KAMU KUAT – Jakarta
Mencari informasi lewat HP sudah jadi hal yang sangat biasa di era digital seperti saat ini. Bahkan terasa seperti kebutuhan pokok, terutama bagi remaja. Mulai dari mencari bahan tugas sekolah, membaca berita, hingga mengikuti pelajaran daring semuanya dilakukan lewat layar HP.
Namun, di ponsel ternyata tidak hanya pencarian informasi tentang pengetahuan yang berhubungan dengan pelajaran sekolah saja yang dapat diakses, berbagai aplikasi social media, game, serta situs-situs berbahaya juga tidak kalah masifnya meramaikan isi dari ponsel pintar (smart phone).
Dilansir The Guardian, Selasa (25/2/2025), pemerintah Denmark mengatakan akan mengubah undang-undang yang ada untuk memaksa semua folkeskole, sekolah dasar dan menengah pertama yang komprehensif, menjadi bebas ponsel, yang berarti bahwa hampir semua anak berusia antara tujuh dan 16-17 tahun akan diwajibkan oleh hukum untuk tidak membawa ponsel mereka ke sekolah.
Tapi, bagaimana jika suatu hari aturan baru muncul dan membatasi penggunaan HP bagi remaja di bawah usia 17 tahun, seperti yang sudah diterapkan di beberapa negara luar seperti salah satunya Denmark.
Apakah hidup kita akan jadi lebih sulit? Atau justru itu bisa membuka jalan untuk menemukan cara-cara baru dalam mencari informasi? Ulasan berikut akan mengajak sahabat kanal KAMU KUAT! Avesiar.com untuk ikut berkomentar.
Muhammad Reyvan Rizqyana, siswa kelas 3 SMP Al Ghazaly

Muhammad Reyvan Rizqyana, punya pandangan menarik soal ini. Ia mengakui bahwa larangan HP memang akan menimbulkan pro dan kontra. “Di satu sisi, larangan ini bisa mengurangi kecanduan gadget, meningkatkan interaksi sosial langsung, dan melindungi anak dari konten yang tidak sesuai usia,” ujar Reyvan saat diwawancarai.
Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap dampak negatifnya. Menurutnya, larangan itu bisa membuat remaja kesulitan mencari informasi dan berkomunikasi secara cepat. Meski begitu, Reyvan tetap optimis jika larangan ini disertai solusi yang tepat. “Menurut saya, larangan ini lebih banyak dampak positifnya jika diimbangi dengan alternatif dan edukasi yang memadai,” tegasnya.
Ia bahkan berbagi pengalamannya saat menggunakan sumber informasi selain HP. “Saya pernah belajar lewat buku dan perpustakaan, dan itu tetap efektif serta memperkaya pengalaman belajar saya,” bebernya.
Salah satu solusi yang ditawarkan Reyvan adalah penyediaan fasilitas oleh sekolah. Ia berharap sekolah bisa menyediakan ruang informasi atau komputer umum. “Dengan begitu, siswa tetap bisa belajar dan mencari informasi, tapi tanpa harus memiliki HP pribadi,” tambahnya.
Ketika ditanya tentang kekhawatirannya jika harus hidup tanpa HP dalam waktu lama, Reyvan menjawab jujur. “Kekhawatiran saya adalah kehilangan akses cepat ke informasi dan kesulitan berkomunikasi. Tapi saya percaya, ini bisa mendorong remaja jadi lebih kreatif dan mandiri.”
Reyvan menutup dengan pesan inspiratif “Remaja bisa mencari solusi lain, seperti membaca buku, berdiskusi langsung, atau melakukan kegiatan produktif lainnya tanpa bergantung pada teknologi.”
Jadi, kalau suatu saat HP benar-benar dibatasi, jangan panik dulu. Mungkin, itu justru kesempatan buat kita untuk tumbuh jadi remaja yang lebih tangguh, cerdas, dan mandiri.
Razzaq, siswa kelas 10 SMK Kehutanan Bakti Rimba

Razaq menganggap bahwa larangan ini punya niat baik, tapi perlu diterapkan dengan penuh pertimbangan. “Saya memandang larangan penggunaan HP untuk anak di bawah 17 tahun sebagai hal yang niatnya baik, tapi harus diterapkan dengan bijak,” ujar Razzaq.
Ia menyadari bahwa penggunaan HP yang berlebihan bisa menyebabkan kecanduan dan membuat pelajar kurang fokus, namun larangan total juga bukan solusi yang ideal.
Menurutnya, kunci utama dari kebijakan seperti ini adalah keseimbangan dan penyediaan alternatif. “Saya melihat lebih banyak dampak positif dari pembatasan HP, asalkan dibarengi dengan solusi. Anak bisa lebih fokus, lebih aktif secara sosial, dan tidak terlalu tergantung pada teknologi,” katanya.
Razzaq juga menekankan pentingnya sumber informasi lain selain HP. Ia menilai buku, koran, dan perpustakaan tetap relevan di zaman sekarang. “Belajar lewat buku membuat kita lebih fokus dan mendalam,” ujarnya.
Maka dari itu, ia sangat mendukung jika sekolah menyediakan ruang komputer atau fasilitas informasi lain sebagai pengganti akses HP pribadi. Namun, Razzaq tak menutup mata pada tantangan yang mungkin muncul. Kekhawatiran utamanya adalah kesulitan berkomunikasi dan lambatnya akses informasi jika HP dibatasi.
“Tapi di sisi lain, hal ini bisa memicu remaja untuk lebih mandiri dan kreatif, selama lingkungannya mendukung,” tuturnya menutup wawancara.
Bagja, siswa kelas 11, SMA Negeri 1 Ciomas (SMANCIO)

Bagja, memberikan pendapatnya dengan cukup bijak. Menurutnya, larangan tersebut memang punya tujuan baik, terutama dalam hal mengurangi paparan konten negatif dan kecanduan gadget. “Larangan ini bisa membantu membatasi dampak negatif dari penggunaan HP, seperti kecanduan dan paparan konten yang tidak pantas,” jelasnya.
Namun, ia juga menekankan bahwa penerapannya tidak boleh asal-asalan. “Harus diimbangi dengan edukasi yang baik,” tambahnya.
Bagja berpendapat bahwa dampak positif dari larangan HP lebih besar dibandingkan negatifnya. “Terutama untuk kesehatan mental dan fokus belajar bagi seorang anak yang usianya masih di bawah 17 tahun,” ujarnya.
Ia percaya bahwa pembatasan ini bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Meski teknologi sangat dominan, Bagja mengaku masih menggunakan sumber informasi lain seperti buku, novel, dan majalah. “Itu bisa jadi cara yang baik untuk tetap mendapatkan ilmu tanpa terlalu tergantung pada layar,” katanya.
Ia juga mendukung penuh jika sekolah menyediakan fasilitas alternatif. “Saya setuju jika sekolah menyediakan ruang informasi atau komputer umum, karena itu bisa jadi alternatif sehat dan terkontrol untuk akses informasi tanpa risiko penyalahgunaan HP,” jelasnya.
Namun tentu saja, larangan HP bukan tanpa tantangan. “Kekhawatiran terbesar saya adalah takut ketinggalan informasi terbaru dan sulit untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman,” ungkapnya.
Meski begitu, Bagja melihat sisi positif dari pembatasan ini. “Larangan HP bisa membuat remaja lebih kreatif dan mandiri jika ada dukungan dan fasilitas yang tepat, karena mereka akan terdorong mencari solusi dan hiburan di luar layar,” tutupnya.
Dengan kata lain, walau terasa sulit di awal, larangan penggunaan HP bisa menjadi momen bagi remaja untuk tumbuh dengan cara yang lebih sehat dan seimbang.
Jika kita mampu beradaptasi dan memanfaatkan alternatif yang ada, kita tetap bisa berkembang tanpa harus terus bergantung pada teknologi. Jadi, mari kita siapkan diri, bukan hanya untuk mengikuti zaman, tapi juga untuk menghadapinya dengan bijak. (Resty)













Discussion about this post