• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Apa Solusi Kamu untuk Mencari Informasi Jika HP untuk Usia di Bawah 17 Tahun Dilarang Seperti di Beberapa Negara di Luar Negeri?

by Ave Rosa
21 Mei 2025 | 23:48 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 5 mins read
A A
Apa Solusi Kamu untuk Mencari Informasi Jika HP untuk Usia di Bawah 17 Tahun Dilarang Seperti di Beberapa Negara di Luar Negeri?

Ilustrasi.

KAMU KUAT – Jakarta

Mencari informasi lewat HP sudah jadi hal yang sangat biasa di era digital seperti saat ini. Bahkan terasa seperti kebutuhan pokok, terutama bagi remaja. Mulai dari mencari bahan tugas sekolah, membaca berita, hingga mengikuti pelajaran daring semuanya dilakukan lewat layar HP.

Namun, di ponsel ternyata tidak hanya pencarian informasi tentang pengetahuan yang berhubungan dengan pelajaran sekolah saja yang dapat diakses, berbagai aplikasi social media, game, serta situs-situs berbahaya juga tidak kalah masifnya meramaikan isi dari ponsel pintar (smart phone).

Dilansir The Guardian, Selasa (25/2/2025), pemerintah Denmark mengatakan akan mengubah undang-undang yang ada untuk memaksa semua folkeskole, sekolah dasar dan menengah pertama yang komprehensif, menjadi bebas ponsel, yang berarti bahwa hampir semua anak berusia antara tujuh dan 16-17 tahun akan diwajibkan oleh hukum untuk tidak membawa ponsel mereka ke sekolah.

Tapi, bagaimana jika suatu hari aturan baru muncul dan membatasi penggunaan HP bagi remaja di bawah usia 17 tahun, seperti yang sudah diterapkan di beberapa negara luar seperti salah satunya Denmark.

Apakah hidup kita akan jadi lebih sulit? Atau justru itu bisa membuka jalan untuk menemukan cara-cara baru dalam mencari informasi? Ulasan berikut akan mengajak sahabat kanal KAMU KUAT! Avesiar.com untuk ikut berkomentar.

Muhammad Reyvan Rizqyana,  siswa kelas 3 SMP Al Ghazaly

Muhammad Reyvan Rizqyana,  siswa kelas 3 SMP Al Ghazaly. Foto: istimewa

Muhammad Reyvan Rizqyana,  punya pandangan menarik soal ini. Ia mengakui bahwa larangan HP memang akan menimbulkan pro dan kontra. “Di satu sisi, larangan ini bisa mengurangi kecanduan gadget, meningkatkan interaksi sosial langsung, dan melindungi anak dari konten yang tidak sesuai usia,” ujar Reyvan saat diwawancarai.

Bacaan Terkait :

Sadar Efek Berbahaya, Prancis Lakukan Sita Ponsel di Sekolah Menengah dan Larangan di Sekolah Dasar

Load More

Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap dampak negatifnya. Menurutnya, larangan itu bisa membuat remaja kesulitan mencari informasi dan berkomunikasi secara cepat. Meski begitu, Reyvan tetap optimis jika larangan ini disertai solusi yang tepat. “Menurut saya, larangan ini lebih banyak dampak positifnya jika diimbangi dengan alternatif dan edukasi yang memadai,” tegasnya.

Ia bahkan berbagi pengalamannya saat menggunakan sumber informasi selain HP. “Saya pernah belajar lewat buku dan perpustakaan, dan itu tetap efektif serta memperkaya pengalaman belajar saya,” bebernya.

Salah satu solusi yang ditawarkan Reyvan adalah penyediaan fasilitas oleh sekolah. Ia berharap sekolah bisa menyediakan ruang informasi atau komputer umum. “Dengan begitu, siswa tetap bisa belajar dan mencari informasi, tapi tanpa harus memiliki HP pribadi,” tambahnya.

Ketika ditanya tentang kekhawatirannya jika harus hidup tanpa HP dalam waktu lama, Reyvan menjawab jujur. “Kekhawatiran saya adalah kehilangan akses cepat ke informasi dan kesulitan berkomunikasi. Tapi saya percaya, ini bisa mendorong remaja jadi lebih kreatif dan mandiri.”

Reyvan menutup dengan pesan inspiratif “Remaja bisa mencari solusi lain, seperti membaca buku, berdiskusi langsung, atau melakukan kegiatan produktif lainnya tanpa bergantung pada teknologi.”

Jadi, kalau suatu saat HP benar-benar dibatasi, jangan panik dulu. Mungkin, itu justru kesempatan buat kita untuk tumbuh jadi remaja yang lebih tangguh, cerdas, dan mandiri.

Razzaq, siswa kelas 10 SMK Kehutanan Bakti Rimba

Razzaq, siswa kelas 10 SMK Kehutanan Bakti Rimba. Foto: istimewa

Razaq menganggap bahwa larangan ini punya niat baik, tapi perlu diterapkan dengan penuh pertimbangan. “Saya memandang larangan penggunaan HP untuk anak di bawah 17 tahun sebagai hal yang niatnya baik, tapi harus diterapkan dengan bijak,” ujar Razzaq.

Ia menyadari bahwa penggunaan HP yang berlebihan bisa menyebabkan kecanduan dan membuat pelajar kurang fokus, namun larangan total juga bukan solusi yang ideal.

Menurutnya, kunci utama dari kebijakan seperti ini adalah keseimbangan dan penyediaan alternatif. “Saya melihat lebih banyak dampak positif dari pembatasan HP, asalkan dibarengi dengan solusi. Anak bisa lebih fokus, lebih aktif secara sosial, dan tidak terlalu tergantung pada teknologi,” katanya.

Razzaq juga menekankan pentingnya sumber informasi lain selain HP. Ia menilai buku, koran, dan perpustakaan tetap relevan di zaman sekarang. “Belajar lewat buku membuat kita lebih fokus dan mendalam,” ujarnya.

Maka dari itu, ia sangat mendukung jika sekolah menyediakan ruang komputer atau fasilitas informasi lain sebagai pengganti akses HP pribadi. Namun, Razzaq tak menutup mata pada tantangan yang mungkin muncul. Kekhawatiran utamanya adalah kesulitan berkomunikasi dan lambatnya akses informasi jika HP dibatasi.

“Tapi di sisi lain, hal ini bisa memicu remaja untuk lebih mandiri dan kreatif, selama lingkungannya mendukung,” tuturnya  menutup wawancara.

Bagja, siswa kelas 11, SMA Negeri 1 Ciomas (SMANCIO)

Bagja, siswa kelas 11, SMA Negeri 1 Ciomas (SMANCIO). Foto: istimewa

Bagja, memberikan pendapatnya dengan cukup bijak. Menurutnya, larangan tersebut memang punya tujuan baik, terutama dalam hal mengurangi paparan konten negatif dan kecanduan gadget. “Larangan ini bisa membantu membatasi dampak negatif dari penggunaan HP, seperti kecanduan dan paparan konten yang tidak pantas,” jelasnya.

Namun, ia juga menekankan bahwa penerapannya tidak boleh asal-asalan. “Harus diimbangi dengan edukasi yang baik,” tambahnya.

Bagja berpendapat bahwa dampak positif dari larangan HP lebih besar dibandingkan negatifnya. “Terutama untuk kesehatan mental dan fokus belajar bagi seorang anak yang usianya masih di bawah 17 tahun,” ujarnya.

Ia percaya bahwa pembatasan ini bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Meski teknologi sangat dominan, Bagja mengaku masih menggunakan sumber informasi lain seperti buku, novel, dan majalah. “Itu bisa jadi cara yang baik untuk tetap mendapatkan ilmu tanpa terlalu tergantung pada layar,” katanya.

Ia juga mendukung penuh jika sekolah menyediakan fasilitas alternatif. “Saya setuju jika sekolah menyediakan ruang informasi atau komputer umum, karena itu bisa jadi alternatif sehat dan terkontrol untuk akses informasi tanpa risiko penyalahgunaan HP,” jelasnya.

Namun tentu saja, larangan HP bukan tanpa tantangan. “Kekhawatiran terbesar saya adalah takut ketinggalan informasi terbaru dan sulit untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman,” ungkapnya.

Meski begitu, Bagja melihat sisi positif dari pembatasan ini. “Larangan HP bisa membuat remaja lebih kreatif dan mandiri jika ada dukungan dan fasilitas yang tepat, karena mereka akan terdorong mencari solusi dan hiburan di luar layar,” tutupnya.

Dengan kata lain, walau terasa sulit di awal, larangan penggunaan HP bisa menjadi momen bagi remaja untuk tumbuh dengan cara yang lebih sehat dan seimbang.

Jika kita mampu beradaptasi dan memanfaatkan alternatif yang ada, kita tetap bisa berkembang tanpa harus terus bergantung pada teknologi. Jadi, mari kita siapkan diri, bukan hanya untuk mengikuti zaman, tapi juga untuk menghadapinya dengan bijak. (Resty)

Tags: Bahaya HPBahaya PonselKecanduan HPKecanduan PonselLarangan PonselMencari InformasiPembatasan PonselUsia Pengguna Ponsel
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kreator Konten Anak-anak di YouTube Asal AS Mendesak Pemimpin Dunia Hentikan Israel Membuat Bayi-bayi Gaza Kelaparan

Next Post

Pisah Sambut Ketum Asperindo Moh Feriadi dan Budiyanto Darmastono di Munas XI 2025

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Pisah Sambut Ketum Asperindo Moh Feriadi dan Budiyanto Darmastono di Munas XI 2025

Pisah Sambut Ketum Asperindo Moh Feriadi dan Budiyanto Darmastono di Munas XI 2025

Apakah Kamu Suka Memaksa Orang Tua untuk Memenuhi Keinginan Kamu?

Apakah Kamu Suka Memaksa Orang Tua untuk Memenuhi Keinginan Kamu?

Discussion about this post

TERKINI

Hukum Berkurban dengan Kambing yang Kerdil

9 Mei 2026

Stasiun ABC Berpendapat Pemerintahan Trump Diduga Berupaya Membungkam Kebebasan Berbicara Terkait Program TV ‘The View’

9 Mei 2026

Balasan dari Allah Bagi yang Membantu dan Meringankan Kesulitan Orang Lain

8 Mei 2026

Iran yang Diundang FIFA ke Markas Besar Diskusi Piala Dunia Terpaksa Absen Akibat Dihina Imigrasi Kanada

7 Mei 2026

Naudzubillah, Nasib Anak yang Dilahirkan dari Hasil Zina Menurut Islam

6 Mei 2026

Mampu Menjangkau 6000 Kilometer, Turki Pamerkan ‘Yildirimhan’ Rudal Balistik Antarbenua

6 Mei 2026

Apa yang Disebut Narcissistic Collapse atau ‘Keruntuhan Narsistik’ dan Cara Melindungi Diri Anda

5 Mei 2026

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

Kuba Menyebut AS Sedang Cari Alasan untuk Lancarkan Intervensi Militer ke Negara Mereka

4 Mei 2026

Menyayat Hati, 8.000 Jenazah Masih Terperangkap di Puing-puing Reruntuhan di Gaza di Tengah 72.000 Jiwa Korban Genosida Israel

3 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video