Avesiar – Jakarta
Penggunaan ponsel di sekolah menjadi perhatian pemerintah Prancis yang akan memperketat larangan penggunaan ponsel di sekolah menengah. Dikutip dari The Guardian, Jum’at (11/4/2025), mereka akan mewajibkan siswa berusia 11 hingga 15 tahun untuk menyimpan perangkat mereka di loker atau kantong di awal hari dan hanya menggunakannya lagi saat mereka pulang sekolah.
Menteri pendidikan Prancis Élisabeth Borne memberi tahu senat bahwa ia ingin anak-anak benar-benar dipisahkan dari ponsel mereka sepanjang hari sekolah di semua sekolah menengah Prancis mulai September.
“Pada saat penggunaan layar dipertanyakan secara luas karena banyaknya efek berbahaya, tindakan ini penting untuk kesejahteraan dan keberhasilan anak-anak kita di sekolah,” ujarnya.
Prancis pada tahun 2018 melarang anak-anak menggunakan ponsel di semua sekolah menengah – yang dikenal sebagai collèges. Ponsel harus tetap dimatikan di tas sekolah dan tidak boleh digunakan di mana pun di lingkungan sekolah, termasuk pada waktu istirahat.
Dengan lebih banyak interaksi sosial, lebih banyak latihan fisik, lebih sedikit perundungan, dan konsentrasi yang lebih baik, sekolah telah melaporkan adanya efek positif. Meskipun beberapa sekolah melaporkan beberapa anak akan menyelinap ke toilet untuk menonton video di ponsel saat istirahat.
Memisahkan anak-anak sepenuhnya dari perangkat mereka selama hari sekolah adalah langkah lebih jauh yang diperlukan pemerintah Prancis saat ini.
Pemerintah Prancis menyebutnya pemberlakuan “Jeda digital”, sebagaimana telah diuji dalam skema percontohan di sekitar 100 sekolah menengah selama enam bulan terakhir, dengan anak-anak menyerahkan ponsel mereka saat tiba, menaruhnya di loker atau kotak, atau di kantong terkunci khusus yang hanya dapat dibuka oleh sistem elektronik di gerbang sekolah saat mereka pulang.
“Semua umpan balik dari uji coba itu positif, yaitu tentang peningkatan suasana di sekolah, dan ada dukungan besar dari orang tua dan guru,” kata Borne kepada senat.
Mengutip sebuah studi bulan lalu oleh Dewan Buku Nasional Prancis, Borne mengatakan bahwa seorang anak muda sekarang menghabiskan rata-rata lima jam sehari di depan layar, tetapi mereka hanya menghabiskan tiga jam seminggu dengan buku.
”Tidak hanya minat membaca menurun, tetapi bagi mereka yang membaca, setengah dari mereka melakukan hal lain di ponsel mereka pada saat yang sama. Semua itu merusak keberhasilan siswa,” katanya.
Para ilmuwan dan ahli yang ditugaskan oleh presiden Prancis, Emmanuel Macron, tahun lalu menyimpulkan dalam sebuah laporan bahwa anak-anak tidak boleh diizinkan menggunakan telepon pintar sampai mereka berusia 13 tahun dan harus dilarang mengakses media sosial konvensional seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat sampai mereka berusia 18 tahun.
Laporan itu juga mengatakan, khusus untuk siswa Sekolah Dasar, tidak seorang pun boleh memiliki telepon sebelum usia 11 tahun dan mereka seharusnya hanya memiliki telepon genggam tanpa akses ke internet sebelum usia 13 tahun.
Kebijakan langkah-langkah yang diambil untuk membatasi paparan anak-anak terhadap layar tersebut mendapat dukungan dari presiden Prancis tersebut. Langkah-langkah itu diambil ketika pemimpin serikat guru terbesar di Inggris menyerukan larangan telepon di sekolah. (ard)













Discussion about this post