pernah aktif menulis cerita di Wattpad, lho! “Dulu pernah jadi penulis di Wattpad, tapi sekarang udah berhenti,” katanya santai.
Saat ditanya soal preferensi bacaan, Anindita memilih buku yang ringan dan lucu, tapi tetap punya pesan moral. Ia juga kadang menjadikan membaca sebagai pelarian saat stres, tergantung suasana hati. “Kalau mood-nya pas, baca buku bisa bikin lebih tenang.”
Cerita Anindita membuktikan bahwa membaca itu fleksibel. Nggak harus selalu serius dan kaku, karena bisa jadi teman yang menyenangkan, bahkan saat kita cuma ingin sendiri sambil menenangkan pikiran.
Panji Ridho Rabbani, mahasiswa semester 2, IPB University

Ridho ternyata menyimpan ketertarikan pada dunia literasi, Ia mengaku lumayan suka membaca buku, meski akhir-akhir ini waktunya untuk membaca mulai berkurang karena padatnya tugas kuliah. “Sekarang agak jarang baca karena terdistraksi tugas, tapi sebenarnya aku lumayan suka,” ujar Ridho jujur.
Jenis buku yang paling ia sukai adalah fiksi. Alasannya cukup simpel tapi menarik: buku fiksi menawarkan sesuatu yang tidak ditemukan di dunia nyata. “Fiksi itu menyenangkan karena isinya tentang hal-hal yang tidak terjadi di kehidupan nyata. Imajinatif dan kadang bikin mikir juga,” katanya.
Bagi Ridho, membaca fiksi adalah semacam jalan keluar dari rutinitas yang padat cara untuk beristirahat sejenak dari dunia nyata dan larut dalam kisah-kisah yang penuh imajinasi. Meski belum sempat menyebutkan judul buku favorit, kecintaannya pada genre ini sudah cukup menunjukkan bahwa dunia fiksi selalu punya tempat di hatinya.
Dari beragam cerita remaja yang gemar membaca, terlihat bahwa pilihan buku sangat dipengaruhi oleh kepribadian, minat, dan kebutuhan emosional masing-masing. Buku romansa dipilih karena mampu mewakili perasaan dan gejolak remaja, sementara buku fantasi dan fiksi memberikan ruang untuk berimajinasi dan melarikan diri sejenak dari dunia nyata.
Apa pun jenisnya, kebiasaan membaca tetap menjadi hal yang positif dan patut dipertahankan di kalangan remaja. Karena lewat membaca, mereka tidak hanya menemukan cerita, tetapi juga mengenal diri sendiri, memahami orang lain, dan memperluas wawasan.
Di era serba cepat seperti sekarang, remaja yang masih setia membaca buku adalah mereka yang tahu cara menikmati waktu dengan cara yang lebih bermakna. (Resty)











Discussion about this post